Adrian bersandar di kursi belakang, menghembuskan napas panjang yang sejak tadi ia tahan.
Sopirnya belum menjalankan mobil, menunggu instruksi seperti biasa, tapi Adrian tidak langsung berbicara.
Pandangan Adrian jatuh pada lengannya sendiri.
Perban putih yang baru saja dipasang masih terasa hangat, sedikit kencang di kulitnya.
Tanpa sadar, ujung jarinya menyentuh perban itu.
Dan entah kenapa, sebuah ingatan lama muncul begitu saja.
Seorang gadis kecil duduk di sampingnya di bangku taman.
Angin sore meniup rambut panjang gadis itu, membuatnya berkali-kali harus menyibakkannya dari wajah.
Adrian kecil saat itu hanya duduk diam, menahan perih di lututnya yang terluka karena terjatuh saat berlari.
“Aku bilang jangan lari terlalu cepat,” suara kecil itu terdengar kesal.
“Tapi aku tidak menangis, kau tahu aku laki-laki yang kuat,” balas Adrian kecil keras kepala.
Gadis itu mendengus pelan.
“Aku juga tidak bilang kau menangis.”
Ia membuka kotak kecil berisi plester bergambar sederhana. Tangannya kecil, tapi gerakannya hati-hati ketika membersihkan luka Adrian dengan tisu basah.
“Kalau sakit bilang saja,” katanya lagi pelan.
“Wynee tidak akan menertawakanmu.”
Adrian ingat bagaimana ia memperhatikan wajah gadis itu saat itu. Cara alisnya mengerut saat fokus. Cara sentuhannya pelan, seolah takut membuat luka itu semakin sakit.
Aneh.
Luka di lututnya saat itu tidak terasa terlalu sakit lagi.
“Sudah,” kata gadis kecil itu bangga setelah menempelkan plester.
“Sekarang Kakak tidak boleh jatuh lagi.”
Adrian kecil hanya mengangguk, meski tahu itu tidak mungkin.
Adrian tersentak pelan.
Ia kembali ke masa kini ketika suara pintu mobil depan tertutup. Sopirnya sudah kembali ke kursi kemudi.
“Apakah kita harus ke rumah, Tuan?” tanya sopir itu.
Adrian tidak langsung menjawab.
Tangannya masih berada di atas perban.
Sentuhan tadi… terasa sama.
Cara Seraphine membersihkan lukanya. Cara ia berbicara singkat tanpa banyak basa-basi. Cara tangannya bergerak tenang, seolah sudah pernah melakukan hal yang sama sebelumnya.
Perasaan familiar itu kembali muncul.
Dan untuk sesaat, sebuah pikiran melintas begitu saja di kepalanya.
Bagaimana kalau…
Adrian langsung mengerutkan kening.
Tidak.
Itu tidak mungkin.
Ia menghembuskan napas pelan, menggeleng kecil seolah menertawakan pikirannya sendiri.
Tentu Seraphine bukan gadis itu, Amaris adalah Wynee nya.
Ia sendiri yang mempercayainya.
Lagipula, tidak mungkin ia salah selama ini.
Adrian menyandarkan kepalanya ke kursi, memejamkan mata sejenak.
“Jalan,” katanya akhirnya.
Mobil mulai bergerak meninggalkan halaman rumah sakit.
Namun meskipun pikirannya sudah menolak kemungkinan itu, satu hal tetap tertinggal di benaknya, rasa familiar yang muncul ketika Seraphine menyentuhnya tadi, terasa terlalu nyata untuk sebuah kebetulan.
***
Hari itu seharusnya menjadi hari yang berbeda bagi Seraphine setelah hampir dua bulan menjalankan tugasnya sebagai seorang Dokter
Sera mendapat tugas dari rumah sakit untuk mengikuti pelatihan singkat di luar kota, seminar medis mengenai penanganan awal pasien hematologi, kesempatan yang sebenarnya ia tunggu.
Alasan yang cukup baik untuk menjauh sementara dari rumah ini.
Seraphine baru saja hendak keluar ketika suara benda jatuh terdengar dari arah ruang tengah.
Disusul suara panik salah satu pelayan.
“Nona Amaris!”
Seraphine langsung berbalik.
Amaris terbaring di lantai. Wajahnya pucat, jauh lebih pucat dari biasanya.
Tak hanya itu saja darah juga terlihat mengalir dari hidungnya.
Seraphine langsung berlari ke arah Amaris, meninggalkan kopernya lalu ia berlutut di sampingnya.
"Kak, kau mendengarku?” ucap Sera mencoba membangunkan Amaris
Tapi tidak ada respons.
Sera pun mencoba mengangkat kepala Amaris lalu ia biarkan di atas kakinya, agar kepalanya terangkat.
Lalu, Sera pun memeriksa nadinya, membuka kelopak mata Amaris dengan hati-hati.
Tanda-tanda kelelahan berat dengan tekanan darah yang kemungkinan turun.
“Kapan terakhir Amaris makan?” tanya Seraphine cepat.
“S-sejak pagi, tidak banyak, Nona,” jawab pelayan gugup.
Seraphine menghela napas pelan.
Orang tua mereka sedang tidak di rumah.
Tidak ada yang bisa mengambil keputusan selain dirinya.
“Bantu aku,” kata Seraphine pada dua pelayan pria.
“Kita bawa ke kamar ....”
Seraphine membersihkan sisa darah di hidung kakaknya, lalu memeriksa kembali kondisinya.
“Dia hanya butuh istirahat,” katanya pelan. “Jangan membuatnya banyak bergerak.”
Ia baru saja hendak berdiri ketika suara pintu terbuka keras terdengar dari bawah.
Langkah cepat menaiki tangga.
“Wynee!”
Suara itu membuat Seraphine menoleh.
Adrian muncul di ambang pintu, napasnya sedikit terengah.
Tatapannya langsung tertuju pada Amaris yang terbaring.
“Apa yang terjadi?” tanyanya cepat, berjalan mendekat.
Seraphine berdiri di samping ranjang.
“Dia pingsan. Kemungkinan kelelahan, dan juga tekanan darahnya turun.”
Adrian sudah berada di sisi Amaris, tangannya menyentuh kening wanita itu dengan cemas.
Adrian mendapatkan informasi ini dari orang-orang rumah Ashford bila Amaris jatuh pingsan dengan kondisi mimisan ketika ia baru sampai di rumah ini.
Jelas Adrian langsung mencari keberadaan Amaris.
“Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit?” suaranya mulai meninggi.
Seraphine terdiam sejenak, menahan dirinya tetap tenang.
"Tidak perlu, Sera hanya perlu istirahat—”
“Tidak perlu?” potong Adrian tajam. Ia menoleh ke arah Seraphine, ekspresinya keras.
“Dia penderita leukemia, Sera.”
Nada suaranya membuat ruangan mendadak tegang.
Seraphine menarik napas pelan.
“Aku tahu. Aku dokter.”
“Kalau kau tahu, seharusnya kau membawanya ke rumah sakit sejak awal,” balas Adrian, jelas panik.
“Bagaimana kalau terjadi sesuatu padany?”
Kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang seharusnya.
Seraphine menatap Adrian beberapa detik, melihat ketakutan yang nyata di wajah pria itu, ketakutan yang sepenuhnya untuk Amaris.
“Dia sudah stabil,” jawab Seraphine pelan, tetap berusaha profesional.
“Aku sudah memeriksanya. Membawanya ke rumah sakit sekarang justru akan membuatnya lebih lelah.”
Namun Adrian sudah menggeleng.
“Aku tidak mau ambil risiko.”
Ia membungkuk, mengangkat Amaris dengan hati-hati.
“Aku akan membawanya ke rumah sakit.”
Seraphine membuka mulut, ingin menjelaskan lagi, tapi kata-kata itu tidak pernah keluar.
Adrian sudah berjalan melewatinya, fokus sepenuhnya pada Amaris di pelukannya.
Seolah hanya ada mereka berdua di ruangan itu.
Langkah Adrian menjauh, suara tergesa menuruni tangga, lalu pintu depan terbuka dan tertutup kembali.
Rumah kembali sunyi.
Seraphine masih berdiri di tempat yang sama.
Tangannya perlahan jatuh di sisi tubuhnya.
Dadanya terasa kosong.
Bukan karena Adrian marah.
Melainkan karena cara Adrian memandangnya tadi, seolah ia melakukan kesalahan besar, seolah ia bukan dokter yang mencoba menolong, melainkan seseorang yang lalai menjaga orang yang ia cintai.
***
Ruang rawat itu kembali tenang setelah dokter selesai melakukan pemeriksaan terakhir.
Suara langkah sepatu medis menjauh di lorong, meninggalkan hanya bunyi mesin monitor yang berdetak stabil di sisi tempat tidur.
Amaris tertidur, wajahnya masih pucat, tetapi tidak lagi terlihat tegang seperti saat pertama kali dibawa masuk.
Adrian berdiri di dekat jendela, bahunya sedikit bersandar pada dinding. Ia memperhatikan pantulan dirinya sendiri di kaca, tapi pikirannya tidak benar-benar berada di sana.
Dokter tadi sudah menjelaskan dengan jelas.
Tidak ada kondisi darurat pada Amaris, hanya kelelahan dan tubuh yang dipaksa bekerja lebih keras dari seharusnya.
Seharusnya ia merasa lega.
Namun justru ada rasa tidak nyaman yang tertinggal.
Ia mengingat kembali kejadian di rumah Ashford.
Suara Seraphine yang tenang. Cara wanita itu memeriksa Amaris. Cara ia mengatakan bahwa Amaris hanya membutuhkan istirahat.
Dan Adrian… tetap membawa Amaris ke rumah sakit.
Tangannya masuk ke saku celana, jemarinya mengepal pelan.
Apa aku terlalu cepat menyimpulkan?
Pikiran itu datang tanpa diundang.
Ia tidak terbiasa meragukan penilaiannya sendiri, apalagi dalam hal yang menyangkut keselamatan Amaris. Tapi entah kenapa, kali ini perasaan itu tidak hilang begitu saja.
Pintu ruang rawat terbuka tiba-tiba.
Helena masuk lebih dulu, wajahnya jelas menunjukkan kepanikan yang belum sepenuhnya reda.
Edmund menyusul di belakangnya dengan langkah cepat, ekspresi serius seperti biasa.
“Amaris?” suara Helena langsung melembut ketika melihat putrinya tertidur.
Ia mendekat, menyentuh tangan Amaris dengan hati-hati.
Adrian berdiri tegak.
“Dokter sudah memeriksa dan kondisinya stabil.”
Helena mengembuskan napas panjang.
“Syukurlah .…”
Namun Edmund tidak terlihat lega sepenuhnya. Tatapannya langsung beralih pada Adrian.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanyanya.
Adrian menjawab singkat, "Wynee kelelahan. Tekanan darahnya sempat turun.”
“Dan Seraphine?” tanya Edmund lagi.
Ada jeda singkat sebelum Adrian menjawab, “Sera yang memeriksa pertama kali.”
Alis Edmund sedikit berkerut.
“Dia bilang Amaris hanya perlu istirahat.”
Helena menoleh pada suaminya, seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi Edmund lebih dulu menghela napas panjang.
“Dia terlalu ceroboh,” katanya dingin.
“Dengan kondisi Amaris yang seperti itu, seharusnya ia tak mengambil risiko.”
Adrian tidak langsung menanggapi. Ia hanya diam, meskipun dalam hatinya ada sedikit rasa tidak setuju yang sulit dijelaskan.
Sera tidak terlihat ceroboh tadi.
Justru sebaliknya.
Namun Adrian memilih tidak mengatakan apa pun.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan.
Helena duduk di sisi ranjang Amaris, sesekali merapikan selimut putrinya. Edmund berdiri dengan tangan terlipat, masih terlihat tegang.
Di luar ruangan, langkah kaki terdengar mendekat.
Pintu terbuka pelan.
Seraphine berdiri di ambang pintu.
Jas dokternya masih melekat di tubuhnya.
Wajahnya terlihat lelah, seolah ia datang langsung tanpa sempat beristirahat. Napasnya sedikit berat, mungkin karena berjalan cepat dari area lain rumah sakit.
Tatapan di dalam ruangan langsung beralih padanya.
Untuk sesaat, tidak ada yang berbicara.
“Maaf, aku baru selesai dari ruang jaga,” ucap Seraphine pelan, mencoba terdengar biasa.
“Bagaimana keadaan Kak Amaris?”
Helena menjawab lebih dulu, “Sudah lebih baik.”
Namun Edmund melangkah maju satu langkah.
“Seharusnya dari awal Amaris dibawa ke rumah sakit.”
Nada suaranya datar, tetapi cukup tajam untuk membuat udara di ruangan berubah.
Seraphine menelan ludah pelan.
“Aku sudah memeriksanya, Dad,” jawabnya hati-hati.
“Tidak ada tanda yang berbahaya saat itu. Dia hanya kelelahan.”
“Kau yakin?” Edmund menatapnya lurus.
Seraphine mengangguk kecil.
“Iya.”
Keheningan kembali jatuh.
Adrian memperhatikan dari samping. Ia bisa melihat bagaimana bahu Seraphine sedikit menegang, tetapi wanita itu tetap berdiri tegak.
“Kau dokter, bukan?” lanjut Edmund.
“Seharusnya kau tahu kapan harus bertindak cepat.”
Seraphine membuka mulut, ingin menjelaskan, tapi Edmund melanjutkan lebih dulu.
“Kalau Adrian tidak membawanya ke sini, bagaimana kalau sesuatu terjadi padanya?”
Kalimat itu membuat Seraphine terdiam.
Ia tidak menoleh ke arah Adrian.
Tidak berani.
“Aku tidak mengabaikannya,” jawabnya pelan. “Aku hanya—”
“Kau tidak bisa diandalkan, Sera.”
Suara itu tidak keras.
Justru karena diucapkan dengan tenang, kalimat itu terasa jauh lebih menyakitkan.
Seraphine membeku.
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
Ia ingin mengatakan bahwa keputusan medisnya benar. Bahwa ia tahu kondisi Amaris. Bahwa ia bahkan meninggalkan pelatihannya hanya untuk Amaris.
Namun semua kata itu berhenti di tenggorokan.
Karena ia tahu, tidak ada yang benar-benar ingin mendengarnya.
“Iya, Dad,” jawabnya akhirnya, hampir berbisik.
Adrian memperhatikan ekspresi itu.
Untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu di wajah Seraphine yang tidak pernah ia sadari sebelumnya.
Seraphine mengangguk kecil, lalu melangkah mundur.
Ia tidak menunggu percakapan berlanjut.
Pintu tertutup perlahan di belakangnya.
Dan di lorong rumah sakit yang dingin itu, Seraphine berdiri sendirian, menatap lantai beberapa saat lebih lama dari seharusnya.
Dadanya terasa kosong.
Langkah orang-orang berlalu di sekitarnya, suara roda brankar, percakapan perawat, bunyi pintu yang terbuka dan tertutup, semuanya terdengar jauh, seolah terpisah dari dunia tempat ia berdiri sekarang.
Seraphine menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. Namun udara yang masuk terasa berat, seperti tidak benar-benar sampai ke paru-parunya.
Tangannya perlahan mengepal di sisi tubuhnya.
Ia mengingat kembali setiap detail tadi, cara ayahnya menatapnya, nada suara yang dingin, seolah ia bukan seorang dokter, bukan seseorang yang sudah berusaha sebaik mungkin, melainkan anak yang kembali membuat kesalahan.
Matanya mulai panas.
Seraphine menunduk, menggigit bibirnya pelan, berusaha menahan sesuatu yang sejak tadi menekan di dadanya.
“Kenapa… aku selalu salah di mata mereka?” bisiknya pelan.
Suaranya pecah tanpa ia sadari.
Ia tidak marah karena harus mengalah.
Sejak kecil ia sudah terbiasa dengan itu. Yang menyakitkan adalah kenyataan bahwa tak peduli seberapa keras ia berusaha, tidak ada yang benar-benar melihatnya.
Air mata pertama akhirnya jatuh tanpa bisa ia tahan.
Seraphine segera mengusapnya dengan punggung tangan, menoleh sedikit agar tidak ada orang yang melihat. Namun, semakin ia mencoba menahannya, semakin sesak dadanya terasa.
Selama ini ia selalu berpikir bahwa jika ia cukup sabar, bila suatu hari orang tuanya akan melihatnya juga. Bahwa pengorbanannya akan berarti sesuatu.
Namun lagi-lagi ia dipatahkan oleh kenyataan, nyatanya Sera tak pernah berarti di hidup mereka, termasuk juga dengan di kehidupan Adrian.