Emma berdiri di depan pintu kamar dengan tangan mengepal. Sejak tadi ia mencoba membuka pintu, tetapi terkunci dari luar. Ia bahkan sudah mengetuk dan memanggil pelayan, namun tak ada yang berani membantunya keluar. "Sialan!" gumamnya sambil menendang pintu dengan kesal. Sudah beberapa jam sejak Chris membawanya ke mansion ini, dan sekarang pria itu bahkan berani mengurungnya seperti tawanan. Emma berjalan mondar-mandir di dalam kamar luas dengan kemarahan membuncah. "Apa yang dia pikirkan?!" desisnya geram. Sementara itu, di ruangan lain, Chris duduk di kursi dengan kepala bersandar ke belakang. Ia menutup matanya, merasa frustrasi dengan dirinya sendiri. Ia tahu apa yang dilakukannya salah. Mengurung seorang wanita di rumahnya, membatasi kebebasannya, dan memperlakukan Emma seolah m

