Azzam duduk diantara orang-orang yang menunggu, bayi mungil itu telah lahir, tetapi bukan dirinya yang harus berada disana. Ada yang lebih wajib untuk mengadzani dan memeluk bayi itu. Ia masih menunggu karena umminya sedang berbincang dan menyemangati Era. Itu sebabnya ia tetap berada disini. Sejatinya lelaki mana yang siap melihat orang yang dikasihi sedang bahagia bersama lelaki lain. Tidak ada, tidak satu lelakipun. Bayi itu memang bukan terlahir dari pernikahan yang sah seperti yang seharusnya, tetapi bukankah setiap bayi lahir selalu menghadirkan pesona tersendiri bagi setiap orang yang melihatnya ? Wajahnya yang polos, tangisnya yang lucu, bibirnya yang mungil semua mendatangkan cinta bagi orang dewasa. Bahkan orang tua yang murka pada anaknya pun akan mendadak penuh kasih saat tah

