Dinda sedang asik mendengar lagu menggunakan earphone-nya seraya bersenandung.
Tiba-tiba Leo datang lalu melepas earphone Dinda. Membuat Dinda menggerutu kesal.
"Bisa gak sih sehari aja gak gangguin gue?" ucap Dinda mencoba sabar.
"Suka-suka gue, lah."
Dinda mendengus sebal lalu kembali memasang earphone pada telinganya.
"Dinda!" panggil Elis setengah teriak.
Murid-murid yang ada di dalam kelas menatap tajam pada Elis, membuatnya hanya tersenyum.
Dinda menatap Elis kesal kemudian melepas earphone-nya. Sepertinya orang-orang tidak ingin membiarkannya bersantai sejenak.
"Kenapa sih, Lis?"
"Itu."
"Itu apa?"
"Di kelas sebelah ada anak baru."
"Terus?"
"Murid cewek. Katanya dia cantik, loh."
Dinda memutar kedua bola matanya malas.
"Bukan urusan gue. Mau anak baru kek apa kek. Mau cantik kayak bidadari pun gue gak peduli."
Elis menatap sahabatnya kesal. "Gak asyik banget sih, lo."
"Gak usah gangguin gue dengan hal yang gak penting."
*****
"Din, lo liat deh tuh anak baru yang gue bilang. Cantik kan?" ucap Elis.
Dinda tak peduli dengan ucapan Elis. Ia masih asyik menikmati makanannya.
"Lo dengarin gue gak sih?" Elis menyikut lengan Dinda.
"Iya gue dengar kok."
"Din, dia ke sini."
"Dia siapa?"
"Anak baru yang gue bilang."
"Ya udah sih bodoh amat."
"Hai."
"Hai," balas Elis sembari tersenyum.
"Gue boleh gabung?" tanya cewek itu.
"Boleh kok."
"Makasih." Cewek itu pun duduk di hadapan Dinda.
"Dinda?"
Elis menatap murid baru itu bingung. Darimana cewek itu mengetahui nama Dinda?
Dinda mendongakkan wajahnya.
Ia sedikit terkejut.
"Sofhie? Jadi lo murid barunya?"
Sofhie tersenyum. Kemudian mengangguk. "Ternyata lo sekolah di sini. Gue senang bisa satu sekolah sama lo."
Elis semakin bingung dengan dua orang ini.
Bagaimana bisa mereka berdua saling mengenal?
"Bentar. Jadi kalian udah saling kenal?" tanya Elis.
"Iya."
"Kalau gitu kenalin gue Elis. Sahabatnya Dinda." Elis menjulurkan tangannya memperkenalkan diri.
"Sofhie." Sofhie membalas jabatan tangan Elis.
"Kalian kenalnya gimana?" tanya Elis mulai penasaran.
Dinda menelan salivanya.
Ia tidak mungkin memberitahu Elis yang sebenarnya. Bisa-bisa Elis akan marah padanya.
"Gue kenal Dinda dari Leo," jawab Sofhie.
"Hah? Kok bisa?" Elis semakin bingung.
Elis menatap Dinda meminta penjelasan pada Dinda. Namun Dinda hanya diam. Bahkan Dinda tidak mau menatap Elis.
"Sorry. Gue masih gak ngerti. Bisa lo jelasin?"
"Jadi gini gue sama Leo dulunya pacaran, tapi udah putus. Gue minta Leo buat ketemuan dan dia setuju. Gue niatnya pengen ngajak Leo balikan, tapi ternyata Leo datang sama Dinda dan dia kenalin Dinda ke gue sebagai pacarnya," jelas Sofhie.
Dinda hanya diam. Ia tak berani menatap Elis yang sudah membulatkan matanya.
Elis melirik Dinda yang sepertinya mencoba menghindari tatapannya.
"Oh, jadi gitu."
Sofhie hanya mengangguk.
"Eh, udah bel masuk tuh. Buruan kita ke kelas. Nanti dimarahin Bu Wina lagi. Kita duluan, ya, Sof." Dinda bangkit berdiri lalu menarik lengan Elis pergi dari kantin.
*****
"Lele!" panggil Dinda.
Leo menoleh pada Dinda dengan malas.
"Kenapa?"
"Gue mau ngomong sama lo."
"Ya udah ngomong aja."
Dinda melirik Elis yang sedang menatapnya.
"Jelasin ke gue!" titah Elis.
"Nanti aja,ya, gue jelasinnya. Mendingan sekarang lo pulang aja."
"Gue gak akan mau pulang sebelum lo jelasin semuanya ke gue."
"Udah mendingan lo pulang aja. Gue janji besok gue bakal cerita ke Lo semuanya."
"Bener ya? Awas aja kalau lo bohong."
"Iya. Udah sana pulang."
"Ya udah, bye."
"Bye."
"Lo mau ngomong apa? Buruan. Gue gak ada waktu buat nungguin lo."
"Lo tahu gak kalau mantan lo itu anak baru di kelas sebelah?" tanya Dinda.
Leo menatap Dinda heran. "Maksud lo Sofhie pindah ke sini? Yang benar aja lo?"
Dinda mengangguk.
"Masa lo gak tahu sih? Padahal satu sekolah pada ngomongin dia, loh."
"Sekarang dan seterusnya lo harus bantuin gue," ucap Leo.
"Maksud lo apa?"
"Lo harus jadi pacar pura-pura gue."
"Apa? Gak gue gak mau! Udah cukup, ya, lo kenalin gue di depan Sofhie sebagai pacar lo. Sekarang lo mau nyuruh gue jadi pacar lo di depan semua orang? Enggak akan!"
"Lo harus mau. Gue gak mau dia deketin gue."
Dinda menggeleng. Tentu ia tidak mau menjadi pacar pura-pura Leo lagi.
Sudah cukup ia harus berpura-pura di depan Sofhie sebagai pacar Leo. Ia tidak akan mau melakukannya di depan semua orang. Karena itu sangat merepotkan.
Ditambah lagi ia akan mendapat berbagai hujatan karena berpacaran dengan Leo yang adalah musuhnya sendiri.
"Emangnya lo siapa berani nyuruh gue kek gitu? Terserah ya gue udah gak peduli lagi sama lo. Biarin aja Sofhie dekatin lo. Gue gak ada urusan."
Setelah berujar demikian Dinda berjalan hendak keluar kelas namun baru beberapa langkah, Leo menarik tas Dinda. Membuat langkahnya terhenti.
"Lepasin tas gue. Gue mau pulang."
"Gue gak akan lepasin sebelum lo bantuin gue."
"Ogah!" Dinda melepas kasar tangan Leo dari tasnya kemudian berjalan meninggalkan Leo.
"Dinda." Langkah Dinda kembali berhenti ketika seseorang memanggilnya.
"Eh, Sofhie."
"Lo gak pulang sama Leo?" tanya Sofhie.
"Dia pulang sama gue kok."
Leo menghampiri mereka kemudian merangkul Dinda.
Dinda berusaha melepas tangan Leo dari pundaknya namun cowok itu tak membiarkannya.
Sofhie tersenyum kecut menatap mereka.
Dinda sangat tahu kalau Sofhie cemburu. Terlihat jelas Sofhie masih menyimpan perasaan untuk Leo, tapi sayangnya Leo sudah tidak mencintai Sofhie.
"Ayo Sayang kita pulang."
"Sof, gue pulang duluan, ya," pamit Dinda.
"Iya. Hati-hati kalian."
"Lo juga."
*****
Sesampainya di parkiran, Dinda tak segan untuk menyingkirkan tangan Leo dari pundaknya.
"Ya elah, santai aja kali. Salting ya dirangkul sama cowok seganteng gue?"
Dinda memutar bola matanya malas. Lagi-lagi Leo memuji dirinya sendiri. Benar-benar cowok menyebalkan.
"Ayo gue anterin lo."
"Ogah!" tolak Dinda mentah-mentah.
"Pak Ogah gak ada di sini kali."
"Ck! Terserah lo deh. Intinya gue gak mau pulang sama lo."
"Buruan naik! Sebelum gue berubah pikiran, ya."
Tin... Tin...
Terdengar bunyi klakson mobil.
Membuat Leo dan Dinda menoleh pada mobil tersebut.
Seketika senyuman Dinda terbit. Leo menatap Dinda bingung.
"Ngapain lo senyam-senyum gak jelas kayak gitu?"
Tanpa menjawab pertanyaan Leo, ia segera berjalan menuju mobil tersebut. Kemudian ia masuk ke dalam mobil tersebut.
Leo menatap mobil yang sudah melaju tersebut.
"Ck! Emang ya, di mana-mana cewek sama aja. Lebih milih naik mobil daripada motor," decaknya.
"Lah, ngapain gue jadi ngomongin dia? Gak penting banget."
Memilih tidak peduli, Leo pun melajukan motornya.
Tanpa diketahui Leo, Sofhie sedari tadi melihatnya.
Sofhie bingung karena Dinda pulang dengan mobil bukan dengan Leo.
Sebenarnya ada apa dengan kedua orang tersebut?
Kenapa di depannya mereka bersikap romantis, sedangkan dibelakangnya mereka seperti musuh?
Sofhie akan mencari tahu hubungan mereka berdua.
**************************************************