Bersalah

1325 Kata
Adrian mengikuti arah pandang Amaris. Dan saat ia menoleh, tubuhnya langsung menegang. Seraphine berdiri di sana. Beberapa meter dari mereka, dengan wajah yang tampak tenang, meskipun kenyataannya tidak sama sekali. Untuk sesaat, Adrian tidak bergerak. Ekspresinya berubah, terkejut, lalu kikuk, lalu sesuatu yang menyerupai rasa bersalah melintas cepat di wajahnya. “Sera …,” panggilnya pelan. Sera ingin berbalik. Ingin pergi sebelum semuanya menjadi lebih canggung dari ini. Namun kakinya seperti tertahan di lantai. Sera terlambat untuk berpura-pura tidak melihat apa pun. Ia menarik napas pelan, memaksa dirinya untuk berjalan mendekat. Setiap langkahnya terasa berat. Semakin dekat, semakin jelas jejak lipstik merah muda di sudut bibir Adrian. Adrian tersadar, refleks mengusapnya dengan ibu jari, lalu mengambil serbet di meja dan membersihkannya dengan gerakan canggung. “Aku… tidak menyangka kau sudah datang,” katanya, suaranya sedikit lebih rendah dari biasanya. Sera hanya mengangguk kecil. Tatapannya sempat berhenti pada Amaris, lalu kembali pada Adrian. Kalau tahu seperti ini, mungkin ia tidak akan datang. Mungkin ia tidak akan menerima tawaran makan malam itu sejak awal. Dadanya terasa nyeri, bukan karena cemburu, melainkan karena kenyataan yang terus berulang. Sesuatu yang seharusnya menjadi miliknya selalu berakhir di tangan orang lain. Dan kali ini… Adrian. Pria yang dulu berjanji akan menikahinya saat mereka masih kecil, kini berdiri di samping kakaknya. Amaris tersenyum tipis, tapi senyum itu tidak sampai ke matanya. “Kau sudah datang,” katanya lembut, terlalu lembut. “Kami baru saja sampai.” Nada suaranya terdengar wajar. Tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat Sera tahu, kehadirannya tidak diharapkan. Beberapa jam sebelumnya. Amaris tampak memasang wajah marahnya kepada Adrian. “Aku tidak suka.” Suara Amaris terdengar pelan, tapi jelas menahan emosi. Adrian yang sedang mengenakan jasnya berhenti sejenak. “Ini hanya makan malam, Wynee.” “Dengan Seraphine,” jawab Amaris cepat. Adrian menghela napas pelan, mencoba tetap tenang. “Aku sudah bilang, ini hanya permintaan maaf. Tidak lebih.” Amaris menatapnya lama. “Kenapa harus berdua?” “Kau tahu situasinya waktu itu,” lanjut Adrian. “Aku memperlakukannya tidak adil. Menyalahkannya sementara dia mencoba menyelamatkanmu, aku hanya ingin memperbaikinya.” Amaris menunduk, jemarinya saling menggenggam. “Aku hanya… tidak nyaman,” katanya lirih. “Aku tahu dia adikku. Tapi tetap saja .…” Ia berhenti, menarik napas pelan. “Aku takut ...." Adrian mengernyit. “Takut apa?” Amaris mengangkat wajahnya, mata yang sedikit berkaca-kaca membuat Adrian otomatis melunak. “Aku takut kau merasa lebih nyaman dengannya.” Keheningan jatuh diantara mereka. Adrian menghela napas pelan. “Wynee, jangan berpikir seperti itu.” “Kalau begitu… biarkan aku ikut,” kata Amaris pelan. Adrian terdiam. Ia tahu seharusnya menolak. Ia tahu makan malam itu kehilangan maknanya jika Amaris ikut. Namun melihat wajah pucat Amaris, dan mengingat kondisinya, kata penolakan itu tidak pernah benar-benar keluar. “…Baik,” jawabnya akhirnya. Dan keputusan itulah yang membawa mereka ke malam ini. Kini mereka sudah duduk di meja yang sama. Sera duduk berhadapan dengan Amaris, sementara Adrian berada di samping kakaknya. Jarak itu terasa terlalu jelas. Pelayan datang mengambil pesanan, menyelamatkan mereka dari keheningan yang tidak nyaman. “Kau terlihat berbeda malam ini,” ujar Adrian akhirnya, mencoba mencairkan suasana. Sera tersenyum tipis. “Mungkin, karena aku tidak memakai jas dokter.” Amaris tersenyum kecil. “Jarang sekali melihatmu seperti ini, Sera. Biasanya kau selalu sibuk.” Nada itu terdengar ringan, tapi Sera menangkap sindiran halus di dalamnya. “Aku juga manusia,” jawab Sera tenang. Adrian menatap mereka bergantian, merasa suasana tidak sepenuhnya normal. “Aku sebenarnya ingin membicarakan—” “Adrian,” potong Amaris lembut, menyentuh lengannya. “Aku ingin air putih.” Adrian langsung berdiri. “Aku ambilkan.” “Aku saja—” Sera hendak berdiri. “Tidak apa-apa,” kata Adrian cepat. “Sekalian aku ingin ke toilet.” Kemudian ia pun pergi, meninggalkan dua saudari itu dalam keheningan yang langsung berubah suhu. Senyum Amaris menghilang. Tatapannya pada Sera menjadi dingin. “Kau tidak seharusnya datang,” katanya pelan. Sera tidak langsung menjawab. “Ini makan malamku dengan kekasihku,” lanjut Amaris. “Kau tahu itu, kan?” Sera menatap Amaris dengan tenang. “Aku datang karena dia ingin meminta maaf,” jawabnya pelan. “Tidak lebih.” Amaris tersenyum tipis, tapi jelas tidak senang. “Kau selalu pandai membuat alasan.” Sera menghela napas kecil. Entahlah, Sers merasa kesabarannya sudah sangat menipis, ia lelah harus mengalah terus menerus atau bahkan bersikap diam saja. “Kalau begitu, Kak… mungkin kau juga tidak seharusnya mengambil sesuatu yang bukan milikmu.” Amaris membeku. Kalimat itu jatuh pelan, tetapi dampaknya terasa jelas. Matanya langsung terangkat menatap Seraphine. Untuk sepersekian detik, ekspresi rapuh yang selama ini ia kenakan runtuh begitu saja. Ada keterkejutan yang nyata di sana, bukan karena ia tidak mengerti maksudnya, melainkan karena ia tidak menyangka Sera akan mengatakannya secara langsung. “Apa maksudmu?” suara Amaris turun, nyaris berbisik. Sera tidak menjawab dengan cepat. Tatapannya tetap tenang. “Termasuk identitasku.” Dada Amaris naik turun lebih cepat. Jemarinya yang berada di atas meja perlahan menegang. Warna wajahnya yang memang pucat berubah semakin putih, bukan sepenuhnya karena akting, tekanan emosi dan kondisi tubuhnya yang belum stabil membuat napasnya mulai tidak teratur. “Kau—” Amaris berhenti, menelan kata-katanya sendiri. Suara langkah kaki terdengar mendekat dari arah belakang. Adrian kembali. Dalam satu detik, Amaris memalingkan wajah. Ia menarik napas pendek, mencoba menenangkan dirinya, tetapi tubuhnya memang tidak sekuat itu. Detak jantungnya yang meningkat membuat kepalanya terasa sakit. Tangannya refleks mencengkeram tepi meja. Pandangan Amaris sedikit berkunang-kunang. “Akh…” napasnya terputus pelan. Adrian langsung menangkap perubahan itu. “Wynee?” Ia segera mendekat, memegang bahu Amaris. “Kau kenapa?” “Aku… sedikit pusing,” jawab Amaris pelan. Suaranya terdengar lemah, kali ini bukan sepenuhnya dibuat-buat. Tubuhnya memang kehilangan tenaga setelah emosinya terpancing. Sera otomatis berdiri. “Kak, duduk saja dulu—” “Tidak,” bisik Amaris cepat tanpa menoleh, cukup pelan hanya agar Sera yang mendengar. Nada suaranya tajam, berbeda dari ekspresi lemahnya. Adrian menoleh ke arah Sera, alisnya berkerut. “Apa yang terjadi?” Sera menggeleng pelan. “Aku tidak melakukan apa pun.” Amaris menghela napas pendek, kepalanya sedikit bersandar pada bahu Adrian. “Aku tidak apa-apa… mungkin aku lelah,” katanya lirih, tetapi tangannya mencengkeram lengan Adrian lebih erat dari yang diperlukan. Adrian jelas tidak tenang. “Kau pucat sekali. Kita ke rumah sakit saja.” “Tidak perlu,” sela Sera refleks, nada profesionalnya muncul. “Ini kemungkinan hanya penurunan tekanan darah. Kak Amaris belum sepenuhnya pulih, dan—” “Aku tahu kondisinya,” potong Adrian, suaranya lebih keras dari yang ia sadari. Sera terdiam. Tatapan Adrian berubah dingin, penuh kekhawatiran yang bercampur emosi. “Tadi kalian bicara apa?” tanyanya lagi, kali ini lebih menekan. Sera menatapnya lurus. “Tidak ada yang membuatnya seperti ini.” Namun Amaris memejamkan mata, menarik napas panjang seolah menahan sakit. “Aku hanya… sedikit kaget,” katanya pelan. Kalimat itu menggantung. Tidak ada tuduhan langsung, tetapi cukup untuk membuat suasana berubah. Adrian menatap Sera lagi, rahangnya menegang. “Kita pulang,” katanya akhirnya pada Amaris. Ia membantu Amaris berdiri dengan hati-hati. Amaris bersandar padanya tanpa menolak, wajahnya masih pucat. Sera berdiri di tempatnya, tidak bergerak. “Aku benar-benar tidak—” ia mencoba menjelaskan. Namun Adrian sudah lebih dulu memalingkan wajah. “Diamlah.” Kalimat itu tidak keras, tetapi cukup membuat Sera berhenti berbicara. Beberapa detik kemudian, mereka pergi. Langkah mereka menjauh, meninggalkan Sera sendirian di tengah restoran yang kembali dipenuhi suara pelan dan musik piano yang seolah tidak pernah berhenti. Sera menatap meja kosong di depannya. Tangannya mengepal tanpa sadar, kuku menekan telapak tangannya sendiri sampai terasa perih. Ia tertawa kecil, lirih. “Tentu saja kau tidak akan mendengarkan ku .…” Dadanya terasa sesak, bukan karena marah, melainkan karena lelah. Sekali lagi, ia menjadi orang yang salah bahkan ketika ia tidak melakukan apa pun. Dan kali ini, yang memilih untuk tidak mempercayainya adalah orang yang dulu membuatnya merasa tidak sendirian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN