Identitas Yang Direnggut

1739 Kata
Sekali lagi, hidup Seraphine ditarik kembali ke lingkaran pengorbanan yang tak pernah ia pilih. Kali ini, ia tidak mengetahuinya dari isyarat. Ia mendengarnya sendiri. Seraphine baru saja turun dari lantai atas ketika suara ayahnya terdengar jelas dari ruang keluarga. Nada suaranya tegas, tanpa ragu, nada yang jarang ia dengar jika menyangkut dirinya. “Yang terpenting sekarang adalah Amaris,” kata Edmund datar. “Dia sakit dan Amaris butuh stabilitas.” Seraphine berhenti tepat di ujung lorong. “Adrian membuatnya tenang,” lanjut Edmund. “Aku bisa melihatnya. Sejak dia hadir, kondisi Amaris jauh lebih baik.” Helena menimpali pelan, “Tapi apakah Seraphine—” “Aku tahu, Seraphine akan mengalah,” potong Edmund cepat. Kata itu membuat d**a Seraphine nyeri. “Kau tenang saja, Seraphine pasti akan mengerti hal ini," lanjut Edmund lagi. Helena tampak terdiam, entah ini benar atau salah, tapi ia hanya ingin putri pertamanya ini mendapatkan sesuatu hal yang bisa membuatnya tetap semangat untuk bertahan hidup. "Meskipun Adrian datang pada awalnya memang mencari Seraphine,” lanjut Edmund tanpa beban. “Tapi sekarang sudah jelas bukan, Adrian bahkan tak mencurigai ini sama sekali, toh Amaris sangat membutuhkannya, Sayang.” Melihat istrinya terdiam, Edmund segera merangkul istrinya. "Sudahlah, Helena. Masa lalu tidak perlu dibahas lagi. Mungkin Seraphine pun juga tak mengingat kenangan itu lagi, anggap saja itu tidak penting." Sementara Seraphine ia tetap melangkah dan langkahnya kali ini terdengar oleh kedua orangtuanya. “Tidak penting?” Suara itu membuat ruang keluarga mendadak sunyi. Helena menoleh cepat. “Seraphine …,” Edmund berdiri. Wajahnya tampak dingin, ekspresinya sama seperti setiap kali ia berbicara tentang keputusan. “Kau mendengar kami?” tanyanya singkat. “Iya,” jawab Seraphine. Suaranya pelan, tapi jelas. “Dan sepertinya aku memang sudah di takdirkan untuk mendengar ini semua.” Edmund dan Helena tampak terdiam dan saling memandang satu sama lain. "Jadi, kalian menggunakan identitasku, kenangan bersama Adrian, untuk kalian berikan pada Kak Amaris?" ucap Serene lirih. Edmund menghela napas berat. “Sera, ini demi kebaikan Amaris." Seraphine menatap ayahnya, matanya bergetar. “Tapi ini hidupku, Dad.” “Sera, tapi ini mengenai Amaris, kau harus memaklumi itu ...,” jawab Edmund dingin. Kalimat itu menghantam lebih keras dari apa pun. "Memaklumi? tapi kalian menggunakan identitasku untuk Amaris, dan Adrian, kenapa kalian harus menyembunyikanku dari Adrian." Edmund tampak terdiam sesaat, ketika melihat Sera mulai meneteskan air matanya. "Adrian adalah teman masa kecilku, kenapa kalian harus menggantikanku dengan Amaris? Dia satu-satunya orang yang---" “Sera, Amaris menyukai, Adrian ...," potong Helena dengan cepat. Sera menatap ibunya, lalu bila Amaris menyukai Adrian kenapa identitasnya harus di ambil, setelah semua kasih sayang yang tak pernah mereka berikan kepada Seraphine pun tak mereka berikan. Helena menatap Seraphine. Ingatan itu kembali lagi, ketika hari dimana rumah mereka kedatangan seorang tamu dan kehadirannya cukup membuat para pelayan bergerak lebih cepat dari biasa. Helena hampir tidak percaya ketika mendengar nama yang disebutkan oleh kepala pelayan. “Ravenscroft?” ulangnya pelan. “Adrian Cole Ravenscroft?” Edmund yang sedang membaca dokumen langsung menoleh. “Dia sendiri yang datang?” Pelayan itu mengangguk. “Iya, Tuan. Dia mengatakan ingin bertemu seseorang.” Helena dan Edmund saling berpandangan. Nama itu bukan nama asing. Pewaris Ravenscroft Corporation, pria muda yang namanya sering muncul di berita bisnis dan majalah ekonomi. Tidak ada alasan bagi pria seperti itu datang ke rumah mereka tanpa kepentingan besar. Ketika Adrian akhirnya masuk ke ruang tamu, sikapnya sopan tapi langsung pada tujuan. “Saya minta maaf datang tanpa pemberitahuan,” katanya tenang. “Kedatangan saya kesini, karena saya ingin mencari seseorang.” Edmund menatap Adrian. Adrian tampak ragu sejenak, lalu berkata, “Seorang gadis. Kami bertemu ketika kami kecil." Helena menatapnya lebih serius. “Wynee.” "Apakah benar, Wynee tinggal disini?" Nama itu membuat Helena membeku sesaat. Seraphine. Nama kecil itu hanya digunakan di dalam keluarga. Nama yang diberikan oleh nenek dari pihak Edmund, dan sejak kecil hanya melekat pada Seraphine. Helena membuka mulut, hendak menjelaskan. “Istri saya mungkin tahu,” kata Edmund, menoleh pada Helena. Namun sebelum Helena sempat berbicara, suara langkah kaki terdengar dari tangga. Amaris berdiri di sana. Tubuhnya masih terlihat lemah, tetapi matanya tertuju penuh pada Adrian. Ada sesuatu di sana, ketertarikan yang terlalu jelas untuk disembunyikan. “Wynee?” ulang Amaris pelan. Adrian menoleh, menatap wanita berwajah pucat itu. Amaris turun perlahan, satu tangan memegang pegangan tangga. Helena refleks hendak menghentikannya, tetapi Amaris hanya tersenyum kecil. “Itu… nama kecilku,” katanya pelan. Helena menoleh cepat. “Amaris—” Namun Amaris lebih dulu melanjutkan. “Aku Wynee, gadis kecil yang kau cari” katanya dengan suaranya yang dibuat lembut. Adrian menatapnya lebih lama, seperti mencoba mencocokkan ingatan yang samar tentang wajah gadis itu. “Aku… apa itu benar kau?" Amaris tersenyum tipis. Helena bisa melihat perubahan itu. Cara putri sulungnya memandang Adrian. Setelah Adrian pamit pulang hari itu, Amaris langsung berbalik pada kedua orang tuanya. “Mommy… Daddy,” katanya pelan, tapi tegas. “Aku menyukainya.” Helena terdiam. “Amaris—” “Aku serius,” lanjut Amaris. “Aku sudah lama tahu dia. Dia sering muncul di berita. Aku… aku selalu berpikir pria seperti itu tidak akan pernah datang ke hidupku.” Ia menarik napas pelan. “Tapi ternyata ia benar-benar datang ke sini.” Edmund mengernyit. “Dia datang mencari Seraphine.” Amaris menggigit bibirnya. “Tapi dia tidak tahu wajahnya, kan?” Kalimat itu membuat ruangan hening. “Aku tidak memiliki waktu untuk hidup normal,” lanjut Amaris, suaranya melemah. “Kalau sekali saja aku bisa merasakan… dicintai seperti orang lain .…” Helena menutup matanya sejenak. Edmund menatap putri sulungnya lama. “Seraphine akan mengerti,” katanya akhirnya pelan. Helena menoleh cepat. “Edmund—” Helena tampak tak percaya. “Seraphine pasti akan mengerti,” ulang Edmund tegas. Amaris menunduk, menyembunyikan senyum kecil yang nyaris tak terlihat. Helena tersadar lagi dari ingatannya saat mendengar suara suaminya. “Kau tahu kondisinya, Sera. Kalau itu berarti kami harus menjaga cerita tetap seperti sekarang, maka begitu adanya.” “Menjaga?” suara Seraphine pecah. “Dad, kalian mencuri identitasku.” Helena menutup mulutnya. “Seraphine, tolong mengerti. Kakakmu sakit. Dia tidak punya banyak hal yang membuatnya merasa seperti orang-orang normal.” “Lalu aku?” tanya Seraphine lirih. “Aku ini apa?” Tidak ada yang langsung menjawab. “Aku gadis kecil itu.” “Aku yang pulang ke rumah dengan harapan… tapi seperti tak berarti apapun.” Air matanya jatuh. “Kalian tahu dia datang ke sini untukku,” lanjutnya, nyaris berbisik. “Kalian tahu itu, tapi kenapa kalian tak mengatakan yang sebenarnya." Seraphine begitu sedih, sudah begitu lama pertemuan itu tak pernah Sera lakukan dengan Adrian dan ia sangat berharap hari itu tiba, tapi kenapa harus seperti ini? Edmund menatapnya lama, lalu berkata dengan suara yang menghancurkan sisa harapannya. “Itu dulu.” Seraphine terdiam. “Kau baik-baik saja dan memiliki masa depan, sementara Amaris tidak,” lanjut Edmund. Kalimat itu menutup segalanya. “Jadi… karena aku baik-baik saja,” suara Seraphine nyaris tidak terdengar, “aku harus terus mengalah?” Helena merasakan ketegangan diantara mereka. “Kami hanya ingin semua baik-baik saja.” Seraphine tertawa kecil, “Tidak ada yang baik-baik saja untukku sejak awal.” Seraphine mundur satu langkah. “Aku tidak marah karena kalian memilih Amaris,” katanya pelan. “Aku marah karena kalian seperti benar-benar menghapusku dari kehidupan kalian.” Edmund memalingkan wajah. “Sudahlah Sera, kembali ke kamarmu." Seperti biasa, Sera hanya diminta untuk pergi dan tetap diam. Langkahnya menuju tangga terasa berat, seolah setiap anak tangga menarik sesuatu dari dadanya. Nama kecil dan kenangan itu benar-benar di renggut darinya. Dan Seraphine yang bahkan tidak tahu apa yang sedang terjadi, perlahan dihapus dari cerita yang seharusnya menjadi miliknya, dan semuanya pun atas persetujuan orangtuanya. *** Langit telah berganti, hari pun berganti. Seraphine baru saja menuruni anak tangga terakhir dengan suasana hati yang masih menyedihkan untuknya. Namun, ketika pintu utama kembali terbuka, udara di ruang keluarga seolah berubah. Adrian masuk lebih dulu, lalu Amaris menyusul dengan langkah pelan. Tubuh kakaknya tampak rapuh, seolah setiap pijakan membutuhkan penopang. Dan Adrian, tanpa ragu, menjadi penopang itu. “Pelan-pelan,” ucap Adrian lembut. “Pegang aku, Sayang.” Amaris mengangguk kecil. “Iya… aku tidak apa-apa,” katanya lirih, meski tangannya mencengkeram lengan Adrian beitu erat. Seraphine berhenti melangkah. Tatapan matanya tertuju pada mereka berdua. Tatapannya bahkan telah berubah, bukan tatapan yang cemas dan ingin memastikan kakaknya baik-baik saja. Kini ada sesuatu yang lain, ia menyadari kakaknya itu begitu menikmati perannya mengambil indentitas dirinya agar bisa dekat dengan Adrian. Sementara Amaris, ia menyadarinya. Langkahnya sedikit terhenti saat matanya bertemu dengan mata Seraphine. Untuk sesaat, senyum lemah yang terlihat dibibirnya goyah. Ada kilat kewaspadaan yang cepat, lalu dengan cepat ditutup dengan ekspresi rapuh yang sudah sangat ia kuasai. “Sera …,” ucap Amaris pelan, seolah baru menyadari keberadaannya. “Kau sudah bangun?” Seraphine menatapnya beberapa detik sebelum menjawab. “Iya.” Satu kata, tanpa intonasi berlebih. Tapi cukup untuk membuat Amaris merasa tidak nyaman. Adrian akhirnya menoleh ke arah Seraphine. “Oh… kau di sini,” katanya sopan. “Apa kau sudah merasa lebih baik?” Seraphine mengangguk kecil. “Sudah.” Jujur, Sera rasanya ngin mengatakan banyak hal pada Adrian, ingin bertanya bagaimana kabarnya. Namun semua kata itu hanya tertahan di tenggorokan saja. Amaris bergerak sedikit lebih dekat ke Adrian. “Aku lelah,” katanya pelan, tapi jelas disengaja. “Bisa antar aku ke kamar?” “Tentu,” jawab Adrian tanpa ragu. “Kita naik sekarang, Sayang." Seraphine menatap Amaris. Tatapan itu tidak lagi polos. Amaris menelan ludah. “Sera… kau tidak apa-apa, kan?” Seraphine menghela napas pelan. “Ya, aku baik-baik saja.” Jawaban yang sama yang selalu ia berikan. Jawaban yang selalu membuatnya tersisih. Adrian mengangguk sopan. “Kalau begitu kami naik dulu.” Seraphine tidak menjawab. Ia hanya berdiri di sana, memperhatikan bagaimana Adrian menyesuaikan langkahnya dengan langkah Amaris. Bagaimana tangannya tetap di sana,di pinggang kakaknya. Dan bagaimana Amaris membiarkannya. Setiap langkah mereka terasa seperti menghitung jarak yang semakin menjauh. Setelah punggung mereka menghilang di lantai atas, keheningan turun. Seraphine masih berdiri di tempat yang sama. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Dadanya sesak, bukan karena ingin menangis, melainkan karena ia harus menelan sesuatu yang terlalu besar untuk dilepaskan. “Bahkan kebahagiaan kecilku harus kau ambil juga, Amaris?" Ia mengangkat tangannya, menekan dadanya sendiri. Apa yang seharusnya menjadi kebahagiaannya, kenangan, rasa aman, bahkan orang yang pernah membuatnya merasa dipilih perlahan direnggut darinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN