…
….
Aruna merasa gugup saat ia sudah siap dengan penampilan cantiknya. Padahal, ia merasa sangat lelah karena seharian tadi ia di jemput Jef untuk pergi berbelanja dan mempercantik diri, sesuai perintah Anton.
Aruna sudah menunggu kedatangan keluarga Anton.
Ia merasa bingung, karena ibu dan kedua saudara tirinya berubah menjadi baik pada Aruna.
Aruna tersenyum tipis, ia sangat paham mengapa mereka bersikap begitu padanya.
Bahkan, tadi siang mereka bertiga ikut berbelanja dengan Aruna, tapi jatah mereka hanya dibatasi boleh memilih pakaian hanya satu stel dan tidak lebih dari harga lima ratus ribu rupiah.
Sebenarnya, Elis merasa iri karena Aruna diperlakukan spesial oleh Anton dan mendapatkan semua apa yang diinginkan olehnya.
“Seneng kan lo, bisa dapat apa aja yang lo mau?” ucap Elis sirik pada Aruna.
Aruna hanya diam, memilih tak menanggapi ucapan adik tirinya.
Ia sedang menahan rasa gugup karena akan menyambut keluarga Anton.
Mereka sudah menunggu kedatangan keluarga besar Rajasa di restaurant khusus yang sudah di pesan oleh ayah Anton.
Tak lama kemudian, mereka pun datang… Aruna semakin gugup dan telapak tangannya penuh dengan keringat.
“Selamat malam, Aruna dan keluarga…” ucap Hana menyapa Aruna dan keluarga tirinya.
“Selamat malam, Tante, Om dan Mas Anton…”
“Malam, Aruna… kamu cantik sekali malam ini, Nak. Tidak salah, Anton memilih kamu menjadi calon istri,” puji Darka pada Aruna.
“Terimakasih, Om… silahkan duduk,” jawab Aruna yang lalu mereka pun duduk.
“Saya rasa, kalian sudah paham dengan acara undangan dari kami dan bertemu mala mini di sini,” ucap Darka pada keluarga tiri Aruna.
Anton tersenyum sinis menatap tiga orang yang terlihat sangat kampungan.
"Pa, sebaiknya kita makan dulu. Kita bahas itu nanti," ujar Hana pada Darka.
"Iya, Ma…"
"Bu Zainab, tidak apa-apa kan kita bahas itu nanti?"
"Oh, iya..
Tidak masalah kok, Bu Hana…".ujar Zainab pada Hana --- ibu Anton.
Setelah itu, mereka makan malam lebih dulu. Aruna makan dengan sopan, berbeda dengan Elis dan ibu tirinya yang terlihat memalukan.
"Bu, ini enak banget…" puji Elis sambil menambahkan nasi dan lauk di piringnya.
Kedua orang tua Anton menatap Elis, dan Aruna tersenyum canggung.
"Maaf ya, Bu, Pak… Elis memang gadis yang tidak tahu malu," ucap Zainab merasa tidak enak, meskipun ia sendiri sama. Menambah lagi porsi makannya.
"Kampungan sekali," ucapan Anton mendapatkan sikutan dari sang mama.
"Kamu ini, biarkan saja…"
"Itu membuat aku tidak selera makan," ucap Anton lagi.
Aruna merasa tidak enak pada Anton.
"Mas Anton, mau makan yang lain? Buah, mungkin?"
"Tidak," jawab Anton dengan singkat. Aruna pun mengangguk mengerti.
Ia pun segera menyelesaikan makannya, setelah itu ia menatap Anton yang sedang bermain ponsel.
"Anton, jangan main ponsel terus. Ajak ngobrol calon istri kamu,"
"Ck," Anton segera memasukkan ponselnya ke saku celana dan menatap Aruna.
"Ponselmu?"
Semua orang menatap Aruna, Aruna pun tersenyum kikuk.
"Aku tidak punya, Mas…"
"Duh, Anton… kamu ini, sepulang dari sini ajak dia ke G.store. Carikan ponsel untuknya,"
Elis pun terkejut, begitu juga dengan Zikri dan ibu tirinya.
"Tidak perlu, Tante. Saya tidak biasa memakai itu,"
"Sudahlah, Aruna. Jangan menolak, aku tak ingin reputasiku rusak. Jika orang tahu, jika calon istriku tidak memiliki ponsel," ucapan Anton yang membuat Aruna lagi-lagi mengangguk.
"Iya, Mas. Maaf," ucap Aruna menunduk.
"Sialan, dia jauh lebih maju sekarang. Kurang ajar, dia juga nggak cantik. Tapi, kenapa dia jadi seberuntung ini?" Batin Elis menatap iri pada Aruna.
Elis meremas sendok yang ada dalam genggamannya, ia merasa sangat kesal pada Aruna yang lebih beruntung.
"Aruna, calon suami kamu baik sekali, Nak." Ucap Zainab sangat lembut pada Aruna, bahkan Aruna benar-benar merasa terkejut mendengar dan melihat perubahannya.
"Itu sudah kewajiban saya sebagai calon suami Aruna, dan jika nanti kami sudah menikah, saya akan menjamin segala kebutuhannya." Ucap Anton sambil tersenyum sinis pada mereka.
Aruna tertegun dengan sikap Anton, baru kali ini ia mendapatkan pembelaan. Mungkin karena Anton sudah tahu watak dan karakter keluarga tiri Aruna.
"Ayah bangga padamu, Anton. Bagus jika kau memiliki pemikiran begitu," puji Darka pada putranya.
Anton tersenyum sinis menatap Zikri yang hanya bisa diam, Anton yakin jika Zikri memiliki pikiran yang waras, karena sadar dengan sikap dan perlakuannya pada Aruna.
"Begini, maksud dari kita berkumpul adalah saya ingin meminang Aruna untuk putra saya, Anton. Apakah, Bu Zainab dan keluarga setuju dan menerima lamaran saya?"
"Saya sangat setuju, Pak. Karena saya yakin, jika Aruna pun menerima lamaran ini," jawab Zainab dengan senyum lebar dan penuh percaya diri.
"Bagaimana, Aruna… kamu siap kan?"
Aruna terdiam dan ia terpekik saat merasakan, kakinya di injak oleh seseorang. Ia menatap pada Anton dan Anton menatapnya dengan senyum manis.
Aruna pun menghela napas dalam, ia memejamkan matanya sejenak, ia akan meyakinkan hatinya.
"Bismillahirrahmanirrahim, saya setuju dan menerima lamaran om Darka untuk Mas Anton yang ditujukan kepada saya," jawab Aruna yang sudah yakin.
"Alhamdulillah… akhirnya, kita punya calon menantu, Pa."
"Iya, Ma… sekarang kita bahas kapan acara pernikahan akan di langsungkan," ucap Darka, lalu menyeruput air minum.
"Kalau saya dari pihak Aruna, ikut saja dengan keputusan kalian, Pak." Ucap Zainab karena ia tak ingin kuar modal untuk acara pernikahan anak tirinya.
"Mungkin dua bulan lagi, cukup?" ucap Hana menatap mereka, lalu beralih pada putranya.
"Aku ingin secepatnya saja, dua minggu kedepan." Jawab Anton yang terlihat santai, Zikri pun menelisik. Menatap Anton curiga, ia pun sebenarnya memikirkan apa maksud dari semua ini.
Apa maksud dari rencana Anton yang ingin mempersunting adik tirinya dengan cepat.
Aruna terbelalak mendengar jawaban Anton yang terlihat santai.
"Dua minggu, Mas?"
Anton mengangguk mantap, ia ingin menikah dengan Aruna dua Minggu lagi.
"Lebih cepat lebih bagus kan, Aruna?" sambung Zainab pada Aruna, matanya sedikit menajam.
Anton pun sadar dengan itu.
"Oh, gadis yang malang…" batin Anton berkata.
"Benar itu, Aruna. Kalian tidak akan terjerumus dalam hal yang tidak baik, jika pernikahan kalian di percepat." Sambung Hana setuju, Aruna pun berpikir demikian.
"Tapi, apa ini tidak terlalu cepat ya?" tanya Aruna dengan ragu.
"Terima saja, Sayang. Jangan membantah, kita akan hidup bersama dalam waktu dekat." Suara Anton terdengar sangat lembut di telinga Aruna, membuat Aruna menunduk malu-malu.
Ini kali pertamanya, di panggil sayang oleh lawan jenis.
Jantung Aruna berdegup kencang.
Hana terkekeh melihat Aruna yanh sedang menunduk.
"Baiklah, jadi keputusan sudah di pastikan, mereka akan menikah dua minggu lagi."
"Sepertinya, aku dan Aruna akan pergi lebih dulu. Aku akan mencarikan ponsel untuknya," ucap Anton berdiri sambil mengucap permisi.
"Ayo, calon istriku… kita pergi sekarang," ajak Anton dengan lembut.
Aruna pun benar-benar merasa sangat malu dan wajahnya terasa panas.
Ia pun berdiri dan berpamitan pada mereka.
Aruna dan Anton masuk ke dalam mobil.
"Tuan, apa keputusan Tuan itu benar?"
"Apa kau pikir aku sedang bercanda?"
"Maaf, Tuan…" cicit Aruna pelan.
"Jangan membantah apapun. Kau akan senang dengan perubahan hidupmu nanti, dengan menjadi istriku."
"Bukan begitu, Mas….m-maksud saya, Tuan."
"Terserah! Jangan bahas hal yang sudah kau ketahui jawabannya," ucap Anton pada Aruna.
"Aku tidak suka, jika hartaku di pakai oleh para benalu seperti keluargamu itu," lanjutnya lagi.
"M-maaf, saya tidak bermaksud membawa mereka tadi siang,"
"Aku akan hitung hutang pada mereka, aku tidak suka memberikan mereka dengan cuma-cuma, kecuali dirimu."
"M-maaf, Tuan… kenapa saya tidak disamakan dengan mereka?" tanya Aruna dengan gugup.
Anton menghentikan mobilnya seketika, dan mendekati Aruna.
Aruna gugup, takut dan cemas.
"K-kenapa, Tuan?"
Anton tersenyum sinis pada Aruna.
"M-maaf, tolong menjauh. K-kita belum sah,"
"Tentu saja karena kau calon istriku, Aruna!"
Deg
Jantung Aruna kembali berdegup kencang, setelah itu Anton kembali melanjutkan perjalanan.
Aruna benar-benar merasa gugup dan malu.
"T-terimakasih,"
Anton tersenyum miring mendengar jawaban Aruna. Aruna benar-benar polos, hingga ia mudah untuk mengelabuhi nya.
….
Bersambung...