bc

Musuh Jadi Cinta

book_age16+
108
IKUTI
1K
BACA
drama
humorous
like
intro-logo
Uraian

Adinda Putri adalah siswi SMA Nusantara yang memiliki paras yang tergolong biasa saja. Hidupnya tidak pernah tenang karena setiap hari ia selalu bertengkar dengan seorang lelaki.

Leonard Nicholas namanya. Siswa SMA Nusantara yang memiliki paras tampan. Semua orang hampir mengenalnya. Memiliki popularitas yang tinggi. Banyak gadis yang menyukainya. Ia selalu saja membuat Dinda kesal. Entah kenapa ia sangat senang jika bertengkar dengan gadis itu.

Namun, suatu ketika Leo meminta Dinda untuk menjadi pacar pura-puranya.

Saat mereka pura-pura menjadi sepasang kekasih disitulah benih-benih cinta mulai muncul.

Keinginan mereka yang ingin bersama, tidak semudah yang dibayangkan.

Berbagai masalah selalu menerpa mereka. Apalagi rasa gengsi yang tinggi, membuat mereka tidak berani untuk mengungkapkan perasaan mereka.

Lantas, apakah mereka akan benar-benar menjadi sepasang kekasih? Atau kembali menjadi musuh?

chap-preview
Pratinjau gratis
Part 1
Seorang gadis tengah berjalan menuju kelasnya, tiba-tiba seorang cowok sengaja menabraknya hingga terjatuh ke lantai. "Dasar cowok sialan!" umpatnya dengan wajah kesal. Namun, cowok itu tidak peduli. Ia terus berjalan dengan santai seolah ia tak melakukan kesalahan apa-apa. "Nyebelin banget." "Loh, Dinda, lo ngapain kok malah duduk lesehan gitu?" tanya Elis menahan tawanya. Ia adalah teman dari cewek bernama Dinda tersebut. "Ketawa aja. Gak usah ditahan," ucap Dinda dengan wajah menahan kesal. "Ya elah, Din, gue gak ketawa. Cuma lucu aja," kekeh Elis. Dinda mencebikkan bibirnya kesal, karena Elis menertawainya. Ia segera bangkit berdiri. "Lo nyebelin banget sih. Bukannya bantuin gue berdiri, malah ledekin gue," omel Dinda dengan wajah kesalnya. "Ini semua gara-gara cowok k*****t. Setiap hari selalu aja cari masalah sama gue," lanjutnya. Elis mengerutkan keningnya. "Cowok k*****t? Siapa?" tanya Elis bingung. "Iya. Siapa lagi kalau bukan Leo. Cowok paling nyebelin di dunia ini." "Ya udah, gak usah terlalu dipikirin. Kalau lo ladenin yang ada lo sakit kepala. Mendingan kita masuk kelas." Dinda mengangguk. Mereka berdua pun masuk ke dalam kelas. Dinda menatap Leo yang sedang berbicara dengan salah satu temannya. Saat Leo menatapnya, Dinda langsung menjulurkan lidahnya pada cowok itu. Cewek aneh, batin Leo. Elis menepuk pelan lengan Dinda. "Din, udah kerjain PR Biologi belum?" tanya Elis yang dijawab anggukan oleh Dinda. "Gue pinjam, yah. Gue belum kerja soalnya," pinta Elis sembari tersenyum. Dinda memutar bola matanya malas. Elis memang selalu malas mengerjakan tugas. "Tiap hari aja begitu. Untung gue baik hati." Tak peduli dengan ucapan Dinda, cewek itu segera menyalin tugasnya. Ia sangat takut jika guru mereka datang dan ia belum selesai. ***** "Bro, kantin, yuk," ajak seorang teman Leo. Leo mengangguk kemudian keluar dari kelas bersama temannya. Elis menatap Dinda. "Din, gak ke kantin?" tanyanya. "Ayo." "Din, lo tau gak---" "Gue nggak tahu," potong Dinda. "Ih, Dinda! Gue kan belum selesai ngomong. Main dipotong aja." Dinda terkekeh melihat wajah Elis yang terlihat kesal. "Ya udah, buruan ngomong." "Gue kemarin habis shopping di mall. Gila, gue belanja banyak banget karena diskonnya besar-besaran. Gue telfon lo mau kasih tahu, tapi lo gak angkat." "Gue tidur kali." Dinda beralih menatap makanan yang dibawa oleh pedagang kantin ke meja mereka. "Tuh, makanan kita udah datang." Mata Elis berbinar-binar melihat makanan yang ada didepannya. Tanpa sepatah kata, ia langsung melahapnya. Dinda hanya geleng-geleng kepala melihat temannya yang sangat lahap. Bagaikan belum makan selama setahun. Dinda menatap ke sekeliling. Mencari sosok yang dari pagi sudah membuatnya kesal. "Ah, itu dia. Lo tunggu aja k*****t," ucap Dinda saat menemukan sosok cowok yang dicarinya. Elis menatapnya bingung. Karena Dinda yang berbicara sendiri. "Lo ngomong sama siapa?" tanya Elis masih melahap makanannya. "Sendiri." "Aneh lo. Kayak dukun aja." Dinda tertawa kecil mendengar ucapan Elis. "Lis, gue ke toilet dulu yah. Gue udah kebelet." "Gue temenin?" tawar Elis. "Nggak usah. Lo makan aja katanya lapar gue nggak mau ganggu." Elis hanya mengangguk membiarkan Dinda pergi sendirian. Sebenarnya Dinda berbohong pada Elis. Ia tidak ingin ke toilet, tapi karena ia ingin membalas perbuatan Leo. Dinda yang melihat pesanan Leo akan diantar ke mejanya membuat Dinda segera mempercepat langkahnya. Saat pelayan di kantin ingin menaruh makanannya di depan Leo, Dinda sengaja menabrak pelayan tersebut sehingga makanan yang dipesan Leo mengenai bajunya. Cowok itu segera bangkit dari duduknya dengan wajah memerah menahan amarah. "Aduh maaf mbak. Saya nggak sengaja," ucap Dinda memasang wajah pura-pura tidak tahu. "Iya Dek. Tapi baju mas Leo jadi kotor." Dinda mengikuti arah telunjuk sang pedagang kantin ke arah baju Leo. Dinda melirik Leo memasang wajah biasa, agar Leo tidak mencurigainya "Sorry Leo. Gue nggak sengaja. Sini gue bersihin." Leo menatap tajam Dinda, tapi cewek itu sama sekali tidak takut dengan tatapan Leo. Dinda mengambil tisu yang tersedia di kantin lalu membersihkan baju Leo namun bukannya bersih, noda tersebut malah merembes ke area baju lain. Leo menghempas kasar tangan Dinda. "Lo nggak usah munafik. Gue tau lo sengaja kan mau ngerjain gue?" sentak Leo membuat Dinda sedikit terkejut. "Gak. Tadi gue beneran nggak sengaja kok," elak Dinda. Jangan sampai Leo mencurigainya. Leo berdecih. "Lo nggak bisa bohongin gue." "Kalau iya kenapa? Lo nggak suka? Salah lo juga, kan, yang ganggu gue duluan." Dinda akhirnya mengaku, karena tidak berhasil membohongi Leo. Leo mengembuskan napasnya kasar. Ia pun berjalan keluar dari kantin diikuti kedua temannya. Dalam hati Dinda sangat senang karena bisa mengerjai cowok tersebut. Lo jangan senang dulu. Lo belum menang. Gue nggak bakal biarin lo seneng, batin Leo. Dinda kembali ke meja di mana Elis sedang makan. Elis bingung dengan wajah Dinda yang sumringah tidak seperti sebelumnya. "Lo kenapa? Kok kayak seneng banget?" tanya Elis. "Ada deh. Nanti juga lo bakalan tau." ***** "Din, baju Leo kenapa kok kotor gitu yah?" tanya Elis ketika menyadari baju seragam Dinda yang kotor. Dinda tersenyum penuh arti. Elis yang melihat senyum Dinda pun langsung mengerti. "Jadi daritadi ribut-ribut dikantin lo yang buat? Terus baju Leo itu juga lo yang buat?" bisik Elis. Ia mengangguk sambil tersenyum. "Wah, Din, lo sadis amat. Lo nggak takut kalo dia bakal balas lo lebih dari ini." Ucapan Elis menyadarkannya. Apakah dengan mengerjainya seperti ini Leo tidak akan membalasnya? Pastinya Leo tidak akan membiarkannya senang. Ia pasti bisa saja melakukan hal yang lebih parah darinya. Kenapa ia tidak berpikir dulu? Dinda merutuki kebodohannya. "Lis, lo bener gue bodoh banget. Gimana kalo dia bakal bales gue lebih dari ini? Gue harus gimana?" "Satu-satunya cara lo harus berhenti ngerjain dia. Gue yakin kalo kayak gitu lo nggak bakal dikerjain lagi sama dia." "Nggak bisa. Gue nggak mau!" pekik Dinda. Seisi kelas menatapnya tajam. Ia hanya tersenyum lebar memamerkan gigi putihnya. "Sampai kapan pun gue nggak akan mau berhenti kecuali dia yang berhenti duluan," ucap Dinda keukeh. "Ya udah kalo lo nggak mau. Tapi lo yakin dia bakal berhenti? Kalian kan udah musuhan dari kelas sepuluh." Benar juga yang dikatakan Elis. Apakah mereka akan terus seperti ini? Akankah mereka akan terus-menerus saling mengerjai? Tapi Dinda yakin cepat atau lambat, Leo pasti akan capek sendiri dan berhenti mengerjainya dan Dinda tentunya ia juga akan berhenti mengerjai cowok tersebut. "Gue nggak peduli, Lis. Selama dia tetep ngerjain gue, maka gue pun sebaliknya. Gue yakin suatu saat dia juga bakal capek dan berhenti dengan begitu gue juga bakal berhenti." "Terserah lo aja deh Din. Gue sebagai sahabat lo cuman bisa kasih saran, selebihnya lo yang nentuin." **************************

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
46.0K
bc

Video Pernikahan Papa

read
12.6K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
194.5K
bc

Kali kedua

read
222.3K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
11.7K
bc

TERNODA

read
202.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.7K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook