Malam itu berlalu tanpa banyak suara.
Seraphine tidak lagi turun ke ruang tengah setelah kejadian itu.
Ia tetap di kamarnya sampai lampu rumah satu per satu padam, membiarkan keheningan menelan sisa-sisa percakapan yang masih terngiang di kepalanya.
Ia tidak menangis lagi.
Entah karena sudah terlalu lelah, atau karena tidak ada lagi yang tersisa untuk ditangisi.
Pagi datang seperti biasa, seolah tidak ada apa pun yang berubah di rumah itu.
Suara langkah pelayan, suara peralatan makan dari dapur, dan percakapan pelan orang tuanya terdengar samar dari bawah.
Semua berjalan normal.
Hanya Seraphine yang tidak lagi merasa menjadi bagian dari rutinitas itu.
Ia duduk di tepi ranjang cukup lama sebelum akhirnya berdiri.
Tatapannya jatuh pada koper yang belum sepenuhnya ia bongkar sejak kembali dari Inggris.
Untuk sesaat, keinginannya untuk pergi kembali muncul begitu kuat.
Namun ia tahu ia belum bisa.
Selama Amaris masih membutuhkan darahnya, selama orang tuanya masih memegang keputusan atas studinya, ia akan selalu ditarik kembali.
Dan karena itulah, Seraphine memilih sesuatu yang masih bisa ia kendalikan.
Bekerja untuk mengalihkan fokusnya dari semua rasa sakit yang ia alami.
Seraphine menghela napas pelan, jemarinya menyentuh gagang koper tanpa benar-benar membukanya.
“Kalau aku pergi sekarang… semuanya akan tetap sama.”
Ia tersenyum tipis, senyum yang tidak pernah benar-benar sampai ke matanya.
“Setidaknya bila aku sibuk… aku tidak perlu berpikir apapun mengenai semua yang terasa tidak adil ini.”
Langkahnya perlahan menuju jendela.
Tirai dibuka sedikit, membiarkan cahaya pagi masuk dan menyentuh wajahnya yang masih pucat.
Rumah itu tetap sama, tetap terasa asing untuk Seraphine.
Ia menunduk, menarik napas panjang sebelum akhirnya berbalik mengambil ponselnya di atas meja.
Layarnya menyala, menampilkan beberapa pesan yang belum ia balas sejak semalam.
Seraphine menatapnya lama sebelum akhirnya meletakkannya kembali.
Ia merapikan rambutnya di depan cermin, menatap bayangan dirinya yang tampak lebih dewasa, lebih dingin dibandingkan gadis yang dulu pergi ke Inggris dengan harapan besar.
***
Beberapa hari kemudian, rutinitas baru mulai terbentuk.
Seraphine kembali mengenakan jas putihnya, berdiri di ruang ganti rumah sakit dengan rambut yang diikat rapi.
Wajahnya terlihat lebih tenang, meskipun kelelahan masih tersisa di matanya.
Sera sudah memutuskan untuk bekerja di rumah sakit yang bahkan Sera sendiri melamar tanpa melihat seberapa bagus rumah sakit tersebut, karena Sera berpikir bekerja menjadi satu-satunya cara agar pikirannya tidak terus kembali ke rumah itu.
Meski hanya sebagai dokter umum, tapi Sera merasa ini sudah lebih cukup untuk menenangkan dirinya dari pada ia harus berdiam diri di rumah yang tak seperti rumah untuknya.
“Dokter Sera, pasien di ruang lima sudah siap,” ujar seorang perawat sambil tersenyum.
Seraphine mengangguk kecil.
“Iya, saya ke sana.”
Di ruang pemeriksaan, semuanya terasa berbeda.
Pasien tidak mengenalnya sebagai anak kedua keluarga Ashford.
Ia hanya seorang dokter yang mendengarkan keluhan dan mencoba membantu.
Dan untuk beberapa jam, itu cukup membuatnya bernapas tanpa rasa sesak.
***
Hari-hari berikutnya berjalan hampir sama.
Seraphine tidak banyak bicara ataupun berada di rumah cukup lama.
Ia hanya datang, makan seperlunya, lalu kembali ke kamar.
Orang tuanya tidak bertanya banyak pada Sera, bahkan mereka mungkin tak akan mempedulikannya.
Seraphine memilih untuk tidak ikut terlibat dengan urusan mereka.
Bukan karena tidak peduli.
Melainkan karena ia tahu, semakin ia mendekat, semakin ia akan terluka.
Ia hanya perlu bertahan cukup lama.
Cukup sampai menemukan cara agar orang tuanya mengizinkannya kembali ke Inggris.
Cukup sampai ia tidak lagi terikat pada kewajiban donor darah yang selalu menjadi alasan mereka menahannya di Los Angeles.
Sera menarik napasnya pelan, setelah jadwal praktiknya selesai sore ini, Seraphine berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang mulai lengang.
Hari ini juga Sera, baru sadar beberapa bahwa rumah sakit ini ternyata berada di bawah naungan Ravenscroft Medical Group, salah satu cabang bisnis keluarga Adrian.
Keluarga yang baru Sera ketahui juga bila Ravenscroft merupakan keluarga yang berpengaruh.
Cukup ironis.
Dunia mereka seolah terus dipaksa berdekatan, bahkan ketika Sera mencoba menjauh.
Ia menekan tombol lift, menunggu dalam diam.
Pintu terbuka.
Dan ketika ia melangkah masuk, langkahnya terhenti sesaat.
Adrian berdiri di dalam, sedang berbicara dengan seorang dokter senior.
Jasnya masih rapi dan ekspresinya serius seperti biasa.
Percakapan itu berhenti ketika Adrian menyadari kehadiran seseorang di depan lift.
Tatapan mereka bertemu.
Beberapa detik saja.
Namun cukup untuk membuat jantung Seraphine kembali berdetak tidak teratur, mengingatkan bahwa sejauh apa pun ia mencoba menata hidupnya kembali, masa lalu itu belum benar-benar selesai.
Untuk sesaat, ekspresi Adrian berubah jelas, terkejut. Bukan sekadar karena bertemu Seraphine, tetapi karena melihatnya mengenakan jas dokter lengkap dengan name tag rumah sakit.
Ia menatap sebentar lebih lama dari seharusnya.
“Dokter …?” ucap Adrian tanpa sadar.
Seraphine mengangguk kecil, tetap menjaga ekspresi tenang.
“Sore, Tuan Ravenscroft.”
Adrian masih belum langsung menjawab. Matanya turun sekilas ke name tag di d**a Seraphine, lalu kembali ke wajahnya.
“Kau bekerja di sini?” tanyanya, nada suaranya tidak menyembunyikan rasa heran.
“Iya,” jawab Seraphine singkat.
Adrian tampak benar-benar tidak menyangka.
“Aku tidak tahu.”
Kalimat itu terdengar jujur.
Seraphine hanya mengangguk kecil, lalu berdiri di sisi lain lift.
Jarak di antara mereka terasa cukup aman, meskipun udara di dalam ruang sempit itu mendadak terasa berat.
Dokter di samping Adrian kembali membuka berkas.
“Kita lanjutkan tadi, Tuan Adrian,” katanya profesional.
Adrian mengalihkan fokusnya kembali, meskipun sesekali pandangannya masih sempat beralih ke arah Seraphine, seolah mencoba menyusun ulang gambaran tentang perempuan di depannya.
“Jadi kondisinya bagaimana, Dok?” tanya Adrian pelan.
Dokter itu menghela napas.
“Leukemia yang kambuh memang lebih sulit ditangani. Respons terhadap transfusi cukup membantu untuk sementara, tapi itu bukan penyembuhan.”
Seraphine menundukkan pandangannya.
Ia tahu pembicaraan ini bukan untuknya, tapi sebagai dokter, setiap kata tetap masuk ke dalam pikirannya dengan jelas.
“Kalau pengobatan lanjutan?” tanya Adrian lagi.
“Kemoterapi masih menjadi pilihan,” jawab dokter itu.
“Namun tingkat keberhasilannya tergantung kondisi tubuh pasien. Sistem imun pasien cukup lemah.”
Lift berhenti sebentar di satu lantai, lalu kembali bergerak turun.
Adrian terdiam beberapa saat sebelum akhirnya bertanya, suaranya lebih pelan dari sebelumnya.
“Secara realistis… berapa persen kemungkinan sembuh?”
Dokter itu tidak langsung menjawab.
“Kami tidak biasa memberi angka pasti,” katanya hati-hati. “Tapi untuk kasus kambuh seperti ini… peluangnya tidak besar.”
Keheningan jatuh di dalam lift.
Seraphine merasakan dadanya mengencang. Ia tidak perlu mendengar angka untuk memahami maksudnya. Ia tahu betul arti kalimat itu.
Adrian menunduk, mengusap wajahnya pelan.
“Saya hanya ingin dia bisa hidup normal,” katanya lirih. “Setidaknya sekali.”
Kalimat itu sederhana, tapi terdengar sangat tulus.
Dan justru itulah yang membuat hati Seraphine terasa semakin berat.
Lift akhirnya sampai di lantai dasar.
Pintu terbuka.
Dokter itu keluar lebih dulu, meninggalkan Adrian dan Seraphine beberapa detik dalam keheningan.
Adrian menoleh lagi, kali ini lebih serius.
“Kau menjadi Dokter sejak kapan?” tanyanya, masih terdengar heran.
“Amaris tidak pernah bilang.”
Seraphine tersenyum tipis.
“Sudah lama. Aku baru kembali ke sini.”
Adrian mengangguk pelan, seolah baru memahami sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ia perhatikan.
Karena, Adrian hanya tahu Sera sebatas saudara kandung Amaris dan ia tak pernah ingin tahu lebih mengenai Sera.
“Aku sering ke rumahmu, tapi rasanya… aku tidak pernah benar-benar tahu apa pun tentangmu.”
Seraphine tidak menjawab.
Karena kalimat itu terasa terlalu benar.
Adrian tampak ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi akhirnya hanya berkata pelan,
“Terima kasih… untuk waktu itu.”
Donor darah, Sera tahu apa yang Adrian maksud, karena setiap kali bertemu atau bertatapan dengan Sera, Adrian selalu berterimakasih padanya.
Seraphine mengangguk.
“Itu sudah seharusnya, jangan terus berterimakasih padau.”
Adrian pun memilih untuk berjalan keluar lebih dulu.
Pintu lift perlahan menutup kembali, meninggalkan Seraphine sendirian di dalamnya
Ia menatap pantulan dirinya di dinding lift, napasnya tertahan sesaat.
Sebagai dokter, ia memahami percakapan barusan dengan kepala dingin.
Namun sebagai seseorang yang pernah menjadi bagian dari masa lalu Adrian, ia tidak bisa mengabaikan satu kenyataan yang baru saja terasa begitu jelas, perhatian Adrian kini sepenuhnya tertuju pada Amaris.
Dan entah kapan, tanpa ia sadari, dirinya benar-benar tertinggal di masa lalu yang hanya ia ingat seorang diri.