Delapan: Diet

2206 Kata
Dua minggu berlalu, dengan ajaibnya Alwan dan Ochi yang semula dipertemukan melalui ketidaksengajaan tak lagi bertemu. Tak lagi mencari tau satu sama lain, tak lagi memikirkan perasaan penasaran yang membelenggu d**a mereka. Ochi disibukkan dengan cheers yang semakin padatnya, dan Alwan dengan perlombaan debatnya setelah lolos untuk kedua kalinya menjadi anggota tim. Perkara sapu tangan pun, Alwan memilih mengembalikannya melalui Erik tanpa pesan apa-apa. Hal yang sudah Ochi duga, dan hanya menerima sapu tangannya ketika Erik memberikannya pagi itu. Memang sejak awal, mereka hanyalah orang asing yang dipertemukan dan diberikan teka-teki bernama kenangan. Sebuah teka-teki yang bahkan mereka enggan untuk menyelesaikannya dan mengungkap arti kedatangannya. Namun lagi-lagi takdir tak pernah enggan untuk tak ikut campur. “Demi apa sih Alwan nolak ikut OSN? Gila ya tuh anak, gak takut dicabut beasiswanya?” Ochi yang semula fokus mengerjakan tugas sejarah, lantas mengangkat kepala ketika segerombolan murid masuk ke dalam perpustakaan. Sepertinya berasal dari kelas IPA, karena mereka berpencar menuju rak-rak yang memang dikhususkan untuk jurusan paling memusingkan itu. Wajar saja, keributan itu berhasil menarik atensi Ochi setelah tadi hanya sendirian di perpustakaan. Tanpa para ‘penunggu’ perpustakaan yang entah kenapa kali ini tak menemaninya yang mengerjakan remedial. “Jangan bilang siapa-siapa ya,” salah satu cowok berbisik pelan, menarik atensi beberapa orang di dekatnya yang memulai topik tadi. Ia melirik ke segala arah, memastikan keadaan sebelum memberi tanda untuk teman-temannya mendekat. Dari tempatnya, Ochi tak bisa mendengar apa-apa tapi tetap memfokuskan pandangan. Entah kenapa jadi ikut penasaran, ayolah siapa yang tidak tahan untuk ikut menguping seperti ini. Tak lama, beberapa dari mereka menarik nafas cukup keras. Menunjukkan keterkejutan mereka, belum lagi dengan mata membulat. “Sumpah lo?” “Seriusan?! Alwan si jenius kan maksud lo?” “Jangan sebar hoax deh lo.” Kernyitan tercetak jelas di dahi Ochi, jadi penasaran apa yang baru saja dibisikan cowok tadi karena teman-temannya jadi terkaget seperti tadi. Belum lagi mereka sibuk berbisik satu sama lain, lantas membuka ponsel mereka. Mencoba mencari tau sesuatu, hingga salah satu diantara mereka tersentak ketika ponselnya direbut oleh seseorang. “Haduh bro, masa teman sekelas sendiri diomongin sih?” Entah sejak kapan, cowok yang Ochi kenal bernama Bagas merangkul cowok yang ia rebut ponselnya. Cowok yang memang terkenal satu sekolah karena keulungannya menggoda para wanita, walau tak segencar ketua osis mereka itu. Ah, jangan lupakan pula sosok Nindi yang sudah tersenyum lebar di belakang tubuh besar Bagas. Hanya kurang sosok Alwan, untuk melengkapi geng yang dijuluki ‘tiang’ karena tinggi badan mereka. “Udah diem-diem aja soal yang kalian tau. Alwan bisa marah kalau kalian heboh soal ginian, dan jadiin dia bahan omongan satu sekolah. Gak mau denger ucapan sinisnya kan lo semua?” Nindi berujar tenang, tak terlihat auranya yang biasanya haus akan gosip-gosip seperti ini. Justru terkesan mengancam untuk tidak membocorkan apapun yang teman sekelasnya itu tau perihal sahabatnya sendiri. Apa kedua sahabat itu sedang melindungi Alwan dari orang-orang? Atau justru melindungi orang-orang dari Alwan? Tak lama suara pintu perpustakaan yang dibuka, mengalihkan perhatian murid-murid dari kelas 11 Ipa 1 itu. Memunculkan sosok tinggi yang menjadi bahan perbincangan mereka tadi, Alwan. Cowok itu menatap teman-temannya yang kini memusatkan pandangannya, sedikit mengernyit tak suka akan tatapan itu. “Lo semua baru ngomongin gue ya?” tanya Alwan tepat sasaran, sukses membuat teman sekelasnya menahan diri untuk tidak terlihat gugup. Cowok itu tersenyum miring, melewati mereka semua lantas masuk ke dalam deretan rak-rak besar untuk mencari buku sebagai bahan tugasnya. “Gakpapa ngomongin gue, asal jangan sampai gue dengar kalau gak mau gue julidin.” Setelah mengambil satu buah buku biologi, ia berucap sambil lalu. Beranjak menuju barisan kursi dan meja di bagian terujung. Menandakan tak ingin diganggu. Ucapannya memang santai tadi, tapi berhasil membuat teman sekelasnya tersadar sontak membubarkan diri. Ochi mengerjapkan matanya, menatap Alwan yang duduk di kursi cukup jauh darinya karena mereka saling duduk di paling ujung. Tapi dari tempatnya, Ochi bisa menyadari wajah pucat Alwan. Tatapan tajamnya sedikit menyendu dengan bibir sedikit pucat. Membuat Alwan yang memang sudah menakutkan sejak awal, semakin menyeramkan saja auranya. Sebuah pertanyaan bersarang di kepala Ochi, apa ikut lomba debat semelelahkan itu hingga Alwan nampak kelelahan seperti ini? *** “Persiapan buat lomba debat tuh gak sepadet itu ya.” Icha meletakkan pulpennya setelah selesai mencatat materi di papan tulis. Memperhatikan Ochi, teman sebangkunya yang mendadak menanyakan soal persiapan tim yang kemarin lolos. Belum lagi Erik, yang kini ikut bergabung dan dengan kurang ajarnya duduk di atas meja depan Ochi. Tak lupa sebungkus siomay yang menjadi kudapannya. “Walaupun kemarin seleksinya sampai terbuka kemarin, tapi tetap aja menjelang lomba tuh gak ada latihan yang padet banget. Biasa aja sebenarnya,”jelas Icha mengingat betul Dinda yang juga tetangganya masih punya waktu berleha-leha di rumah. Bahkan minggu ini berniat menonton pensi bersama pacarnya, walau pada selasanya harus sudah bersiap pergi lomba. “Jujur aja ya Orchidia.” Erik angkat bicara, setelah cukup lama diam saja. Bungkus siomaynya dijauhkan dari mulut, lantas menatap Ochi dengan pandangan meledek. “Lo tuh ada maksud tertentu kan nanya soal debat gini? Jujur, lo mau nanya apa sebenarnya? Gak usah sok basa-basi deh.” Mata Ochi mendelik, menahan diri untuk tidak menjambak Erik yang selalu menyebalkan. Kenapa dia harus kembali disatukan dengan Erik di kelas 11, melanjutkan lingkar pertemanan Ochi yang memang hanya berputar pada Erik dan Icha saja. “Jadi ada alasan lain lo nanya ini ke gue?” ledek Icha meraih kotak kecil dari dalam tasnya yang berisi roti tawar. “Mau nanyain siapa sih emang? Alwan?” “Kenapa jadi cowok galak itu?” Ochi menggembungkan pipinya, meraih botol minum besarnya yang berwarna oranye. “Bukan urusan gue, cuman penasaran.” “Bukan urusan gue, tapi minjemin sapu tangan pas di belakang panggung.” Icha berucap penuh keraguan, ah lebih tepatnya meledek. Mereka berdua tertawa pelan melihat wajah kesal Ochi, kini kompak melakukan tos. “Terserah lo berdua deh.” Ochi berseru malas, meneguk air putihnya banyak-banyak. Sesaat ia berhenti, kemudian kembali meneguk air putihnya hingga tersisa setengah. “Lo laper ya?” bisik Erik menyadari gerak-gerik Ochi yang tak henti minum. Sudah seminggu lebih temannya itu hanya membawa bekal berupa sayuran, dan air minum begitu banyak. Sepertinya kali ini Ochi lebih serius untuk melakukan diet, buktinya pipinya mulai terlihat tirus namun bawah matanya juga sedikit menghitam seperti kurang tidur. “Jangan paksa badan lo terlalu berat buat diet. Inget lo punya maag,” pesan Icha menghentikan gerakan tangan Ochi yang terus meminum air putih. Cara yang selalu ia gunakan untuk menahan rasa lapar atau keinginannya untuk mengemil. “Badan lo tuh udah kurus, buat apa diet lagi.” “Gue masih yang paling besar Cha.” Ochi berucap pelan, masih dengan senyum bertahan di wajahnya. “Paha gue ini gede banget, jadi gue harus kecilin. Gue udah jadi tim inti, gak mungkin gue sia-siain lagi. Kasihan juga temen gue yang lain keberatan tiap bagian ngangkat gue.” “Buat apa sih ngikutin mereka yang badannya kayak lidi pedas gitu? Lo tuh gak gede Chi, jangan nyiksa diri. Sejak kapan sih lo jadi berambisi banget jadi tim inti gini? Biasanya lo bodo amat mau jadi tim inti atau cadangan.” “Gue juga mau bersinar di penampilan yang gue rancang Rik.” Ochi berucap pelan, tak terdengar sedih justru ceria. Ia meraih ponselnya yang bergetar, menunjukkan pesan dari Bu Dinar yang memintanya datang ke UKS. Dia memang dekat dengan penjaga UKS karena beberapa kali datang untuk bersembunyi dan makan snack. Karena bahkan ketika dia makan di kelas pun, ada saja yang membocorkan ia makan snack dan melaporkannya ke Devina ataupun Yona. Dan kembali mendapatkan nyinyiran pedas dari Devina ataupun tatapan tak suka dari Yona. “Habis ini jamkos kan? Gue ngadem di UKS ya, Bu Dinar kangen gue hahaha.” Ochi berujar senang, bangkit dari kursinya dan bergegas pergi ke kelas. Meninggalkan kedua temannya yang kini kembali meraih makanan yang tanpa sadar mereka sembunyikan di balik badan mereka. Menghargai Ochi. Icha dan Erik bertatapan sesaat, sebelum akhirnya memalingkan muka. Bersikap jutek satu sama lain, berbanding terbalik di depan Ochi tadi. Setiap orang punya rahasia kecilnya sendiri. Termasuk Icha dan Erik yang tak pernah Ochi tau, kalau mereka berdua adalah mantan sepasang kekasih. *** Protesan yang memenuhi otaknya, tak bisa terucap oleh Ochi entah kenapa. Ia menatap lamat-lamat satu kotak kue balok khas Bandung yang diletakkan Bu Dinar di depannya. Perempuan itu tersenyum lebar, merasa senang bisa bertemu lagi dengan Ochi setelah berapa minggu ini Ochi tak pernah datang ke UKS. “Bu saya bukannya gak suka, tapi saya lagi diet.” Ochi menatap Bu Dinar tak enak, menahan mati-matian untuk tidak tergoda akan kue balok yang sialnya juga rasa coklat. Godaan sekali untuk dirinya, yang berapa minggu ini hanya menelan dua hal. Air putih dan sayuran. “Kalau kamu takut ketauan lagi, makan di bilik aja. UKS emang sepi, ada satu sih yang lagi sakit di pojokan. Anaknya tidur dari tadi, gak usah takut.” Bu Dinar mengambil air gelasan dari dalam kardus di dekat kakinya, menyerahkannya pada Ochi. “Ibu tau kamu suka coklat, anggap aja ini hadiah.” Dan Ochi adalah orang yang tak bisa menolak. Dengan berat hati ia menerima kotak dan air itu seraya tersenyum lebar. Memakan satu atau dua takkan membuat berat badannya naik begitu saja kan? Anggap saja ini ‘cheat day’ nya. Ya, tak apa Ochi. Ucap batinnya berusaha meringankan hatinya. Ia masuk ke salah satu bilik, lantas menggeser tirai hingga menutupi tempatnya. Tepat ketika ia menutup tirai ia mendengar suara yang sepertinya dari anak kelas 3 yang ikut beristirahat di UKS karena mengeluh pusing akan soal. Belum lagi wifi UKS yang begitu kencang, tentu saja memancing para murid alih-alih menjadikannya sebagai tempat istirahat bahkan lebih seperti rumah sendiri. Ochi duduk di atas kasur, membuka kotak kue tersebut masih dengan perasaan ragu. Ia meraihnya satu, lantas mengigitnya sedikit. Sebuah kesalahan besar yang menariknya masuk ke dalam godaan. Ia membulatkan matanya sesaat, merasakan lumer coklat yang tak begitu manis dicecap lidahnya. Setelah berminggu-minggu hanya merasakan hambar, rasa manis kesukaannya itu jelas membuatnya lupa diri. “Alwan baik-baik aja Ma.” Kunyahan Ochi terhenti ketika ia mendengar suara serak nan lirih berasal dari bilik sebelahnya. Walau tak melihat wajah, ia mengenali betul suara tersebut. Siapa lagi kalau bukan si arogan Alwan Navindra. Ochi tak bisa menampik penampilan Alwan saat seleksi terlalu luarbiasa hingga ia tanpa sadar mengingat suara cowok itu. “Gak usah pulang, cuman demam. Belgia ke Indonesia itu jauh Mah.” Suara Alwan yang biasanya terkesan arogan kini justru terkesan manja, seolah membujuk seseorang yang jadi lawan bicaranya yang Ochi tebak sebagai Ibu cowok itu. “Selesain dulu yang disana, bisa hancur Indra Tech kalau CEO nya buat keputusan gegabah cuman karena anaknya sakit.” Hening sesaat, namun Ochi membulatkan matanya semakin lebar. Bentar-bentar dia gak salah dengar kan tadi? Indra Tech? Perusahaan teknologi dari Indonesia yang beberapa tahun ini pendapatannya gila-gilaan, sampai bekerja sama dengan Jepang serta Jerman yang terkenal sebagai pusat perkembangan teknologi. Ia menatap horror, bilik disebelahnya seolah bisa melihat langsung Alwan. Secepat kilat, ia meraih ponselnya mengetikkan nama Indra Tech di mesin pencarian seraya komat-kamit berharap yang ia pikirkan bukan seperti itu. Artikel-artikel bermunculan di layar ponselnya, mulai dari kesuksesan Indra Tech, kerja sama dengan negara lain, CEO Indra Tech yang ternyata seorang perempuan serta sebuah artikel baru yang dikeluarkan kemarin. Kue balok ditangannya sontak jatuh, dan kembali masuk ke dalam kotak di pangkuannya. Menatap jelas-jelas judul artikel dan foto yang termuat di sana. Mengusap kedua matanya untuk memastikan bahwa ia tak salah lihat. Judul artikel itu termuat dengan huruf besar tentang, “ALWAN NAVINDRA, SOSOK PENERUS INDRA TECH”. Tak lupa foto Alwan yang diambil candid seperti di sebuah acara besar. Di mana Alwan tampak bertepuk tangan dengan ekspresi datar, bersama sang Ibu yang tersenyum lebar. Ia memegangi kepalanya, masih tak menyangka akan artikel yang baru saja ia lihat. Seketika ia paham, kenapa teman sekelas cowok itu nampak ribut saat di perpustakaan. Karena artikel ini, artikel dari situs bisnis terkenal yang tak mungkin di baca para pelajar sepertinya walau lingkungan DHS terkenal cukup bonafit di Jakarta. Itulah kenapa tak ada kegemparannya yang terjadi selain dari kelas Alwan sendiri. Bagaimana tidak kaget, Alwan itu benar-benar tidak menunjukkan kalau dia orang ‘mampu’. Cowok itu penerima beasiswa, belum lagi lebih senang naik bis ataupun membawa sepeda. Lebih sering lagi menebeng motor Bagas ataupun mobil Nindi. Belum lagi sikapnya yang tak pernah melewatkan berbagai lomba dan nilanya yang terus meningkah, membuat orang-orang berpikir Alwan berusaha mati-matian untuk tidak dicabut beasiswanya. Siapa yang akan menyangka kalau dia pewaris perusahaan teknologi, yang rankingnya bukan nasional lagi. Tapi sudah masuk top 5 dunia, bersaing bersama microsoft,apple, ataupun perusahaan teknologi lain. Tapi dibandingkan hal itu semua, ada hal lain yang membuat Ochi menahan teriakannya sekarang. Hal yang ia tau tadi, seolah menjelaskan segala hal. Perasaan familiar yang ia rasakan beberapa tahun yang lalu, bersamaan dengan memori pendek yang kembali terputar di kepalanya dengan kurang ajarnya. Kini semua jelas. Alwan memang sosok itu. Sosok yang seharusnya tak pernah ia lupakan, tapi seenaknya terlupakan oleh waktu. Sosok yang seharusnya tak pernah ia benci, tapi harus ia jaga. Sosok yang Ochi tau betul titik lemahnya, dan sosok yang ia cari. Kenapa waktu begitu kejam merubah Nav yang hangat menjadi Alwan yang tak tersentuh? TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN