"Din," panggil Elis.
Dinda yang sedang sibuk melahap makanannya hanya bergumam.
"Lo tadi telat, ya?" tanya Elis.
Dinda hanya mengangguk.
"Kok bisa?" tanya Elis lagi.
Dinda menelan makanannya kemudian menatap Elis.
"Bisa lah. Soalnya semalam gue begadang nonton drakor," jelas Dinda.
Elis geleng-geleng kepala mendengar jawaban Dinda.
"Bisa-bisanya lo begadang nonton drakor. Padahal tahu hari ini bakal ada upacara."
"Gue kan gak tahu kalau gue bakal bangun kesiangan. Soalnya nyokap gue juga gak sempat bangunin gue."
"Em, tapi gue mau tanya sama lo."
"Apa?"
"Kok bisa lo masuk kelas tanpa ketahuan Bu Winda?" tanya Elis heran.
Biasanya Bu Winda memang selalu berdiri di depan gerbang sekolah. Untuk menghukum murid-murid yang terlambat.
"Iya. Gue manjat pagar sekolah," jawab Dinda.
Elis seketika membulatkan matanya. "Manjat pagar sekolah? Monyet lo, Din?"
Dinda menatap Elis sinis. Ia segera menoyor kepala sahabatnya itu.
"Gak ada monyet yang cantik kayak gue."
"Tapi bukannya lo gak bisa manjat, ya?" Elis sangat tahu kalau Dinda memang tidak bisa memanjat.
"Ya gue dibantuin."
"Dibantuin sama siapa?"
"Sama---"
Belum sempat Dinda menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Leo datang dan mengambil alih es teh milik Dinda kemudian meminumnya.
Dinda membulatkan matanya. Ia segera merebut es tehnya dari tangan Leo. Karena ia menarik terlalu kencang, es teh tersebut malah tumpah mengenai seragamnya.
"Lele! Gara-gara lo baju gue jadi basah," teriak Dinda kesal. Ia tidak peduli jika kini semua orang menatapnya.
"Salah lo sendiri. Siapa suruh narik-narik es tehnya."
Dinda menatap Leo tajam. Tidak terima cowok itu menyalahkannya.
"Lo yang salah! Udah ambil minuman gue tanpa izin, gak mau minta maaf lagi."
"Ngapain gue minta maaf? Gue gak salah."
"Lo benar-benar, ya." Dinda hendak menjambak rambut Leo, namun Leo langsung menahannya.
Leo mendekatkan mulutnya pada telinga Dinda. "Ingat gue udah nolongin lo. Jadi jangan macam-macam sama gue. Dan jangan lupa lo harus turutin kemauan gue," bisik Leo.
Leo menjauh dari Dinda sembari tersenyum.
"Makasih buat es tehnya." Setelahnya, Leo pun pergi ke teman-temannya.
Dinda menghentak-hentakkan kakinya kesal ke lantai. Leo benar-benar memancing emosinya.
Ingin sekali Dinda membalas cowok itu, namun Dinda sadar kalau ia tidak boleh membalas cowok itu sekarang. Mengingat Leo tadi sudah membantunya.
*****
"Dinda! Bangun, Din." Rinda mengguncang tubuh Dinda mencoba membangunkan cewek itu.
Dinda yang merasa terusik pun mau tak mau harus membuka matanya.
"Kenapa sih, Kak? Orang lagi tidur malah digangguin," ucap Dinda dengan suara yang terdengar serak.
"Tidur mulu kerjaan lo. Leo udah nungguin di bawah."
Dinda yang tadinya masih mengantuk, langsung melebarkan kedua matanya ketika mendengar nama Leo.
"Tunggu. Lo gak salah sebut nama, kan?" tanya Dinda memastikan.
"Enggak. Mendingan lo siap-siap. Katanya dia mau ngajak lo pergi."
Dinda semakin bingung. "Pergi? Pergi ke mana?"
"Mana gue tahu. Udah buruan mandi. Kasihan dia udah nunggu lama."
Dinda berdecak. "Iya, iya. Bawel banget." Ia pun segera ke toilet.
*****
Dinda sudah selesai mandi. Saat ia hendak memakai pakaian, ponselnya bergetar menandakan pesan masuk. Ia pun mengambil ponselnya kemudian membuka pesan tersebut.
From : Ikan Lele
Dandan yang cantik.
Pakai pakaian yang bagus!
Jangan lama-lama!
Dinda berdecak setelah membaca pesan dari Leo.
"Bisa-bisanya dia suruh-suruh gue kayak gitu. Emangnya dia siapa?"
Tentu Dinda tidak akan menuruti perintah Leo. Setelah selesai berpakaian, Dinda pun turun ke lantai bawah. Ia menghampiri Leo yang sudah menunggunya.
"Lo mau ngajak gue ke mana?" tanya Dinda.
Leo menatap Dinda datar. "Lo gak baca chat gue?"
"Baca."
"Terus kenapa lo gak lakuin? Gue kan suruh lo dandan dan pakai baju yang bagus. Kenapa penampilan lo malah kayak bocah?"
"Gue gak suka diatur. Udah bagus gue mau ikut lo pergi. Mana perginya dadakan lagi. Lain kali kalau mau pergi sama gue itu kabarin dulu. Jangan dadakan kayak gini," ucap Dinda.
"Suka-suka gue. Gue itu udah bantuin jadi gak usah protes."
"Eh, ada Leo." Keduanya menoleh pada Gina yang baru saja kembali.
"Mama."
"Malam Tante," salam Leo.
"Malam Leo."
"Tante, Leo ajak Dinda pergi bentar boleh kan, Tan?" izin Leo.
"Oh boleh dong. Lama juga gak papa. Asalkan Dinda perginya sama kamu."
"Makasih Tan. Kalau gitu kita pergi dulu."
"Iya. Hati-hati di jalan." Setelah berpamitan pada Gina, mereka pun pergi.
*****
"Lo gak salah tempat nih? Yakin lo ngajak gue ke sini?" tanya Dinda setelah Leo memarkirkan mobilnya di depan sebuah restauran.
"Iya. Ayo," jawab Leo singkat. Leo melepas seat belt-nya kemudian keluar dari mobil, diikuti Dinda.
Saat mereka hendak masuk ke dalam, ponsel Dinda berdering.
"Sabar, gue angkat telfon dulu," ucap Dinda.
Leo membiarkan Dinda menjawab teleponnya.
"Halo To. Kenapa?"
"Gue lagi di luar."
"Sorry, ya, To. Habisnya lo juga gak ngabarin sih kalau mau ke rumah."
"Eh, gak usah nungguin gue. Kemungkinan gue bakal lama kasihan kalau lo nunggu gue."
"Besok aja baru lo ke rumah lagi. Besok gue ada di rumah kok. Gak kemana-mana."
"Oke. Bye, Tito ganteng."
"Udah telfonan sama pacarnya?" tanya Leo dengan wajah datarnya.
Dinda menoleh pada Leo. "Udah. Kenapa lo? Iri ya karena gak punya pacar?"
Leo tertawa. "Iri? Buat apa iri sama lo? Gue ini ganteng, banyak cewek yang suka sama gue. Jadi gak mungkin gue iri sama cewek modelan lo. Punya cowok aja bangga."
"Ganteng dari mananya? Jelek juga."
"Gue ganteng. Mata lo katarak makanya gak bisa lihat ketampanan gue."
Dinda melotot. "Enak aja lo ngatain gue katarak. Mata gue masih bagus. Jelas-jelas lo itu jelek."
"Bawel lo. Ayo masuk." Leo menarik lengan Dinda.
"Eh, gak usah pegang-pegang gue." Dinda hendak melepas tangannya dari Leo, namun Leo malah mengeratkan tangannya pada lengan Dinda.
"Modus banget sih."
Leo tidak peduli dengan ucapan Dinda. Mereka masuk ke dalam restauran.
Saat sampai di dalam, Leo menoleh ke kanan dan kiri, seperti mencari seseorang. Setelah menemukan yang dicari, ia membawa Dinda mendekati meja yang terletak di pojok kanan.
"Hai Leo. Aku senang akhirnya kamu mau ketemu aku juga," ucap seorang cewek ketika Leo dan Dinda menghampirinya.
"Sayang, ayo duduk." Leo menarik kursi, mempersilakan Dinda untuk duduk.
Tentu Dinda terkejut. Ia tidak salah dengar bukan? Leo memanggilnya dengan sebutan 'sayang'? Sungguh sangat aneh.
"Ayo duduk, Sayang. Kok malah bengong?"
Dinda tersadar dari lamunannya. "Ah, iya." Dinda pun segera duduk.
"Sayang?"
Leo beralih menatap cewek yang ada di hadapannya.
"Ini pacar baru kamu?" tanya cewek itu.
Leo mengangguk. "Iya. Dia cewek gue."
"Tega kamu. Secepat itu kamu lupain aku? Apa kamu udah gak cinta lagi sama aku?"
"Sebenarnya lo ngapain ngajak gue ketemuan di sini?" tanya Leo tidak ingin basa-basi. Ia ingin cepat-cepat pergi dari sini.
"Aku ngajak kamu ke sini karena aku mau kita balikan kayak dulu lagi. Aku masih sayang sama kamu, Le. Sayang banget."
Leo tertawa miring. "Sayang? Kalau sayang kenapa lo selingkuh? Itu yang lo bilang sayang?"
"Aku selingkuh karena salah kamu. Kamu gak pernah ada saat aku butuh. Semenjak kita beda sekolah kamu jadi jarang kabarin aku. Kamu juga jarang ketemu sama aku. Kamu selalu sibuk dengan diri kamu sendiri."
"Apa pun alasannya, tetap aja selingkuh itu gak benar di mata gue. Sekarang lo udah sama cowok lain, gue juga udah sama cewek gue. Jadi gak usah gangguin gue lagi."
"Aku udah putus sama cowok aku."
"Aku baru sadar kalau ternyata aku itu gak cinta sama dia. Aku pacaran sama dia cuma karena ngerasa kesepian karena gak ada kamu. Aku baru sadar kalau aku cuma cinta sama kamu, Le."
"Tapi gue udah gak cinta sama lo," ucap Leo dingin.
"Kamu bohong, kan? Aku tahu kamu juga masih cinta sama aku. Iya kan? Kamu pacaran sama dia cuma pelampiasan doang, kan? Kamu gak mungkin bisa lupain aku secepat itu."
"Gak usah kepedean! Gue udah gak cinta sama lo. Bagi gue, lo itu cuma masa lalu yang paling buruk di dalam hidup gue."
Terlihat jelas mata cewek itu berkaca-kaca. Mungkin sakit hati dengan ucapan Leo. Tapi Leo tidak peduli. Dulu, Leo lebih sakit hati daripadanya.
"Lo beneran pacarnya Leo?" tanya cewek itu pada Dinda.
Dinda yang sedari tadi hanya diam seketika langsung menoleh pada Leo. Jujur, Dinda sangat bingung harus menjawab apa. Apalagi Leo sama sekali tidak membicarakan masalah ini padanya.
"Maksud lo apa nanya kayak gitu sama cewek gue?" sahut Leo dengan raut wajah tidak suka.
"Gue cuma mau bilang sama lo, lebih baik lo putusin Leo karena Leo itu gak cinta sama lo. Dia itu masih cinta sama gue," ucap cewek itu pada Dinda.
"Sofhie! Bisa berhenti gak? Gue kan udah bilang gue itu udah gak cinta sama lo. Muak lama-lama gue sama lo."
"Sayang, ayo kita pulang." Leo menggenggam tangan Dinda kemudian pergi keluar dari restauran.
*****
"Makasih udah suguhin drama yang sukses bikin gue bingung," ucap Dinda saat Leo mengantarnya pulang.
"Sorry dan thank's."
"Makasih buat apa? Emang gue ngelakuin apa buat lo?" tanya Dinda bingung.
"Makasih karena lo gak ngasih tahu ke dia kalau lo bukan cewek gue."
"Oh itu. Tadinya sih gue pengin kasih tahu, tapi karena lo udah keburu nyahut jadi gue gak jawab." Memang Dinda berniat untuk menjawab yang sejujurnya karena ia tidak mau berbohong. Tapi karena Leo sudah lebih dulu berbicara, membuat Dinda mengurungkan niatnya untuk menjawab pertanyaan Sofhie.
"Sorry, nih, tapi cewek yang tadi itu mantan lo, ya?" tanya Dinda hati-hati.
Leo mengangguk. "Iya. Dia mantan gue."
"Em, kalau gitu gue masuk dulu."
"Iya."
Dinda keluar dari mobil Leo. Setelah mobil Leo pergi, barulah ia masuk ke dalam.
Sampai di kamarnya, Dinda langsung merebahkan tubuhnya di kasur.
"Mantan Leo cantik sih, tapi sayang, dia selingkuh," gumam Dinda.
"Lah, kok gue malah kepikiran mereka sih? Itu kan urusan mereka. Ngapain juga gue mikirin mereka?" Dinda segera menggeleng-gelengkan kepalanya. Mencoba untuk melupakan kejadian tadi. Ia tidak ingin mengingat kejadian tadi. Anggaplah saja kejadian malam ini hanyalah mimpinya. Karena sebenarnya Dinda tidak mau terlalu tahu tentang masalah Leo atau apa pun tentang cowok itu.
***********************************************