Hari-hari setelah makan malam itu berjalan tanpa banyak perubahan dari luar. Rumah Ashford tetap terlihat tenang, teratur, dan penuh perhatian, setidaknya bagi satu orang. Bagi Seraphine, semuanya terasa seperti lingkaran yang berulang. Panggilan dari rumah sakit datang lagi. Kondisi Amaris kembali menurun. Tekanan darah tidak stabil, kadar hemoglobinnya turun drastis. Kata-kata itu sudah terlalu sering ia dengar sampai rasanya tidak lagi mengejutkan. Yang mengejutkan justru selalu sama, bagaimana semua orang langsung menoleh kepadanya. Seolah jawaban dari setiap masalah selalu dirinya. “Sera, kau harus datang sekarang,” suara Helena terdengar tergesa dari balik telepon. Napas wanita itu sedikit memburu. “Dokter bilang Amaris membutuhkan transfusi secepatnya.” Ia duduk di ku

