Hujan turun sejak sore, meninggalkan udara yang lembap dan jalanan yang berkilau di bawah lampu kota.
Malam belum terlalu larut, tetapi suasana sudah mulai lengang.
Orang-orang berjalan cepat, sebagian berlindung di bawah payung, sebagian lain menunggu hujan benar-benar reda sebelum melanjutkan perjalanan mereka.
Sera tidak berniat berada di tempat itu lama-lama.
Ia hanya singgah sebentar setelah menyelesaikan urusannya di rumah sakit, berniat membeli kopi sebelum pulang.
Seminggu telah berlalu sejak kejadian itu, kesalahpahaman, dan Adrian yang terkesan dingin dan penuh keraguan saat ia mencoba menjelaskan kondisi Amaris.
Sera sudah berusaha meyakinkan dirinya bahwa semuanya telah selesai. Bahwa ia tidak perlu lagi memikirkan pria itu.
Namun takdir rupanya memiliki cara lain.
Saat ia berbalik dari meja pemesanan, matanya tanpa sengaja bertemu dengan seseorang yang baru saja masuk dari pintu kaca.
Langkah Sera terhenti.
Adrian.
Pria itu tampak sama terkejutnya.
Jasnya sedikit basah di bagian bahu, rambutnya masih menyisakan tetes air hujan.
Ia jelas tidak menyangka akan bertemu Sera di tempat itu. Selama beberapa detik, keduanya hanya berdiri diam, seolah waktu mendadak melambat.
Sera adalah orang pertama yang memalingkan pandangan.
Ia berniat pergi, karena tidak ada alasan untuk tinggal.
Namun sebelum ia sempat melangkah melewati pintu, suara Adrian memanggilnya.
“Sera.”
Suara itu tidak keras, tetapi cukup membuat langkahnya berhenti.
Sera menghela napas pelan sebelum akhirnya berbalik. Ada jeda singkat sebelum Adrian mendekat, seolah ia sendiri masih ragu apakah ia berhak menghentikannya.
Adrian menatap Sera, ia tahu, kalau bukan hari ini, ia tak tahu akan meminta maaf kepada Sera kapan lagi.
“Aku tidak tahu kau ternyata di sini juga,” katanya pelan.
Sera mengangguk singkat. “Ya, aku juga tak tahu kau ada disini.”
Adrian terlihat ingin mengatakan sesuatu, tapi beberapa kali mengurungkan niatnya.
Untuk seseorang yang biasanya selalu tahu harus berkata apa, ia tampak kehilangan arah.
“Aku .…” Adrian berhenti sejenak, menarik napas dalam. “Boleh berbicara denganmu sebentar?”
Sera tidak menjawab langsung. Ia menimbang dalam diam, lalu akhirnya mengangguk kecil.
Mereka berpindah sedikit menjauh dari antrean, berdiri di dekat jendela kaca yang memperlihatkan jalanan basah di luar.
Adrian tidak langsung berbicara. Ia menatap keluar sejenak, seolah mencari keberanian dari sesuatu yang tidak terlihat.
“Aku sebenarnya sudah lama ingin bicara sejak beberapa hari sejak kejadian itu,” katanya akhirnya.
“Tapi aku pikir kau mungkin tidak ingin menemuiku.”
Sera terdiam, ia tahu apa yang Adrian maksud.
“Aku minta maaf.”
Kalimat itu keluar begitu saja, tanpa pembuka panjang.
“Aku seharusnya mempercayaimu mengenai kondisi Wynee.”
Wynee? terdengar miris, ketika Adrian memanggil namanya tapi orang yang ia maksud adalah Amaris.
Perkataan Adrian juga mengingatkannya pada kejadian saat itu dimana wajah Amaris yang pucat, kepanikan di ruang perawatan, dan tatapan Adrian yang saat itu penuh keraguan padanya.
“Saat itu aku begitu panik,” lanjut Adrian pelan.
“Aku takut kehilangannya. Dan ketika ada kemungkinan lain yang terdengar lebih… menenangkan, aku memilih mempercayainya.”
Ia menunduk sesaat sebelum kembali menatap Sera.
Sera menggenggam gelas kopinya sedikit lebih erat. Uap hangat yang naik dari permukaannya kontras dengan dinginnya perasaan yang sempat ia rasakan seminggu lalu.
“Amaris saat ini sudah jauh lebih baik,” kata Adrian kemudian, suaranya melembut.
Sera mengangguk kecil, dan Adrian menangkap kelegaan yang tidak sempat disembunyikan di wajahnya.
Adrian tersenyum tipis, senyum yang lebih penuh rasa bersalah daripada bahagia.
Tatapan mereka bertemu lagi, kali ini tanpa ketegangan yang sama seperti sebelumnya.
“Aku tidak berharap kau langsung memaafkanku,” lanjut Adrian.
“Aku hanya tidak ingin kau berpikir aku tidak menghargai apa yang kau lakukan.”
Sera terdiam cukup lama.
“Aku mengerti, jangan meminta maaf,” katanya akhirnya.
"Aku tahu saat itu kau begitu mengkhawatirkannya ...."
Adrian menatap Sera dimana tatapannya begitu teduh.
"Kalau begitu aku harus pergi," kata Sera, ia tak bisa berlama-lama dengan Adrian, karena rasanya benar-benar menyiksanya.
Ketika ia ingin sekali Adrian mengingatnya, tapi pria itu hanya menganggap dirinya sebagai sosok asing.
"Next time, bagaimana dengan makan siang bersama denganku sebagai permintaan maafku?"
Sera terdiam, tentu saja jantungnya berpacu dengan cepat, tapi Sera memilih untuk tak menjawabnya dan memilih untuk pergi.
Sera mendorong pintu kaca kafe pelan.
Udara dingin langsung menyambut wajahnya. Gerimis masih turun tipis, cukup untuk membuat jalanan basah dan udara terasa lembap. Lampu jalan memantul di aspal, menciptakan kilau samar yang membuat malam terasa lebih sunyi dari biasanya.
Ia berhenti di bawah kanopi, memandang ke arah halte di seberang jalan.
Tidak terlalu jauh.
Biasanya ia akan langsung berjalan tanpa berpikir dua kali.
Sera menarik napas pelan.
Hanya sebentar, pikirnya.
Baru saja ia hendak melangkah, suara di belakangnya memanggil.
“Sera.”
Langkahnya berhenti.
Ia menutup mata sesaat sebelum berbalik.
Adrian berdiri beberapa langkah darinya, jasnya sedikit basah di bagian bahu, rambutnya masih menyisakan tetesan air hujan. Ia terlihat seperti baru keluar terburu-buru.
“Kau mau pulang?” tanyanya.
Sera mengangguk kecil.
“Iya.”
“Hujannya belum berhenti,” ujar Adrian sambil menoleh ke langit. “Kau mau jalan kaki?”
“Halte dekat,” jawab Sera singkat. “Tidak masalah.”
Adrian menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya.
“Kau selalu bilang tidak masalah,” katanya pelan.
Sera sedikit mengernyit.
“Maksudmu?”
“Entahlah,” Adrian mengangkat bahu kecil. “Setiap kali aku bertanya, jawabannya selalu sama.”
Sera tersenyum tipis, tapi tidak benar-benar sampai ke matanya.
“Karena ini memang tidak masalah untukku.”
Gerimis mulai sedikit membesar. Angin membawa percikan air hingga mengenai lengan Sera. Ia refleks memeluk tasnya lebih erat.
Adrian memperhatikan itu.
“Aku bisa mengantarmu,” katanya tiba-tiba.
Sera langsung menggeleng.
“Tidak perlu. Aku bisa sendiri.”
“Aku tahu,” jawab Adrian cepat. “Aku tidak bilang kau tidak bisa.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan lebih pelan,
“Aku hanya… tidak ingin kau kehujanan.”
Sera terdiam.
Nada suara itu tidak terdengar seperti basa-basi. Justru terlalu tulus, membuatnya sedikit kehilangan jawaban.
“Rumahmu searah dengan jalan pulangku,” lanjut Adrian, mencoba terdengar santai.
Sera menatap jalanan sebentar, lalu kembali padanya.
“Apa ini masih bagian dari permintaan maafmu?” tanyanya pelan.
Adrian tersenyum tipis.
“Mungkin.”
Jeda singkat muncul di antara mereka.
Suara hujan menjadi satu-satunya yang terdengar.
“Aku tidak ingin kau merasa bersalah terus,” kata Sera akhirnya. “Aku sudah bilang tidak apa-apa.”
“Aku tahu,” jawab Adrian. “Tapi tetap saja… rasanya tidak benar kalau aku membiarkannya begitu saja.”
Sera menunduk sedikit, menggenggam gelas kopinya yang mulai mendingin.
Kenapa harus bersikap baik sekarang… batinnya.
Ia justru berharap Adrian tetap dingin seperti sebelumnya. Akan jauh lebih mudah untuk menjaga jarak.
Namun pria itu berdiri di sana, menunggu tanpa memaksa.
Akhirnya Sera menghela napas pelan.
“…Baik,” katanya lirih. “Kalau memang tidak merepotkan.”
Ekspresi Adrian sedikit melunak.
“Tidak sama sekali.”
Mereka berjalan berdampingan menuju mobil. Jarak di antara mereka tidak terlalu dekat, tapi juga tidak benar-benar jauh.
Beberapa langkah berlalu dalam diam sebelum Adrian kembali berbicara.
“Kau sering pulang sendirian seperti ini?”
Sera mengangguk.
“Sejak dulu.”
“Tidak melelahkan?”
Sera tersenyum kecil.
“Kalau sudah terbiasa, tidak terasa apa-apa.”
Adrian tidak langsung menjawab. Ia hanya membuka pintu mobil untuknya.
“Kau terlalu sering mengatakan itu,” gumamnya pelan.
Sera berhenti sesaat sebelum masuk.
“Apa?”
Adrian menggeleng.
“Tidak apa-apa.”
Sera masuk ke dalam mobil, sementara Adrian menutup pintu pelan. Hujan masih turun di luar, suara tetesannya mengenai atap mobil terdengar lembut.
Saat Adrian duduk di kursi pengemudi, keheningan kembali muncul.
Namun kali ini bukan keheningan yang canggung.
Lebih seperti dua orang yang sama-sama menyadari ada sesuatu yang ingin dikatakan, tetapi belum siap untuk mengucapkannya.
Sera menatap keluar jendela.
Kenapa rasanya seperti kembali ke masa lalu… pikirnya pelan.
Dan di luar sana, hujan terus turun, seolah memberi mereka alasan untuk tetap berada di perjalanan yang sama sedikit lebih lama dari yang seharusnya.
***
Mobil mulai bergerak perlahan meninggalkan area parkir.
Wiper bergerak teratur di kaca depan, menyapu rintik hujan yang terus turun tanpa benar-benar deras.
Suasana di dalam mobil hangat, kontras dengan dinginnya malam di luar.
Sera duduk di kursi penumpang, kedua tangannya masih menggenggam gelas kopi yang mulai kehilangan uapnya.
Ia tidak langsung berbicara. Tatapannya tertuju keluar jendela, mengikuti garis lampu jalan yang memanjang di aspal basah.
Keheningan itu tidak terasa canggung, tapi juga tidak sepenuhnya nyaman.
Adrian sesekali melirik ke arahnya, tanpa benar-benar berniat terlihat memperhatikan.
Beberapa menit berlalu sebelum mobil berhenti di lampu merah.
Sera tiba-tiba menghela napas pelan, lalu meniup permukaan kopinya sebelum menyesap sedikit. Wajahnya sedikit meringis.
“Masih panas?” tanya Adrian tanpa sadar.
Sera mengangguk kecil.
“Iya. Aku selalu lupa kalau kopi di sini begitu panas.”
Ia meniupnya lagi, kali ini lebih hati-hati, lalu tersenyum kecil pada dirinya sendiri.
Gerakan sederhana itu membuat Adrian terdiam sesaat.
Aneh.
Ada sesuatu yang terasa sangat familiar.
Ingatan lama muncul begitu saja, ketika seorang gadis kecil yang duduk di sampingnya di bangku taman, meniup minuman hangatnya dengan wajah serius, lalu berkata bahwa lidah terbakar itu menyebalkan.
Adrian mengerutkan kening pelan.
Sera tidak menyadari tatapannya. Ia justru membuka tutup gelas sedikit, lalu berkata ringan, hampir seperti kebiasaan lama yang keluar tanpa sadar.
“Kau juga jangan minum sesuatu yang masih terlalu panas. Luka di dalam itu lebih lama sembuhnya.”
Kalimat itu sederhana. Nada suaranya juga biasa saja.
Namun tangan Adrian yang memegang setir sedikit menegang.
Kalimat itu…
Ia pernah mendengarnya.
Persis seperti apa yang Wynee kecilnya selalu katakan padanya ketika ia terburu-buru memakan makanan panas atau minuman panas.
Lampu berubah hijau, mobil kembali berjalan. Adrian memaksakan dirinya fokus ke jalan, meski pikirannya sempat tertahan beberapa detik lebih lama dari seharusnya.
Beberapa saat kemudian, mobil melewati jalan yang sedikit berlubang. Guncangannya kecil, tapi cukup membuat Sera refleks memegang dashboard.
“Maaf,” kata Adrian pelan. “Jalannya tidak begitu bagus.”
Sera menggeleng.
“Tidak apa-apa ....”
Namun tetap saja, ketika mobil melaju di bawah hujan malam itu, Adrian tidak bisa mengabaikan satu hal, setiap gerakan kecil Seraphine terasa familiar untuk sekadar kebetulan.
"Kenapa Wynee ku terlihat mirip denganmu, Sera?" ucap batin Adrian