Part 11

1220 Kata
"Aww!" Dinda meringis saat seseorang menabraknya. "Ups! Sorry, sengaja," ucap cewek itu sembari tertawa. Dinda menatapnya tidak suka. "Suka banget, ya, lo gangguin gue terus?" "Selama lo masih dekat-dekat sama Leo, gue gak akan berhenti ganggu lo." Dinda tertawa. "Lo gak salah ngomong, Keyla? Gue dekat-dekat sama Leo? Asal lo tahu ya, gue gak pernah dekatin dia. Kalau dia gak selalu cari masalah, gue juga ogah cari masalah sama dia." "Halah! Bilang aja lo emang sengaja cari masalah sama Leo biar bisa dekat-dekat sama dia, kan? Jadi cewek ganjen banget." "Ganjen? Gak kebalik tuh? Ngomong sadar diri kek." Keyla menatap Dinda tajam. Tidak terima dengan ucapan Dinda. "Gue gak ganjen. Leo itu suka sama gue. Jadi gak usah lo cari perhatian sama Leo." "Mau Leo suka sama lo atau sama orang gak waras sekalipun, gue gak peduli. Intinya gue gak bakal gangguin orang kalau orang itu gak cari masalah sama gue." Setelah berucap demikian, Dinda pun pergi ke kelasnya. Tidak peduli dengan Keyla yang menggerutu kesal. ***** "Lele! Berhenti narik rambut gue." Leo yang sengaja duduk di belakang Dinda hanya tertawa. Cowok itu sengaja duduk di belakang Dinda agar bisa menjahili cewek itu. "Ekornya kecebong panjang juga, ya." Leo menarik-narik rambut Dinda sembari tertawa. Membuat Dinda yang sedang sibuk menulis jadi terganggu. Karena kesal, Dinda pun membalikkan badannya. Tanpa sepatah kata, ia langsung memukul Leo dengan buku paketnya, membuat Leo mengadu kesakitan. "Sakit gila! Barbar banget jadi cewek." Leo mengusap-usap kepalanya yang sakit. "Mampus lo! Makanya jangan gangguin gue." Dinda kembali membalikkan badannya ke arah depan. Kemudian kembali mencatat. "Aww! Lele sialan!" umpat Dinda karena Leo yang menarik rambutnya cukup kuat. Leo yang sudah kabur ke tempat duduknya yang semula tertawa puas. "Mampus lo! Emang enak." Dinda menggeram kesal ketika melihat ekspresi wajah Leo. "Sabar Din, gak usah ladenin. Ntar yang ada lo emosi." Elis mengusap-usap pundak Dinda mencoba menenangkan sahabatnya itu. "Gue kesal banget sama dia, Lis. Tuh orang emang suka banget bikin gue naik darah." "Sabar aja. Lanjut catat materi. Biar emosi lo hilang." ***** "Leo, Leo. Suka banget lo jahilin Dinda," ucap Gio. Leo terkekeh. "Lo kan tahu jahilin dia itu udah rutinitas gue sehari-hari. Kalau sehari gak gangguin dia kayak ada yang kurang aja." "Mendingan lo berhenti jahilin Dinda, deh, Le," sahut Deni. Leo menatap Deni bingung. "Kenapa?" "Kalau lo sering jahilin Dinda, nanti lo malah jatuh cinta sama dia lagi." "Nah, benar yang dibilang Deni. Tumben kali ini lo pintar," ujar Gio. "Gue emang pintar kali." "Dari dulu gue udah sering jahilin dia, sering adu mulut sama dia, dan sampai sekarang gue gak ada suka tuh sama dia. Apalagi jatuh cinta. Secara dia bukan tipe gue." "Sekarang aja lo boleh bilang kayak gitu, tapi kita gak bakal tahu ke depannya bakal kayak gimana. Bisa aja kan nantinya lo malah jatuh cinta sama Dinda dan berujung nikah sama dia." Leo menoyor kepala Deni. "Udah berapa kali lo ngomong kayak gini? Gue sampai bosan dengarnya." "Emang gue udah ngomong berulang kali, ya? Bukannya gue baru ngomong dua kali?" "Mendingan lo lanjut catat aja. Gak usah bacot." ***** "Hai Din, Lis. Kita bertiga boleh gabung di sini gak?" izin Deni. Dinda dan Elis yang sedang sibuk melahap makanan mereka langsung menoleh pada ketiga cowok yang sedang berdiri di depan mereka. "Bukannya lo bertiga punya meja khusus di kantin, ya? Kok malah mau gabung sama kita?" tanya Elis heran. Leo, Deni, dan Gio memang punya meja tersendiri di kantin yang merupakan tempat mereka ketika makan di kantin. Jadi tentu Dinda dan Elis bingung kalau ketiga cowok itu sekarang ingin bergabung dengan mereka. "Iya, tapi tempatnya udah diisi sama kakak kelas. Sebagai junior yang menghormati seniornya, ya, kita gak bakal ngusir mereka dari sana." "Bilang aja takut," ucap Dinda. "Lo pikir gue takut sama mereka? Gue itu cuma menghormati mereka aja," sahut Leo. Tidak terima dengan ucapan Dinda yang terdengar mengejeknya. "Semua juga bisa ngomong kayak gitu. Tapi kalau lo yang ngomong kelihatan banget penakutnya. Beraninya cuma sama yang lemah doang." "Nantangin gue lo?" Leo terpancing emosi. "Sabar Le, jangan emosi." "Jadi gimana? Kita bisa gabung di sini, kan?" tanya Deni lagi. "Gue sih terserah Dinda." Deni beralih menatap Dinda. "Gimana Din?" "Kalian boleh gabung sama kita, kecuali dia," ucap Dinda sembari menunjuk Leo dengan dagunya. "Oke. Gue juga gak sudi duduk semeja sama lo." "Eh, Le, mau ke mana lo?" tanya Gio ketika Leo pergi. Namun, Leo tidak menjawab. "Duduk. Ngapain masih berdiri? Jam istirahat bentar lagi selesai." Gio dan Deni yang masih menatap kepergian Leo langsung menoleh pada Dinda. "Iya Din. Makasih, ya, udah izinin kita gabung di sini." ***** "Le, lo kenapa ninggalin kita, sih?" tanya Deni ketika sudah kembali ke kelas. "Terus lo maunya gue berdiri liatin lo berdua duduk gitu?" sinis Leo. "Bukan gitu. Kita cuma heran aja karena lo langsung pergi gitu. Apa lo tersinggung sama omongannya Dinda?" tanya Deni. "Tersinggung lah. Kan emang benar kenyataannya kalau kita gak berani duduk di tempat kita karena kita takut sama anak-anak kelas XII itu. Apalagi mereka terkenal suka tawuran," ujar Gio. "Tapi gue gak takut sama mereka." "Kalau gak takut kenapa lo gak suruh mereka pergi dari meja kita tadi?" "Kalau gue suruh mereka pergi yang ada mereka marah dan bakal ngajak gue berantem. Gue gak mau buat masalah di sekolah." "Bukannya lo sering buat masalah, ya?" "Masalah yang gimana dulu? Gue kalau mau terlibat masalah mikir-mikir dulu. Gue gak mau kena masalah cuma karena masalah kecil." "Iya juga sih." Gio dan Deni manggut-manggut menyetujui ucapan Leo. "Nih, minum." Leo menatap Dinda heran ketika cewek itu tiba-tiba berada di depan mejanya sembari menyodorkan sebotol air mineral dingin padanya. "Mimpi apa lo kasih gue minum?" tanya Leo yang masih heran. "Gue taruh di sini. Terserah lo mau minum atau enggak." Setelah menaruh air mineral tersebut di meja Leo, Dinda kembali ke tempat duduknya. "Kayaknya Dinda kasih minum sebagai permintaan maaf deh. Karena udah buat lo tersinggung," ujar Deni. "Minum aja, Le. Walaupun kelihatannya air minum biasa, tapi gue yakin setelah lo minum tuh air pasti lo langsung semangat." "Kalau dia naruh racun di air ini gimana?" Leo curiga kalau Dinda menaruh sesuatu di dalam air tersebut. Tidak mungkin Dinda yang terkenal membencinya tiba-tiba memberikan minuman untuknya. "Ya gak mungkinlah, Le. Gue yakin Dinda gak kerjain lo." "Kalau gitu lo cobain duluan. Kalau lo gak kenapa-napa baru gue minum." "Lah, kok gue? Kan Dinda kasih minumnya buat lo bukan buat gue." "Kalau dikasih barang sama orang lain itu hargain, Le," kata Gio. Leo melirik Dinda yang tengah menatapnya. Dinda tersenyum ke arahnya membuat Leo bergidik. "Aneh." "Ayo minum, Le." Leo menatap Deni kesal, karena cowok itu terus saja mendesaknya untuk meminum air mineral pemberian Dinda. "Oke gue minum." Leo membuka tutup botol minum kemudian meminum air tersebut. Belum sempat menelannya, Leo langsung memuntahkannya. "Kenapa Le?" tanya Deni. "Asin." Leo beralih menatap Dinda yang tertawa puas. "Udah gue duga dia pasti kerjain gue. Gak mungkin tiba-tiba dia kasih minum ke gue. Lo berdua ngapain sih maksa-maksa gue buat minum?" omel Leo. Deni cengengesan. "Sorry, kita pikir Dinda gak ada niatan buat kerjain lo." "Liat aja gue bakal balas." "Lo sama Dinda balas-balasan mulu gak capek apa? Gue yang liat aja capek." "Capek enggak. Puas iya." Deni geleng-geleng kepala. "Mau sampai kapan lo sama Dinda kayak gini terus?" "Sampai mati." "Kayaknya sampai mati pun lo berdua masih saling musuhan." ***********************************************
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN