Asing

1134 Kata
Jam dinding menunjukkan waktu yang terus berjalan, sementara pintu kamar tetap tertutup sejak semalam. Hari telah berganti. Namun tidak ada yang datang. Seraphine menatap langit-langit beberapa lama, lalu menggeser pandangannya ke kursi kosong di samping ranjang. Kursi itu masih rapi, tidak tersentuh. Tidak ada tas, tidak ada mantel yang disampirkan. Tidak ada tanda bahwa seseorang sempat duduk di sana. Sera tidak marah. Ia juga tidak ingin menyalahkan siapa pun. Sera tahu orang tuanya memilih berada di sisi Amaris. Ia sudah terlalu sering melihat itu terjadi. Ia mengerti, dan ia sudah biasa akan hal itu. Namun tetap saja, ada rasa hampa yang sulit dijelaskan ketika ia menyadari bahwa tidak satu pun dari mereka meluangkan waktu untuk sekadar melihat keadaannya. Sedikit saja, apakah mereka tidak ingin melihatku saat ini baik-baik saja atau tidak? pikirnya. Rasa sepi itu datang pelan, tidak menghantam, tapi menetap. Membuat dadanya terasa berat tanpa sebab yang jelas. Tanpa sadar, pikirannya melayang pada sosok yang sejak kecil selalu ada di sisinya. Neneknya, ibu dari Ayahnya. Dulu, ketika semua sibuk dengan suara langkah tergesa dan percakapan tentang rumah sakit, neneklah yang menemaninya. Neneknya yang menungguinya pulang, yang menyiapkan makan malam, yang duduk di tepi ranjangnya setiap kali ia tidak bisa tidur. “Wynee anak baik,” kata neneknya dulu. “Its oke, Grandma ada disini bersama Wynee, jadi Wynee tak perlu merasa sendiri." Memang hidup Seraphine tak terlalu kosong ketika neneknya masih ada, tapi setelah neneknya itu pergi untuk selamanya, Seraphine kehilangan satu-satunya tempat yang membuatnya merasa dipilih. Sejak saat itu, ia belajar bertahan sendiri. Ia memilih pergi dari Los Angeles. Bukan karena membenci keluarganya, melainkan karena ia ingin bernapas. Ia ingin memiliki hidupnya sendiri. Pendidikan kedokteran menjadi satu-satunya pegangan yang ia yakini. Satu langkah lagi. Ia seharusnya hanya tinggal melanjutkan ke spesialis hematologi onkologi, bidang yang menangani penyakit darah dan kanker. Ia memilih itu bukan tanpa alasan. Ia ingin mengerti penyakit kakaknya. Ia ingin bisa menolong dengan caranya sendiri, bukan hanya dengan sebagai pendonor saja. Namun langkah itu kembali tertunda. Permintaan orang tuanya membuatnya harus tinggal. Seraphine menghela napas pelan. Kepalanya masih terasa ringan, tapi tidak separah kemarin. Ia menurunkan kakinya dari ranjang dan berdiri perlahan. Sejak mendarat ia belum melihat keadaan kakaknya, tidak masalah hanya sebentar saja. Ia melangkah keluar kamar, menyusuri lorong dengan hati-hati. Setiap langkah terasa sunyi, seolah rumah sakit itu ikut menahan napas bersamanya. Ketika ia sampai di depan ruang ICU, langkahnya terhenti. Dari balik pintu kaca, ia melihat kedua orang tuanya berdiri di sisi ranjang Amaris. Ibunya menyuapi kakaknya dengan sabar, sementara ayahnya memperhatikan dengan wajah yang penuh perhatian. Seraphine berdiri diam. Dadanya terasa perih, seperti luka lama yang disentuh kembali. Begitu caranya mereka memandang, pikirnya pelan. Seperti itu rupanya wajah orang tua yang sedang khawatir. Ia tidak iri. Tidak sepenuhnya. Hanya ada satu pertanyaan yang tiba-tiba muncul, tanpa ia minta. Kalau aku yang terbaring di sana, apakah mereka akan menatapku dengan cara yang sama? Pantulan wajahnya terlihat samar di kaca pintu. Pucat, kurus, dan lelah. Ia terlihat seperti orang asing di keluarganya sendiri. Seraphine mengangkat tangannya, hampir menyentuh gagang pintu. Namun jari-jarinya berhenti di udara. Kalau aku masuk sekarang, apa gunanya? mungkin aku hanya berdiri di sudut menyaksikan mereka. Ia menurunkan tangannya. Tanpa suara, Seraphine berbalik dan pergi. Di dalam ruang ICU, Amaris masih terlihat lemah, tapi kesadarannya cukup utuh untuk menyadari perubahan di sekelilingnya. Ia menelan suapan dari ibunya perlahan, lalu memejamkan mata sebentar. Darahnya sudah ada, Itu berarti dia sudah datang. Pikirnya Perasaan tidak nyaman muncul di dadanya, sesuatu yang tidak ia sukai. Selama ini semuanya terasa aman. Perhatian, kepedulian, dan kehadiran itu hanya miliknya. Kuharap dia tidak lama-lama di sini. Karena Amaris takut jika kehadiran itu mengubah sesuatu. Takut jika apa yang selama ini ia miliki, tanpa ia sadari perlahan berpindah. Amaris membuka mata lagi, menatap langit-langit putih. Aku berharap kau segera pergi dari sini dengan cepat, batinnya pelan. Seperti biasanya. Di luar, lorong kembali sunyi. Dan Seraphine berjalan menjauh, membawa luka yang tidak perlu ia jelaskan kepada siapa pun. **** Sementara itu, Seraphine meninggalkan rumah sakit tanpa benar-benar tahu ke mana ia ingin pergi. Seraphine memutuskan memilih pergi dari rumah sakit, karena ia berpikir percuma bila ia tetap berada di sini. Langkahnya kini membawanya ke sebuah taman kecil yang sudah lama tak ia kunjungi. Taman itu tidak berubah banyak, bangku kayunya masih di tempat yang sama, pohon-pohon tua masih menaungi jalur setapak yang dulu sering ia lewati. Di sanalah, bertahun-tahun lalu, ia pernah bertemu seorang pria yang usianya berada di atasnya. Mereka berbagi keluh kesah, berbagi tawa kecil, tanpa pernah saling bertanya lebih jauh. Seraphine duduk sebentar di bangku yang sama, menatap dedaunan yang bergoyang pelan. Tidak ada kenangan manis yang datang. Hanya rasa asing, seperti melihat potongan hidup yang bukan lagi miliknya. “Aku harus pulang,” gumamnya pelan. Keputusan itu tidak membawa kelegaan. Namun ia tetap berdiri dan melangkah pergi. *** Rumah utama keluarga Ashford menyambutnya dengan keheningan. Pintu besar terbuka, dan aroma khas rumah itu, perpaduan kayu tua dan bunga kering, menyergap indra Seraphine. Aroma yang sudah lama tak ia cium, namun juga aroma yang tak pernah benar-benar ia rindukan. Rumah itu terasa seperti museum kenangan yang tak pernah menyertakan namanya. Setiap sudut seolah mengembalikan potongan masa lalu yang sama, hanya ada Amaris, ayah dan ibunya. Tawa yang bukan miliknya. Perhatian yang tidak pernah diarahkan padanya. Seraphine menelan ludah, lalu melangkah menuju lantai atas. Langkahnya berhenti di depan pintu kamarnya. Kamar yang sudah bertahun-tahun tidak ia masuki. Tangannya ragu saat memutar gagang pintu. Dan saat pintu itu terbuka, Seraphine membeku. Dinding yang dulu polos kini dipenuhi foto-foto Amaris. Lemari pakaian terbuka, berisi gaun-gaun yang bukan miliknya. Meja rias dipenuhi parfum dan perhiasan yang tak pernah ia kenakan. Bahkan sprei di ranjang telah diganti. Tidak ada satu pun yang tersisa tentang dirinya di kamarnya sendiri. Seraphine melangkah masuk perlahan, seolah takut suara langkahnya akan memecah sesuatu yang rapuh. Matanya menyusuri ruangan itu, mencari, entah apa. Tanda bahwa ia pernah tinggal di sana. Bahwa ia pernah memiliki kamar ini. Tapi, Seraphine tak menemukan apapun. “Kenapa …?” bisiknya nyaris tak terdengar. Pertanyaan itu tidak mencari jawaban. Ia sudah tahu. Kamar ini telah menjadi milik kakaknya. Seraphine berdiri lama di tengah ruangan, lalu perlahan duduk di tepi ranjang. Ia terlalu lelah untuk marah dan menangis. Bahkan mencari kamar lain terasa mustahil, seolah rumah ini memang tidak lagi menyediakan tempat untuknya. “Besok saja,” gumamnya lirih. Ia berbaring di sisi ranjang, memunggungi dinding yang penuh foto Amaris. Matanya terpejam, napasnya perlahan mengatur diri. Malam itu, Seraphine memilih terlelap di kamar yang seharusnya bukan miliknya, seperti yang selalu ia lakukan dalam hidupnya, bertahan di ruang yang tidak pernah benar-benar disediakan untuknya. Tanpa ia sadari, hal itu akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih kejam. Sebuah pergeseran yang perlahan akan merenggut bukan hanya tempatnya di rumah itu, melainkan juga identitas dirinya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN