Kekhawatiran Aruna

1039 Kata
… Aruna terbengong saat ia ternyata dibawa ke sebuah toko pakaian, bukan toko biasa melainkan toko dengan harga fantastis. "Hei, kau pilih saja pakaian semaumu dan jangan bengong!" titah Anton pada Aruna. Aruna pun menatap Anton dengan wajah penasaran. "T-tapi, Tuan… saya tidak memiliki uang," cicitnya pelan. "Dasar gadis bodoh! Aku yang membawamu kesini, berarti aku yang akan membayarnya!" bentak Anton yang membuat Aruna meringis. "Maaf," "Jef, kau urusi dia. Aku akan pulang lebih dulu," ucap Anton yang kemudian keluar dari toko itu. "Mari, Nona…" "Tapi, Pak… saya tidak memiliki cukup uang untuk menggantinya, nanti." "Jangan khawatir, Nona.. ini urusan Tuan Anton, ayo pilih saja pakaian sesukamu," jawab Jef yang lalu membuat langkah Aruna berjalan menuju pakaian sexy. "Maaf, saya tidak bisa memilih pakaian seperti ini," ucap Aruna yang membuat Jef paham. "Baik, saya akan membawa anda ke toko pakaian muslim," "Pak, kenapa saya di bawa Tuan Anton?" "Saya tidak tahu, Nona… sebaiknya anda ikuti saja perkataannya, karena ia tak segan melakukan kekerasan jika di bantah," Aruna mendesah pelan, ia benar-benar tidak mengerti. Mengapa Anton membawanya. "Saya takut, Pak…" cicit Aruna pelan. "Tidak apa-apa, Nona. Anda akan baik-baik saja, jika anda tak menolak atau membantahnya. Terlebih lagi, anda sekarang menjadi jaminan hutang," ucapan Jef membuat Aruna terbelalak. Ia baru tersadar sekarang, jika ia pun sama saja seperti di jual oleh keluarga tirinya. "Pak," "Iya, Nona?" "A-apa Tuan Anton akan menjual saya lagi?" tanya Aruna dengan pelan. Jef yang mendengarnya hanya terkekeh kecil. "Tidak, Nona. Tuan Anton tidak sejahat itu, apalagi untuk menjual seseorang, itu tidak pernah terjadi sebelumnya," Aruna pun bernapas lega, hal yang dikhawatirkan akhirnya terjawab. "Saya pikir, saya akan dijadikan wanita malam," lanjut Aruna dengan pelan. "Tidak, Nona… silahkan, anda boleh memilih pakaian yang Anda suka, Nona." "Baik, terimakasih…" Aruna pun mencari pakaian yang akan ia pilih, ia mengelilingi toko itu. Lalu, langkahnya terhenti saat melihat pakaian syar'i berwarna merah maroon, terlihat sangat indah. Aruna pun melihat harga yang tertera di bandrol dan terkejut, saat melihat harganya. "Sembilan ratus ribu…" gumam Aruna, ia pun bergerak menjauhi pakaian itu dan mendekati Jef lagi. "Pak, harganya sangat mahal, saya tidak bisa…" "Ambil saja, Nona atau Tuan Anton akan marah," Aruna memejamkan matanya sejenak, dan ia mengangguk. "Pak, saya boleh ambil yang itu?" Tunjuk Aruna pada pakaian syar'i tadi. "Tentu, Nona. Ambillah sesuai keinginan mu," Aruna pun dengan ragu mengambil pakaian itu dan memberikan pada pelayan toko. Dan Jef membayarnya sesuai perintah Anton. "Anda harus saya bawa ke salon, Nona." "Eh, kenapa? Untuk apa?" "Anda harus terlihat cantik," "S-saya tidak biasa ke salon," "Tidak apa-apa, mari…" Jef mempersilahkan Aruna untuk mendahuluinya. Aruna akan menjadi Nyonya-nya nanti. Karena Jef yakin, jika Nyonya besar akan suka dan cocok melihat Aruna. Gadis polos dan sederhana, pasti mampu membuat kedua orang tua Anton menyukainya. "Pak, kenapa saya dibawa Tuan Anton? Saya mau diapain, Pak?" tanya Aruna lagi karena ia benar-benar merasa sangat penasaran mengapa ia dibawa oleh Anton. "Nona, saya sudah menjawab pertanyaan itu tadi, saya tidak tahu." Jawab Jef lagi. Aruna pun mengangguk pelan. Mereka memasuki salon kecantikan, dengan Aruna yang harus mengganti pakaian yang ia beli tadi. "Tolong anda ubah penampilan dan make up secantik mungkin, jangan sampai terlihat buruk di depan tuan Anton," ucap Jef pada salon kecantikan langganan keluarga Anton. "Baik, Jef.." … "Wajahmu mulus tanpa jerawat, pakai perawatan apa, Runa?" Tanya pegawai salon yang sedang merias wajah Aruna, dan mereka sudah berkenalan tadi. Aruna hadis yang mudah berbaur membuat mereka menjadi akrab. "Aku nggak pakai apa-apa loh, In. Aku nggak sanggup beli skincare, aku punya uang paling untuk makan aja," jawab Aruna pada Iin. "Oh, tapi kami cantik banget loh, mungkin karena nggak pernah make up, jadi sekali make up aja bikin pangling," puji Iin pada Aruna. "Iin bisa aja, kamu jauh lebih cantik. Putih lagi," Iin pun terkekeh mendengar pujian dari Aruna. "Kamu cantik alami, aku cantik karena suntikan," "Nah, udah selesai… pasti Tuan Anton bakal seneng banget tuh liat kamu," Aruna pun tersenyum tipis, merasa sangat tidak mungkin. "Jef, ini udah selesai," "Baik," Jef memberikan kartu VIP milik Anton pada Iin. Aruna bahkan tidak tahu, kartu apa itu. "Pak, saya tidak nyaman," ucap Aruna sopan pada Jef. "Nona, anda sangat cantik. Saya yakin, tuan Anton akan terpukau melihat anda," "Terlalu memuji, Pak.." "Jef, ini…" Iin mengembalikan kartu VIP milik Anton pada Jef. "Baik, mari Nona. Tuan Anton sudah menunggu, Anda …", ucap Jef mempersilahkan Aruna untuk pergi. "Iin, aku pergi dulu. Terimakasih, semoga kita bisa bertemu kembali," "Oke, Aruna. Semangat ya…" Aruna pun mengangguk dan tersenyum manis. Ia meninggalkan salon kecantikan bersama Jef. Lalu, tubuhnya menabrak punggung seseorang karena ia berjalan terlalu menunduk. "Astaghfirullah, M-maaf… saya tidak sengaja," ucap Aruna sambil menghentikan langkahnya. "Nona, apa anda tidak apa-apa?" tanya Jef pada Aruna. "Saya tidak apa-apa, Pak. Tapi, saya menabrak punggung Mas ini," Jef terlihat terkejut melihat siapa yang ditabrak oleh Aruna. "Maafkan Nona Aruna, Tuan…" "Tidak apa-apa, ini salah saya juga yang berhenti di tengah jalan," jawabnya pada Jef. Orang itu pun menatap Aruna yang tengah menunduk sambil meremas jari jemarinya. "Nona, saya tidak apa-apa… saya minta maaf," "Saya yang harusnya minta maaf, Mas. Maaf," "Baik," "Nona, sepertinya kita harus cepat pulang," Aruna pun mengangguk "Saya permisi, Mas…" ucap Aruna menunduk pada seseorang yang ditabrak punggungnya. Orang itu mengangguk, lalu menatap kepergian Aruna yang semakin menghilang. Senyum terbit di wajahnya, sangat manis. "Kamu kenapa sih, kok senyum-senyum?" "Ma, aku liat wanita cantik tadi," "Hm, kenapa nggak kamu ajak kenalan?" "Ayo, Ma… mama harus cantik, mama ke salon ya?" "Ck, kamu ini… kebiasaan, selalu mengalihkan pembicaraan," "Ma, mama nggak usah pikirin itu ya?" "Mama udah pengen nimang cucu loh," "Iya, nanti beli di tokped," "Dikira kamu, mama ini bocah?" Laki-laki itu terkekeh melihat sang mama yang merajuk padanya. "Ayo, Ma… aku udah janji buat manjain mama seharian ini," "Iya, mama harap… kedepannya, kamu bisa manjain mama sama istri kamu," Laki-laki itu terkekeh lagi, "Aku aminkan aja deh, Ma." "Iya, doa baik harus di aminkan," Laki-laki itu tersenyum dan mendorong pelan sang mama berjalan masuk ke dalam salon kecantikan. "Aruna…" ucapnya dalam hati. Bersambung…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN