Sembilan: Family

1675 Kata
Alwan meletakkan ponselnya ke atas nakas, menghela napas berat setelah meyakinkan sang ibu untuk tidak pulang hanya karena ia sakit. Dia menatap langit-langit UKS dengan kepala yang berat, belum lagi napasnya yang terasa panas karena suhu badannya yang memang meningkat. Sebenarnya sakit tanpa dirawat oleh siapapun sudah menjadi hal biasa untuk Alwan semenjak ibunya mengambil alih perusahaan sang ayah. Nampaknya, ia harus menyerah akan fakta hari ini. Dia terlalu memforsir dirinya habis-habisan, hingga jatuh sakit. Memforsir diri untuk belajar, bahkan mulai mempelajari sistematika perusahaan meski ibunya tak meminta. Umurnya sudah 17 tahun, dan dirinya yang dipublikasikan beberapa hari yang lalu menandakan kalau ia tak boleh bermain-main lagi. Walau faktanya, sejak awal dia tak pernah bersenang-senang menikmati masa mudanya sendiri. Alwan hanya tak ingin, orang-orang menilai ia sebagai pewaris dengan kemampuan minim. Dia tak mau menjadi bumerang yang akan menjatuhkan bisnis ibunya hanya karena kurang kompeten. Itulah kenapa dia terus memantapkan diri, tak henti belajar seperti orang kesetanan agar tak ada seorang pun yang bisa melihat celanya dan memanfaatkan itu. Karena setelah ayahnya meninggal, dunianya sudah berpusat pada satu hal. Dan itu kebahagiaan sang ibu. Bicara soal keluarga, Alwan terlalu malas untuk membahas latar belakang keluarga dari pihak sang ayah. Keluarga yang punya kuasa besar, namun tak punya empati. Bagaimana bisa di hari ayahnya meninggal, dan ia jatuh koma. Neneknya justru meminta semua kekayaan sang ayah untuk diserahkan padanya. Menolak mentah-mentah wasiat yang dituliskan sang ayah, kalau perusahaan yang masih amat kecil itu akan diwariskan pada ibunya hingga ia dianggap layak untuk memimpin. Hari itu juga, pandangan Alwan mengenai keluarga berubah. Walaupun hanya berdua saja, karena ibunya hanyalah anak tunggal. Alwan percaya kalau keluarganya hanya cukup seperti ini. Tak perlu ada siapapun, karena mereka berjanji takkan mengecewakan sang ayah yang telah tiada untuk melanjutkan impiannya. Landasan yang membuat ia dan ibunya lebih kuat setelah kehilangan, hingga mempunyai kekuasaan sebesar ini. "Sakit apa?" Suara itu berhasil membuat Alwan terkesiap. Ia menoleh cepat, hampir saja melemparkan air gelasan yang belum ia buka di tangannya ke asal suara. Dia berdecak, mendapati Ochi yang mengintip melalui tirai yang membatasi bilik. "Ngapain lo disini?" tanya Alwan cukup ketus, kembali memejamkan matanya yang terasa berat. Menyentuh pelan kain basah karena air hangat, yang digunakan Bu Dinar untuk menurunkan demamnya. Ia bisa merasakan tirainya disibak, bersamaan langkah Ochi yang terdengar mendekat. Hening cukup lama, hingga Alwan dibuat penasaran sendiri. Kebingungan karena cewek yang ia tau amat sangat cerewet itu hanya diam saja. Dia hampir saja membuka matanya untuk melihat apa yang dilakukan Ochi, hingga sebuah tawa kecil terdengar mengalun dari gadis itu. "Ternyata si nomor 1 DHS, bisa sakit juga." Ochi tertawa meledek, mengambil satu buah kue balok sebelum menutup kotak yang sedari tadi ia pegang. Mata Alwan terbuka sempurna sekarang, ia menyingkirkan kain basah di dahinya sebelum merubah posisi menjadi duduk.Ikut duduk berhadapan dengan Ochi di kasur masing-masing. "Gue juga manusia, lupa?" gumam Alwan balik seraya menunjukkan ekspresi malasnya. "Dengan lo selalu menang di tiap perlombaan aja, bikin gue ragu lo manusia. Kepintaran lo di luar nalar untuk orang Indonesia," balas Ochi santai setelah menelan kunyahannya tadi. "Mau kue nggak?" "Gue gak suka-" "Lo suka coklat. Jangan bohong." Ochi memotong cepat, bangkit dari kasurnya dan memberikan sekotak kue balok yang tersisa beberapa potong itu ke Alwan. "Lo tuh udah putih. Gak makan, makin kelihatan kayak mayat. Gue gak suka ya jelmaan setan mendadak jadi malaikat, apalagi kalau itu lo." Alwan menganga, mengerjapkan mata berulang kali mendengar cerocosan Ochi. Sebentar, dia baru aja diledek habis-habisan kan? Disamain sama setan pula? Kenapa mendadak mulut Ochi lebih kurang ajar dibanding dirinya. "Kenapa jadi menghina gue? Lo-" Protesan Alwan terhenti ketika tirai depan kasurnya tersibak. Menunjukkan sosok Al yang sedikit membulatkan matanya, ikut terkejut ketika tau Alwan tak sendirian saja. Cowok itu nampak gugup, menghindari kontak mata dengan Ochi memilih menatap lurus Alwan. "Gue mau ngomong sama lo." "Mau ngomongin apa?" tanya Alwan tanpa susah payah terlihat ramah. Ekspresinya berubah mengeras, masih kesal berhadapan dengan Al. "Nyali lo gede banget ketemu gue, setelah ngacau di seleksi." "Gue bisa jelas-" "Tapi gue gak butuh." Alwan menatap Al tajam, memberi peringatan untuk tak bicara banyak. "Sebuah kesalahan akan tetap menjadi kesalahan, meskipun ada alasannya." "Wan." Ochi akhirnya buka suara, tak tega juga melihat raut wajah frustasi dari si Pangeran dementor itu. Ia bangkit berdiri, tersenyum kikuk ke arah Al yang menatapnya sesaat. "Dengerin aja dulu, gue pergi ya." Tanpa mendengar protes atau apapun lagi, Ochi menyibakkan tirai dari biliknya. Sedikit kaget melihat Bu Dinar dan beberapa murid kelas 3 ternyata menatap ke arah Al dan ikut terkesiap. Mereka semua langsung mengalihkan pandang, berusaha tak terlihat menguping. "Aduh, kotak P3K nya bagus ya." "Bu Dinar boleh nyeduh mie gak disini?" "Aduh pengen nanas muda." Ocehan-ocehan dari kakak kelasnya, berhasil membuat Ochi menipiskan bibir. Berusaha untuk tidak tertawa detik itu juga. Terlihat sekali kalau mereka baru saja terpergok memperhatikan. Ia menolehkan kepala ke belakang, mendapati Al yang masih menunduk dan Alwan yang memilih cuek dan memakan kuenya. Mari kita doakan saja, keselamatan Al yang nekatnya menyerahkan diri untuk disembur oleh Alwan. *** “Ck, lo tuh mau ngomong sama gue atau cuman alibi ganggu gue istirahat?” Ekspresi tak suka tercetak jelas di wajah Alwan saat ini. Kotak berisi kue balok sudah kosong, tandas di makannya. Matanya menyipit, memberi tatapan mengintimidasi ke arah Al yang tak mengatakan apapun sejak Ochi meninggalkan keduanya. “ Lama banget ternyata buat lo minta maaf langsung ke gue ya? 3 minggu?” “4 minggu,”cicit Al pelan benar benar takut akan aura menyeramkan yang terus menguar dari tatapan Alwan. Belum lagi keheningan uks yang hanya diisi suara mesin AC yang nampaknya belum dibersihkan, semakin membuat Al merasa sesak. “Lo tau kenapa orang-orang gak pernah bisa ngalahin gue?” ucap Alwan dengan suara sedikit serak efek dari demam dan flu yang menyerang dirinya. “ Karena gue percaya sama kemampuan diri sendiri, ketimbang omongan orang lain.” “Kalau dari awal lo gak bisa percaya sama kemampuan lo sendiri, percuma aja lo berusaha. Lo akan mudah terpengaruh oleh sekitar, dan itu penyebab kekalahan.” Alwan menekan-nekan dahinya yang berdenyut menyakitkan dengan handuk basah. “Semua dimulai dari diri lo sendiri. Orang-orang gak pernah melihat gimana perjuangan lo dari awal. Mereka hanya melihat hasil, gue udah pernah bilang itu ke lo.” Hening setelahnya, baik Alwan ataupun Al bungkam. Merasa pusing di kepalanya semakin menjadi-jadi, Alwan mengumpat pelan lantas menidurkan diri di atas matras. Mengabaikan obat yang sedari tadi tak ia sentuh. “Lo gak ngerti seberapa gue frustasi, keluarga-“ “Gue gak peduli sama kehidupan lo pangeran dementor,”potong Alwan dengan sengit, kini menutup matanya berharap hal itu bisa mengurangi sakit kepalanya. Menekankan kata 'pangeran dementor' yang menjadi julukan Al. “Tapi kalau lo butuh saran dari mulut orang yang paling dibenci di sekolah ini. Cari cara lain untuk ngalahin gue, jangan lewat akademik.” Al dibuat terdiam, keningnya mengernyit dalam. Tak paham maksud dari ucapan Alwan. Merasa kalau Al tak kunjung pergi, Alwan membuka matanya menatap pemuda itu malas. “Pergi deh lo ah, gue mau istirahat. Percuma lo minta maaf sama gue, gak bakal gue maafin.” Tak tau saja Al, kalau alasan Alwan semakin sakit kepala bukan karena badannya yang tak sehat. Tapi karena penglihatan akan masa lalu dan masa depan Al yang terus muncul secara bergantian hanya dengan sekali tatapan. Alwan membenci hal itu. *** Hujan membasahi kota Jakarta sore ini, matahari yang semula bersinar terik mendadak berubah menjadi awan awan kelabu. Menumpahkan ribuan tetes air yang menghantam bumi, merubah suhu yang semula memanaskan diri kini membuat siapa saja merasa menggigil. Dan sialnya Ochi menjadi salah satu murid yang terjebak di tengah derasnya hujan. Sejujurnya keadaan sekolah sudah sepi, hanya tersisa beberapa anak teater ataupun tari yang masih berlatih di gedung pertunjukkan. Sayup-sayup ia juga mendengar suara musik yang tak henti mengalun dari ruang musik, menduga isinya para kakak kelas 12 yang mulai sibuk disibukkan serangkaian praktek yang menanti mereka. Selebihnya, murid-murid sudah pulang terlebih dahulu. Alasan Ochi pulang terlambat hari ini adalah ia disemprot habis-habisan oleh Bu Myria. Guru keseniannya yang memang galak dan musuh abadi tiap siswa di sekolahnya. Entahlah, guru itu selalu merasa apa saja yang dilakukan murid adalah hal salah di matanya. Dan sasaran kemarahannya pada Ochi kali ini, karena gambar Ochi yang dianggapnya terlalu jelek. Langsung mengecap kalau Ochi tak pernah berniat mengikuti pelajarannya, lantas membanding-bandingkannya dengan beberapa murid berprestasi yang selalu ia dengar atau baca namanya di mading. Langkah Ochi terhenti tepat di depan lobi gedung IPS yang berhadapan langsung dengan lobi gedung IPA. Hanya sebuah jalan kecil yang terlindungi kanopi, yang menjadi pembatas antara kedua gedung jurusan itu. Tepat di depan gedung IPA, ia bisa melihat sosok yang amat ia kenali. Sosok yang baru saja ia temui beberapa jam lalu. Meski wajahnya tertutup masker yang menyisakan matanya saja untuk di lihat, Ochi tau betul kalau itu Alwan. Pemuda itu bersandar pada salah satu pintu gedung yang sudah tertutup, memejamkan matanya erat dengan posisi tangan bersedekap. Ia mengigit bibir, merasakan perasaan asing yang mendadak naik ke dadanya lantas membuatnya berkaca-kaca tanpa sadar. Kalau ingin mengikuti egonya, ingin sekali Ochi mengambil langkah lebar-lebar menghampiri Alwan. Memaksa sosok familiar tapi bersikap asing itu untuk mengingatnya. Tapi ia tak kuasa, kata-kata dari seseorang yang sama merindunya kepada Alwan menyadarkannya kembali pada fakta bahwa pemuda itu tak lagi memiliki memori bersamanya. “Gue juga kangen Alwan, Chi. Tapi memaksakan dia untuk mengingat, sama aja lo membunuhnya. Bersabar, tunggu gue ke sana dan kita buat Alwan ingat kita lagi. Janji sama gue ya Chi.” Ucapan dari sosok nun jauh di sana yang ia kabari perihal Alwan, kembali terngiang di kepalanya. Ia menghapus air mata yang mendadak jatuh dari sudut matanya, lantas menarik napas panjang. Pandangannya teralih ke arah rintikan hujan yang masih setia mengguyur ibukota. Dia selalu percaya kalau hujan punya mantra magis untuk mengembalikan sebuah ingatan, dan ia harap itu akan berlaku pada Alwan. Entah sekarang ataupun bertahun-tahun kelak. Meski Ochi tau tak semua doa akan terkabulkan. Tapi dia takkan menyerah. Bahkan jika ia bisa memutar waktu ia akan tetap mengharapkan hal yang sama. TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN