"Yah, telat lagi," gumam Dinda. Ia tidak menyangka hari ini ia akan terlambat sampai di sekolah.
Padahal, hari ini adalah hari Senin, dimana pagi ini sedang ada upacara bendera. Biasanya Dinda tidak akan terlambat saat ada upacara bendera, tapi karena semalam Dinda keasyikan menonton film, sampai-sampai ia harus begadang dan berujung bangun kesiangan.
"Gimana nih, jangan sampai gue dihukum sama Bu Winda lagi. Ntar, yang ada gue diomelin habis-habisan lagi."
"Eh, Kecebong."
Dinda menoleh ke belakang.
"Lah, ternyata bener Kecebong." Leo terkekeh melihat wajah Dinda yang berubah kesal.
"Nama gue Dinda bukan Kecebong. Dasar ikan lele."
"Oh ya? Terus kenapa lo noleh waktu gue panggil lo Kecebong?" tanya Leo dengan nada mengejek.
Dinda terdiam sejenak.
Benar juga yang dikatakan Leo. Untuk apa ia menoleh padahal namanya bukan kecebong.
Dinda menggerutu dirinya sendiri. Karena sudah terbiasa dengan Leo yang memanggilnya seperti itu ia jadi terbiasa.
"Tahu ah. Males gue ngomong sama lo."
Leo terkekeh pelan. "Bilang aja lo gak bisa jawab. Gitu aja susah amat."
"Terserah lo, deh. Gue lagi gak mau ribut sama lo."
Setelahnya keadaan pun hening. Tak ada dari mereka berdua yang berbicara.
Dinda merogoh ponselnya di saku roknya. Ia mengirim pesan singkat pada Elis.
To : Elis
Woi!
Gue telat nih. Ijinin gue, ya?
Dinda menunggu balasan dari Elis, tapi cewek itu tak kunjung membalasnya. Jangankan membalas, membaca pesannya pun tidak sama sekali.
"Elis kemana sih? Chat gue aja gak dibales."
Leo menatap Dinda yang sibuk dengan ponselnya itu.
Ia menatap Dinda cukup lama.
"Kalau lagi serius gini, kecebong cantik juga. Lah gue ngomong apaan sih. Dia itu gak ada cantik-cantiknya sama sekali. Sadar dong Leo lo gak boleh suka sama dia." Leo membatin.
Leo memukul pelan kepalanya mencoba menyadarkan dirinya. Ia merutuki kebodohannya karena sempat memuji cewek itu.
Dinda yang melihatnya menatap cowok itu bingung.
"Lo stres, ya? Apa perlu gue anter ke rumah sakit jiwa?"
Leo beralih menatap Dinda. "Gue masih waras. Lo kali yang udah gak waras," ucap Leo tidak terima.
Dinda tertawa pelan. "Jelas-jelas lo yang gak waras. Kayak gak ada kerjaan aja mukul kepala sendiri."
"Suka-suka gue, lah. Kepala juga kepala gue. Kok lo yang malah ribet?"
"Ya udah terserah lo." Dinda memilih kembali menatap layar ponselnya. Ia tidak mau menanggapi Leo. Karena berbicara dengan Leo hanya membuatnya naik darah karena emosi.
"Eh, lo mau masuk sekolah tanpa ketahuan Bu Winda gak?" tanya Leo tiba-tiba.
Dinda beralih menatap Leo dengan satu alis terangkat. "Maksud lo?"
"Ck! Lemot banget sih otak lo. Maksud gue lo mau masuk ke dalam tanpa ketahuan guru atau enggak? Lo gak mungkin mau bolos, kan? Masa anak teladan kayak lo bolos."
Dinda tampak berpikir sejenak. Ia memang ingin masuk ke dalam, tanpa dihukum Bu Winda, tapi ia ragu Leo bisa membantunya. Atau jangan-jangan Leo mau menjebaknya?
"Lo mau jebak gue, kan?" tuding Dinda.
"Hah? Jebak? Jebak apaan?"
"Bilang aja lo sengaja mau bantuin gue, padahal sebenarnya lo jebak gue terus nanti gue dihukum sama Bu Winda. Iya kan? Ngaku lo!"
"Suka banget curigaan sama orang. Ya udah kalau lo gak mau juga gue gak bakal maksa. Kalau lo mau tetap di sini sampai Bu Winda datang, ya, silakan." Leo hendak pergi meninggalkan Dinda, namun baru beberapa langkah ia langsung berhenti karena panggilan dari Dinda.
Leo menoleh pada Dinda. "Kenapa?"
"Oke. Gue mau terima tawaran lo."
"Ikut gue," suruh Leo.
"Ke mana?"
"Ikut aja. Buruan!"
"Iya." Leo berjalan ke arah samping sekolah diikuti Dinda di belakangnya.
"Le, kita mau ngapain di sini?" tanya Dinda saat Leo menghentikan langkahnya. Cowok itu menatap tembok pagar samping sekolah yang menjulang tinggi.
Leo melepas tasnya kemudian melemparnya pada Dinda.
"Lo ngapain lempar tas lo ke gue?" tanya Dinda dengan raut wajah kesal.
"Naik ke pundak gue," suruh Leo.
"Hah? Naik ke pundak lo? Ngapain?" tanya Dinda yang masih saja bingung.
"Buruan! Gak usah banyak nanya."
Dinda berdecak pelan. Ia pun menuruti Leo. Dinda segera naik ke pundak cowok itu.
"Eh, jangan ngintip," ucap Dinda ketika sudah berhasil naik ke pundak Leo.
"Siapa juga yang mau ngintip. Buruan naik ke atas," suruh Leo.
"Lo nyuruh gue manjat pagar, nih, ceritanya?"
"Bawel banget. Buruan!" Leo jadi kesal sendiri karena Dinda yang selalu saja bertanya.
"Tapi gue gak bisa. Ini tinggi banget. Susah juga."
"Usaha dong. Belum juga coba udah bilang gak bisa."
Dinda mengambil napas sebanyak mungkin, perlahan mengembuskannya. Itu ia lakukan untuk menghilangkan rasa takutnya.
Perlahan, Dinda pun mulai memanjat tembok pagar tersebut.
"Akhirnya bisa juga." Dinda bernapas lega saat ia sudah berada di atas pagar.
Setelah itu, Leo pun menyusul Dinda. Ia memanjat pagar dengan cepat. Leo sudah biasa memanjat pagar, jadi tak butuh waktu lama baginya untuk memanjat pagar sekolah.
Kemudian Leo melompat ke bawah. Melihat itu Dinda sedikit terkejut. Karena Leo melompat ke bawah dengan mudah dan cowok itu sama sekali tidak terjatuh.
"Buruan lompat," suruh Leo.
"Tapi tinggi. Gue takut jatuh."
"Gak bakal. Gue jagain."
"Benar ya?"
"Iya."
"Awas aja kalau lo biarin gue jatuh. Tapi serius ini tinggi banget, loh, Le. Gue takut ini."
Leo berdecak. Semakin lama mendengar ocehan Dinda, ia semakin kesal. Leo takut jika nantinya ia malah ketahuan oleh Bu Winda telah memanjat pagar. sekolah. Bisa-bisa ia akan dihukum lagi. Dan, sekarang Leo sedang malas untuk mendapat hukuman.
"Terserah kalau lo gak mau lompat, gue gak peduli." Leo hendak pergi meninggalkan Dinda, namun Dinda segera memanggil Leo.
"Iya, gue lompat sekarang. Jangan biarin gue jatuh, ya." Leo hanya mengangguk.
Dinda kembali mengambil napas sebanyak mungkin, kemudian mengembuskannya. Setelah meyakinkan dirinya, ia pun lompat ke bawah. Leo hendak menangkap Dinda, namun karena posisinya kurang tepat, akhirnya ia tidak bisa menangkap Dinda. Dan berujung Dinda jatuh menindih tubuh Leo.
Sesaat, mereka berdua terdiam. Keduanya saling menatap cukup lama. Hingga akhirnya Dinda tersadar dan segera bangkit berdiri.
"Gue kan udah bilang jangan sampai gue jatuh. Lo sengaja, ya? Lo gak mau nangkap gue, kan?" omel Dinda.
"Gue mau nolongin lo, tapi emang badan lo aja yang gendut, makanya gue gak bisa nahan badan lo. Makanya makan nasi jangan makan batu."
Dinda melotot mendengar ucapan Leo. "Enak aja lo ngatain gue gendut. Gue itu langsing. Gue juga makan nasi bukan makan batu."
"Terserah." Leo berjalan meninggalkan Dinda.
Dinda segera menyusul Leo ke kelas. Ia mengembuskan napas lega karena berhasil ke kelas tanpa ketahuan guru.
"Untung aman," gumamnya.
"Untung ada gue makanya lo bisa masuk kelas," sahut Leo yang berada tepat di belakang Dinda.
Dinda terkejut. "Lo ngapain sih berdiri di belakang gue? Bikin kaget aja."
"Karena gue udah nolongin lo, jadi lo punya utang sama gue."
"Utang? Jadi lo nolongin gue gak ikhlas?"
Leo tertawa. "Gue gak pernah ikhlas kalau nolongin orang modelan lo."
Dinda menatap Leo kesal. "Terus lo mau gue ngelakuin apa biar bisa lunasin utang gue?"
"Nanti gue kasih tahu."
"Jangan yang aneh-aneh, ya."
"Tenang aja. Gak bakal aneh-aneh. Pokoknya lo cuma harus nurut aja. Gak boleh nolak."
"Oke."
Dinda menarik kursi kemudian mendudukkan bokongnya di sana. Ia memang bersyukur karena berkat bantuan Leo ia bisa masuk ke kelas tanpa dihukum. Tapi ia harus melunasi utangnya pada Leo. Dinda takut Leo akan mengerjainya. Apalagi mereka adalah musuh. Sudah pasti kesempatan ini akan digunakan oleh Leo untuk mengerjainya.
Dinda hanya bisa berharap semoga Leo tidak mengerjainya yang aneh-aneh.
***********************************************