Ragu

1130 Kata
Malam itu berakhir tanpa benar-benar selesai. Adrian baru menyadarinya ketika mobil yang ia kendarai berhenti di depan rumah Ashford. Mesin sudah mati, tetapi tangannya masih berada di setir, tidak bergerak. Amaris sudah lebih dulu masuk ke dalam, dibantu pelayan. Dokter pribadi keluarga sudah memastikan kondisinya stabil. Tidak ada yang serius, hanya kelelahan dan tekanan emosi. Seharusnya itu membuat Adrian lega. Namun anehnya, yang terus teringat justru bukan wajah pucat Amaris. Melainkan ekspresi Seraphine ketika ia berdiri di restoran itu. Adrian mengembuskan napas panjang, menyandarkan kepala ke kursi. “Apa sebenarnya yang terjadi tadi …,” gumamnya pelan. Ia mengingat kembali percakapan singkat itu. Cara Seraphine menjawab. Cara ia mencoba menjelaskan, tapi ia sendiri yang menghentikannya. Diamlah. Kata itu kembali terngiang di kepalanya. Rahang Adrian menegang. Ia tidak terbiasa bersikap seperti itu. Terlebih pada seseorang yang tidak melakukan kesalahan secara jelas. Namun saat itu ia panik. Dan setiap kali menyangkut Amaris, pikirannya selalu bergerak lebih cepat dari logika. Ia mengusap wajahnya kasar. “Seharusnya aku mendengarnya dulu,” gumamnya lirih. Tetapi pengakuan itu hanya bertahan beberapa detik sebelum ia menggeleng pelan, seolah menolak perasaannya sendiri. Ia keluar dari mobil dan masuk ke rumah tanpa berkata apa-apa lagi. *** Di sisi lain kota, malam terasa jauh lebih panjang bagi Seraphine. Ia pulang tanpa benar-benar mengingat perjalanan pulangnya sendiri. Gaun yang tadi terasa indah kini terasa berat di tubuhnya. Sepatu heels dilepas begitu saja di depan pintu kamar. Ia bahkan tidak menyalakan lampu utama, hanya duduk di tepi ranjang dalam gelap. Sunyi. Tidak ada pesan. Tidak ada penjelasan. Sera tertawa kecil pada dirinya sendiri. “Aku memang bodoh,” bisiknya pelan. Ia sudah tahu sejak awal. Sudah tahu bagaimana akhir cerita seperti ini biasanya berjalan. Namun tetap saja ia datang. Tetap saja berharap. Tangannya perlahan menyentuh dadanya sendiri, seolah ingin menenangkan detak jantung yang terasa sakit. “Kenapa aku masih terus berharap …,” gumamnya lirih. Air mata akhirnya jatuh, tanpa suara. Ia tidak menangis keras. Hanya diam, membiarkan air mata mengalir begitu saja, seperti sesuatu yang terlalu lama ditahan akhirnya menemukan jalan keluar. Malam itu, Seraphine tertidur dalam keadaan lelah, bukan karena tubuhnya, tetapi karena perasaannya sendiri. **** Keesokan harinya, rumah Ashford kembali seperti biasanya. Tenang. Teratur. Hampir terlalu tenang, seolah malam sebelumnya tidak pernah terjadi. Para pelayan berlalu-lalang seperti biasa. Suara peralatan makan terdengar samar dari dapur. Semua berjalan normal. Hanya saja, bagi Adrian, ada sesuatu yang terasa sedikit berbeda. Ia datang menjelang sore, seperti yang belakangan ini sering ia lakukan. Bahkan tanpa perlu berpikir, mobilnya sudah berhenti di halaman rumah itu, seolah tubuhnya sendiri sudah hafal arah. Begitu turun dari mobil, pandangannya langsung menangkap sosok di halaman belakang. Seraphine. Ia berdiri di dekat taman kecil, berbicara dengan salah satu pelayan sambil memegang beberapa berkas. Rambutnya diikat sederhana, tanpa riasan seperti biasanya saat ia pulang dari rumah sakit. Pakaian yang dikenakannya juga santai, jauh dari kesan formal yang biasa ia lihat. Sederhana. Tapi justru itu yang membuat Adrian berhenti melangkah. Adrian tidak sadar sudah memperhatikannya lebih lama dari seharusnya sampai pelayan itu pamit dan pergi meninggalkan Seraphine sendirian. Barulah Seraphine menyadari keberadaannya. Tatapan mereka bertemu. Sera mengangguk kecil. Tidak ada senyum canggung seperti biasanya. Tidak ada usaha mencairkan suasana. Dan entah kenapa, hal sederhana itu membuat d**a Adrian terasa sedikit tidak nyaman. Ia berjalan mendekat. “Sera.” Seraphine menoleh sepenuhnya. “Iya?” Nada suaranya tenang. Profesional. Hampir sama seperti saat ia berbicara dengan pasien. Adrian mendadak lupa apa yang ingin ia katakan. Ia tidak terbiasa merasa canggung, apalagi hanya untuk memulai percakapan sederhana. “Kemarin .…” ia berhenti sebentar, menghela napas pelan. “Tentang semalam.” Seraphine tersenyum tipis. Senyum yang sopan, tapi tidak benar-benar hangat. “Tidak apa-apa," jawab Seraphine cepat. Seolah ia sudah menyiapkan kalimat itu sejak awal. “Aku tidak bermaksud membuatmu—” “Aku tahu,” potong Sera pelan, masih dengan nada yang sama. “Kau hanya khawatir pada Kak Amaris.” Kalimat itu terdengar normal. Tapi justru karena itu, Adrian merasa semakin tidak nyaman. Tidak ada nada menyalahkan di sana. Tidak ada emosi yang bisa ia tanggapi. Hanya penerimaan. Dan penerimaan seperti itu terasa lebih berat daripada kemarahan. Adrian menatapnya beberapa detik lebih lama. “Aku seharusnya mendengarkanmu,” katanya akhirnya, jujur. Seraphine tidak menjawab. Ia menunduk sebentar, seolah memikirkan sesuatu, lalu mengangguk kecil. Adrian menghembuskan napas pelan, mengusap tengkuknya. “Aku tidak ingin hubungan kita jadi aneh,” katanya, sedikit ragu dengan pilihan katanya sendiri. Seraphine hampir tertawa mendengarnya. Hubungan? Ia menahan reaksi itu, hanya menatap Adrian beberapa saat sebelum menjawab. “Kita baik-baik saja," jawaban yang ringan. Ia mengangguk pelan, meskipun perasaan ganjil itu tidak hilang. Justru semakin jelas. Seraphine berdiri di depannya, masih sama seperti sebelumnya, tenang, sopan, tidak pernah menyulitkan siapa pun. "Maksudku, kau adalah adik kekasihku, aku hanya tidak ingin memiliki masalah denganmu." Adrian benar-benar tak tahu rasa sakit yang ia rasakan, kenapa ia harus mengatakan itu? Percakapan mereka sempat berhenti ketika angin berembus pelan melewati halaman belakang. Daun-daun bergesekan halus, mengisi jeda di antara mereka. Tanpa sadar, perhatian Seraphine jatuh pada sesuatu di leher Adrian. Rantai tipis itu bergeser saat pria itu mengubah posisi berdiri. Ujungnya muncul dari balik kerah kemeja, sebuah gelang lama yang kini dijadikan liontin. Gelang itu sederhana. Warnanya sudah memudar, bagian kaitnya tampak pernah diperbaiki. Benda kecil yang jelas disimpan bukan karena nilainya, melainkan karena kenangan yang melekat padanya. Tatapan Seraphine tertahan beberapa detik. Adrian mengikuti arah pandangnya, lalu menyentuh gelang itu secara refleks. “Kau melihat ini?” tanyanya ringan. Sera sedikit tersentak, lalu menggeleng pelan. “Maaf… hanya terasa familiar," ucap Sera tanpa sadar. Adrian mengangkat gelang itu sedikit, memperhatikannya sejenak sebelum menjawab, “Ini kenangan sewaktu aku masih kecil.” Sera mengangguk. “Apakah itu penting untukmu?" Adrian tersenyum samar, seolah tidak yakin bagaimana harus menjelaskan. “Wynee memberikannya padaku,” katanya akhirnya. Jawaban itu sederhana, tapi nada suaranya berubah tanpa ia sadari. Seraphine menahan napas sebentar, ia bahkan mengepalkam tangannya. Wynee? Apa kau tidak menyadari sedikit pun? Aku lah Wynee itu, bukan Amaris. ucap Sera yang hanya mampu di dalam batin. Adrian menyentuh kalungnya lalu tersenyum tipis, "Ini benar-benar sangat berarti untukku, pemberian pertama dari Kakakmu, yang harus benar-benar ku jaga." Sera menunduk, menyembunyikan ekspresinya. Lalu ia menaikkan pandangannya lagi menatap Adrian dengan tatapan serius tapi begitu sendu. "Jika Wynee itu bukan Amaris, apa yang akan kau lakukan?" Pertanyaan yang cukup aneh bagi Adrian, "Tentu saja itu tidak akan terjadi, Wynee adalah Kakakmu, aku tidak berharap siapapun menjadi Wynee." Sementara itu, Seraphine sudah lebih dulu memalingkan pandangan, seolah percakapan itu tidak berarti apa-apa. Gelang kecil itu kembali tersembunyi di balik kerah kemeja Adrian. Namun sejak saat itu, setiap kali Adrian mengingat masa kecilnya, wajah yang muncul di benaknya tidak lagi sepenuhnya jelas. Dan entah kenapa, bayangan itu, entah mengapa mulai memiliki suara yang mirip dengan Seraphine, bukan Amaris.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN