bc

Cinta Sebelum Terlambat

book_age18+
3
IKUTI
1K
BACA
dark
love-triangle
family
HE
love after marriage
fated
second chance
friends to lovers
arrogant
kickass heroine
boss
heir/heiress
drama
tragedy
sweet
bxg
lighthearted
serious
kicking
bold
city
office/work place
childhood crush
secrets
love at the first sight
polygamy
like
intro-logo
Uraian

Seraphine Wynee Ashford lahir sebagai anak kedua, dan sejak itu hidupnya selalu berada di posisi yang tak pernah benar-benar dianggap. Ia tumbuh dengan luka yang tak terlihat, belajar tersenyum ketika diabaikan, dan memilih diam saat hidupnya terus dipinjam demi kebahagiaan orang lain. Ia pernah menjadi segalanya bagi seorang anak lelaki di masa kecilnya cahaya, rumah, dan harapan, anak lelaki itu adalah Adrian Cole Ravenscroft. Namun ketika dewasa, bahkan kenangan itu harus dirampas dari tangannya, dan sekali lagi, yang melakukannya adalah orang yang paling seharusnya menjaganya, kakaknya sendiri. “Adrian milikku, Sera… izinkan aku egois sekali saja. Biarkan aku hidup dengan identitas itu.” – Amaris Wynee Ashford. Dalam diamnya, Seraphine hanya menginginkan satu hal sederhana, diakui tanpa harus terus mengorbankan dirinya lagi. Lantas, akankah Seraphine terus membiarkan identitas dan cintanya dirampas, atau akhirnya memilih pergi dari kehidupan orang-orang yang tak pernah benar-benar memilihnya? "Haruskah aku benar-benar menghilang dari kehidupan mereka semua?" - Seraphine Wynee Ashford

chap-preview
Pratinjau gratis
Kembali
Tidak ada seorang pun yang berani memotong ucapannya ketika ia sudah berbicara, ia terbiasa berada di posisi di mana keputusannya tidak pernah dipertanyakan. Bukan karena suaranya keras, melainkan karena ketenangannya terasa seperti peringatan. Setiap keputusan keluar tanpa ragu dan tanpa emosi yang tampak, seolah hidup baginya hanyalah rangkaian pilihan logis yang harus dijalankan dengan sempurna. Pria itu adalah Adrian Cole Ravenscroft, berusia tiga puluh empat tahun, anak pertama sekaligus pewaris Ravenscroft Corporation. Selama bertahun-tahun, namanya dikenal sebagai sosok dingin dan tegas, nyaris tak pernah menunjukkan keraguan. Setiap keputusan yang keluar dari mulutnya terdengar final, seakan dunia di sekitarnya hanya perlu menyesuaikan diri. “Lakukan sesuai rencana.” Para direksi saling bertukar pandang singkat sebelum mengangguk serempak. Rapat pun berakhir. Kursi ditarik, pintu dibuka dan ditutup kembali. Namun Adrian tetap duduk di kursi utamanya, punggungnya tegak, tangan terlipat rapi di atas meja. Sekretarisnya melangkah mendekat dengan tablet di tangan. “Agenda berikutnya makan siang bersama dengan investor, Tuan.” “Batalkan.” Nada suara itu datar, tanpa perlu penjelasan. Sekretaris itu sempat ragu. “Baik, Tuan.” Ketika ruangan kembali sunyi, Adrian menghembuskan napas pelan, nyaris tak terdengar. Pandangannya tertuju pada pantulan dirinya di dinding kaca. Pria berusia tiga puluh empat tahun itu tampak sempurna di luar, tapi ia tahu betul, ada bagian dalam dirinya yang tak pernah benar-benar utuh. Sejenak ia merogoh saku jasnya. Sebuah gelang kecil yang telah usang itu Adrian temukan di dalam laci kamar lamanya dan ia menemukan ketika ia kembali membuka kamar lamanya, dan betapa terkejutnya ketika ia kembali menemukan benda itu. Seolah masa lalu yang telah ia kubur rapat tiba-tiba bangkit kembali. Kini gelang itu berada di tangannya. Tapi meskipun gelang itu tampak Sederhana dan sedikit usang, tapi itu menyimpan kenangan yang tak pernah benar-benar pergi. Itu adalah peninggalan dari seorang gadis di masa kecilnya, satu-satunya jejak dari janji yang pernah mereka bagi. Janji yang, selama bertahun-tahun, ia yakini masih menunggunya untuk ditepati. Dadanya terasa sesak, karena kesadaran yang perlahan menguat, ia tidak lagi ingin hanya mengingat. Ia ingin menemukan gadis kecil itu kembali, apa pun caranya, sebelum waktu benar-benar menghapus semua kemungkinan. Adrian memejamkan mata. Dan masa lalu itu kembali. Rumah tempat Adrian tumbuh selalu terasa terlalu besar dan terlalu rapi. Setiap sudutnya bersih, setiap barang berada di tempat yang seharusnya. Tidak ada ruang untuk kekacauan, apalagi kesalahan. “Ulangi lagi.” Suara ayahnya, Edmund Alastair Ashford, terdengar dari balik meja kerja besar di ruang belajar. “Postur tubuhmu salah.” Adrian kecil, yang saat itu berusia 12 tahun, segera meluruskan punggungnya. Tangannya mengepal di sisi tubuh, menahan gugup. “Seorang Ravenscroft harus terlihat berwibawa,” lanjut sang ayah tanpa menoleh. “Iya, Dad,” jawab Adrian pelan. Ibunya berdiri tak jauh dari sana, anggun dengan ekspresi tenang yang nyaris tak pernah berubah. “Kau harus terbiasa, Adrian,” kata ibunya, Helena Margaret dengan lembut tapi terdengsr dingin. “Dunia tidak ramah pada anak yang lemah.” Adrian mengangguk. Selalu mengangguk. Sejak hari itu, ia belajar bahwa perasaan bukanlah sesuatu yang perlu diungkapkan. Kesedihan tidak penting. Keinginan pribadi bisa menunggu. Yang utama hanyalah hasil. Di sekolah, Adrian dikenal sebagai anak pintar dan sopan. Nilainya selalu sempurna, sikapnya tidak pernah bermasalah. Namun, tidak ada yang benar-benar dekat dengannya. “Kau tidak pernah bermain?” tanya seorang teman sekelas suatu hari. Adrian mengangkat bahu. “Aku harus belajar setiap waktu.” Padahal yang sebenarnya ia maksud adalah, aku tidak tahu bagaimana caranya. Hingga suatu sore, setelah kelas tambahan yang membuat kepalanya pening, Adrian berjalan tanpa tujuan hingga tiba di taman kecil di belakang gedung sekolah. Tempat itu sepi, hanya ada bangku kayu dan pohon besar yang daunnya rimbun. Ia duduk di sana, menunduk, membiarkan pikirannya kosong. “Kakak sering duduk di sini, ya?” Adrian mendongak. Seorang gadis kecil berdiri di depannya. Rambutnya sedikit berantakan, seragamnya tidak serapi miliknya, tapi senyumnya terasa hangat. “Aku suka tempat ini,” jawab Adrian singkat, bahkan langsung membuang pandangannya dari gadis kecil itu. Gadis itu mengangguk. “Kalau begitu, apa Wynee boleh duduk juga.” Tanpa menunggu jawaban, gadis itu duduk di sampingnya. “Aku Wynee,” katanya ceria. “Nama Kakak siapa?” Adrian masih memperlihatkan wajah coolnya, “Adrian.” Gadis kecil itu tampak sumringah bahkan langsung menarik sudut bibirnya, “Kalau begitu, sekarang kita adalah teman.” Adrian menatapnya bingung. “Teman?” “Iya,” jawab Seraphine ringan. "Karena kakak sendirian disini.” “Aku tidak sendirian.” Gadis kecil itu menatapnya lama, lalu tersenyum kecil. “Tapi Kakak hanya sendirian disini dan terlihat sedih.” Adrian mengerutkan kening. “Aku tidak sedih.” Gadis kecil itu tidak membantah. Ia hanya berkata pelan, “Kalau tidak sedih, kenapa aku tidak melihat Kakak tersenyum?” Pertanyaan itu membuat Adrian terdiam. Tidak ada yang pernah menanyakannya hal seperti itu padanya. Sejak hari itu, Seraphine selalu datang. Ia membawa cerita-cerita kecil tentang sekolahnya, tentang rumahnya, apapun yang membuat Adrian merasa ia memiliki rumah untuk tempat bercerita. Hingga pada suatu sore, ketika hujan turun tiba-tiba. Ketika mereka berteduh di bawah pohon besar, mendengarkan suara air jatuh ke tanah. Adrian mengucapkan sebuah janji kepada Seraphine. “Kalau aku sudah besar nanti,” kata Seraphine pelan, “Wynee ingin hidup bahagia ...." Adrian menatap hujan. “Tentu saja, hidupmu harus bahagia Wynee." Seraphine tersenyum menatapnya, “Kakak juga, jangan lupa untuk tetap bahagia.” "Ketika aku sudah besar nanti dan cukup umur, Wyne harus menjadi pasanganku, aku akan menjadi Romeo di dunia nyata untukmu, Wynee." Wynee hanya tertawa kecil, ia tak terlalu mengerti, ia hanya memberikan sebuah gelang kepada Adrian, kemudian memarkan gelang lainnya yang sudah terpasang di tangannya. "Ini punya Wyne dan ini untuk Kakak ...." Adrian tentu saja langsung mengambil gelas itu dari tangan Wynee, gadis kecil manisnya. "Kalau Kakak sedang sedih, Kakak lihat gelang ini saja, anggap ini adalah Wynee untuk menemani Kakak," ucap Wyne dengan senyum riang yang ta pernah hilang dari bibirnya. Hingga Adrian tak tahu bila pertemuan hari itu dan pemberian gelang kecil ini menjadi hari pertemuan terakhir dengan Wynee, karena sejak saat itu, Adrian sudah tak pernah melihat keberadaan Wynee. Hingga waktu berlalu dan belum lama ini, Adrian menemukan kembali gelang itu, seolah mengingatkannya akan janjinya pada Wyne untuk menjadikannya pasangannya. "Aku harus mencarimu kemana lagi, Wynee, bahkan aku tidak tahu kau berasal dari keluarga mana," gumam Adrian yang seperti kehilangan arah untuk menemukan keberadaan Wynee, gadis manisnya. *** Sementara itu, di sisi lain kota Los Angeles, seorang wanita cantik, tumbuh dalam keluarga yang utuh, tapi sayangnya kehadirannya bahkan tak pernah di butuhkan. Ia tumbuh dalam bayang-bayang kakaknya yang di anggap keluarganya jauh membutuhkan mereka. Seraphine Wynee Ashford adalah anak kedua dari keluarga Ashford yang berpengaruh. Sejak kecil, hidupnya tak pernah benar-benar menjadi miliknya sendiri. Ia selalu belajar satu hal yang sama, mengalah. Semua itu demi kakaknya, Amaris, yang menderita kanker darah. Setiap hari di rumah itu diwarnai dengan kekhawatiran, perhatian berlebih, dan perlindungan yang sepenuhnya tertuju pada satu nama. Seraphine memahami bahwa kakaknya sakit. Ia memahami itu, bahkan lebih cepat dari usianya. Namun memahami tidak selalu berarti tidak terluka. Suatu sore, Seraphine kecil berdiri di depan lemari mainan, menatap sebuah boneka panda yang terbungkus rapi. Boneka itu terlihat baru, masih bersih, masih utuh. Ia tidak berniat memilikinya, ia hanya ingin menyentuhnya sebentar. Tangannya baru saja meraih boneka itu ketika suara ibunya terdengar dari belakang. “Seraphine, kembalikan mainan kakakmu. Kau tahu, kan, ia sedang sakit,” ujar ibunya tegas. Seraphine membeku. Tangannya bergetar kecil saat ia menoleh. “Aku hanya ingin melihatnya saja, Mommy…” suaranya pelan, hampir seperti bisikan. Ibunya menghela napas, lalu mendekat dan mengambil boneka itu dari tangannya. “Kau bisa mengerti, kan?” Seraphine menunduk. Tidak ada ruang untuk bertanya, apalagi membantah. “Iya, Mommy,” jawabnya lirih. Boneka itu kembali ke tempatnya. Seraphine melangkah menjauh, membawa rasa sesak yang belum ia mengerti namanya. Sejak hari itu, Seraphine selalu mengalah. Ia terbiasa dilupakan, dan terbiasa menahan luka sendirian. Di rumah itu, Seraphine belajar sejak dini bahwa keberadaannya selalu nomor dua, bahkan dalam hidupnya sendiri. Waktu berlalu, membawa Seraphine menjauh dari rumah itu, dari kenangan yang selalu membuat dadanya terasa sempit. Tahun-tahun di luar negeri memberinya jarak, bukan hanya dari keluarganya, tetapi juga dari perasaan yang terlalu lama ia pendam. Kini, jarak itu berakhir. Seraphine berdiri di tengah bandara internasional Los Angeles, menggenggam erat gagang kopernya. Suasana di sekitarnya riuh oleh suara pengumuman penerbangan dan langkah-langkah tergesa, tapi ia terasa terpisah dari semuanya. Pandangannya lurus ke depan, kosong, seolah sedang mempersiapkan diri untuk sesuatu yang tak ingin ia hadapi. Ia menghela napas panjang. Kepulangannya ini bukan pilihan, bukan juga keinginannya. Gelar yang ia kejar telah ia selesaikan, mimpi yang sempat ia bangun perlahan harus ia tinggalkan untuk sementara. Ada panggilan yang tidak bisa ia tolak, rumah yang tak pernah benar-benar menjadi tempat pulang, kini kembali menuntut kehadirannya. Seraphine menurunkan pandangannya, jemarinya mengencang di gagang koper. Aku kembali? batinnya bersuara, bahkan napasnya tertahan sesaat sebelum ia mengembuskannya perlahan. Aku sudah mencoba hidup tanpa berharap pada siapapun. Aku belajar kuat sendirian. Kenapa rasanya ini masih belum cukup juga? Tanpa menoleh lagi, Seraphine melangkah maju. Tidak tahu bahwa kepulangannya akan mempertemukannya kembali dengan seseorang yang selama ini hanya hidup sebagai kenangan dan bahwa janji kecil di masa lalu perlahan bersiap menagih dirinya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Kali kedua

read
219.3K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
18.6K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
191.3K
bc

TERNODA

read
200.2K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.5K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
78.4K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook