Part 12

1470 Kata
"Semuanya, Ibu Susi udah dateng." Kelas yang semula ribut langsung diam. Murid-murid yang tadinya berdiri di depan langsung duduk di bangku mereka masing-masing. "Selamat pagi anak-anak." "Pagi Bu." "Hari ini kita kedatangan murid baru." Beberapa murid antusias mendengar akan ada murid baru di kelas mereka. "Nak, silakan masuk dan perkenalkan diri kamu." Seorang cowok bertubuh tinggi memasuki kelas mereka. Penghuni kelas tampak menyorakinya karena paras tampannya, tapi tidak dengan Dinda. Ia merasa seperti tidak asing dengan cowok itu. Mungkinkah Dinda mengenalnya? "Selamat pagi semuanya. Perkenalkan nama saya Kevin Vandero. Saya pindahan dari Amerika." "Wah, ganteng banget." "Keren banget." "Pindahan Amrik lagi." Berbagai pujian dilontarkan pada murid baru tersebut. "Sudah. Jangan berisik. Nak Kevin silakan kamu duduk disebelah Vano." Kevin mengangguk kemudian berjalan menuju bangku Vano. Kevin sempat melirik Dinda kemudian tersenyum, tapi Dinda hanya diam. 'Kevin Vandero? Kayak pernah denger namanya. Tapi dimana gue dengernya,' batin Dinda. Elis menyenggol pelan lengan Dinda. "Lo kenapa? Ngelamun apa?" tanya Elis. Dinda menggeleng. "Gak apa-apa kok." "Tuh anak baru ngeliatin lo terus sambil senyam-senyum sendiri. Lo kenal sama dia?" tanya Elis lagi sembari menatap murid baru tersebut. "Gak kenal, tapi gue kayak gak asing sama mukanya." Dinda sempat menoleh pada Kevin, tapi hanya beberapa detik Dinda kembali menatap kedepan. ***** "Din, lo mau makan apa biar gue yang traktir," ucap Elis. "Serius? Gak bohong, kan? Gue gak mau kayak dulu, lo kerjain gue." Dulu waktu kelas sepuluh, Elis pernah bilang kalau cewek itu akan mentraktir Dinda. Karena percaya, Dinda pun memesan banyak makanan dan ternyata begitu selesai makan, Elis sudah kabur duluan meninggalkan Dinda sendirian di kantin. Akhirnya, Dinda yang membayar semua makanannya. Elis terkekeh ketika mengingat kembali kejadian tersebut. "Ya elah, itu gue bukan kerjain lo. Cuma uang gue gak cukup buat bayarin aja. Habisnya lo makannya banyak banget sih. Tapi kali ini gue beneran mau traktir kok." "Ya udah gue es teh sama bakso aja deh." "Oke. Gue pesen dulu, ya." Dinda mengangguk membiarkan Elis pergi. "Kecebong!" Dinda terkejut saat Leo tiba-tiba menepuk pundaknya dengan cukup keras. "Apaan sih lo?! Ganggu aja." "Gue boleh duduk di sini, kan?" tanya Leo. "Terserah." "Gue anggap lo izinin." Leo menarik kursi yang ada di hadapan Dinda kemudian mendudukkan bokongnya di sana. "Gue mau lo ngelakuin sesuatu buat gue," ucap Leo. "Gue gak mau." "Bantuin gue. Kemarin kan gue udah antarin lo." "Oh, jadi lo gak ikhlas gitu? Tahu gitu mendingan gue jalan kaki daripada naik motor lo." "Pokoknya lo harus turutin. Awas aja kalau lo gak turutin. Pulang sekolah bareng gue. Jangan sampai lo kabur." Setelah berucap demikian, Leo pun pergi. Dinda menggeram kesal. Leo memang selalu saja mengganggunya. Tiada satu hari pun Dinda bisa terbebas dari Leo yang menurutnya manusia terkutuk. "Dinda, makanannya udah datang." Elis membawa dua mangkuk bakso dan dua gelas es teh. "Makasih Lis." "Iya, sama-sama." "Kenapa muka lo cemberut gitu?" tanya Elis bingung. "Leo lagi, ya?" tebaknya. Dinda mengangguk. "Dia ngapain lagi?" "Kemarin dia antarin gue pulang." "Terus?" "Ya, tadi dia kesini. Katanya gue harus lakuin sesuatu buat dia karena kemarin dia udah antarin gue." "Udah gak usah didengarin. Gue yakin dia gak bakal ngapa-ngapain lo kalau lo gak turutin dia." "Gue ragu sama dia, Lis. Tahu sendiri, kan, dia itu gimana." "Ya udah sekarang makan aja dulu." Dinda mengangguk kemudian melahap makanannya. ***** Bel pulang sekolah baru saja berbunyi. Dinda segera memasukkan peralatan sekolahnya ke dalam tas. Setelah itu ia segera berjalan keluar kelas. Tanpa peduli dengan Elis yang masih sibuk dengan aktivitasnya. Yang ia pikirkan saat ini ia hanya ingin bebas dari Leo. Kebetulan Leo sedang pergi ke toilet, jadi Dinda bisa ada kesempatan untuk pergi. Namun baru beberapa langkah seseorang memanggilnya. "Hei!" Panggil seseorang seraya menepuk pundak Dinda. Dinda menoleh dan mendapati Leo sedang tersenyum misterius. "Mau kabur, ya?" "Kabur? Emangnya gue maling." "Emang lo maling, kan. Ya udah ayo." "Sembarangan aja lo kalo ngomong. Ayo kemana?" "Dinda," panggil Kevin. Dinda menatap Kevin yang menghampiri mereka. "Lo tahu nama gue?" tanya Dinda sedikit bingung. Karena mereka belum sempat berkenalan. "Iya. Gue tadi dengar teman lo panggil nama lo." "Oh gitu, terus kenapa lo manggil gue?" "Em, gue mau ngajak lo pulang bareng. Biar kita lebih saling kenal. Mau gak?" "Gue---" "Sorry, anak baru, tapi Dinda harus pergi sama gue. Jadi lain kali aja, ya." Leo pun merangkul Dinda kemudian pergi. ***** "Buruan masuk." "Emangnya gue ada bilang gue mau pergi sama lo?" "Gak usah bacot. Mendung lo buruan masuk mobil sebelum gue seret lo." "Iya, iya. Maksa banget sih jadi orang," dumel Dinda. Setelah Dinda masuk kedalam mobil Leo pun melajukan mobilnya. "Lele, sebenarnya lo mau bawa gue kemana, sih?" Leo hanya diam. Membuat Dinda menggeram kesal. "Lele." "Apa?" "Sebenernya lo mau bawa gue kemana?" tanya ulang Dinda. "Gue mau bawa lo ke jurang terus gue dorong lo biar mati," celetuk Leo. Dinda memukul lengan Leo cukup keras, hingga cowok itu mengadu kesakitan. "Aduh! Sakit bego." Leo mengusap-usap lengannya yang dipukul oleh Dinda. "Lagian lo kalau ngomong suka asal." "Lagian lo juga percaya aja." "Nyebelin lo." "Udah diam deh. Jangan bawel." Dinda memilih untuk diam. Daripada makin emosi karena terus berdebat dengan Leo. "Udah sampai." Dinda menoleh pada Leo. "Hah?" "Ck! Udah sampe b**o. Lo gak mau turun ya udah lo di situ aja." "Eh, enak aja lo. Tungguin gue." Dinda keluar dari mobil Leo. Ia segera menyusul Leo yang sudah masuk ke dalam restaurant yang cukup mahal. "Kita ngapain kesini, sih?" tanya Dinda. "Numpang mandi." "Hah? Jadi lo berangkat sekolah belum mandi? Ih, jorok banget sih lo." Leo menoyor pelan kepala Dinda lalu terkekeh. "Dasar kecebong. Kita ke sini buat makan lah. Lo gimana sih." Dinda hanya manggut-manggut. "Siapa suruh lo bilang gitu." "Mbak, saya pesen steak satu sama jus stroberinya satu, ya," ucap Leo setelah mereka sudah sampai di dalam restaurant. "Baik Mas." "Lo mau pesan apa?" "Gue jus alpukat aja." "Lo yakin? Gak mau makan?" Dinda menggeleng. "Ya udah jangan ngeluh ya kalo nanti lapar." "Steak satu, jus stroberi satu dan jus alpukat satu. Apa ada lagi?" "Itu aja, Mbak." "Baik. Saya permisi dulu." Leo mengangguk. "Lo yakin gak lapar, Bong?" tanya Leo lagi. Dinda menatapnya tajam. "Nama gue bukan Bong!" "Terserah lo deh. Lo benaran gak makan? Lo tenang aja gue gak bakal suruh lo yang bayar kok. Gue yang bakal bayar." "Gak. Gue kan udah bilang enggak." "Ya udah." Akhirnya mereka memilih diam. Hingga pesanan mereka datang. Leo tampak menikmati steaknya, sedangkan Dinda sibuk memainkan ponselnya. "Itu hp gak bisa disimpan dulu, ya?" Dinda kemudian memasukkan ponselnya ke dalam saku roknya. Ia pun meminum jus alpukat pesanannya. "Lo benaran gak mau makan, nih?" tanya Leo untuk kesekian kalinya. "Lo udah nanya gue berapa kali sih? Gue kan udah bilang enggak." "Eh, Leo." Leo dan Dinda menoleh pada cewek tersebut. Cewek itu berjalan menuju meja mereka. Dinda menatap cewek itu cukup lama. Cewek itu merupakan mantan pacar Leo. Dinda masih sangat ingat. "Hai," sapa cewek itu pada Dinda. "Hai." Leo hanya diam lalu kembali memakan steaknya. "Masih ingat gue gak?" tanya cewek itu. "Masih." "Kenalan dulu. Waktu itu kita belum sempat kenalan, kan? Nama gue Sofhie." Cewek bernama Sofhie itu menjulurkan tangannya hendak berkenalan dengan Dinda. Dengan senang hati Dinda menjabat tangan Sofhie. "Dinda." "Sorry, ya, waktu itu gue bikin lo gak nyaman." "Iya gak papa kok." "Kalian ngapain ke sini? Makan bareng, ya?" "Yang lo liat gimana?" sinis Leo. Sofhie hanya tersenyum miris. Sebegitu benci kah Leo pada dirinya? "Kalau gitu gue duluan, ya. Le, aku tahu kamu benci sama aku, tapi aku bakal berusaha supaya kamu gak benci sama aku lagi. Besok dan seterusnya aku akan selalu dekat sama kamu." Setelah itu Sofhie pun pergi. "Lele, lo kenapa ngomong sama Sofhie kayak gitu? Lo tahu kan hati cewek itu mudah rapuh." "Gue gak peduli." Leo sebenarnya masih kurang mengerti dengan ucapan Sofhie. Besok dan seterusnya Sofhie akan dekat dengannya? Apa maksudnya itu? "Gue tahu lo itu ngajak gue kesini cuman mau nemenin lo makan doang, kan? Lo emang nyebelin. Gak penting banget. Lo tahu gak gara-gara lo gue gak bisa pulang sama---" "Kalau emang iya kenapa? Lo gak suka? Mau marah? Silakan," potong Leo. Leo bangkit dari duduknya lalu menuju kasir untuk membayar makanan dan juga minuman yang tadi dipesan mereka. "Ngeselin banget sih tuh orang. Gara-gara dia gue gak bisa pulang sama Tito," dumelnya. Dinda memang sudah ada janji untuk bertemu dengan Tito. Bahkan cowok itu hendak menjemputnya di sekolah, tapi karena Leo membawanya ke sini, jadilah ia harus membatalkan janjinya dengan Tito. "Ngapain lo ngomong sendiri?" tanya Leo yang sudah kembali. Dinda tidak menjawab. Ia segera keluar dari restauran lebih dulu. Leo pun segera menyusulnya. Setelah masuk ke dalam mobil, mereka pun pergi dari sana. Sofhie menatap mobil Leo yang sudah melaju seraya tersenyum miring. "Liat aja Leo, besok dan seterusnya lo bakal ketemu sama gue terus. Gue bakal buat lo bertekuk lutut di hadapan gue," gumamnya. ************************************************
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN