Kenangan Yang Diambil

1204 Kata
Malam itu, Seraphine tetap terjaga. Ia berbaring di ranjang yang bukan miliknya, menatap langit-langit kamar dengan mata terbuka. Jam dinding berdetak pelan dan terlalu jelas di tengah sunyi. Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, satu bayangan selalu muncul lebih dulu. Sosok itu. Adrian. Seraphine mematung, tepat seperti beberapa jam lalu ketika ia berdiri di ambang kamar Amaris. Ia masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana dadanya mendadak terasa sempit saat melihat pria itu berdiri begitu dekat dengan kakaknya. Cara ia menopang Amaris. Cara suaranya melembut. Dan kemudian, gelang itu. Rantai tipis dengan gelang usang yang tergantung di ujungnya. Tidak mungkin… gumam Seraphine tak percaya. Yang lebih membuat Jantungnya berdegup keras ketika pria itu memperkenalkan diri sebagai Adrian Cole. Nama yang seketika menghantam kepalanya lebih keras dari yang ia duga. Dari gelang usang itu dan namanya, ia sudah tidak salah menduga bila kekasih kakaknya ini adalah, Adrian. Kakak Adrian. Pria yang dulu selalu menemaninya duduk bersamanya di bangku taman. Pria yang memanggilnya Wynee, pria yang membuatnya percaya bahwa ia tidak sendirian ketika keluarganya tak mempedulikannya. Dan kini… pria itu berdiri di hadapannya, menyebut Amaris dengan nama yang seharusnya hanya menjadi sebutan untuknya saja. Seraphine tidak sempat berkata apa-apa. Tidak sempat bertanya atau bahkan memastikan. Sera hanya mampu diam seribu bahasa di tempatnya. Seraphine tersentak kembali ke masa kini. Ia menarik napas panjang, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangan, seakan ingin menghapus bayangan itu. Tidak, pikirnya cepat. Ini tidak mungkin dia. Banyak orang bernama Adrian. Dan gelang itu… mungkin hanya kebetulan. Ia menggeleng kecil, memaksa pikirannya untuk berhenti. Aku terlalu lelah, katanya dalam hati. Aku terlalu banyak menghubungkan hal-hal yang seharusnya tidak disatukan. Namun dadanya tetap berdebar. Namun semakin ia mencoba menolak, semakin ingatan itu menyusun dirinya sendiri. Cara pria itu menyebut nama. Cara ia menatap dengan perhatian yang sama seperti dulu. Dan cara nama itu terucap, Wynee, tanpa ragu. Jantung Seraphine berdegup lebih keras. Ketika pria itu memperkenalkan diri, Adrian Cole, segala sesuatu yang tadinya ia dorong ke sudut pikirannya, perlahan menemukan tempatnya sendiri. Tidak ada lagi ruang untuk kebetulan. Dari gelang usang itu, dari nama itu. Dan dari rasa yang kembali berdenyut di dadanya, Seraphine akhirnya berhenti menyangkal. Kau memang Adrian, akunya pelan dalam hati. Kakak Adrian. Pria yang dulu selalu duduk bersamanya di bangku taman. Pria yang memanggilnya Wynee. Pria yang membuatnya percaya bahwa ia tidak sendirian, bahkan ketika keluarganya memilih berpaling. Dan kini… pria yang sama berdiri di hadapannya, menyebut Amaris dengan nama yang seharusnya hanya menjadi miliknya. Seraphine menelan ludah. Ia tidak sempat berkata apa-apa. Tidak sempat bertanya atau memastikan dengan suara. Kebenaran itu terlalu nyata untuk dibantah, terlalu dekat untuk dihindari. Ia tersentak kembali ke masa kini. Tangannya terangkat mengusap wajah, seolah ingin memastikan dirinya benar-benar terjaga. Jadi… kau benar-benar ada di sini, batinnya pelan. Bukan hanya dalam ingatanku saja. Dan ternyata, dadanya masih berdebar. Perasaan itu, yang ia kira telah lama mati, kembali berdenyut tanpa ia undang. Tapi, mengingat itu semua, Sera jadi mengingat bagaimana kedua orang tuanya langsung memintanya pergi setelah Adrian seperti ingin membangun sebuah komunikasi panjang dengannya. Seolah kehadirannya memang selalu menjadi gangguan untuk siapapun. Tapi mengapa Sera merasa ini janggal untuknya. Seraphine sejenak memeluk bantal lebih erat. “Apa yang sebenarnya kalian sembunyikan?” bisiknya lirih. Ada terlalu banyak hal yang tidak masuk akal. Pergantian kamar. Barang-barangnya yang dipindahkan. Reaksi orang tuanya. Dan kini, Adrian. Namun Seraphine memaksa dirinya untuk tetap tenang. Jangan menyimpulkan apa pun dulu. Aku belum tahu apa-apa. Ia menghela napas panjang, mencoba meredam kegelisahan di dadanya. “Untuk sekarang,” katanya pelan pada dirinya sendiri, “aku akan bersikap biasa saja.” Ia berbaring kembali, memejamkan mata. Namun malam itu, tidur tidak pernah benar-benar datang. Karena di antara gelap dan sunyi, satu kenyataan terus berdenyut di dadanya masa lalu yang ia kira telah selesai, ternyata belum pernah benar-benar pergi. *** Hari-hari berikutnya berjalan dengan pola yang sama. Setiap sore, mobil hitam itu selalu berhenti di halaman rumah Ashford. Dan setiap kali pintu mobil terbuka, sosok itu turun dengan langkah tenang, dan terlalu familiar untuk diabaikan, terlalu dekat untuk dihindari. Adrian. Ia datang setiap hari, hanya untuk memastikan Amaris baik-baik saja. Seraphine sering melihatnya dari jauh. Dari balik dinding ruang makan. Dari tangga lantai dua. Dari sudut-sudut rumah yang membuatnya bisa mengamati tanpa harus terlibat. Dan setiap kali itu pula, dadanya bereaksi tanpa izin. Nyatanya perasaan itu belum benar-benar menghilang. Bahkan Adrian yang selalu bersikap sopan padanya membuat Seraphine semakin sulit bernapas. Terkadang Seraphine ingin bertanya pada Adrian, apakah pria itu mengingatnya atau tidak. Namun, setiap kali ia mencoba mendekat, suara ibunya selalu muncul lebih dulu. “Seraphine, jangan mengganggu kakakmu.” "Biarkan dia dan jangan ikut campur diantara Kakakmu dengan Adrian." Seolah masa lalu itu bukan haknya. Dan sore itu, Seraphine hendak turun ke dapur untuk mengambil segelas air. Langkahnya terhenti di anak tangga ketika suara dari ruang keluarga menyusup pelan. Suara Adrian dan suara Amaris. Seraphine tidak berniat menguping. Namun satu kalimat membuatnya tak mampu melanjutkan langkah. “Aku masih sering teringat masa itu,” ujar Adrian rendah. “Dimana seorang anak kecil yang selalu menunggu di taman.” Jantung Seraphine berdetak lebih cepat. “Dia bahkan sering mengayunkan kakinya, dan tertawa setiap kali aku datang.” Seraphine menahan napas. Setiap detail itu adalah miliknya. “Saat itu, kau terlihat sangat menggemaskan, Wynee ...," ucap Adrian dengan senyum yang tak tertahankan. Seraphine memejamkan mata. Ia ingat semuanya. “Kau selalu menceritakannya dengan cara yang sama,” ucap Amaris pelan. “Aku juga masih mengingat taman itu.” Seraphine membuka mata. “Ada banyak kenangan yang sulit dibedakan sekarang,” lanjut Amaris lembut. “Waktu itu kita masih kecil. Semuanya terasa samar, tapi perasaannya… masih ada.” Hening sejenak. “Aku ingat kau sering datang ke taman itu,” kata Adrian, ragu. “Dan kau selalu terlihat sangat lelah.” “Iya,” jawab Amaris ringan. “Mungkin karena aku sering sakit tanpa kau sadari.” Nada suaranya terdengar wajar. Masuk akal. Hampir tak terbantahkan. “Kadang aku juga bertanya-tanya,” lanjut Amaris pelan, “apa yang membuatmu begitu melekat dengan kenangan itu.” Adrian terdiam beberapa detik. “Mungkin karena itu satu-satunya masa di mana aku merasa tidak sendirian,” kata Adrian jujur. Seraphine mengencangkan genggaman pada pegangan tangga. Ada denyut aneh di dadanya, bukan karena kata-kata itu menyentuh, melainkan karena ia mengenali persis ke mana arah kenangan itu seharusnya kembali. Ke dirinya. Namun Amaris tersenyum tipis, dengan senyum yang menenangkan. "Kenangan masa kecil memang sering tidak utuh,” ujar Amaris pelan. “Kadang yang tersisa hanya rasa nyamannya. Bukan detailnya.” Adrian terdiam. Ia menatap lantai sejenak, seperti mencoba mengingat sesuatu yang tidak benar-benar bisa ia pegang. “Bisa jadi,” katanya akhirnya. Kalimat itu membuat Seraphine menahan napas. Dan saat itulah Seraphine mengerti. Tidak ada kebohongan yang diucapkan secara terang-terangan. Amaris tidak mengatakan bahwa kenangan itu sepenuhnya miliknya. Adrian juga tidak bertanya lebih jauh. Namun pembicaraan itu tetap berjalan ke arah yang salah dan Seraphine bisa melihatnya dengan jelas. Semua kenangan miliknya semua diarahkan ke Amaris. Membuat Seraphine menyadari satu hal. Selama ia tidak berbicara, Adrian akan menerima cerita yang ada di hadapannya. Dan jika Seraphine terus memilih diam, maka masa kecil yang ia jalani bersama Adrian akan terus diceritakan, tanpa pernah menyebut bahwa itu adalah dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN