Kecupan Menyakitkan

1090 Kata
Mobil berhenti tepat di depan rumah Ashford. Sera membuka sabuk pengamannya, berniat segera turun sebelum suasana menjadi terlalu canggung. “Terima kasih sudah mengantar,” katanya pelan. Adrian mengangguk singkat, tetapi tidak langsung menyalakan mesin kembali. Tangannya masih bertumpu di setir, seolah ada sesuatu yang belum selesai ia katakan. “Sera.” Sera menoleh. Adrian tampak ragu. Untuk pertama kalinya sejak Sera mengenalnya kembali, pria itu terlihat tidak sepenuhnya yakin pada kata-katanya sendiri. “Aku tahu permintaan maafku itu masih belum cukup." Sera tidak langsung menjawab. Ia hanya menunggu. “Kalau kau tidak keberatan… bagaimana kalau kita makan malam bersama?” Sera menatap Adrian, jadi pria itu masih ingin makan malam bersamanya? “Makan malam?” ulangnya pelan. “Hanya makan malam,” Adrian buru-buru menambahkan. Sera menatap ke depan, bukan ke arahnya. Ada jeda panjang. Bagian dari dirinya ingin menolak. Akan jauh lebih mudah menjaga jarak. Lebih aman untuk tidak membuka kembali sesuatu yang telah ia kubur itu. Namun bagian lain dari dirinya, bagian yang masih mengingat kenangan lama mereka, perasaannya yang tak pernah bisa Sera hilangkan, tidak bisa langsung mengatakan tidak. “Aku sibuk,” jawabnya akhirnya pelan. Adrian mengangguk, tidak memaksa. “Aku tahu. Ketika kau memiliki waktu saja," Sera menghela napas kecil. Entah kenapa, ia merasa jika menolak sekarang, ia akan terus memikirkannya. “Baiklah,” katanya akhirnya, hampir seperti berbisik. “Kalau jadwalku tidak terlalu sibuk.” Dan hari ini adalah waktunya. Sera mendapati dirinya berdiri di depan cermin kamar. Gaun yang ia kenakan sederhana, potongannya lembut tanpa berlebihan. Riasan wajahnya tipis, hanya menonjolkan garis alami wajahnya. Rambutnya dibiarkan jatuh rapi di bahu. Sera menghembuskan napas pelan. Ini hanya makan malam, katanya dalam hati, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Ia pun kemudian mengambil tas kecilnya, lalu keluar dari kamar. Langkahnya menuruni tangga terdengar pelan di rumah yang malam itu terasa terlalu sunyi. Lampu ruang tengah masih menyala, dan Edmund duduk di sofa sambil membaca dokumen di tangannya. Ayahnya mengangkat kepala begitu mendengar langkah kaki. Tatapannya berhenti beberapa detik lebih lama dari biasanya ketika melihat Seraphine yang sudah rapi. “Kau mau pergi?” tanyanya. Sera mengangguk kecil. “Iya, Dad. Ada makan malam di luar. Mungkin aku pulangnya agak terlambat.” Edmund tidak langsung menjawab. Tatapannya turun sekilas, memperhatikan penampilan putrinya, sebelum kembali pada wajahnya. “Jangan terlalu lelah,” katanya datar. “Kondisi tubuhmu harus dijaga.” Sera mengangguk. “Iya.” Namun Edmund melanjutkan, nada suaranya tetap tenang, seolah hanya mengingatkan hal biasa. “Kau tahu sendiri, apa yang membuat Amaris tetap bertahan sampai sekarang.” Kalimat itu jatuh pelan, tapi cukup membuat langkah Sera terhenti. Darah? tentu saja, Sera tahu Sera tertegun, dadanya seketika terasa sedikit sesak. Bahkan di saat seperti ini. Bahkan ketika ia hanya ingin keluar sebentar sebagai dirinya sendiri. Edmund sudah kembali menunduk pada dokumennya, seolah kalimat itu tidak memiliki makna lebih. “Jadi jangan melakukan hal yang membuat kondisimu menurun,” lanjutnya. “Kita tidak tahu kapan Amaris akan membutuhkannya lagi.” Sera menelan ludah pelan. “Iya, Dad,” jawabnya begitu pelan. Ia sempat berpikir, jika ayahnya tahu ia akan makan malam bersama Adrian, apakah suasananya akan tetap setenang ini? Atau justru sebaliknya. Edmund kembali berbicara sebelum Sera sempat melangkah pergi. “Dan Sera.” Sera menoleh. Ayahnya menatapnya lurus kali ini. “Jaga sikapmu di luar.” Nada suaranya halus, tetapi ada sesuatu di dalamnya yang terasa seperti peringatan. “Tidak semua hal perlu dibicarakan,” lanjut Edmund. “Ada hal-hal yang lebih baik tetap seperti sekarang.” Sera mengernyit kecil, tidak sepenuhnya mengerti maksudnya. Namun ada perasaan tidak nyaman yang tiba-tiba muncul di dadanya. Seolah ayahnya sedang mengingatkan sesuatu yang tidak diucapkan secara langsung. “Iya,” jawabnya pelan. Ia tidak bertanya lebih jauh. Sera hanya mengangguk kecil, lalu berjalan menuju pintu utama. Udara malam menyambutnya begitu ia melangkah keluar. Untuk sesaat ia berhenti, menarik napas panjang, mencoba menyingkirkan perasaan berat yang kembali menempel di dadanya. *** Mobil berhenti tepat di depan restoran yang alamatnya dikirim Adrian beberapa jam sebelumnya. Sera turun perlahan, menutup pintu mobil dengan hati-hati. Udara malam terasa lebih hangat dibanding beberapa hari terakhir, tapi telapak tangannya tetap dingin. Ia mengangkat pandangan ke bangunan di depannya. Restoran itu tidak mencolok dari luar. Tidak ada lampu berlebihan atau papan nama besar. Hanya fasad kaca tinggi dengan pencahayaan lembut dari dalam, memberikan kesan tenang dan eksklusif. Sera menarik napas pelan. Tenangkan dirimu, Sera. Ia kembali mengingatkan dirinya sendiri. Begitu pintu kaca terbuka, suasana di dalam langsung menyambutnya. Musik piano mengalun pelan, hampir seperti bisikan. Cahaya lampu kuning hangat jatuh lembut di setiap meja, menciptakan jarak yang nyaman antar pengunjung. Tidak banyak orang di sana. Beberapa pasangan duduk berbicara pelan, seorang pelayan berjalan tanpa suara, dan aroma makanan yang lembut memenuhi udara tanpa terasa berlebihan. Sera melangkah lebih dalam, tumit heelsnya berbunyi pelan di lantai marmer. Ia sempat melihat sekeliling, mencari sosok yang ia kenal. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Mungkin karena gugup. Atau mungkin karena ia tahu, pertemuan ini seharusnya tidak terasa sepenting ini. Seorang pelayan mendekat hendak menyapa, tapi langkah Sera terhenti lebih dulu. Di sudut ruangan, tidak terlalu jauh dari jendela, lebih tepatnya ruang yang memang terpisah dari meja-meja disini, ada dua sosok yang ia kenal. Awalnya ia hanya melihat punggung pria itu. Postur tinggi, bahu tegap, jas gelap yang terlalu familiar untuk disalahartikan. Adrian. Sera hampir tersenyum kecil, mengira ia datang tepat waktu. Namun langkahnya berhenti sebelum sempat bergerak lagi. Karena wanita yang berdiri di hadapan Adrian ternyata adalah Amaris. Sera membeku di tempatnya. Segalanya seperti melambat. Ia melihat bagaimana Amaris berdiri begitu dekat, tangan kakaknya itu menggenggam bagian depan jas Adrian seolah mencari keseimbangan. Adrian menunduk sedikit, mengatakan sesuatu yang tidak terdengar dari jarak itu. Lalu, tanpa peringatan, Amaris menariknya lebih dekat. Bibir mereka bertemu dan itu membuat dunia di sekitar Sera terasa sunyi. Suara piano seolah menjauh. Percakapan di meja lain menghilang. Yang tersisa hanya detak jantungnya sendiri yang tiba-tiba terasa terlalu keras di telinganya. Sera tidak bergerak. Tidak maju, tidak juga mundur. Tangannya perlahan mengepal di sisi tubuhnya, sementara napasnya tertahan tanpa ia sadari. Pandangan Sera jatuh pada wajah Adrian yang masih berdiri dekat dengan Amaris, ekspresinya tidak terlihat jelas dari tempatnya berdiri. Dadanya terasa kosong. Bukan sakit yang begitu menyayat hatinya. Sera menelan ludah pelan. Dan untuk pertama kalinya malam itu, ia berharap tidak pernah datang ke tempat ini. Di saat yang sama, di sudut ruangan itu, Amaris membuka mata lebih dulu. Tatapannya bergerak melewati bahu Adrian. Dan berhenti. Tepat pada sosok Seraphine yang berdiri membeku beberapa meter dari mereka. Senyum di bibir Amaris perlahan memudar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN