Gadis Kecil Manis

1088 Kata
Langkah kaki pria itu terdengar tergesa di lorong rumah sakit yang panjang dan dingin. Napasnya sedikit memburu, jasnya belum sempat dirapikan dengan sempurna. Ia datang tanpa banyak pertimbangan begitu kabar itu sampai padanya, ia langsung meninggalkan segalanya. Pria itu adalah Adrian. Ia datang dengan satu keyakinan yang memenuhi pikirannya, bahwa penyelamat wanita yang ia cintai telah tiba. Bahwa dengan darah langka itu, keadaan kritis sang kekasih akan segera berlalu. Lalu setelah ini, semuanya akan kembali seperti yang ia harapkan. Adrian berhenti di depan ruang donor darah dan transfusi. Lampu di atas pintu masih menyala. Ia memilih berdiri di luar, menunggu, dengan tangan mengepal pelan di sisi tubuhnya. Wajahnya tegang, sorot matanya penuh kecemasan yang tak ia sembunyikan. “Bertahanlah," gumamnya pelan. Waktu berjalan lambat. Hingga akhirnya pintu itu terbuka. Seorang perawat keluar lebih dulu, lalu disusul seorang wanita muda dengan wajah pucat. Langkahnya terlihat sedikit goyah, pundaknya turun, seolah seluruh tenaganya baru saja ditarik habis. Lengan kirinya terbalut plester putih kecil, bekas jarum yang baru saja dilepas. Wanita itu mengenakan midi dress berwarna lembut, sederhana tapi elegan. Rambutnya tergerai rapi, meski sorot matanya tampak kosong, seakan masih berusaha menahan pusing yang menyerang perlahan. Dialah Seraphine. Seraphine baru saja menyelesaikan donor darahnya. Begitu melangkah keluar, ia terhenti. Matanya menangkap sosok seorang pria yang berdiri tepat di depan ruangan itu, menatapnya seolah baru saja melihat sesuatu yang sangat berharga. Adrian terdiam sesaat. Namun ia segera melangkah mendekat. “Terima kasih,” ucapnya cepat, nadanya penuh kelegaan. “Terima kasih banyak karena sudah mau mendonorkan darahmu.” Seraphine menatapnya sekilas. Pandangannya sedikit kabur. Kepalanya terasa ringan, seolah dunia di sekitarnya berputar pelan. “Aku—” Adrian menarik napas, lalu melanjutkan, “aku benar-benar berutang padamu. Darahmu… darah itu sangat berharga." Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada yang lebih tegas, seolah itu solusi paling masuk akal baginya. “Aku akan membayar berapa pun. Sebutkan saja jumlahnya. Untuk setiap kantong darah yang kau berikan.” Seraphine tidak langsung menjawab. Karena ia harus tetap berkonsentrasi tinggi agar tetap bisa berdiri dengan tegap d tengah keadaannya yang mulai tidak stabil. Ia menelan ludah, jemarinya mencengkeram tali tas kecil di bahunya. Suara pria itu terdengar seperti datang dari kejauhan. “Maaf,” jawab Seraphine akhirnya, suaranya pelan, hampir berbisik. Ia mengusap pelipisnya sebentar. “Aku… tidak enak badan.” Adrian terdiam, sedikit terkejut. “Oh—aku—” Namun Seraphine sudah melangkah. Tanpa menunggu reaksi lebih lanjut, ia berjalan perlahan menjauh dari pria itu, menuju kamar rawat yang telah disiapkan orang tuanya untuknya. Setiap langkah terasa berat, tapi ia memaksakan diri untuk tetap tegak. Ia tidak menoleh lagi. Bagi Seraphine, pria itu hanyalah sosok asing lain yang datang dengan kepentingannya sendiri. Adrian berdiri di tempatnya beberapa detik, menatap punggung wanita itu hingga menghilang di ujung lorong. Ada sesuatu yang aneh yang tertinggal di dadanya, perasaan asing yang tidak ia pahami, tapi ia segera mengabaikannya. Yang terpenting sekarang bukan itu. Ia berbalik dan melangkah cepat menuju ruang perawatan. Di sanalah perempuan yang ia cintai terbaring. Gadis kecil manis yang selama bertahun-tahun hidup dalam kenangannya. Gadis yang ia yakini telah ia temukan kembali setelah pencarian panjang yang melelahkan. Adrian mendekat ke sisi ranjang, menatap wajah pucat itu dengan mata yang dipenuhi harap. “Sebentar lagi kau akan baik-baik saja,” bisiknya pelan. “Aku sudah di sini.” Ia tidak tahu bahwa wanita yang ia tinggalkan tanpa satu pun lirikan berarti adalah gadis kecil yang selama ini ia cari. Dan takdir, sekali lagi, memilih untuk diam. **** Di dalam ruangan putih ICU, waktu seolah berhenti. Mesin-mesin medis berdengung pelan, menjadi satu-satunya suara yang berani memecah keheningan. Cahaya lampu memantul dingin di dinding dan lantai, mempertegas betapa rapuhnya tubuh yang terbaring di atas ranjang rumah sakit itu. Seorang pria berdiri di sisi ranjang. Adrian. Tatapannya tidak lepas dari wajah pucat perempuan yang selama ini mengisi hidupnya. Selang infus menjalar di lengan Amaris, sementara kantong darah menggantung di sisi ranjang, cairan merah itu mengalir perlahan, menjadi harapan yang dititipkan pada setiap detiknya. Wanita itu adalah gadis kecil yang selama bertahun-tahun ia cari. Setahun lalu, setelah pencarian panjang yang melelahkan, Adrian akhirnya menemukan gadis kecil manis dari masa lalunya. Gadis yang selalu ia simpan dalam kenangan. Ia tidak pernah membayangkan bahwa pertemuan itu akan membawa kebenaran yang begitu pahit. Amaris, perempuan yang kini menjadi kekasihnya selama hampir 8 bulan, hidup dalam penderitaan yang tak pernah ia duga. Ia ternyata mengidap kanker darah atau Leukimia. Fakta itu menghantam Adrian tanpa ampun ketika ia pertama kali mengetahuinya. Seluruh dunia yang baru saja ia bangun terasa runtuh dalam sekejap. Ia tidak pernah membayangkan bahwa gadis kecil yang dulu selalu tersenyum padanya kini harus berjuang antara hidup dan mati. Adrian mendekat sedikit, menurunkan tubuhnya hingga sejajar dengan wajah Amaris. Tangannya terulur, menggenggam jemari kekasihnya yang dingin dan rapuh. “Bangunlah,” bisiknya pelan, suaranya nyaris tak terdengar di antara dengung mesin. “Aku di sini. Aku tidak akan pergi lagi.” Dadanya terasa perih, seolah ada sesuatu yang diremas perlahan di dalam sana. Melihat Amaris terbaring seperti ini membuat hatinya hancur dengan cara yang tak pernah ia kenal sebelumnya. Ia akan melakukan apa pun. Selama ada satu cara untuk menyelamatkan Amaris, Adrian tidak akan ragu. Kekuasaan, uang, pengaruh, semuanya tidak berarti jika dibandingkan dengan hidup wanita itu. Di luar ruang ICU, dua sosok berdiri berdampingan. Edmund Alistair Ashford dan Helena Margareth tidak melangkah masuk. Mereka hanya memandang dari balik kaca bening, menatap putri sulung mereka yang terbaring lemah, dan pria yang setia menunggunya di sisi ranjang. Tatapan Helena bergetar, matanya berkaca-kaca. Tangannya mengepal pelan di depan d**a, seolah berdoa tanpa suara. Sementara Edmund berdiri tegak, wajahnya tenang, tapi sorot matanya menyimpan kegelisahan yang dalam. “Kita sudah melakukan yang terbaik,” gumam Helena lirih, lebih kepada dirinya sendiri. Edmund tidak menjawab. Pandangannya tertuju pada sosok Adrian di dalam ruangan. Pria itu, pewaris Ravenscroft Corporation kekasih Amaris, adalah harapan yang mereka gantungkan kini. Mereka percaya, dengan kehadiran Adrian, dengan darah langka yang telah didapatkan, dengan segala usaha yang dikerahkan, Amaris akan sembuh. Setidaknya, mereka ingin percaya demikian. Mungkin dengan cara ini, rasa bersalah yang selama ini mereka simpan terhadap putri sulung mereka akan sedikit mereda. Mungkin dengan cara ini, mereka bisa menenangkan diri sendiri, bahwa mereka telah melakukan segalanya demi Amaris. Di balik kaca itu, harapan dan kepentingan bercampur menjadi satu. Dan tak seorang pun dari mereka menyadari, bahwa di lorong yang sama, seorang putri lain telah memberikan segalanya dalam diam, lalu dibiarkan berjalan sendirian dengan luka yang tak terlihat. Takdir kembali memilih sisi. Dan kebenaran, sekali lagi, menunggu waktu untuk menuntut balas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN