Bab 1 (Is There Any Freedom Here?)
Suara ketukan sepatu bergema di mansion mewah itu, setibanya di ruang makan gadis itu membungkuk kecil sambil tersenyum pada pria paruh baya yang duduk di ujung meja makan mewah itu. “Dari mana aja kamu Aluna?” ujar Bryan Maherza ayah dari gadis yang baru saja tiba, Aluna ditanya seperti itu tersenyum sopan, “tugasnya baru selesai Dad jadi agak telat datengnya.” Pria tua yang masih terlihat tampan itu menatap putrinya datar baru akan berbicara lagi tapi terpotong oleh pria paruh baya disana Bagas Maherza kakek dari Cassaluna Tavisha Maherza dan ayah dari Bryan. “Udahlah Bry jangan marahin Luna dia kan baru dateng, duduk aja sayang.” lanjut Bagas lembut kepada cucunya lalu makan malampun dimulai dengan damai, setelah itu mereka pindah di ruang keluaga.
“Gimana sekolah kamu Luna, ada yang ganggu kamu?” tanya Bagas pada cucunya, “enggak granpa, mereka malah bantuin aku.”jawab gadis itu pelan, “kalau ada yang berani ganggu kamu bilang sama kakak.” ujar pria tampan Bara Yudistira Maherza kakak kandung dari gadis itu, Aluna hanya tersenyum tanda mengiyakan.
“Kamu gak punya pacar kan Luna?” tanya Bryan tiba - tiba pada putrinya, Aluna sedikit terkejut dengan pertanyaan tersebut dengan cepat dia menetralkan wajahnya kembali lalu menggeleng pelan. “Daddy gak mau kamu punya pacar, kalau kamu mau pendamping nanti Daddy kenalin anak kolega Daddy dia baik dan punya masa depan terjamin.” ujar Bryan datar, Aluna yang mendengar itu mengepalkan tangannya erat. “Bahkan pendamping hidupku udah di atur mereka,” ujarnya dalam hati.
Keluarganya memang sangat overprotektif padanya, Maherza group melahirkan orang-orang terpandang. Ayahnya, Bryan mendirikan perusahaan di berbagai bidang kedudukannya adalah CEO, perusahaan yang mendirikan hotel dan apartement mewah mempunyai cabang di Negara Eropa dan juga Asia bahkan memiliki pertambangan sendiri. Sedangkan putra sulungnya Bara di umurnya yang baru 26 tahun mampu mendirikan mall, hotel dan juga berbagai macam gedung usaha seperti ayahnya. Kalau ibunya Talia Levita Maherza seorang dokter bedah terkenal di rumah sakit miliknya.
Terlahir dengan sendok emas tentu membuat Aluna bahagia, apapun yang diinginkannya pasti terpenuhi. Tetapi tidak sepenuhnya ayah dan kakaknya orang yang sangat keras padanya. Aluna selalu dituntut agar tidak melakukan kesalahan yang akan merugikan mereka. Bahkan gadis itu sempat berpikir jika Bryan dan Bara tidak menyukainya, tapi ibunya selalu menyangkal kalau itu untuk kebaikannya. Aluna mencoba mengalah dan menjadikan dirinya seperti yang diinginkan oleh ayahnya. Bisa dibilang ia adalah boneka ayahnya.
Gadis itu sempat terdiam tapi dia memberanikan diri menatap mata Bryan yang tajam, “Luna juga mau pilih pendamping sendiri Dad, aku bisa pilih sendiri tanpa dipilihin Daddy.” bantah gadis itu. “kakak sama Daddy gak mau ngeliat kamu punya pacar kalau bukan pilihan dari kita Aluna!” peringat Bara tegas pada adiknya.
“Tapi aku-“ ucapannya terpotong oleh Bryan, “kalau kamu gak nurut, Daddy bakal kembaliin lagi kamu ke Jerman.” Bryan menatap putrinya datar, ucapan ayahnya membuat gadis itu sangat terkejut. Aluna meremas roknya dengan erat hingga tangannya merah. Ibunya yang melihat segera menggenggam tangan putrinya dan mengelusnya lembut menenangkan, wanita dua anak itu menatap suaminya tajam, “Udah lah mas, aku gak mau pisah dari Luna, kalau kamu pindahin dia lagi aku juga bakal ikut.” kesal Talia pada suaminya, saat Aluna masih sekolah dasar ibu dan anak itu berpisah karena alasan yang hanya di ketahui suaminya tersebut.
“Talia!” peringat Bryan kepada istrinya.
“Apa? kalau sampai kamu berani ngirim lagi anak ku ke Berlin kita pisah.” balas Talia tajam, Aluna melihat kedua orang tuanya bertengkar segera mengelus tangan ibunya dan menatap mata ayahnya yang dingin. “Aku gak bakal ngecewain Daddy.” katanya pelan, lalu tiba-tiba gadis itu berdiri dari duduknya dan melangkah menuju pintu utama, “mau kemana kamu Luna?” tanya Bagas yang sedari tadi diam tidak bersuara melihat cucu kesayangannya menuju ke arah pintu.
“Aku mau pulang.” katanya pelan lalu melanjutkan jalannya menghiraukan teriakan ayah serta kakaknya sambil menahan detakan jantung yang sangat cepat.
“ALUNA!”
Gadis itu berjalan sambil mengusap air matanya pelan padahal tadi supirnya sudah membukakan pintu mobil untuknya, tapi ia hiraukan dan malah berjalan tidak tentu arah, akhirnya tidak sengaja menabrak orang didepannya. “Maaf harusnya saya liat-liat.” ujarnya sopan lalu menengadahkan kepalanya, dan betapa terkejutnya tubuhnya tiba-tiba dipeluk oleh orang yang ia tabrak.
“Kamu kenapa?” tanya orang itu, Aluna tidak menjawab malah balas memeluk orang itu dengan erat sambil menangis.
***
“TUNANGAN?!”
Terdengar suara teriakan dari salah satu ruangan megah, pemilik suara itu membalakan matanya terkejut mendengar pernyataan yang diberikan oleh kedua orang tua nya. Apa-apaan bertunangan dengan pria yang bahkan tidak dikenali oleh gadis itu sendiri, Karen mencubit tangannya sendiri berharap semuanya hanya mimpi buruknya, namun realita lebih menyakitkan, nasib yang harus diterima gadis itu.
Karen marah, ia benar-benar marah, kecewa dan kesal. Selalu saja orangtuanya melakukan suatu hal tanpa meminta persetujuan dari dia. “Mah, jangan ngaco deh ngapain sih tunangan? Aku masih muda, Mah!” keluh Karen.
Laura menggeleng mendengar ketidaksetujuan anaknya, “Ini jalan terbaik yang mamah kasih ke kamu, toh calonnya baik banget—“
Perkataan Laura terpotong karena pintu terbuka dan menampakan tiga orang. Karen yakin disalah satu dari mereka pasti ada calon tunangannya, sungguh ia ingin sekali terjun dari lantai 3 di mansionnya daripada bertunangan dengan orang asing.
Gadis itu melihat bagaimana kedua orang tuanya menyapa keluarga yang akan menjadi calon tunangannya, Laura mencubit pinggang anaknya karena anak gadisnya tidak ikut berdiri untuk menyapa tamu dari ibunya, memuakkan sekali baginya. Setelah semua duduk di meja makan, Karen tak henti-hentinya mencibir “Jalan terbaik apanya, jalan menuju ke neraka sih iya.” oceh gadis itu pelan namun dapat didengar oleh pria yang berada didepannya.
“Karenza, kenalin ini anak tante. Namanya Gentala Erzhan Mahesta, panggil aja Genta ya, dia yang bakal jadi calon tunangan kamu.” ucap wanita dewasa merupakan ibu dari pria di hadapannya.
“Bangsat.” umpat Karen dalam hati.
Genta memberikan tangannya untuk dijabat tidak lupa senyuman manisnya yang mampu membuat semua wanita menatapnya tanpa berkedip. Namun untuk Karen hal itu tidak berlaku banyak pria tampan diluar sana ketimbang pria yang didepannya ini.
“Genta.” sapanya, Karen menjabat tangan Genta dengan sangat cepat setelah itu ia menarik tangannya tanpa memberitahu namanya.
“Karen! Mana sopan santun kamu?!” ujar ibunya merasa tidak enak karena putrinya kurang sopan, gadis itu menghela nafas dan menjabat kembali tangan pria asing di depannya. “Karen.” sahutnya tanpa melihat ke pria itu.
Kedua keluarga itu mulai membicarakan tanggal pertunangan, baju apa yang harus digunakan serta dimana mereka akan melakukan pertunangan yang menurut gadis itu hanya buang-buang waktu. Mau tidak mau gadis itu harus menuruti kata orangtua nya, jujur ia lelah menjadi pion untuk melindungi martabat mereka, ia hanya ingin bebas.
Setelah selesai membicarakan semua hal tentang pertunangan Genta pamit untuk ke kamar mandi, “Aku ke toilet dulu ya, Mah.” izinnya. “Oh, Karen tolong antarkan Genta ke toilet ya.” suruh Laura, gadis itu memutar bola matanya malas namun tetap melakukan perintah ibunya.
“Manja.” ujar Karen ketika melewati Genta dan tentu saja pria itu dapat mendengarnya. Genta jalan disebelah gadis itu, entah kenapa jarak kamar mandi terasa sangat jauh bagi gadis itu. Di tengah perjalanan menuju kamar mandi lelaki di hadapannya tiba-tiba berhenti membuat gadis di belakangnya juga ikut berhenti, “Kenap-“ ucapan gadis itu terpotong karena Genta berbalik dan menatapnya dengan tajam sangat berbeda saat berkenalan dengannya.
“Gua bakal ngomong sekali, gua udah punya pacar dan sayang banget sama dia.” kata Genta datar, membuat Karen terdiam karenanya. “Wow, jadi itu cuman topeng.” Karen sedikit terkejut tetapi langsung menatapnya sinis, Genta mendatarkan wajahnya.
“Bukan urusan lu, pokoknya gua bakal cari cara buat ngebatalin pertunangan ini.” lanjutnya dingin. “Tenang aja, gua juga gak mau tunangan sama lu, dengan orang yang udah punya pacar. Bisa-bisa gua dicap perusak hubungan orang.” balas gadis itu tajam.
“Bagus kalau tau, sebenernya gua gak mau ke toilet tapi mau keluar dari rumah ini.” ujar Genta membuat Karen tersenyum miring, “Gua juga mau keluar, tenang aja gua bantu lu keluar dari sini.” tiba – tiba gadis itu menarik calon tunangannya menuju ruang keluarga. “Mah, aku mau ngajak Genta keluar boleh ga?” tanya Karen kepada ibunya yang sedang mengobrol.
Orang - orang yang berada diruangan itu menoleh kepada Karen dan Genta sambil memegang tangan satu sama lain, ibu Karen tersenyum cantik kepada putri semata wayangnya itu. “Ya boleh dong sayang.” jawab Laura dengan senang lalu diangguki oleh Gina ibu dari Genta karena putranya bertanya lewat matanya. “Hati - hati ya, di jaga Karennya ya Gen!” lanjutnya, pria itu mengangguk pelan lalu mereka berdua jalan keluar bersama.
Genta melepaskan tangan mereka saat sudah diluar, “makasih.” ujarnya singkat lalu segera masuk ke dalam mobilnya.
Karen memutar matanya malas, menatap kepergian mobil Genta yang sudah tidak terlihat oleh pandangannya. Gadis itu ingin sekali memukulnya karena sikap pria itu, tapi dia tidak akan ambil pusing, dia juga akhirnya masuk kedalam mobilnya lalu segera menjalankan kearah club malam langganannya. “And finally I’m free!”
***
Genta mengendarai mobilnya membelah jalanan yang cukup ramai malam ini karena sudah pukul Sembilan malam, pria itu menyipitkan matanya dia tiba - tiba menepikan mobilnya lalu segera berlari mendekati orang yang sangat dikenalnya. Pria itu berhenti beberapa langkah dari orang yang dia lihat tadi, lalu tiba - tiba dia ditabrak oleh tubuh mungil yang sedang menundukkan kepalanya. “Maaf saya harusnya liat-liat.” katanya sopan lalu ia menengadahkan kepalanya. Genta segera memeluk kekasihnya yang terlihat akan menangis.
“Kamu kenapa Lun?” tanya Genta kepada kekasih yang tidak sengaja ia temui sambil mengusap punggungnya pelan. Ya kekasih yang dimaksud Genta itu Aluna. Gadis itu tidak menjawab tapi balas memeluk Genta dengan erat sambil menangis. Genta segera membawa gadisnya ke dalam mobil, dia masih setia mengusap punggungnya pelan. “Udah nangisnya?” tanyanya lagi hati-hati. Aluna hanya menganggukan kepalanya pelan dia masih menunduk tidak ingin melihat wajah pria tampan yang berada didepannya.
Genta memegang dagu Aluna dan mengangkatnya perlahan agar setara dengan wajahnya, ia yang melihat wajah gadisnya kacau hanya mengusap air yang berjatuhan dari mata indah yang menurut dia sangat cantik itu lalu menciumnya lembut.
“Kenapa hm? cerita sama aku?” tanya Genta lagi, ”kita kan udah janji gak ada rahasia.” Lanjutnya. Akhirnya Aluna menceritakan kejadian di mansion kakeknya itu. Dia langsung memegang tangan Kekasihnya cemas setelah menyelesaikan cerita itu, gadis itu takut kalau Genta sampai pergi darinya.
Genta menghela napas pelan, dia menatap gadis yang sudah dua tahun bersama dengannya ini. “Aku gak bakal lepasin kamu, walaupun keluarga kamu gak setuju sama hubungan kita.” setelah mengatakan itu dia memeluk kekasihnya dengan erat. Aluna tersenyum tipis mendengarnya, lagipula Genta tidak mungkin melepaskan gadisnya dengan mudah hanya keluarga mereka tidak setuju. Pada akhirnya pria itu memilih merahasiakan pertunangan yang akan segera dilakukannya dengan orang lain, karena dia tau sudah pasti kekasihnya akan pergi meninggalkannya setelah dia mendengar pertunangan ini.
*****