"Din, gue pulang duluan,ya, papa gue udah jemput," pamit Elis.
Dinda mengangguk.
Setelah Elis masuk kedalam mobilnya, cewek itu melambaikan tangan pada Dinda. "Bye, Din."
Dinda ikut melambaikan tangan. "Bye, Lis."
"Elis udah pulang sekarang giliran gue. Gue pesan ojek online aja, deh." Saat Dinda hendak memesan ojek online dari aplikasi yang ada di ponselnya, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depannya.
Dinda mendongakan wajahnya menatap mobil tersebut dengan kening mengerut.
"Siapa ya?"
Dinda memutar bola matanya malas ketika melihat wajah cowok tersebut.
"Lele."
"Ayo masuk. Gue anterin pulang," ucap Leo.
Dinda masih menatapnya bingung. Ia sangat heran dengan perubahan sikap Leo.
Dinda tahu betul kalau Leo tadi kesal dengannya karena kejadian di kantin tadi. Lalu, kenapa cowok itu malah ingin mengantarnya pulang? Apa cowok itu sudah tidak marah padanya lagi?
"Lo mau apa?" tanya Dinda.
"Maksud lo?" Leo mengerutkan keningnya.
Dinda menatapnya malas. "Lo mau ngerjain gue, kan? Sorry, mendingan lo pulang aja. Gue nggak bakal mau dianterin lo."
Leo terkekeh, membuat Dinda menatapnya bingung.
"Kenapa lo ketawa?"
"Nggak. Gue lucu aja sama lo. Orang niatnya baik lo malah curiga."
Dinda masih tidak percaya pada Leo. Ia sangat takut jika cowok tersebut menipunya. Bisa saja dia membawa Dinda ke tengah hutan lalu meninggalkannya sendirian.
Membayangkan itu saja membuatnya bergidik ngeri.
Melihat Dinda yang menggeleng-geleng kepalanya tak jelas membuat Leo bingung.
"Lo kenapa geleng-geleng kepala kayak gitu? Apa jangan-jangan lo lagi mikirin yang aneh-aneh, ya?" tuduh Leo sambil menunjuk-nunjuk Dinda.
"Apaan sih lo? Sotoy banget jadi orang."
"Ain," panggil seorang cowok.
Mendengar panggilan tersebut, keduanya pun menoleh.
"Ayo pulang," ucap cowok itu membuat Dinda tersenyum kemudian mengangguk.
Dinda segera menghampiri cowok itu kemudian masuk ke dalam mobil.
Leo menatap mobil cowok tersebut yang sudah pergi.
"Siapa tuh cowok? Kok dia manggil Dinda, Ain, ya?"
Leo segera menggelengkan kepalanya. "Buat apa juga gue mikirin mereka? Gak penting.
*****
"Tumben lo jemput gue. Bukannya lo sibuk kerja, ya?" ucap Dinda saat sedang berada di dalam mobil.
Cowok itu melirik ke arah Dinda kemudian tersenyum. "Kerja sih, tapi kan gue pengin jemput lo. Kasihan, kan, daripada naik ojek online."
"Tahu aja lo."
"Oh, iya yang tadi itu siapa? Pacar lo?" tanya cowok itu.
Dinda tertawa. "Ya enggak, lah. Dia itu musuh gue, Tito. Mana mungkin gue punya cowok nyebelin kayak dia."
"Gue kira itu pacar lo. Soalnya kalian keliatan mesra."
"Ya kali mesra sama dia. Sampai kapan pun gue nggak akan mau sama cowok kayak dia."
"Awas, kemakan omongan sendiri."
"Nggak bakal."
Tak lama kemudian mereka pun sampai disebuah rumah bercat hitam putih. Rumah tersebut adalah rumah Dinda tepatnya rumah kedua orangtuanya.
"Tito masuk dulu, yuk," ajak Dinda setelah ia melepas seat belt-nya.
"Nggak usah, deh. Gue langsung jalan aja, soalnya gue masih sibuk. Titip salam aja sama orang tua lo sama kakak bawel lo."
Dinda mengangguk mengerti. "Hati-hati."
Setelah itu ia masuk ke dalam rumahnya.
"Heh, udah pulang lo?" ucap seorang cewek yang sedang duduk di sofa.
Dinda menghentikan langkahnya, kemudian menoleh pada cewek itu. "Kak Rinda yang paling cantik, kalau gue belum pulang, gak mungkin gue udah ada di sini," ucap Dinda.
Cewek yang dipanggil Rinda oleh Dinda itu hanya mengangguk kemudian kembali sibuk dengan ponselnya.
Dinda kembali melanjutkan langkahnya ke kamar. Sesampainya di kamar, ia pun menaruh tasnya di kursi, kemudian melepas sepatunya dan menaruhnya di rak sepatu. Setelahnya, ia membaringkan tubuhnya di kasur.
Ketika ia sedang memejamkan matanya. Ponselnya bergetar. Dinda mengambil ponselnya. Dinda langsung menjawab panggilannya ketika melihat nama Elis tertera di layar ponselnya.
"Halo Lis."
"Halo Din. Udah sampai rumah?"
"Udah."
"Pulang sama siapa?"
"Sama pacar gue."
Terdengar tawa Elis dari seberang sana.
"Pacar? Gue baru tau kalo Adinda Putri yang nggak suka hal-hal yang berbau cinta bisa pacaran."
Dinda ikut tertawa. "Enggak. Gue pulang sama Tito."
"Tito? Siapa?"
"Teman gue. Btw, lo telfon gue cuma buat nanya itu aja?"
"Ya enggak dong. Gue mau ngajak lo ke mall. Mau kan?"
Dinda tampak berpikir sejenak. "Em, boleh, deh. Lo jemput gue, ya."
"Sip. Bye."
"Bye." Dinda pun mematikan sambungan teleponnya.
Dinda segera beranjak dari kasur. Ia pergi ke toilet untuk mandi.
*****
"Elis, gue capek nih keliling-keliling mulu. Lagian lo udah punya baju malah beli banyak," keluh Dinda.
Dinda terlihat lelah karena sedari tadi mereka mengelilingi mall. Mencari baju untuk Elis.
"Aduh, Dinda, baju gue masih dikit. Ini belum cukup. Lagian kita harus punya fashion yang bagus. Biar bisa menarik perhatian orang lain."
"Fashion apaan. Yang ada bikin duit habis," cibir Dinda.
"Yau dah gimana kalo habis ini kita makan dulu?" tawar Elis.
Dinda yang semula cemberut langsung antusias begitu mendengar tawaran dari Elis.
"Oke. Gue mau."
"Yee, dasar. Giliran makan aja cepat," cibir Elis.
"Gue bayar baju-baju gue dulu, ya. Habis itu kita pergi makan."
Dinda mengangguk, membiarkan Elis pergi ke kasir untuk membayar belanjaannya.
*****
"Pelan-pelan aja Din jalannya. Belanjaan gue banyak, nih," ucap Elis.
Dinda yang sudah berjalan di depan Elis berhenti, lalu menoleh pada Elis. "Buruan Lis, gue mau makan."
"Makanya bantuin gue bawain belanjaannya biar cepat."
Dinda berdecak. Ia pun mengambil alih beberapa paper bag dari tangan Elis. "Kalau aja lo gak traktir gue makan, gue gak akan mau bantuin lo."
"Dasar muka gratisan," cibir Elis.
"Biarin."
Dinda tersenyum senang saat mereka sampai di sebuah cafe yang berada di dalam mall.
Dinda segera duduk di kursi kemudian memanggil pelayan.
"Ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tanya pelayan.
"Saya pesan sphageti carbonara dua sama jus alpukat dan jus stroberi, ya, Mbak."
Setelah selesai mencatat, pelayan tersebut membaca ulang pesanannya.
"Spagheti carbonara dua, jus alpukat dan jus stroberi. Benar?"
Dinda mengangguk. "Iya Mbak."
"Baik, kalau begitu. Mohon ditunggu, ya, Mbak."
Dinda dan Elis mengangguk.
"Lo kok nggak nanya gue?" tanya Elis.
"Ya kalau gue nanya juga pasti lo bilang gini 'samain aja sama punya lo' gitu, kan?"
Elis menatapnya malas. Tapi memang benar yang diucapkan Dinda. Setiap mereka pergi ke cafe, dan Dinda menanyakan menu apa yang dipesan Elis, pasti cewek itu akan menjawab kalau pesanannya sama seperti Dinda.
Tanpa mereka sadari, Leo juga sedang berada di cafe tersebut. Ia sedang menatap Dinda sambil tersenyum miring.
Beberapa menit kemudian, pesanan mereka datang.
Karena sudah lapar, Dinda segera melahap makanan tersebut.
"Din, makannya pelan-pelan aja. Tadi aja di sekolah lo ngejek gue," ucap Elis.
Dinda tak mempedulikannya. Ia kembali melahap makanannya. Lama-kelamaan, Dinda merasa kepedasan yang luar biasa.
Bahkan, wajah dan telinganya sampai memerah.
"Din, kenapa muka sama telinga lo merah gitu?" tanya Elis heran.
Dinda mengibas-kibaskan tangannya di depan mulutnya. "Sphagetinya pedas banget, Lis."
"Hah? Pedas?" Elis segera menyodorkan jus alpukat milik Dinda. Ia menerimanya dan segera meminumnya hingga setengah.
"Gila! Ini pedas banget sphagetinya."
"Pedas? Kok bisa?"
"Gue juga gak tahu. Coba lo cobain punya lo."
Elis mengangguk, kemudian melahap spagheti miliknya.
"Enggak. Punya gue nggak pedas kok. Lo cobain nih."
Dinda mencicipi spagheti milik Elis.
Benar apa yang dikatakan Elis. Spagheti miliknya tidak pedas. Tapi kenapa miliknya sangat pedas?
Ada yang aneh di sini.
Dinda memanggil pelayan yang tadi mengantar makanannya.
"Iya Mbak ada apa?" tanya pelayan tersebut.
"Spagheti punya saya kok pedas banget ya. Sedangkan punya teman saya enggak. Padahal saya juga gak pesan yang spicy. Itu kenapa, ya, Mbak?" tanya Dinda.
Pelayan itu mengerutkan keningnya. "Loh, bukannya Mbak pesan yang spicy, ya?"
"Enggak Mbak. Saya tadi gak pesan spicy. Mungkin Mbak salah kasih makanannya."
"Sebentar, ya, Mbak. Saya lihat list pesanan Mbak dulu." Pelayan tersebut membaca pesanan yang tertera di buku.
"Benar Mbak. Pesanan Mbak sphageti carbonara dua yang satu spicy dan yang satu enggak. Jus alpukat dan jus stroberi."
Dinda semakin bingung. Ia merasa tidak pernah memesan sphageti dengan level pedas yang cukup tinggi.
"Mohon maaf, Mbak, tapi saya sama sekali gak pesan spicy. Kalau gak percaya tanya aja sama teman saya." Dinda beralih menatap Elis yang masih diam.
"Iya kan, Lis?"
Elis mengangguk. "Iya Mbak. Teman saya gak ada pesan sphageti spicy," ucap Elis.
"Ah iya, saya baru ingat, tadi ada cowok yang bilang sama saya kalau Mbak suruh ganti sphageti biasa dengan yang spicy," ucap pelayan tersebut.
Dinda mengernyitkan keningnya. "Cowok? Kalau boleh tahu siapa, Mbak?"
"Itu cowoknya, Mbak." Pelayan tersebut menunjuk ke arah Leo yang sedang tertawa bersama kedua temannya.
Dinda seketika merasa kesal. Rupanya Leo yang telah mengerjainya.
"Makasih Mbak."
"Iya sama-sama. Kalau begitu saya permisi."
Setelah kepergian pelayan tersebut, Dinda segera menghampiri meja dimana cowok tersebut berada.
Elis segera menyusul Dinda. Ia takut jika cewek itu akan membuat keributan di cafe.
Brak!
Mereka bertiga yang asyik bercengkrama terkejut ketika meja mereka digebrak.
"Dinda? Lo kenapa gebrak meja kita? Jangan gangguin kita deh," kesal salah seorang cowok yang merupakan teman Leo.
"Diam lo teddy bear! Gue nggak ada urusan sama lo," marah Dinda dengan wajah kesal.
Cowok itu langsung terdiam. Cukup takut dengan Dinda.
Dinda menarik paksa Leo, membuat Leo langsung melepas tangan Dinda dari lengannya.
"Apaan sih lo main tarik-tarik aja? Lo kira gue kambing?" ucap Leo pura-pura kesal.
"Emang lo kambing. Maksud lo apa ngerjain gue kayak gitu? Hah?"
"Maksud lo apa? Gue nggak ngerti." Leo memasang wajah polosnya. Sengaja agar Dinda tidak curiga padanya.
Padahal dalam hati, ia ingin tertawa sepuasnya.
Dinda memutar bola matanya malas. "Nggak usah munafik, deh. Gue udah tahu. Lo kan yang pesan spagheti spicy punya gue?" tuding Dinda.
"Nggak! Jangan asal kalau nuduh."
"Gue udah tanya langsung sama pelayannya. Lo masih mau nipu?"
Leo langsung tersenyum miring. "Ya, kalau lo tahu kenapa lo masih nanya?"
"Gue tahu lo suka pedas, makanya gue ubah pesanannya. Harusnya lo berterima kasih sama gue bukannya malah marah-marah nggak jelas kayak gini."
Dinda mencebikkan bibirnya kesal. "Terima kasih sama lo? Setelah lo kerjain gue? Lo tahu gue nggak bisa makan pedas makanya lo sengaja, kan?"
"Emang sengaja."
"Lo liat aja gue bakal balas lo."
Leo hanya tersenyum ketika mendengar ucapan Dinda.
"Din, udah jangan ribut lagi. Mendung kita pulang. Malu diliatin orang-orang," bisik Elis.
Elis tidak ingin sahabatnya semakin murka dengan Leo dan akan membuat orang-orang terganggu.
"Tapi Lis--"
"Udah ayo pergi," sela Elis.
Dinda hanya mengangguk, lalu mengikuti Elis keluar dari cafe.
Saat sudah berada di parkiran, Dinda masih melamun.
"Din, ayo masuk," suruh Elis yang sudah masuk ke dalam mobil terlebih dahulu.
"Bentar Lis."
Dinda berjalan melihat-lihat mobil pengunjung cafe yang terparkir.
Elis bingung dengan Dinda. "Din, masih ngapain sih?" tanya Elis, tapi Dinda tak menanggapinya.
Setelah menemukan mobil berwarna putih yang diyakininya adalah mobil Leo, ia segera menghampiri mobil tersebut kemudian mengempiskan ban mobil tersebut.
Setelah selesai, ia segera masuk ke dalam mobil Elis.
"Masih ngapain aja sih lo? Lama amat."
"Gak ngapa-ngapain," jawab Dinda sambil tersenyum.
"Awas aja kalau lo ngelakuin yang aneh-aneh."
"Enggak lah. Ayo jalan."
Elis hanya mengangguk dan segera menjalankan mobilnya.
Mampus lo, Ikan Lele. Gue gak akan biarin lo menang lawan gue, batin Dinda.