Detak Jantung Aruna

1081 Kata
… Jantung Aruna berdegup kencang, saat memikirkan ucapan Anton. "Mulai sekarang kau adalah calon istriku dan kita akan menikah," Ucapan Anton tiba-tiba yang terngiang di telinga Aruna. Bukan ke ge-er an, melainkan ia merasa tidak paham dengan situasi ini. "Ya Allah, apakah ini jalan yang terbaik?" gumam Aruna sambil menatap langit kamarnya. Ia meringis pelan sambil menutup wajah, saat ada tikus melintas di langit-langit kamarnya. "Nggak ngerti, kenapa Tuan Anton mau aku yang menjadi istrinya. Nggak mungkin juga, laki-laki tampan dan kaya seperti dia, nggak ada gadis yang mendekati," gumam Aruna lagi. Brak brak brak Aruna berjengit kaget saat mendengar, suara barang-barang yang dilempar. "Bu, kenapa harus dia yang dipilih tuan Anton, kenapa bukan aku?" teriak Elis pada sang ibu. "Sudahlah, terima saja nasibmu. Lagian, kamu itu jelek, Elis. Tuan Anton tidak menyukaimu," jawab Zainab pada Elis. "Ibu, kenapa ibu malah bela dia di banding aku?" Protes Elis karena kesal pada sang ibu. "Diamlah, kita harus baik padanya. Agar dia mau menjadi bank berjalan untuk kita, jika dia bisa menjadi kekasih Tuan Anton," Aruna yang mendengar perkataan ibu tirinya hanya menghela napas dalam. Ia tak ingin melakukan hal itu, itu tidak baik dan tidak mungkin ia lakukan. Aruna lebih memilih tidur dan tak peduli dengan mereka, karena ia yakin… jika ia ikut angkat bicara, pasti akan menjadi bulan-bulanan mereka. … Anton sedang duduk sambil minum wine di tangannya. Matanya, menyelidik… ia duduk di club malam, mencari sosok gadis yang akan ia pilih untuk menemaninya malam ini. Ia melihat sosok gadis yang sedang berjoget di bawah sana sambil memeluk seorang pria. Lalu, ponselnya berdering, membuatnya membatalkan niat untuk menghampiri gadis itu. "Ck," Anton berdecak kesal saat melihat layar ponsel, ternyata itu adalah sang mama. Dengan malas, Anton berjalan keluar dari club' malam. "Halo, Anton…" "Iya, Ma?" jawab Anton dengan malas. "Cepatlah kembali, ada hal yang ingin Mama dan Papa bicarakan denganmu," "Ya," Anton langsung memutus sambungan dengan sang mama. "Tuan --- " panggil Jef yang belum sempat menyelesaikan pertanyaannya. "Bawa aku pulang," "Baik, Tuan…" Jef pun bergegas membukakan pintu mobil untuk Tuannya. Selang dua puluh lima menit, akhirnya mereka sampai di rumah kedua orang tua Anton. Anton masuk ke dalam rumah kedua orangtuanya dan melihat mereka yang sedang menonton televisi bersama. Hana yang menyadari hal itu langsung memanggilnya. "Duduklah, Anton…" Anton pun menurut pada sang mama ia duduk di hadapan kedua orangtuanya. "Anton, apa yakin akan menikahi Aruna?" tanya Hana pada putranya itu. "Menurut Mama?" tanya Anton balik dengan mata memicing. "Oke. Mama cocok dengannya, dia cantik, baik, dan solehah lagi. Pasti dia bisa bawa kamu ke jalan yang benar," "Papa setuju dengan ucapan Mama, dan kami sudah menyiapkan segala keperluan untuk melamar Aruna besok malam," "Ya, itu terserah kalian. Atur saja semuanya, hanya ada satu syarat dariku…" "Katakan," ucap Darka dengan menatap wajah putranya serius. "Aku tidak ingin pernikahan ini dilihat oleh media ataupun --- " "Tidak!" Tolak Darka --- ayah Anton dengan tegas. Darka sudah tahu apa yang dimaksud oleh putranya. Putranya masih berhubungan dengan gadis yang tak ia suka. Gadis yang sering memperlihatkan bagian tubuhnya di publik. "Kenapa tidak?" "Jangan kau pikir Papa tidak tahu, kau ingin melakukan hal itu karena tidak ingin gadis yang biasa mengumbar aurat itu tahu, bukan!" Anton menatap nyalang pada sang Papa. "Anton, jangan menatap Papa seperti itu. Itu tidak sopan!" sambung Hana pada putranya. "Papa tetap akan melakukan pernikahan ini dengan mewah, tak peduli dengan gadis itu. Gadis itu pun sering keluar masuk ke hotel dengan p****************g, kau saja yang bodoh! Mau dibutakan oleh cinta palsu dari gadis itu!" Tangan Anton terkepal kuat, jika saja ia bukan berhadapan dengan ayahnya, mungkin ia akan mengajarnya habis. "Papa dan Mama sudah menyiapkan mahar pernikahan dan sudah menyiapkan keperluan untuk lamaran besok," "Terserah!" Anton berjalan menuju kamarnya, ia benar-benar sangat marah dan kesal pada sang ayah. Ia tak peduli dengan semua itu. Ia pasti akan kalah jika sudah berhadapan dengan sang ayah. Ia menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. "Sial, lagi-lagi aku harus menurut!" Ia pun membuka layar ponselnya dan melihat pesan masuk dari Alisa. Ia lebih memilih untuk memejamkan matanya di banding harus menanggapi chat darinya. Ia sudah sangat lelah dan pusing seharian ini. … Sedangkan di sisi lain, di rumah keluarga Aditama. Mereka sedang menonton televisi bersama, hal yang biasa mereka lakukan jika sedang berkumpul. "Pa," panggil Ratna pada suaminya. "Kenapa, Ma?" jawab Agung sambil memakan potongan kue yang sudah tersedia di piring. "Mama pengen nimang cucu, Pa…" adu Ratna pada suaminya sambil melirik putra pertamanya. "Terus, kenapa Mama minta sama Papa?" "Ya, Papa carikan istri buat Jamal dong," "Uhuk… uhukk…" Jamal yang merasa namanya disebut pun tersedak air liurnya sendiri. "Ma, belum ada jodoh. Jangan paksa aku buat cepat nikah dong," protes Jamal pada sang mama. "Biarin, kamu nggak nyadar Mama sama Papa udah mulai tua?" "Ya, kan memang aku belum menemukan gadis yang cocok, Ma." "Makanya, bang Jamal itu jangan di rumah terus. Sekali-kali keluar dong, itu kalau nggak ngantor ya di kamar. Gitu aja terus, gimana mau dapat jodoh coba?" Sambung Nafisa adik bungsu Jamal. Jamal hanya tersenyum mendengar ucapan sang adik yang sudah mulai pintar berceramah. "Curiga kalau bang Jamal itu belok," Plak "Aduh, sakit…" keluh adik sulungnya mengusap lengan yang di tabok Jamal. "Kalau ngomong sembarangan kamu. Abang normal, abang masih suka cewek!" Sewot Jamal pada ucapan sang adik. Semua hanya terkekeh melihat pertengkaran kecil mereka. "Lagian, bang Jamal nggak capek ya.. kalau ada undangan pesta pernikahan, pasti ajak Nafisa buat jadi partner?" tanya Nafisa lagi pada sang kakak. "Oh, jadi kamu nggak ikhlas?" tanya Jamal dengan tatapan curiga. "Dih, bukan begitu maksud Nafisa, bang." "Udah ah, malas… Abang ke kamar dulu, mau tidur. Besok ada meeting pagi," pamit Jamal lebih memilih menghindar dari mereka. Ia tak ingin, jika terus menerus didesak untuk menikah. Toh, memang faktanya belum ada gadis yang ia rasa cocok di hati. Pernah beberapa kali dekat dengan seorang gadis, tapi banyak gadis yang hanya memandang harta dan memanfaatkan Jamal karena sifatnya yang selalu tak tega pada perempuan. "Tadi sore, dia liat gadis cantik tapi dia nggak mau ajak kenalan gadis itu," "Sudahlah, Mama… biarkan saja. Jamal sudah dewasa, percayakan saja padanya." Ucap Agung yang tak mempermasalahkan jodoh anaknya, toh mereka pasti sudah bisa mencari pasangan masing-masing. Mereka bisa memilih dan mencari yang menurut mereka baik. "Huh, iya deh…" jawab Ratna dengan pasrah, meskipun ia benar-benar mupeng ingin segera menimang cucu. … Bersambung…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN