Seraphine tidak pernah membayangkan bahwa kepulangannya akan terasa seperti ini.
Ia bahkan tidak sempat menjejakkan kaki di rumah keluarga Ashford.
Dari bandara, mobil langsung melaju menuju rumah sakit, tempat yang sejak kecil terasa lebih akrab baginya daripada ruang makan di rumah sendiri.
Lorong rumah sakit itu masih sama. Bau antiseptik menusuk hidungnya, membawa kenangan yang tak pernah benar-benar hilang.
Suara langkah kakinya menggema pelan, seirama dengan detak jantungnya yang terasa berat.
Di depan ruang perawatan, dua sosok berdiri menunggunya.
Ayah dan ibunya.
Tidak ada senyum. Tidak ada pelukan. Bahkan tidak ada sambutan untuknya.
"Kau tahu jam berapa sekarang?" suara Edmund Alistair Ashford terdengar lebih dulu. Suaranya terdengar begitu rendah, tegas, dan penuh tekanan.
"Kami sudah menunggumu sejak pagi."
Seraphine menghentikan langkahnya. Tangannya masih menggenggam tali tas selempang, seolah itu satu-satunya penopang agar ia tetap berdiri.
"Aku baru mendarat beberapa jam lalu, Dad ...."
"Tapi kau tahu, kondisi Amaris memburuk. Kau seharusnya lebih cepat kemari."
Sementara itu, Helena Margareth berdiri di sisi suaminya, wajahnya tegang, matanya memerah karena kurang tidur.
Namun ketika ia menatap Seraphine, tidak ada rasa rindu di sana, hanya kecemasan yang sepenuhnya tertuju pada satu orang.
"Kondisi Amaris menurun," ujar Helena cepat.
"Dokter mengatakan kadar hemoglobinnya drop lagi."
Seraphine menatap pintu ruang perawatan itu. Di baliknya, kakaknya terbaring lemah. Pemandangan yang sudah terlalu sering ia lihat sejak kecil.
"Aku akan menemui dokter," katanya.
"Aku---"
Edmund mengangguk singkat, lalu langsung ke inti persoalan.
"Bagus. Kalau begitu kita bisa langsung mulai transfusi."
Seraphine tersentak kecil.
"Transfusi? Hari ini?"
"Tentu saja," jawab Helena cepat.
"Semakin cepat, semakin baik untuk Amaris."
Seraphine menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya sebelum berbicara.
"Aku tidak bisa donor hari ini."
Dua pasang mata langsung menatapnya tajam.
"Apa maksudmu?" tanya Edmund.
"Aku baru saja melakukan perjalanan panjang, Dad ...," jawab Seraphine perlahan dan tegas.
"Penerbangan lintas negara. Dalam kedokteran, donor darah setelah perjalanan jauh tidak dianjurkan."
Helena mengernyit.
"Kenapa tidak? Kau sehat, Seraphine."
Seraphine menatap ibunya, "Karena tubuh belum stabil," Seraphine menjelaskan, berusaha tetap tenang.
"Setelah penerbangan panjang, tubuh mengalami dehidrasi, tekanan darah bisa tidak seimbang, dan risiko jatuh pingsan atau syok saat donor jauh lebih tinggi. Terutama untuk donor dalam jumlah besar."
Edmund menghela napas keras.
"Itu hanya teori. Bukannya kau sudah sering donor sebelumnya."
"Justru karena aku sering donor," suara Seraphine sedikit bergetar.
"Tubuhku butuh waktu pulih. Kalau dipaksakan-"
"Amaris yang sakit," potong Edmund dengan nada meninggi. "Dan kau baik-baik saja."
Kalimat itu jatuh begitu saja, seperti biasa.
Seraphine terdiam sesaat. Dadanya terasa sesak, tapi ia tetap melanjutkan, suaranya lebih pelan.
"Aku bukannya ingin menolak. Aku hanya meminta waktu satu atau dua hari. Itu prosedur medis yang aman, Dad ...," ucap Seraphine berusaha membuat orangtuanya ini mengerti, karena bagaimana pun Seraphina belajar mengenai hal ini.
Ia adalah seorang dokter dan orangtuanya harus mendengarkan perkataannya.
Hingga seorang dokter akhirnya keluar dari ruang perawatan, menengahi ketegangan itu, saat suara perdebatan mereka terdengar.
Ia sempat berhenti sejenak, menatap ketiganya dengan ekspresi tenang dan waspada, seolah sudah cukup mendengar untuk memahami situasinya.
"Maaf," katanya lebih dulu, suaranya rendah dan terkendali.
"Saya tidak bermaksud menguping, tapi percakapannya terdengar sampai ke dalam."
Edmund dan Helena menoleh bersamaan. Seraphine refleks menegakkan tubuhnya.
Dokter itu melirik map medis di tangannya, lalu kembali menatap Seraphine.
"Kalau saya tidak salah, Anda baru saja tiba dari perjalanan panjang?"
Seraphine mengangguk pelan.
"Iya, Dok. Saya baru mendarat hari ini."
Dokter itu menghela napas kecil, seolah memastikan sesuatu dalam pikirannya, sebelum akhirnya berbicara lebih tegas.
"Baik. Saya perlu meluruskan satu hal," ujarnya.
"Kami tidak bisa melakukan transfusi hari ini."
Helena langsung bereaksi, wajahnya menegang.
"Dokter, kondisi putri saya-"
"Kami paham betul kondisi Amaris," potong dokter itu dengan sopan namun tegas.
"Namun pasien donor, saya dengar baru saja melakukan perjalanan panjang lintas negara. Kondisi fisiknya belum ideal. Jika dipaksakan, risikonya cukup serius, mulai dari penurunan tekanan darah drastis, pingsan, hingga komplikasi yang membahayakan."
Ia berhenti sejenak, memberi ruang agar kata-katanya benar-benar dipahami.
"Terlebih lagi," lanjutnya, "donor yang terlalu sering tanpa jeda pemulihan yang cukup dapat menyebabkan kelelahan kronis, gangguan sirkulasi, dan menurunkan kondisi imun pendonor itu sendiri."
Helena menatap dokter itu dengan jelas tidak puas.
"Tapi Amaris-"
"Kami memahami urgensinya," potong dokter itu tetap dengan nada tenang.
"Namun keselamatan pendonor juga menjadi tanggung jawab kami. Jika pendonor jatuh sakit, kita akan kehilangan satu-satunya pendonor yang kompatibel."
Kata satu-satunya menggantung di udara, menghantam keheningan yang tiba-tiba tercipta.
Edmund menatap Seraphine lama, sorot matanya dingin dan penuh perhitungan. Setelah beberapa detik yang terasa terlalu panjang, ia akhirnya berkata, "Baiklah, besok transfusi itu bisa dilakukan."
Seraphine mengangguk pelan.
Dokter itu menutup map medisnya.
"Kami akan melakukan evaluasi ulang besok pagi," katanya.
"Untuk sementara, pasien donor harus beristirahat, cukup cairan, dan tidak berada di bawah tekanan."
Ia menoleh pada Seraphine, nada suaranya sedikit melunak.
"Silakan duduk dulu. Kondisimu juga penting."
Setelah itu, dokter tersebut mengangguk singkat kepada Edmund dan Helena, lalu berbalik kembali ke ruang perawatan.
Pintu ruang perawatan itu tertutup perlahan, menyisakan lorong panjang yang kembali sunyi, tapi kali ini, sunyi yang terasa jauh lebih berat, seolah menekan d**a Seraphine dari segala arah.
Ia mengira percakapan itu telah berakhir, ternyata ia salah.
Langkah ayahnya belum bergerak menjauh ketika suara itu kembali terdengar, dingin dan penuh kepastian.
"Ada satu hal lagi," ujar Edmund.
Seraphine mendongak. Ada firasat tak nyaman yang tiba-tiba mengikat napasnya.
"Kau tidak akan kembali ke Inggris dalam waktu dekat."
Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa jeda, tanpa penjelasan.
Seraphine menatap ayahnya, matanya membesar sesaat sebelum akhirnya ia menggeleng pelan.
"Aku harus kembali, Dad," katanya, berusaha menjaga suaranya tetap tenang meski dadanya bergetar.
"Aku harus melanjutkan pendidikan spesialisku. Jadwalku sudah ditetapkan."
"Tidak, Sera," jawab Edmund tegas, bahkan sebelum Seraphine selesai bicara. Nadanya tidak memberi ruang untuk negosiasi.
"Kau tetap di Los Angeles sampai Amaris sembuh."
Seraphine menelan ludah.
"Itu tidak bisa begitu saja," ucapnya, kini suaranya sedikit lebih cepat, sedikit lebih rapuh.
"Pendidikanku bukan sesuatu yang bisa kutinggalkan kapan saja. Ini tentang masa depanku."
"Itu justru alasanmu harus tinggal," potong Edmund, sorot matanya mengeras.
"Kalau kau benar-benar ingin menjadi Dokter, maka kau harus berada di sini. Kau punya tanggung jawab."
"Tanggung jawab?" ulang Seraphine lirih, nyaris tak terdengar.
"Kalau tidak," lanjut Edmund, suaranya menekan seperti palu, "jangan harap Daddy akan diam membiarkanmu pergi begitu saja."
Ancaman itu tidak diucapkan dengan marah. Justru karena itu, rasanya jauh lebih menusuk.
Helena akhirnya menatap Seraphine. Wajahnya terlihat lelah, namun tetap dingin dalam caranya sendiri.
"Kami melakukan ini demi kebaikanmu juga," katanya, seolah itu cukup untuk mengakhiri semuanya.
Seraphine tersenyum tipis. Senyum yang terbentuk karena kebiasaan, bukan karena perasaan. Senyum yang tidak pernah benar-benar sampai ke matanya.
"Aku mengerti," jawabnya pelan.
Tidak ada lagi yang perlu dikatakan. Atau setidaknya, tidak ada lagi yang ingin didengar oleh siapa pun.
Tanpa menoleh lagi, kedua orang tuanya berbalik dan kembali memasuki ruang perawatan Amaris. Pintu tertutup di belakang mereka, menyisakan Seraphine sendirian di lorong rumah sakit yang terasa semakin dingin.
Tidak ada yang bertanya apakah ia lelah setelah perjalanan panjang.
Tidak ada yang menanyakan kondisinya.
Tidak ada yang memintanya duduk, atau sekadar mengatakan bahwa ia telah melakukan yang terbaik.
Seraphine berdiri beberapa detik, lalu bersandar ke dinding. Perlahan, tubuhnya meluncur turun hingga ia duduk di bangku dingin di sisi lorong.
Tangannya gemetar kecil, meski ia berusaha menahannya.
Tidak berubah, pikirnya.
Tetap sama seperti dulu.
Aku selalu datang ketika dibutuhkan. Selalu bertahan ketika diminta. Tapi pada akhirnya... aku tetap sendirian.
Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan kelelahan itu merayap tanpa ia lawan.
Berapa lama lagi aku harus mengalah?
Berapa banyak lagi darah yang harus kuberikan supaya aku dianggap ada?
Apa kesalahanku?
Napasnya keluar perlahan, berat, seolah membawa seluruh beban yang tak pernah sempat ia letakkan.
Aku hanya ingin menjadi dokter, bisiknya dalam hati.
Aku hanya ingin berusaha menyembuhkan Amaris, dengan pendidikanku ini dan sekali saja, untuk merasakan bagaimana rasanya di pedulikan oleh kalian. ucap batin Seraphine sedih
Namun lorong itu tetap sunyi.
Dan seperti biasa, tidak ada yang menjawab.