…
Aruna tercengang, saat ia turun dari mobil, ia melihat rumah mewah bak istana di hadapannya.
Aruna meneguk ludahnya dengan susah payah.
"Nona, Tuan Anton sudah menunggu anda…" ucap Jef pada Aruna.
"Pak, i-ini rumah tuan Anton?"
"Ya, mari…" Jef mempersilahkan Aruna untuk berjalan lebih dulu.
Dengan langkah gemetar, Aruna melangkah. Ia benar-benar terkejut melihat rumah yang sangat mewah. Mungkin, seratus kali lipat rumah reotnya pun masih belum cukup.
"Kau lelet sekali, sangat menjengkelkan!" ucap Anton pada Aruna.
"M-maaf…"
Anton menatap penampilan Aruna dari atas hingga bawah, Aruna menunduk malu dan gugup ditatap oleh Anton intens.
"Tidak buruk dan tidak memalukan,"
"Anton," panggil wanita paruh baya dan masih terlihat sangat cantik. Tidak berhijab tapi sangat cantik dan ramah.
"Wah, siapa ini? Cantik sekali," puji ibu Anton saat melihat Aruna ada disana.
"Calon istriku,"
Aruna terbelalak mendengar jawaban singkat Anton.
"C-calon istri?" gumam Aruna masih shock dengan jawaban Anton.
"Anton, dia sangat cantik. Ya Allah, gadis Solehah…" puji ibu Anton pada Aruna.
Anton hanya terdiam menatap datar pada mereka, ia tak menyukai suasana seperti ini.
"Anton, mama akan menghubungi papa, papa pasti akan senang mendengar kabar ini,"
"Terserah," jawab Anton singkat dengan wajah dingin.
"Aruna, ayo masuk…"
Aruna pun menatap Anton, Anton menatap tajam Aruna. Memberi isyarat untuk mengikuti langkah sang ibu.
Aruna pun mengangguk kecil, ia mengikuti langkah kaki ibu Anton.
"Assalamualaikum…"
"Waalaikumsalam, selamat datang calon menantu mama," sambut Hana dengan senyum lebar.
Aruna tersenyum kikuk, ia benar-benar masih shock dengan jawaban Anton.
Ia merasa seperti mimpi, ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.
Ia seperti tidak memiliki wewenang untuk berbicara.
"Sebentar, Mama mau menghubungi Papa. Kamu duduk ya,"
"Iya, Tante…" Aruna pun duduk sambil menatap ibu Anton yang berjalan menuju telepon rumahnya.
Anton mendekati Aruna dengan menatapnya tajam.
"Ikuti permainanku, atau kau akan menyesal…"
"S-saya --- "
"Aku tidak suka di bantah!" Anton menatap tajam Aruna dan Aruna langsung menunduk takut.
"Ikuti saja permainanku, gadis lusuh!"
Aruna menebalkan hati dan telinganya, sepertinya ia akan mendapatkan masalah besar.
…
"Siapa namamu, Nak?" tanya Darka Rajasa ayah Anton.
"Aruna Sabila, Om…"
Darka mengernyitkan dahinya, gadis di depannya terlihat menunduk entah karena takut atau malu.
"Jangan menunduk, jangan takut, apa putraku menyakitimu?" tanya Darka pada Aruna.
Anton hanya mendengus kesal, ia akan membuat Aruna menyesal, jika iya menjawab 'Ya'.
"Tidak, Mas Anton sangat baik padaku, Om." Anton terkejut, karena Aruna memainkan peran dengan baik. Ia memanggil Anton dengan embel-embel Mas.
"Hm, Pa… Aruna sudah tidak memiliki keluarga, hanya ada ibu dan kakak tirinya," sambung Hana --- ibu Anton.
"Kita tetap akan datang ke rumahnya, kita lamar Aruna dengan baik,"
"T-tapi, Saya… belum siap dan belum memberitahu mereka, om."
"Tidak apa-apa, kau bisa pulang nanti dan memberitahu mereka tentang kabar baik ini, Nak."
Aruna menatap Anton dan Anton menganggukkan kepalanya.
Aruna pun setuju dengan ucapan kedua orang tua Anton karena terpaksa.
"Pa, Aruna gadis yang baik, cantik lagi…"
"Bagaimana mama tau, kalau dia gadis yang baik?"
"Hei, dia berhijab dan anaknya pemalu, sudah kelihatan kalau dia ini anak baik-baik, Anton."
"Terserah kau saja,"
"Aruna," panggil Darka dengan wajah serius.
"I-iya, Om?"
"Apa Anton membayarmu, untuk berpura-pura menjadi istrinya?"
Aruna langsung menaikkan pandangan dan menatap Darka --- ayah Anton.
"T-tidak, tidak… tidak sama sekali, Om. Mas Anton tidak melakukan itu, bahkan saya tidak tahu, jika dia akan membawaku kemari, padahal saya belum siap untuk bertemu dengan kalian," jawab Aruna dengan senyum manis untuk menutupi sedikit kebohongannya, toh memang faktanya ia tidak tahu apa-apa sebelumnya.
"Baik, saya percaya padamu. Mulai saat ini, kau adalah calon menantu kami. Mungkin, secepatnya… kau akan menjadi menantu resmi di rumah ini,"
Aruna pun tersenyum manis, meskipun itu adalah senyuman palsu.
Anton hanya terdiam sambil menatap wajah Aruna, mereka duduk bersebrangan. Hingga membuat Aruna dan Anton saling melempar tatap.
Aruna meringis pelan, saat merasakan jari kakinya di injak.
Anton tersenyum sinis, ia sangat senang melihat wajah kesakitan Aruna.
Hana yang melihat itu pun merasa curiga
"Aruna, apa kau sakit?"
"Tidak, Tante. Maaf, sepertinya saya akan ke toilet dan meminta izin untuk sholat magrib lebih dulu,"
Hana dan Darka saling melempar pandang, sepertinya mereka cocok dengan Aruna.
Hana pun tersenyum lebar.
"Sebaiknya, kita sholat berjamaah saja, Pa…"
"Itu ide yang bagus,"
"Baik, ayo… Aruna, kita sholat Maghrib berjamaah," ajak Hana pada Aruna.
"Iya, Tante…" mereka semua berdiri, dan hanya Anton yang masih duduk.
Aruna yang menyadari itu pun menoleh.
"Mas Anton, sholat tidak?"
"Kalian saja," jawabnya singkat.
"Astaghfirullah… itu dosa, Mas." Ucap Aruna mengingatkan Anton.
"Tuh, Anton… calon istri kamu saja paham, ayo cepat… kita sholat berjamaah," sambung Hana yang membuat Anton pun dengan malas berdiri mengikuti langkah mereka.
Mereka pun sholat berjamaah dengan khusyuk.
Mereka pun langsung sekalian menunggu waktu isya tiba, hal itu membuat Anton sedari tadi terdiam.
Ia pun menggeser posisi duduknya, bersandar pada dinding dan sekilas menatap Aruna yang sedang mengaji.
Hingga waktu isya pun tiba, mereka kembali melanjutkan sholat berjamaah.
Setelah itu, Hana pun mengajak mereka untuk makan malam.
"Kita makan malam dulu ya?"
"Maaf, sepertinya saya harus pulang, Tante." Ucap Aruna tak enak hati.
"Eh, kamu belum makan lho… nanti Anton yang antar kamu pulang," ucap Hana pada Aruna.
"Tak usah buru-buru, Aruna. Kami akan menjadi keluargamu, jangan segan."
Aruna pun tersenyum tipis, entah mengapa ia merasakan sesuatu yang tidak enak.
Ia melihat ke arah Anton yang menatapnya, menaikkan sebelah alisnya.
"Turuti saja mereka, Aruna…"
"Baik, Mas…"
Mereka pun makan malam bersama, dengan Aruna yang mengambil makanan dengan malu karena tak biasa makan di rumah mewah.
"Aruna, ambilkan untuk calon suamimu," ucap Hana sambil terkekeh.
Aruna pun dengan canggung menatap Anton.
Anton menyodorkan piring pada Aruna.
"Mas Anton, mau makan apa?"
"Nasi, ayam goreng dan sambal saja,"
Aruna pun mengangguk dan mengambilkan itu untuk Anton. Tak lupa dengan air minumnya.
"Ini, Mas…"
Anton menerima dengan wajah tanpa ekspresi, setelah itu mereka makan dengan keadaan tenang.
Setelah itu, Aruna berpamitan untuk pulang dan diantar oleh Anton.
Saat di perjalanan pulang, mereka hanya diam tak berbicara.
Hingga Aruna mengeluarkan suara.
"Tuan, kenapa anda tiba-tiba mengatakan, jika saya calon istri anda?"
"Diamlah, ikuti saja apa yang ku mau. Kau tak akan rugi, karena aku akan memberikan semua yang kau perlukan." Ucap Anton terdengar menjanjikan.
"Bukan itu, Tuan… tapi, ini secara tiba-tiba dan --- "
"Aku tidak akan mengulangi perkataan ku, Aruna!" Bentak Anton yang membuat Aruna terdiam.
Aruna pun mengangguk pasrah.
"Mulai sekarang, kau adalah calon istriku dan kita tetap akan menikah," ujar Anton yang membuat jantung Aruna berdebar.
"Aku akan meminta Jef menjemputmu, esok. Kau harus membeli semua kebutuhan yang biasa dipakai oleh orang kaya. Cari pakaian yang layak dan buat penampilanmu pantas seperti sekarang!"
Aruna terdiam, mendengarkan ucapan Anton yang terdengar sombong, wajar saja… dia adalah orang kaya.
"Jangan memalukan ku karena penampilanmu yang menjijikan," ucap Anton lagi yang membuat Aruna menunduk.
…
Bersambung...