…
Saat Anton sudah membelikan ponsel meah untuk Aruna, ia pun mengantar Aruna hingga sampai di depan rumah reotnya.
“Heh,” panggil Anton saat Aruna sudah turun dari mobilnya.
“Iya, Tuan?”
“Panggil aku Mas dan mainkan peranmu dengan baik,”
“B-baik, Mas.”
“Jangan sampai itu berpindah tangan, karena aku sudah memasang deteksi ponsel. Hanya aku dank au yang berhak memegang ponsel itu,” ucap Anton pada Aruna.
Aruna meremas kuat ponselnya, mengerti apa yang di ucapkan oleh Anton dan mengangguk.
“Selama kita belum menikah, kau ubah penampilan dan kebiasaanmu menjadi orang kaya, jangan sampai kau mempermalukanku di depan keluarga ku dan rekanku,”
“B-baik, Mas…”
“Masuk!”
“Baik, Mas Anton hati-hati di jalan,”
“Hm…”
Anton pun pergi meninggalkan halaman rumah Aruna dan Aruna berjalan masuk ke dalam rumah.
“Assalamualaikum,” ucap Aruna memasuki rumahnya.
Dengan langkah was-was ia menggenggam erat ponsel yang di belikan oleh Anton.
“Seneng kan lo, jadi orang kaya!” Aruna terpekik saat mendengar suara Elis ternyata sedang duduk di kursi yang sudah reot.
“Bukan aku yang meminta, melainkan kalian yang membuat aku jadi manusia terpilih,”
“Cih, sok-sok an lo… baru begitu aja udah belagu,”
“Aku ke kamar dulu,” ucap Aruna lebih memilih untuk pergi ke kamar.
“Siniin hp lo,”
Aruna pun menoleh pada Elis.
“Nggak, Elis.”
“Siniin gue bilang,” ucap Elis sambil berjalan mendekati Aruna. Aruna menggeleng pelan dan berusaha masuk ke dalam kamar.
Ternyata ia kalah cepat.
Elis menarik hijabnya.
“Sssh, lepas Elis… ini sakit,” ucap Aruna pada Elis.
“Siniin hpnya, g**l*g” teriak Elis pada Aruna, ia justru memperkuat jambakan di hijab Aruna.
“Elis, lepas… sakit,” ucap Aruna memohon.
“Nggak bakal sebelum lo kasih hp itu ke gue,”
Aruna menggeleng dan akhirnya, Zikri pun datang.
“Lepas, Elis…”
“Nggak, Bang. Gue mau hp itu,”
“Jangan buat Tuan Anton murka, lepasin!” titah Zikri pad adiknya itu.
“Diem lo, Bang…”
“Lepasin, atau lo bakal di penggal sama calon suaminya?” ucap Zikri menakuti Elis.
“Arhhhh…” Elis melepaskan tarikannya di hijab Aruna. Ia menatap berang sang kakak.
“Kenapa bukan gue yang di pilih sih, Bang. Kenapa harus dia, kenapa!” teriak Elis marah.
“Ya, lo pikir dong… orang banyak duit kaya dia, nggak mungkin milih manusia burik kayak lo.” Jawab Zikri membuat Elis menatapnya semakin marah.
“Lo sama ibu sama aja,”
“Lo pikir pakai otak, Tuan Anton milih Aruna itu nggak masalah. Yang penting, nanti kita punya bank berjalan, lo ngerti nggak sih!”
“Tapi, gue nggak puas kalau bukan gue yang di pilih, Bang!” balas Elis lagi dengan berteriak.
“Terserah lo, gue nggak mau cari mati sama orang itu,” orang yang di maksud adalah Anton. Zikri masuk ke dalam kamar miliknya.
Aruna memiliki kamar sendiri, berbeda dengan Elis yang satu kamar dengan ibunya.
Dengan Aruna? Rasanya tidak mungkin dan tidak akan mau.
Aruna pun langsung mengganti paakaian yang ia pakai tadi dengan pakaian lusuh yang biasa ia pakai. Ia bersiap untuk tidur.
Ia pun berdoa lebih dulu, dan berharap semoga hari esok akan lebih baik dari hari ini.
“Terimakasih untuk hari ini, ya Allah…” gumam Aruna yang kemudian tidur.
…
Hingga esok hari pun tiba, Aruna sudah bersiap untuk pergi bekerja di warung bu Asnah. Tapi, ponselnya berdering. Ia melihat layar ponsel dan ternyat itu adalah Anton.
“Assalamualaikum,Mas…”
“Siap-siap, aku sedang kesana,” panggilan pun terputus.
“Mas Anton nggak jawab salamku,” gumam Aruna yang kemudian, ia berjalan kesana kemari menunggu kedatangan Anton.
“Heh, Aruna..” panggil Zainab pada anak tirinya.
“Kenapa, Bu?”
“Masak sana, baju yang kotor juga cuci yang bersih, kamu juga belum nyapu halaman,”
“Bu, aku udah nyapu sama masak. Kalau nyci baju, aku nggak sempet. Aku harus ke wrung bu Asnah, Bu.” Ucap Aruna memelas.
“Alasan aja kamu, dasar anak tidak tau di untung!”
“Menyingkir dari calon istriku!”
Suara dingin dan tegas membuat mereka menoleh, ternyata Antin sudah sampai disana.
“M-mas Anton, udah sampai?”
Anton menatap jiik pada Aruna dan ibu tirinya.
“Ganti dan buang pakaian lusuhmu itu sangat menjijikan dan baunya sangat tidak enak!” ucap Anton dengan nada sombong.
“T-tapi, Mas… saya mau kerja di warung bu Asnah,”
Anton sedikit terkejut mendengar jawaban Aruna.
“Lupakan, kita harus ke toko perhiasan untuk mencari cincin pernikahan,” ucap Anton pada Aruna.
Zainab hanya meneguk ludahnya susah payah.
“Hei, wanita tua… katakan pada anak burikmu itu, jangan sentuh barang-barang yang sudah ku berikan untuk Aruna, atau aku akan memenggal kepalanya,”
“B-baik, Tuan. Akan saya peringatkan dia,”
“Mas, aku sudah siap…” ucap Aruna yang sudah mengganti pakaian dengan pakaian bagus.
“Semprot parfum di tubuhmu, baumu sangat menjijikan.
”Saya sudah pakai, Mas…”
“Bagus, masuk!” ucap Anton memerintahkan Aruna untuk masuk ke dalam mobilnya.
Aruna pun menurut, ia pun menatap Anton yang baru saja naik ke dalam mobil.
“Pak Jef apakah tidak ikut, Mas?”
“Jika kau sudah tau jawabannya, kau tidak perlu banyak bertanya, Aruna!”
“I-iya, Mas…”
“Kunci pintu kamarmu, jika sedang tidur.”
“Tapi, kamar saya tidak ada kunci, Mas…”
“Dasar Miskin,” ucap Anton yang membuat Aruna terdiam, ia tak ingin melawan atau membalas ucapan Anton karena itu memang faktanya.
“Mas Anton sudah sarapan?”
“Jangan banyak bertanya, Aruna!” bentak Anton membuat Aruna terdiam.
“Menjijikan sekali, harus berhadapan dengan situasi ini,” ucap Anton menatap jalanan yang macet.
“Istighfar, Mas…” ucap Aruna mengingatkan Anton.
“Jangan mengguruiku, aku tidak butuh itu!” ucap Anton dengan tatapan tajam pada Aruna.
Lalu, terdengar suara perut lapar Aruna yang membuat Anton menoleh padanya.
Wajah Aruna memerah menahan mal
u.
“Merepotkan!” ucap Anton yang lalu mencoba mencari restaurant untuk Aruna.
“Dimana restaurant terdekat disini?”
“Rumah makan saja, Mas. Ada yang tidak jauh dari sini,”
“Sialan!”
Aruna terpekik, Anton mengumpat. Ia terus beristighfar dalam hati.
“Belok kiri, Mas…”
Anton pun mengikuti petunjuk Aruna,
“Berhenti di Warung Makan bu Asnah, Mas…”
“What?” pekik Anton saat melihat rumah makan yang benar-benar terlihat kumuh bagi Anton.
“K-kenapa, Mas?”
“Tidak sudi sekali saya masuk ke dalam warung makan seperti itu,”
“Tapi, makanan disana enak semua, Mas.”
“Kita tidak selevel,”
Aruna pun tersadar, jika ia siapa dan Anton siapa.
“M-maaf,”
“Cepat, lima belas menit. Aku menunggumu disini, jangan buang waktuku lebih banyak,” ucap Anton yang membuat Aruna mengangguk.
“Mas Anton mau minum?” tawar Aruna yang langsung mendapatkan tatapan tajam Anton.
“Baik, saya paham…”
Aruna pun turun dari mobil Anton dan masuk ke dalam warung makan tempatnya bekerja.
“Sialan! Benar-benar sangat menjengkelkan berada di situasi seperti ini,” gumam Anton sambil bergidik ngeri saat melihat rumah makan bu Asnah yang menurutnya jorok padahal tidak.
“Aku harus benar-benar membuatnya senang, agar tak berubah pikiran untuk menikah deganku,” lanjutnya lagi.
…
Bersambung…