Kegelapan menyapa Alwan, ketika ia membuka matanya. Butuh waktu beberapa saat sampai ia menyadari, bukan atap kamarnya yang sedang ia lihat. Tapi beberapa pepohonan rimbun di dekatnya. Tanpa sadar napasnya memberat, bersamaan dengan rasa pening yang terasa di kepalanya. Untuk kesekian kalinya Alwan berhadapan kembali dengan mimpi buruknya. Tidak, lebih tepatnya ingatan yang datang melalui mimpi. Walau ini hanya mimpi, tapi Alwan seolah bisa merasakan betul rasa sakit yang terasa sekujur tubuhnya. Rasanya masih sama dengan rasa sakit yang ia ingat, meski sudah hampir 10 tahun berlalu. Peristiwa kecelakaan yang menewaskan ayahnya, dan ia masuk sebagai korban. Dengan kaku, Alwan memutar lehernya ke arah lain saat ia merasa sebuah tarikan napas samar terdengar. Ia terdiam, menyadari bahwa a

