Suasana hening pun menyelimuti antara aku dan Arya. Aku memang marah dengan apa yang ia lakukan tapi aku juga tak ingin kehilangannya karena aku sudah menganggapnya seperti sahabatku.
“Maaf, kalian lagi bicara serius ya?” tanya Pak Remy yang tiba- tiba masuk ke dalam ruang kerja dan tak sengaja melihat aku dan Arya sedang serius.
“Nggak kok, Pak Remy ada apa?” tanyaku kepadanya sambil tersenyum ke arahnya. Ia yang tadinya masih menunjukkan setengah badannya akhir masuk dan menutup pintu.
“Ini Bu, di bawah tadi ada orang yang mau wawancara buat melamar jadi Supervisor di tempat kita. Itu mau Ibu yang wawancara atau bagaimana?” tanya Pak Remy sambil memberi sebuah map coklat. Memang pasalnya aku beberapa hari lalu sudah memasang kertas lowongan kerja untuk menambah satu supervisor lagi agar tak ada yang bekerja seharian penuh jika salah satu supervisor yang aku punya saat ini sedang tidak masuk bekerja.
Aku pun membuka map tersebut, aku membaca daftar riwayat hidup dan beberapa berkas lainnya. Karena pengalamannya cukup baik, aku memutuskan untuk mewawancarai langsung.
“Oke, Pak Remy dan Pak Arya kita segera wawancarai dia. Siapkan pertanyaan yang ingin kalian tanyakan.” Ajakku.
“Tapi, Bu. Saya kan di sini baru, apakah saya benar- benar berkenan?” seru Pak Remy yang merasa tidak percaya diri.
“Ikuti saja apa yang saya mau ya. Kalian bisa tanyakan apa pun tentang apa yang di butuh kan untuk Cafe ini. Karena nantinya saya nggak bisa selalu ada di Cafe untuk terjun langsung. Kita sama- sama belajar ya.” Aku berusaha untuk meyakinkan mereka agar tidak ada lagi yang merasa canggung. Pak Remy pun mengangguk. Aku dan keduanya langsung beranjak dari ruang kantor untuk turun ke bawah.
Untungnya Pak Remy sudah menempatkan orang itu di salah satu meja jadi kami masih bisa mewawancarainya sambil duduk. Ternyata yang melamar siang itu adalah seorang wanita cantik berparas lokal.
“Halo, selamat siang.” Seruku yang duduk bersamanya yang sedang menyeruput es teh manis. Aku duduk di sebelahnya sementara Arya dan Pak Remy duduk berhadapan dengan kami.
“Halo juga, Bu. Perkenalkan saya Galuh asal Lombok.” Serunya memperkenalkan diri sambil mengulurkan sebuah jabatan tangan. Aku pun membalasnya.
“Oh ya ini Pak Remy dan Pak Arya, mereka yang akan memberikan beberapa pertanyaan ke kamu nantinya.” Aku menunjuk Pak Remy dan Pak Arya secara bergantian. Dan di balas jabat tangan dan senyuman dari kedua laki- laki tersebut.
Setelah saling berkenalan, Pak Remy dan Arya saling mengajukan pertanyaan satu sama lain untuk Galuh wanita asal Lombok tersebut. Sementara aku memperhatikan namun sesekali melemparkan pertanyaan yang di selingi dengan sebuah candaan agar tidak terasa gugup.
Sekitar lima belas menit kurang lebih obrolan tentang mewawancarai Galuh pun selesai. Dengan jawaban yang memuaskan kami bertiga memutuskan untuk menerima gadis tersebut untuk bekerja di Cafe dengan masa percobaan selama tiga bulan lamanya. Besok pun Galuh sudah di perbolehkan masuk untuk bekerja.
“Sekali lagi terima kasih ya untuk Bapak dan Ibu yang sudah mengizinkan saya untuk bekerja.” Ucapnya yang terdengar sangat senang karena pasalnya saat aku menanyakan alasannya ingin bekerja karena ia ingin membantu biaya berobat Ayahnya.
“Iya sama- sama saya sih berharap kamu lolos di masa percobaan tiga bulan ini. Oh ya besok kamu mulai bekerja di jam dua belas siang sampai jam delapan malam. Dan besok pagi kamu bisa bertanya hal apa pun dengan Pak Remy tugas untuk di pagi hari dan menanyakan tugas di jam kerja selanjutnya dengan Pak Arya ya.” Aku berusaha menjelaskan dan di dengar oleh Galuh dengan antusias. Walau dia seorang wanita aku melihat semangat kerja keras di dalam dirinya. Jadi aku merasa sangat senang bertemu dengannya.
“Kalai begitu saya pamit ya. Sampai ketemu besok lagi.” Ucapnya sambil mengulurkan tangannya lagi untuk berjabat tangan.
Setelah selesai wawancara aku memutuskan untuk lanjut makan siang di meja tadi. Sementara Pak Remy dan Arya kembali bekerja. Sambil menunggu makanan yang ku pesan datang ke meja aku menerima panggilan dari Mama yang terdengar sangat rindu dengan diriku. Sama halnya seperti aku yang juga merindukan beliau.
“Kapan kamu bisa pulang?” tanya Mama.
“Nanti ya, Ma soalnya masih ada hal yang belum diurus semua di sini.” Jawabku. Dan terdengar Mama membuat nafas putus asa.
“Mama, Papa, dan Kak Dimas udah kangen banget sama kamu loh, Dis.” Lirih beliau yang terdengar sedikit menyayat hati.
“Nanti ya, Ma kalau memang sudah bisa di tinggal aku pasti akan pulang.” Aku berusaha meyakinkan beliau.
“Iya, kamu jangan lupa istirahat dan makan yang cukup ya, Dis.” Tambah Mama.
“Iya Mamaku Sayang.” Ucapku manja kepada beliau. Seperti inikah rasanya LDR( Long Distance Relationship) dengan keluargaku sendiri? Ternyata berat rasanya menahan rindu dengan keluargaku sendiri.
“Permisi, Bu ini makanannya ya.” Seru salah satu karyawanku sambil meletakan makanan dan minuman di atas meja.
“Terima kasih.”
“Ada lagi yang di perlukan, Bu?” tanyanya.
“Nggak cukup.” Jawabku dan karyawanku pun pergi.
“Kamu jam segini baru makan siang, Dis?” tanya Mama karena jam sudah menunjukkan pukul dua lewat lima belas menit. Yang memang jam makan siang sudah terlewat sekitar satu jam lima belas menit.
“Iya, Ma soalnya tadi aku masih kenyang karena sebelumnya aku sudah makan beberapa camilan.” Dustaku yang tang ingin Mama semakin Khawatir dengan pola makanku yang kadang suka tidak tepat.
“Oh begitu, ya pokoknya kamu jangan sampai telat makan lagi ya.” Seru Mama mengingatkan.
“Oke Mamaku sayang, sekarang aku tutup dulu ya teleponnya. Aku mau makan dulu, nanti di teruskan kapan- kapan ya, Ma.” Pamitku lalu memutuskan panggilan tersebut.
Namun baru saja aku ingin melahap makananku, salah satu karyawanku yang bernama putra datang membawa sebuah kantung.
“Ibu, Maaf saya baru ingat kalau tadi ada yang kirim ini buat Ibu.” Jelasnya sambil meletakkan makanan tersebut ke meja.
“Dari siapa?” tanyaku yang penasaran.
“Kalau nggak salah dari Pak Bryan, Bu.” Serunya yang membuatku kaget karena tadi pagi saat ia mengantarku bukannya ia terlihat sedang marah dan dingin.
“Kamu yakin dari dia, Put?” tanyaku yang untuk meyakinkan kembali.
“Bener, Bu.” Ucap Putra yakin dan aku mempersilahkannya pergi. Aku pun membuka kantung tersebut yang berisi makanan dari restoran cepat saji favoritku MCD. Di dalamnya pun mendapat sebuah kertas berwarna putih.
“Jangan lupa makan siang ya, maaf soal tadi pagi. Nanti pulang aku jemput lagi ya. Bryan.” Isi pesan tersebut yang membuatku lega kalau dia sudah membaik dan tak mempersoalkan masalah tadi pagi.