Ingatan Yang Kembali

1333 Kata
Beberapa hari setelah Amaris dirawat, rumah kembali sunyi. Seraphine duduk di ruang tengah, memeluk bantal kecil yang sudah mulai pudar warnanya. Tatapannya kosong, menembus jendela besar di depan rumah. Ia tidak menghitung hari, tapi ia tahu, waktu terus berjalan tanpa menunggunya. “Sudah hampir seminggu,” gumamnya pelan pada dirinya sendiri. “Dan tetap saja… tidak ada yang berubah.” Ia tidak marah. Ia hanya lelah menunggu sesuatu yang tidak pernah datang. Hingga ketukan di pintu utama terdengar. Satu ketukan. Lalu dua ketukan. Seraphine tertegun sejenak, lalu berdiri cepat. “Siapa …?” bisiknya lirih, meski jantungnya sudah lebih dulu menjawab. Ia membuka pintu. Amaris berdiri di sana. Wajah kakaknya terlihat lebih pucat, tubuhnya tampak rapuh, tapi sorot matanya masih sama. Seketika, senyum kecil terbit di wajah Seraphine,senyum yang jujur, tanpa perhitungan. “Kau sudah pulang?" ucapnya spontan Ada rasa hangat yang muncul di dadanya. Seraphine melangkah maju setengah langkah. “Aku bantu, ya?” Tangannya hampir terulur, tapi terhenti. Pintu mobil di belakang Amaris terbuka, dan seorang pria turun dengan gerakan tenang. Pria itu berpostur tubuh tinggi, rapi, dan asing. Ia langsung berjalan ke arah Amaris, tangannya sigap menopang pinggang kakaknya dengan satu lengan. “Ayo pelan-pelan,” ujar pria itu lembut. “Pegang aku.” Seraphine membeku. Siapa dia? Aroma yang dibawanya menyentuh indra Seraphine, dan seketika ingatan itu kembali. Wangi ini… Matanya menyipit, mencoba mengingat. Pria di rumah sakit. Pria yang berdiri di depan ruang donor. Pria yang ingin memberinya uang setelah ia mendonorkan darah. Bibir Seraphine mengatup. Pria itu menoleh ke arahnya, menatap sekilas, lalu berkata sopan dan datar, “Maaf. Bisa beri kami sedikit ruang?” Nada suaranya halus. Tapi terasa seperti jarak. “Oh,” Seraphine tersentak kecil. “Iya.” Ia menyingkir, membuka pintu lebih lebar. “Silahkan.” Amaris melangkah masuk tanpa menoleh padanya atau bahkan sapaan untuknya. Seraphine berdiri mematung. Kesadarannya tersentak ketika suara ayahnya terdengar dari belakang. “Seraphine,” kata Edmund singkat. “Jangan berdiri di depa pintu.” “Oh iya, Dad,” jawabnya cepat. Ia menutup pintu, lalu berbalik. “Kenapa aku tidak diberi tahu bila Kak Amaris pulang hari ini?” tanyanya pelan, berusaha menjaga nada suaranya. “Aku bisa membersihkan kamarnya.” Kata kamar membuat suasana berubah. “Kamar?” Helena mengulang cepat. “Iya,” jawab Seraphine. “Karena kamar itu penuh barang. Aku—” “Kau masuk ke kamar itu?” potong Edmund, suaranya mendadak keras. Seraphine terkejut. “Iya… itu kamarku.” “Kau menyentuh barang-barangnya?” Helena ikut menekan. Seraphine mengernyit. “Barang-barangku, Mommy.” “Barang apa?” Edmund bertanya tajam. Seraphine menarik napas. “Buku gambar lamaku. Kotak musik kecil berbentuk burung yang dulu sering kupakai sebelum tidur. Ada buku catatan biru… isinya tulisan tanganku waktu kecil.” Ia menelan ludah sebelum melanjutkan. “Dan foto-foto lama. Foto aku kecil di taman. Foto aku dengan… seseorang yang dulu sering menemaniku.” Keheningan jatuh. Edmund memalingkan wajah. “Sudah cukup.” Helena cepat menyela, seolah ingin mengakhiri pembicaraan. “Kita atur ulang saja. Kau pindah ke kamar Amaris.” Seraphine terdiam. “Apa?” “Dan Amaris akan memakai kamarmu mulai sekarang,” lanjut Helena. “Tapi… kenapa barang-barangku dipindahkan tanpa bilang apa pun padaku?” suara Seraphine nyaris bergetar. Tidak ada jawaban. Helena menggenggam tangan Seraphine.“Sudahlah Sera, jangan membahas ini sekarang.” Edmund dan Helena berjalan menjauh tanpa menoleh lagi. Seraphine berdiri sendirian di ruang tengah. Ia menatap tangga yang mengarah ke lantai atas. “Jadi bahkan hal-hal kecil tentang aku pun… bisa dipindahkan begitu saja.” Seraphine tersenyum kecil, senyum yang lebih mirip kelelahan daripada kebahagiaan. “Tidak apa-apa,” bisiknya pada dirinya sendiri. “Aku sudah terbiasa.” Namun di dalam hatinya, ia tahu, ini bukan sekadar soal kamar.Sesuatu tentang dirinya sedang perlahan dihapus. Dan ia belum tahu seberapa besar kehilangan itu akan menyakitinya. Seraphine kemudian memilih untuk mengikuti langkah mereka. Ia berjalan beberapa langkah di belakang, tepatnya menuju kamar miliknya. Pada awalnya, ia tidak ingin masuk. Kakinya sempat tertahan di ambang pintu. Namun, akhirnya ia tetap melangkah, bukan karena ingin berada di sana, melainkan karena satu hal sederhana. Ia ingin memastikan keadaan kakaknya. “Pelan-pelan,” suara pria itu terdengar rendah dan penuh perhatian. “Jangan dipaksakan.” Seraphine menoleh. Pria itu berdiri terlalu dekat dengan Amaris, satu tangannya masih menopang pinggang kakaknya, yang lain menahan bahu Amaris agar tetap seimbang. Gerakannya hati-hati, seolah takut sedikit saja keliru akan membuat Amaris runtuh. “Aku baik-baik saja,” jawab Amaris pelan, tapi nada suaranya jelas lelah. “Kau selalu bilang begitu,” balas pria itu. “Duduk dulu. Jangan keras kepala.” Seraphine berhenti di dekat pintu, berdiri diam. Dadanya terasa aneh melihat pemandangan itu, seolah ia sedang menyaksikan dunia yang tidak pernah melibatkannya. Amaris akhirnya duduk di tepi ranjang. Pria itu merapikan bantal, lalu menyelimutinya dengan hati-hati. “Minum dulu,” katanya sambil menyerahkan segelas air. “Sedikit saja.” Amaris menerima gelas itu. “Baiklah,” katanya lirih, hampir tersenyum. SementaraSeraphine menelan ludah. Lalu suara itu terdengar. “Wynee,” panggil pria itu lembut. “Pelan-pelan saja, ya.” Satu kata itu membuat Seraphine terpaku. Wynee? Jantungnya berdetak lebih cepat. Nama itu… nama yang tidak asing baginya. Panggilan Sera di masa kecil. Nama pemberian nenek dari pihak ayahnya, nama yang diambil dari nama nenek mereka sendiri. Nama yang tertulis di tengah nama mereka berdua, tapi hanya Sera saja yang memiliki panggilan itu sejak kecil. Sejak kapan… Sejak kapan Amaris dipanggil seperti itu? Seraphine menatap Amaris, mencoba mencari jawaban dari wajah kakaknya. Amaris sedikit menegang. Jemarinya mencengkeram selimut lebih erat. “Jangan memanggilku begitu di depan orang lain,” ucap Amaris pelan, seolah menegur, tapi ada sesuatu dalam suaranya, ketergesaan yang disamarkan. Pria itu mengernyit. “Kenapa Sayang?" Amaris tak menjawab, tapi Matanya melirik sekilas ke arah Seraphine. Pria itu mengikuti arah pandang Amaris. Dan akhirnya, tatapannya bertemu dengan mata Seraphine. “Oh,” ucapnya pelan, seolah baru menyadari keberadaan Sera. “Kau .…” Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di hadapan Seraphine. “Terima kasih,” katanya sungguh-sungguh. “Terima kasih banyak karena sudah mau mendonorkan darah untuk Wynee.” Kata itu diulang lagi. Seraphine menatapnya lurus. “Jadi …,” katanya pelan, mencoba mencerna, “kau kekasih Kak Amaris?” Pria itu hanya mengangguk pelan. Seraphine mengangguk kecil. Pria itu melanjutkan, nada suaranya serius. “Aku benar-benar berharap kau bersedia terus mendonorkan darah untuknya. Aku tahu ini tidak mudah. Tapi—” “Tidak perlu,” potong Seraphine lembut. “Aku melakukannya bukan karena siapa pun.” Ia menatap Amaris sekilas, lalu kembali ke pria itu. “Dia kakakku. Kalau itu bisa membuatnya sembuh, aku akan melakukannya dengan senang hati.” Amaris menunduk. Bahunya sedikit menegang. “Terima kasih,” ucap pria itu lagi. “Aku—” Namun kalimat itu terhenti. Pandangan Seraphine tertarik pada sesuatu di leher pria itu. Sebuah rantai tipis. Dan di ujungnya… Gelang usang. Gelang yang tidak asing untuknya. Napas Seraphine tertahan. Matanya tak berkedip. Dadanya berdegup keras, seolah sesuatu di dalam dirinya baru saja disentuh tanpa izin. Itu… Pria itu tersadar akan tatapan Seraphine. “Oh,” katanya sambil tersenyum kecil. “Namaku Adrian Cole.” Ia mengulurkan tangannya ke arah Seraphine. “Kekasih Wynee ...," jawab Adrian lagi dengan bangga. Nama itu kembali terucap. Seraphine tidak langsung menjabat tangannya. Nama itu, gelang usang itu dan wajah yang baru Sera sadari tidak asing untuknya. Semuanya bertabrakan di kepalanya. Adrian. Kakak Adrian. Pria yang dulu selalu duduk di bangku taman bersamanya. Pria yang memberinya rasa aman pertama dalam hidupnya. Seraphine menatap wajah Adrian dengan napas tertahan. Dan di sudut matanya, ia melihat Amaris membeku, wajah kakaknya pucat, sorot matanya dipenuhi kewaspadaan yang tak sempat disembunyikan. Seolah ia tahu, bahwa satu langkah lagi, segala sesuatu yang ia genggam akan mulai goyah. Sera masih menatap Adrian Jadi, pria ini adalah Kakak… itu? gumamnya dalam hati. Dan untuk pertama kalinya sejak ia kembali ke rumah itu, Seraphine merasa masa lalu yang ia kira telah selesai, justru baru saja mengetuk pintunya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN