Ochi berjalan menuju tempat duduk yang masih kosong, yang sialnya hanya tersisa beberapa saja di barisan depan. Dekat sekali dengan panggung yang akan dijadikan arena untuk bertarung para anggota seleksi nanti. Kalau saja Erik, ketua kelasnya tak memaksanya untuk menemani pemuda itu ke kanti dahulu mungkin dia sudah manis di deretan belakang. Memilih untuk tidur saja, ketimbang mendengarkan orang-orang berdebat nanti.
Tatapan Ochi terpaku ke arah bendera klub debat yang didirikan di pinggir tiap meja. Menunjukkan lambang elang dan buku, yang menjadi ciri khas ekskul kebanggaan sekolah itu. Ekskul yang mendadak bangkit dari keterpurukan, karena kedatangan si jenius Alwan. Atau, Ochi lebih suka sebut orang sombong itu.
Ochi ingat betul cerita dari beberapa kakak kelasnya dulu, kalau klub debat sempat terancam untuk bubar karena minim sekali menghasilkan prestasi. Persis seperti drawing club yang sedang berada di ujung tanduk sekarang. Tapi seolah keajaiban Kak Pandu ,Ketua Klub debat, saat itu berhasil membujuk Alwan untuk bergabung ke dalamnya. Lantas menyatukannya dengan Dinda dan Riko, hingga menghasilkan tim terkuat.
Tim yang menjadi penyebab nama klub debat naik. Belum lagi angkatan Alwan di klub debat memang orang-orang unggulan, tak heran membuat klub itu dalam waktu singkat banyak menyumbangkan piala. Bahkan tim Alwan berhasil mewakili Indonesia dalam pertandingan debat di Singapura, bukan hanya menjadi wakil tapi juga memboyong medali emas dalam perlombaan itu.
Sebenarnya, acara seleksi anggota debat ini banyak dinantikan oleh murid DHS yang lain. Kebanyakan dari mereka penasaran, seahli apa tim Alwan dalam berkompetisi. Apalagi ketika mereka tau, untuk pertama kalinya Alwan, Dinda dan Riko memilih berada di tim berbeda. Tentu saja ini menjadi hal menarik untuk mengetahui kemampuan ketiganya.
“Katanya si Pangeran Dementor ikutan,” ucap Erik berbisik seraya meremas bungkus plastik bekas rotinya, lantas menjejalkannya ke dalam saku celana. Masih tau diri untuk tidak membuang sampah di auditorium, meski dia sudah melanggar untuk tidak makan selama acara berlangsung.
“Hm, gue tau.” Ochi membalas sekenanya, kembali teringat adegan yang ia lihat beberapa hari lalu. Fakta bahwa ia melihat langsung, sang kebanggaan sekolah meremehkan Al entah kenapa menyinggungnya. Belum lagi kata-kata tajam pemuda itu yang berhasil memancing amarah si Pangeran Dementor, yang jarang sekali menunjukkan emosinya.
Acara dimulai, Ochi tak begitu mengerti bagaimana mekanismenya karena dia tak begitu mendengarkan penjelasan dari Pak Adam tadi. Dia hanya paham kalau tim pertama yang bertanding adalah Tim Alwan Vs Tim Riko. Itu artinya babak pertama sudah begitu panas, karena si jenius itu melawan sosok Al. Pemuda yang mungkin takkan diketahui keberadaannya di sekolah, kecuali namanya yang terpampang sebagai 5 besar satu sekolah.
“Mampus aja mosinya Brexit.” Di samping Ochi, Erik sudah berbisik-bisik heboh. Ia yang pasalnya memang suka membaca hal-hal terkait politik, jelas tertarik akan debat di depannya.
Tatapan Ochi kini beralih ke Alwan yang duduk di tengah, menimpali singkat teman-temannya yang sibuk mencatat hal-hal penting berkaitan dengan mosi. Alwan terlihat begitu tenang, tidak seperti teman satu timnya yang sibuk mengumpulkan informasi. Nampaknya pemuda itu sudah menguasai betul materi, karena mosi sudah di berikan sebelum acara. Walau akhirnya tetap di acak lagi seperti sekarang.
Pada pembicara pertama, Ochi bisa melihat kedua tim sama-sama tenang mengawali argumentasi. Terutama Ica, teman sekelasnya yang berada di tim yang sama dengan Alwan. Sesekali Ica sempat terdiam, karena melupakan beberapa kata-katanya. Hal yang wajar, mengingat ia harus berbicara di depan ratusan murid dan puluhan guru.
Tepat, ketika pembicara kedua dari tim Pro di mulai seisi auditorium mulai berbisik-bisik. Memusatkan perhatian penuh pada Alwan yang sudah bersiap menyampaikan argumentasinya, tatapannya lebih terlihat tajam di balik kacamata yang sedang ia kenakan.
Sesuai dugaan, Alwan berhasil membuat para dewan juri senang. Pembawaannya yang tenang, dan begitu ahli menyampaikan fakta-fakta tanpa terbata-bata. Intinya banyak hal, yang membuat murid DHS kini paham kenapa pemuda itu tak pernah terkalahkan. Alwan bukan hanya menampar mereka semua dengan ucapan pedasnya saja sekarang, tapi juga dengan kemampuannya.
Ochi termenung, entah kenapa sesaat merasa familiar dengan wajah Alwan yang terkesan berbeda. Lebih ramah? Entahlah, intinya tak ada raut dingin dan permusuhan yang biasanya Alwan keluarkan melalui matanya. Meski masih tak menunjukkan senyum.
Kini Ochi merasa tak nyaman.
****
“Minum dulu nih, capek pasti lo.”
Sebotol air putih yang terulur padanya, berhasil mengalihkan perhatian Alwan sekarang. Tangannya yang semula terkepal erat, perlahan mengendur ketika mendapati kedua sahabatnya. Bagas dan Nindi meringis, menyadari betul Alwan yang hendak meledak sekarang juga.
Seleksi debat sudah berakhir beberapa menit lalu, menjadikan tim Alwan sebagai pemenang dan ia sebagai pembicara terbaik di timnya. Menandakan Alwan berhasil lolos dalam seleksi terbuka ini. Tapi nampaknya, lolos pun tak berhasil membuat Alwan senang.
“Cowok brengsek.” Alwan menggertakkan giginya, menatap nyalang ke deretan kursi auditorium yang mulai kosong. Menyisakan beberapa anggota klub debat yang sibuk membereskan panggung.
“Si pangeran dementor ya?” cetus Nindi paham betul penyebab amarah Alwan kali ini.
Di babak pertama, ada kejadian tak terduga yang mengejutkan satu sekolah. Al, kabur di tengah pertandingan begitu saja tanpa mengucapkan apapun. Padahal sebelumnya cowok itu nampak percaya diri ketika berdiskusi dengan teman satu timnya, tapi entah kenapa ketika gilirannya berbicara ia justru bungkam. Membuat timnya sendiri gugur begitu saja.
Gugurnya tim Al, jelas bukanlah hal yang diprediksi Alwan. Jauh hari, baik Bagas dan Nindi tau betul ada rencana tersirat kenapa Alwan tak satu tim dengan Dinda dan Riko. Ia ingin, mereka bertiga lolos bersama dan kembali menjadi satu tim di seleksi final yang akan diadakan tertutup.
Dan tindakan Al tadi, berhasil membuat Riko gugur. Menyisakan Dinda dan Alwan saja untuk tetap maju. Itulah kenapa Alwan marah besar kali ini, auranya yang memang sejak awal menyeramkan semakin menjadi saja. Cowok itu tak pernah suka ketika rencananya justru meleset.
“Udah jangan dipikirin, gak baik marah-marah saat lo lolos.” Bagas menepuk pundak Alwan mencoba menenangkan sahabatnya itu. Dahinya sedikit mengernyit ketika mendapati sesuatu mengalir dari hidung Alwan yang tak disadari pemuda itu. “Tuhkan-“
“Lo mimisan, bersihin pake ini.”
Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba Ochi muncul begitu saja menyodorkan sapu tangannya ke hadapan Alwan. Cowok itu sedikit kaget, menyentuh bawah hidungnya dan mendapati cairan merah pekat di tangannya. Ia menoleh ke arah kedua sahabatnya, tak memperdulikan uluran sapu tangan itu. “Lo berdua ada tisu?”
“Tenang aja, gue gak pakai sapu tangan ini. Dan gue gak penyakitan juga,” ucap Ochi ketus sedikit membuat Nindi mengernyitkan dahi. Mengingat karakter Ochi yang biasanya ramah kepada siapa saja, tapi kali ini begitu ketus.
“Gas, Nin.”
“Ego lo gede banget ya?” sindir Ochi berhasil membuat Alwan yang semula menunduk jadi membalas tatapannya tajam. Tanpa memperdulikannya Ochi menarik tangan Alwan memaksa pemuda itu memakai sapu tangannya. “Suatu saat nanti lo bakal menyerah jadi egois, termasuk ke diri lo sendiri.”
Ochi bergegas pergi, meninggalkan Alwan yang dibuat terpaku. Tatapan Ochi entah kenapa begitu menusuk untuknya. Dia sedikit bersyukur karena kemampuannya tak muncul kali ini, hingga dia bisa menyadari iris mata Ochi yang berwarna coklat.
Yang tak Alwan ketahui saat itu adalah. Ochi berusaha menahan perasaan tak asing yang memenuhi dadanya.
TBC