Part 8

1219 Kata
Hari Minggu menjadi hari yang ditunggu-tunggu para murid sekolah tak terkecuali Dinda. Cewek itu sedang asik membaca novelnya tak lupa ia memasang earphone pada kedua telinganya. Ditemani camilan di sampingnya. "Enak banget kalau lagi libur gini," gumamnya. Dinda menoleh ke arah pintu saat mendengar ketukan pintu. "Masuk." Pintu terbuka menampilkan sosok Rinda yang sudah berpakaian rapi. Membuat Dinda bingung dengan kakaknya itu. Tak biasanya ia sudah rapi pada jam begini apalagi hari libur. "Mau kemana, Kak?" tanya Dinda. "Hangout sama teman-teman gue." "Gue ikut, ya, Kak." "Gak!" "Ish! Terus ngapain ke kamar gue?" ketus Dinda. "Jagain rumah. Jangan kemana-mana. Tetep dirumah sampai mama atau gue pulang," titah Rinda. "Enak banget lo. Bisa hangout sama teman lo, lah gue di rumah sendiri emangnya gak bisa apa gue ikut?" tanya Dinda masih berharap agar Rinda mau mengajaknya pergi. "Gak bisa." Dinda mendengus sebal. Kakaknya memang menyebalkan. "Ya udah sana pergi bila perlu gak usah balik lagi. Males gue liat muka lo." Rinda menatapnya tajam. "Dasar adek kurang ajar lo. Pokoknya lo harus tetap di rumah. Kalau sampai gue balik dan lo gak ada, gue aduin ke Mama." Dinda menghiraukannya. Ia kembali memasangkan earphone-nya yang sempat dilepasnya. Setelahnya itu Rinda keluar dari kamarnya. "Gini amat nasib gue. Masa seharian gue di rumah terus sih. Kak Rinda emang gak punya hati." DRRT... Dinda beralih menatap ponselnya. Dengan ogah-ogahan ia mengambil ponselnya. "Halo Lis." Ternyata Elis yang meneleponnya. "Halo Din lo lagi ngapain?" "Lagi memandangi indahnya rembulan yang menghiasi langit." Terdengar tawa yang keras dari seberang telepon. "Lo ada-ada aja sih Din ini kan masih pagi masa lo ngeliat bulan." "Lo ngapain sih nelpon gue?" tanya Dinda malas. "Temenin gue ke mall, yuk." "Nggak bisa. Orang rumah pada keluar semua dan gue disuruh jaga rumah." "Ya elah, Din, lo patuh banget, ya." Dinda berdecak sebal. "Ya udah kalau gitu gue tutup, ya telfonnya," ucap Dinda tidak ingin basa-basi. Karena memang ia malas berbicara lewat telepon. "Gue kerumah lo, ya. Nemenin lo biar gak bosan sendirian di rumah." "Terserah." Dinda mengakhiri sambungan teleponnya. Ia beranjak dari kasur, kemudian keluar dari kamarnya. Dinda segera merapikan rumahnya yang sedikit berantakan agar dirinya tidak dimarahi oleh Gina nanti. Saat sedang merapikan rumah, ia mendengar suara pintu diketuk. "Loh, Elis udah dateng aja, cepat banget dia. Padahal dia kan baru telfon berapa menit yang lalu." Dinda melangkah menuju pintu untuk membukakan pintu. "Lo datengnya cepat amat, lo kangen banget, ya, sama gue." "Kangen? Cewek somplak kayak lo gini ngapain kangen?" Dinda yang sedang memainkan ponselnya segera mendongakan wajahnya. Ia cukup terkejut karena ternyata orang itu bukanlah Elis, melainkan Leo. "Lele! Gue pikir lo---" "Apa? Lo pikir gue cowok lo apa?" sela Leo. "Apaan sih lo? Ngapain lo ke sini?" tanya Dinda malas. "Gue disuruh nganter ini." Leo menyodorkan paper bag pada Dinda. "Apaan nih?" "Buka sendiri." Dinda menatapnya tak suka. "Tinggal jawab aja susah banget." "Tinggal buka aja susah banget," balas Leo tidak mau kalah. Dinda berdecak sebal. Ia membuka paper bag tersebut. Dinda mengembangkan senyumnya saat melihat beberapa kotak makan. "Dasar tukang makan! Giliran lihat makanan aja langsung senang," sindir Leo. Dinda beralih menatap Leo tidak suka. "Sana pergi! Ngapain masih di sini?" "Bilang makasih kek." "Bilangin ke Tante Sinta makasih buat makanannya." "Lah, lo gak makasih sama gue? Gue yang nganter, loh." "Nggak." "Dasar Kecebong." Dinda memeletkan lidahnya kemudian segera masuk ke dalam rumahnya. "Dasar Kecebong! Apa susahnya bilang makasih?" gumam Leo kesal. ***** "Masuk aja, Lis. Pintunya gak dikunci," teriak Dinda saat mendengar pintu diketuk. Elis membuka pintu dan segera masuk. Ia menghampiri Dinda yang tengah asyik menonton televisi. "Dinda," panggil Elis. Dinda menoleh. "Duduk Lis." Elis mengangguk. Ia mengambil duduk di sebelah Dinda. "Lo kenapa?" tanya Dinda ketika menyadari tingkah Elis yang tidak seperti biasanya. "Gue lapar, Din. Tadi belum sempat makan." "Ya udah ayo makan. Kebetulan gue udah siapin makanannya." "Eh, emangnya mama lo udah masak?" tanya Elis. "Gak." "Lah, terus siapa yang masak? Nggak mungkin lo, kan?" "Gue yang masak." "Hah? Kalau lo yang masak mending gue gak usah makan, deh. Ntar, gue sakit perut lagi. Lo ingat, kan, waktu itu lo masak nasi goreng buat gue dan betapa gak enaknya masakan lo udah gitu pedas lagi. Lo tahu saat gue pulang rumah perut gue itu mules seharian tahu gak. Gue bolak-balik kamar mandi," ucap Elis panjang lebar ketika mengingat kembali kejadian yang menurutnya paling tidak menyenangkan itu. Dinda tertawa setiap kali mengingat kejadian dimana ia memasak untuk Elis. "Ketawa lagi." "Lagian lo lucu banget, sih." "Lo yang salah kalau gak tahu masak, ya gak usah masak." Dinda terkekeh pelan. "Iya deh. Tapi kali ini lo harus makan soalnya enak banget." "Gak, makasih." "Ini bukan masakan gue jadi lo makan aja." Elis mengernyit bingung. "Pasti masakan tante Gina, kan?" tebak Elis. "Salah." "Terus masakan siapa?" tanya Elis semakin bingung. "Ada deh. Mending makan dulu." Elis hanya mengangguk. Mereka pun pergi menuju meja makan. Elis menatap takjub ketika melihat beberapa lauk kesukaannya yang tertata rapi di meja makan. "Ayo makan, Lis." "Lo tahu aja makanan kesukaan gue, Din." Dinda tersenyum. "Iya dong. Ayo makan." Elis mengangguk. Elis mengambil menyendok nasi dan lauk ke dalam piringnya. "Gimana? Enak gak?" tanya Dinda ketika Elis melahap makanannya. "Enak banget, Din, gue yakin tante Gina yang masak, nih, pasti." Elis kembali memakan makanannya dengan lahap. "Bukan Lis, gue kan tadi udah bilang bukan mama gue." "Kalau bukan nyokap lo siapa? Yang pasti bukan lo, kan?" "Ini masakan Tante Sinta." "Tante Sinta?" ulangnya. Dinda mengangguk. "Siapa tuh? Calon mertua lo, ya?" celetuk Elis. Dinda memutar kedua bola matanya malas. "Gak usah ngaco. Tante Sinta itu nyokapnya Lele." "Lele? Leo maksud lo?" tanya Elis memastikan. Dinda hanya menagangguk malas. "Kok bisa?" heran Elis. "Ya bisalah." Elis berdecak sebal. "Jangan becanda deh." "Ya nyokap gue sama nyokapnya temenan. Dia juga satu kompleks sama gue," jelasnya. "Wah, berarti kalian emang benar-benar jodoh. Udah rumahnya satu kompleks, nyokap temenan lagi." Dinda menoyor kepala Elis. "Udah dibilang gak usah ngaco malah makin ngaco." "Siapa yang ngaco sih? Gue kan cuma ngomong sesuai kenyataan." "Kenyataan apanya? Gue sama dia itu "Serah lo deh." Setelah selesai makan, Dinda mencuci peralatan makan yang mereka gunakan dibantu Elis. "Eh, Din gue mau nanya deh sama lo." "Nanya apa?" "Kenapa lo sama Leo selalu musuhan?" "Gue gak tahu. Lo tanya aja sama orangnya." "Mendingan lo sama Leo temenan aja siapa tahu kalian bakal jadi pasangan." Dinda memutar kedua bola matanya malas. Sampai kapan pun ia tidak akan mau jika harus berpacaran dengan cowok mengesalkan itu. Mereka bercerita banyak tanpa sadar waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. "Din, gue pulang dulu, ya," pamit Elis. Dinda mengangguk pelan. "Gue sendiri, deh." Elis tersenyum. "Bentar lagi nyokap sama kakak lo bakal pulang. Gak usah sedih gitu deh." "Iya. Ayo gue antarin lo ke depan." Setelah mendapat anggukan dari Elis, mereka pun pergi ke depan. "Gue pulang dulu." "Hati-hati, ya, Lis." "Ingat omongan gue yang tadi." Dinda mengerutkan keningnya. "Omongan yang mana?" "Pura-pura gak tahu lagi. Itu yang gue nyuruh lo sama Leo damai biar jadi pacar." Dinda memberikan tatapan tajamnya. "Elis!" Elis tertawa. Cewek itu segera berjalan ke mobilnya. "Bye, calon pacarnya Leo." Elis tersenyum lebar sembari melambaikan tangannya pada Dinda, kemudian pergi dengan mobilnya. "Ish! Kenapa sih semua orang pada nyuruh gue damai sama Lele? Sampai kapan pun gue gak akan mau damai sama dia. Apalagi sampai pacaran. Gak akan!" ***********************************************
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN