Hari itu rumah sakit jauh lebih sibuk dari biasanya.
Suara langkah cepat perawat memenuhi lorong, interkom beberapa kali memanggil dokter jaga, dan pintu ruang IGD terbuka-tutup tanpa henti sejak pagi. Seraphine hampir tidak sempat duduk sejak memulai jadwalnya.
Ia baru saja menyelesaikan pemeriksaan terakhir ketika jam di dinding menunjukkan lewat dari waktu istirahat siang.
“Terima kasih, Dok,” ujar pasiennya sambil tersenyum lemah.
Seraphine membalas dengan senyum kecil.
“Jangan lupa obatnya diminum sesuai jadwal. Kalau demamnya naik lagi, langsung kembali ke sini.”
Pasien itu mengangguk sebelum keluar dari ruang periksa.
Begitu pintu tertutup, Seraphine menghembuskan napas panjang. Bahunya terasa pegal, tapi setidaknya pikirannya cukup sibuk untuk tidak memikirkan rumah.
Ia merapikan berkas di meja, lalu berdiri. Tangannya baru saja menyentuh gagang pintu ketika suara gaduh terdengar dari arah lorong.
Langkah kaki tergesa.
Suara seseorang memanggil perawat.
Dan bau logam samar yang langsung dikenali Seraphine.
Darah.
Ia membuka pintu.
Beberapa orang terlihat berkumpul di ujung koridor. Seorang perawat berlari membawa kotak P3K, sementara seorang staf keamanan tampak mencoba menenangkan situasi.
Dan di tengah kerumunan itu, Seraphine melihat Adrian.
Kemeja putihnya ternoda merah di bagian lengan dan sisi perut. Darah mengalir cukup jelas hingga menetes ke lantai.
Wajahnya pucat, tetapi ia masih berdiri tegak, seolah menolak untuk terlihat lemah.
Seraphine membeku sepersekian detik.
“Adrian?”
Pria itu menoleh. Tatapannya sempat terkejut melihat Seraphine di sana.
“Aku tidak apa-apa,” katanya cepat, meski napasnya terdengar berat.
Kalimat itu justru membuat Seraphine langsung bergerak.
“Jangan bergerak,” katanya tegas, nada suaranya berubah menjadi nada dokter yang tidak memberi ruang untuk dibantah. “Ikut denganku.”
Adrian terdiam sesaat, tapi akhirnya ia menurut ketika Seraphine memegang lengannya dan membawanya masuk ke ruang periksa terdekat.
Pintu tertutup.
Seraphine langsung mengambil sarung tangan medis, gerakannya cepat dan terlatih.
“Duduk,” katanya singkat.
Adrian duduk di tepi ranjang periksa. Baru sekarang ia terlihat benar-benar menahan rasa sakit.
Seraphine membuka bagian lengan kemejanya yang robek. Luka sayatan cukup dalam terlihat di sana, darah masih merembes keluar.
“Apa yang terjadi?” tanyanya sambil membersihkan luka dengan kasa steril.
Adrian menghela napas pelan.
“Ada keluarga pasien yang panik di IGD.”
Seraphine berhenti sejenak, lalu melanjutkan pekerjaannya.
“Panik bagaimana?”
“Sepertinya pasien dari keluarga tersebut gagal diselamatkan,” jawab Adrian rendah.
“Mereka menyalahkan rumah sakit. Dan situasinya… cukup kacau ketika saya mencoba untuk melerai.”
Ia menoleh sedikit ke arah Seraphine.
“Dan ya, salah satu dari mereka melempar sesuatu.”
Seraphine mengernyit.
“Kaca?”
Adrian mengangguk kecil.
“Sepertinya.”
Seraphine menekan luka dengan kasa lebih kuat. Adrian meringis pelan.
“Seharusnya kau tidak mendekat, itu sangat berbahaya ...," kata Seraphine.
“Saya tidak ingin membuat keributan lebih besar di rumah sakit jadi, saya mencoba melerai.” jawab Adrian.
Seraphine akhirnya menatapnya.
“Tapi itu justru bisa mengancam nyawamu sendiri
Adrian tak menjawab, ia hanya menatap Sera yang fokus pada lengannya yang sedang di bersihkan dan mulai mengering itu.
Untuk beberapa detik, ruangan itu hening.
Adrian hanya memperhatikan bagaimana Seraphine bergerak begitu tenang, fokus, tanpa ragu. Berbeda jauh dari sosok pendiam yang selama ini ia lihat di rumah Ashford.
“Aku tidak tahu kau seperti ini,” katanya pelan.
Seraphine menempelkan plester sementara sebelum mengambil perban.
“Oh ya?" jawab Sera singkat.
Tentu saja, karena kau tak pernah bertanya apapun tentangku, Adrian. lanjut Seraphine dalam batin.
Ia menunduk kembali, membersihkan sisa darah di sekitar luka dengan hati-hati.
Gerakannya tenang, terukur, seperti semua dokter yang terbiasa menghadapi situasi darurat. Tidak ada gerakan berlebihan, tidak ada kepanikan.
“Lukanya tidak terlalu dalam,” katanya profesional. “Tapi harus dijahit sedikit.”
Adrian mengangguk.
“Tentu saja," jawab Adrian
Seraphine menyiapkan alat jahit, lalu mendekat sedikit. Jarak mereka kini hanya beberapa langkah. Aroma antiseptik bercampur samar dengan wangi yang terasa familiar bagi Adrian, meskipun ia tidak tahu dari mana.
“Akan sedikit sakit,” ujar Seraphine.“Aku sudah pernah mengalami yang lebih buruk,” jawab Adrian ringan.
Seraphine tidak menanggapi. Ia mulai menjahit luka itu dengan fokus penuh.
Hening kembali memenuhi ruangan.
Namun justru dalam keheningan itu, Adrian merasakan sesuatu yang tidak biasa. Ada rasa tenang yang aneh, sesuatu yang tidak ia rasakan bahkan ketika bersama Amaris yang selalu ia jaga dengan hati-hati.
Ia memperhatikan wajah Seraphine dari dekat.
Entah kenapa, perasaan familiar itu kembali muncul, seperti mengingat sesuatu yang hampir ia tangkap, tetapi selalu terlepas.
“Aneh,” gumam Adrian tanpa sadar.
Seraphine berhenti sebentar.
“Apa?”
Adrian menggeleng kecil.
“Tidak… hanya merasa seperti pernah melihatmu seperti ini sebelumnya.”
Seraphine menunduk lagi, berusaha mengabaikan kalimat itu.
“Mungkin karena kau sering ke rumah.”
“Bukan,” jawab Adrian pelan. “Bukan itu.”
Ia sendiri tidak mengerti.
Perasaan itu muncul begitu saja, rasa nyaman yang tidak punya alasan jelas, rasa seolah ia tidak perlu berhati-hati di sekitar Seraphine.
Sesuatu yang terasa lama, tapi tidak bisa ia ingat dengan utuh.
Seraphine mengikat jahitan terakhir.
“Selesai,” katanya singkat.
Ia mundur satu langkah, memberi jarak.
Adrian menatap luka yang sudah tertutup rapi, lalu kembali menatap Seraphine. Untuk beberapa detik, ia tidak berkata apa-apa.
Ada pertanyaan yang hampir keluar dari bibirnya.
Namun ia tidak tahu harus bertanya apa.
Yang ia tahu hanya satu, setiap kali berada di dekat Seraphine, ada perasaan asing yang muncul di dadanya.
Sesuatu yang terasa… seperti kehilangan yang belum sempat ia sadari.
Adrian akhirnya berdiri perlahan.
“Terima kasih ....”
Seraphine hanya mengangguk kecil.
Namun ketika Adrian berjalan menuju pintu, langkahnya sempat terhenti.
Ia menoleh sekali lagi ke arah Seraphine yang sudah kembali merapikan alat medis, seolah kejadian barusan tidak berarti apa-apa.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama, Adrian merasa ragu.
Seolah ada bagian dari masa lalunya yang berdiri tepat di hadapannya… tetapi ia belum cukup yakin akan hal itu.
Sementara Seraphinenya untuk beberapa detik, ia tetap berdiri di tempatnya.
Tangannya masih memegang gunting medis, tapi pikirannya tidak lagi berada di ruangan itu. Udara terasa tiba-tiba sunyi setelah percakapan singkat tadi.
Ia menghembuskan napas perlahan.
Baru sekarang ia menyadari jemarinya sedikit gemetar.
Seraphine menutup matanya sejenak.
"Apa kau tadi mengingatku?" ucap Seraphine
Tentu tidak, Dimata Adrian, dirinya kecil adalah Amaris, Adrian sudah benar-benar melupakannya.
Meskipun begitu, berada sedekat itu dengan Adrian kembali membuka sesuatu yang selama ini ia paksa terkubur.
Cara Adrian menatapnya tadi, cara ia mengatakan bahwa semuanya terasa familiar, itu cukup untuk membuatnya mengingat kenangan dulu.
Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih belum stabil.
“Tidak, Sera. Kau harus berhenti,”
"Bagaimana pun Adrian sekarang adalah kekasih Kakakmu," bisiknya pelan pada dirinya sendiri.
Sera harus berhenti mengingat.
Karena semakin Adrian mendekat tanpa mengetahui kebenaran, semakin sakit rasanya bagi dirinya sendiri.
Seraphine merapikan jas putihnya, lalu mengambil berkas pasien berikutnya. Wajahnya kembali tenang, profesional, seolah tidak terjadi apa-apa.
Namun jauh di dalam hatinya, ia tahu
pertemuan barusan bukan hanya membuka luka lama.
Itu juga membuatnya sadar bahwa perasaannya pada Adrian… tidak pernah benar-benar pergi.
Dan kesadaran itu terasa jauh lebih menakutkan daripada rasa sakitnya sendiri.