Ochi membuka pintu kelasnya dengan tidak sabaran. Tak ia pedulikan kondisi lampu kelas yang belum menyala, dengan cepat ia menaruh tas di tempat duduknya lantas melesat ke depan kelas. Matanya mengerjap-ngerjap memegang pembatas dinding gedung sekolahnya, mengatur napasnya yang tersengal-sengal akibat berlari. Jarak antara parkiran ke kelasnya, jelas bukan jarak yang dekat. Tubuhnya menegap, berusaha terlihat biasa saja namun dengan mata menatap lekat gedung jurusan IPA di hadapannya. Lapangan yang memisahkan kedua gedung tersebut, tak lantas menjadi penghalang untuknya melihat kelas Alwan. Sudah hari keempat dia melakukannya, namun tetap saja Alwan tak pernah muncul. Kalau ingin jujur, Ochi khawatir setengah mati akan kondisi pemuda itu. Melihat sosok Alwan yang begitu lemah di hadapann

