Part 7

1186 Kata
"Lele! Ambil sampahnya gak?" teriak Dinda saat Leo dengan sengaja membuang bungkus makanan ringan ke lantai. "Lo yang piket jadi lo yang ambil sampahnya," ucap Leo enteng. Hari ini memang tugas Dinda untuk membersihkan kelas. Karena tadi pagi ia tidak sempat menyapu, jadi sekarang ia harus menyapu kelas. "Tapi kan lo yang buang. Ambil sekarang atau lo bakal kena masalah." Bukannya takut dengan ancaman Dinda, Leo malah keluar dari kelas. Tidak membiarkan Leo pergi begitu saja, Dinda segera mengejar cowok itu. Saat Dinda berhasil mendapat Leo, ia langsung memukul Leo dengan gagang sapu yang dipegangnya, membuat Leo mengadu kesakitan. "Aduh sakit, woi! Berhenti dong." "Makanya jangan macam-macam sama gue." Dinda kembali memukul Leo. "Ampun. Sakit b**o!" Leo segera merebut sapu tersebut dari tangan Dinda. Sehingga Dinda tidak bisa memukul Leo lagi. "Balikin sapunya." Leo tersenyum miring. "Gak akan gue balikin." "Balikin Lele." "Siapa suruh lo udah mukul gue. Kalau lo mau gue balikin, lo harus ambil sampah yang tadi gue buang." Dinda melotot. Ia tidak terima Leo memerintahnya. "Enak aja lo. Itu kan sampah lo bukan sampah gue." "Ya udah kalau gitu gue juga gak bakalan kasih sapu ini ke lo." Dinda berdecak. Kalau Leo tidak mengembalikan sapu, kelas tidak akan kunjung bersih dan pastinya ia juga belum bisa pulang jika kelas masih dalam keadaan kotor. "Oke. Gue bakal ambil sampahnya, tapi lo harus balikin sapunya ke gue." "Tenang aja. Gue gak bakalan bawa pulang sapunya." Dengan kesal, Dinda kembali ke kelas. Ia memungut beberapa sampah yang tadi dibuang oleh Leo ke lantai. Kemudian membuangnya ke tempat sampah. "Udah. Sekarang kasih sapunya ke gue," pinta Dinda. "Bentar dulu." Leo menendang tempat sampah membuat sampah-sampah berserakan di lantai. Ia melempar sapu ke lantai, kemudian ia langsung lari meninggalkan Dinda yang tampak kesal setengah mati. "Lele! Awas aja ya lo. Gue bakal balas lo!" teriak Dinda kesal. "Nyebelin banget sih. Udah capek-capek bukannya dibantuin malah tambah bikin capek. Pokoknya gue bakal balas dia. Biar tahu rasa dia." ***** "Masuk," ucap Dinda ketika mendengar pintu kamarnya diketuk. Pintu kamar Dinda terbuka, menampakkan Rinda yang berjalan mendekatinya. "Kenapa Kak?" tanya Dinda. "Mama---" Belum sempat Rinda menyelesaikan ucapannya Dinda sudah membekap mulutnya. "Jangan bilang mama nyuruh gue buat antarin kue ke rumah tante Sinta lagi. Karena gue gak akan mau. Malas gue ketemu sama Lele. Mendingan lo aja, ya, Kak yang antatin. Lagian gue juga capek baru pulang sekolah," sela Dinda. Segera Rinda melepas bekapan Dinda. "Lo apa-apaan sih? Main bekap mulut gue aja. Lagian Mama bukan suruh lo antarin kue." Dinda terkekeh. "Sorry, Kak. Terus Mama mau suruh gue apa?" "Mama gak ada suruh lo apa pun. Tapi Mama ngijinin kita pergi ke mall. Asal jangan pulang kemalaman." Mendengar perkataan kakaknya tiba-tiba mata Dinda langsung berbinar. "Apa? Yang bener lo, Kak? Mama ijinin kita pergi ke mall? Lo gak lagi bohong, kan?" Rinda memutar bola matanya malas. "Emang gue keliatan bohong?" Dinda menggeleng kemudian tersenyum. "Enggak sih. Kalau gitu gue ganti baju dulu, ya, Kak." "Gak pakai lama. Kalau gak gue tinggalin." "Iya. Bawel amat sih. Udah sana keluar. Gue mau siap-siap." "Giliran ke mall aja senangnya luar biasa," cibir Rinda. ***** "Din, gue rasa udah cukup deh belanjanya," ucap Rinda saat melihat Dinda yang sedang menenteng beberapa paper bag. Dan itu semua adalah belanjaan Dinda. "Tapi gue masih pengin beli baju." "Percuma lo beli baju banyak, tapi gak pernah dipakai. Mendingan uangnya buat beli makan. Bisa bikin kenyang." "Ya udah, kalau gitu kita makan aja." Rinda tersenyum. "Nah, gitu dong. Kebetulan gue udah lapar. Lo yang bayarin, ya." "Bayar sendiri-sendiri, lah." "Oke. Bayar sendiri-sendiri, tapi kalau sampai Mama tahu lo belanja banyak, lo tahu kan akibatnya apa?" Dinda mengembuskan napasnya. Rinda sepertinya sedang mengancamnya. Kakaknya memang benar-benar bisa membuat Dinda tidak berdaya. "Ya udah gue traktir." Rinda kembali tersenyum. Bahkan kali ini ia tersenyum lebih lebar. Padahal, Rinda adalah orang yang jarang senyum. "Gitu dong. Itu baru adik yang baik." "Giliran ditraktir aja baru senyum terus muji gue. Coba kalau enggak, pasti mukanya cemberut mulu," cibir Dinda. "Buruan ke cafe. Jangan banyak bacot." "Iya, iya." Mereka pergi ke salah satu tempat makan yang masih berada di dalam mall. "Mbak," panggil Rinda. Seorang pelayan segera mendekati meja mereka. "Ada yang bisa saya bantu, Kak?" "Saya pesan sphageti carbonara satu sama jus mangga satu." Rinda beralih menatap Dinda. "Mau pesan apa lo?" "Saya pesan sphageti bolognese satu sama jus stroberi satu." Setelah memastikan pesanan keduanya benar, pelayan pun undur diri dari hadapan mereka. "Kak, nanti kalau mama nanya bilang aja belanjaannya punya lo semua, ya." "Boleh aja sih, tapi ada syaratnya." "Apa syaratnya?" tanya Dinda. "Lo harus traktir gue selama seminggu. Gimana?" Dinda cukup terkejut mendengar persyaratan yang diajukan Rinda. "Seminggu? Gak tiga hari aja?" "Seminggu." "Ya udah deh, seminggu." "Oke." Kalau saja Dinda tidak membutuhkan bantuan, ia pasti tidak akan mau menuruti syarat dari Rinda. ***** "Eh, Key itu Dinda bukan sih?" tanya teman Keyla yang bernama Jesi. Keyla yang sedang meminum jus alpukatnya langsung menoleh pada arah yang ditunjuk oleh temannya. "Iya. Itu Dinda." Keyla tersenyum licik. "Kayaknya kalau kerjain dia asyik juga." Keyla bangkit dari duduknya. Ia mendekati meja Dinda. Saat ia melihat pelayan hendak menaruh makanan di meja Dinda, Keyla segera mempercepat langkahnya. Keyla menyenggol pelayan tersebut, sehingga makanan dan minuman yang dipegang oleh pelayan itu malah tumpah mengenai baju Dinda. Segera Dinda bangkit dari duduknya. Dinda mengambil tisu kemudian membersihkan bajunya. "Maaf Mbak. Saya tidak sengaja," ucap pelayan tersebut. Dinda hanya tersenyum tipis. "Enggak papa kok, Mbak. Bukan salah Mbak juga." "Ups! Gue nggak sengaja. Gimana baju lo tambah bagus, kan?" ujar Keyla dengan senyum liciknya. Dinda menggeram kesal. "Lo apa-apaan sih? Lo sengaja kan ngerjain gue? Maksud lo apa kayak gitu?" Rasanya Dinda ingin sekali menjambak rambutnya dan mencakar-cakar wajah cewek ini, jika tidak mengingat kalau mereka sedang berada di tempat umum. "Gue kan bilang gak sengaja. Lo b***k, ya? Emang sih keliatan banget kalau lo b***k. Mau gue antar ke dokter THT gak?" ejek Keyla. Dinda mencoba menahan amarahnya. Ia harus sabar dengan cewek yang ada di hadapannya saat ini. Ia tidak ingin membuat keributan di tempat umum seperti ini. Sekarang saja mereka sudah menjadi bahan tontonan. "Sabar Din. Mendingan kita pulang aja," bisik Rinda, mencoba menenangkan Dinda. Dinda mengangguk. Mereka pun keluar dari tempat makan tersebut. "Din." "Hm." "Cewek yang tadi itu siapa? Kok keliatannya dia kayak gak suka gitu sama lo?" tanya Rinda penasaran. "Dia satu sekolah sama gue. Dia naksir berat sama Lele. Karena gue sering adu mulut sama Lele, dia malah ikut-ikutan musuhin gue," jelas Dinda. "Kasihan banget, ya, lo. Ternyata musuh lo banyak banget." "Wajar lah. Mereka kan fans sama gue. Makanya musuhin gue." Rinda terkekeh. "Fans? Haters kali." "Haters itu fans. Buktinya walaupun mereka benci, tapi masih aja hobi cari tahu apa yang dilakuin sama orang yang dibenci mereka." "Terserah lo deh. Intinya lo harus traktir gue. Karena gue belum sempat makan." "Gak mau! Uang gue udah habis buat bayarin makanan kita tadi." "Ya udah, kalau gak mau gue aduin ke Mama." "Eh, jangan dong. Gitu banget sih sama gue." "Makanya nurut sama gue." "Oke, nanti gue traktir lagi." "Gitu kek dari tadi." "Dasar kakak nyebelin," dumelnya. ***********************************************
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN