Bab 2 (The Little Secret)

1984 Kata
Malam yang tenang, tapi tidak untuk dua anak muda yang sedang memanaskan motor masing -masing di tengah kerumunan orang-orang yang sedang menonton balapan liar itu. Saat gadis berpakaian minim di depan sudah memberikan tanda, dua motor itu langsung melintas dengan cepat. Mereka berlomba-lomba untuk menjadi juara satu karena hadiah yang di dapati sebuah mobil mewah, di kejauhan terlihat seorang peserta hampir mencapai garis finish tapi seorang dibelakang membalapnya dengan cepat. “selamat ya lu menang lagi Sha.” ucap Jason lawan yang tidak jarang dikalahkan olehnya, “Thanks Jas, nanti gua traktir.” ucap gadis cantik yang sering disapa Visha oleh orang-orang di arena balap itu. “haha makasih, lanjut gak nih ke tempat biasa?” tanya Jason sambil merangkul gadis tersebut. “Gak gua mau pulang, lu sama yang lain aja.” ujarnya tersenyum tipis lalu pergi setelah pamit pada teman-temannya. Setibanya di depan rumah yang selama ini ia tinggali gadis itu menghela napas pelan dan masuk setelah dibuka kan pagar oleh orang yang sangat ia percayai, lalu masuk ke kamarnya melalui balkon yang terdapat tangga saat dia keluar tadi untuk balapan liar. Visha membereskan tangga dibantu oleh orang kepercayaannya, setelah itu menutup pintu balkon agar angin malam tidak masuk ke kamarnya. Melepaskan helm yang gadis itu gunakan dan menyimpannya di tempat aman, lalu menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah mandi gadis itu merebahkan badan dan pikirannya yang lelah karena tuntutan orang tuanya lebih tepat ayahnya, menutup mata saat kejadian itu teringat dikepalanya, dia secepat mungkin menggelengkan kepala pelan dan segera tidur karena besok gadis itu harus sekolah, tempat yang menurutnya sangat membosankan. *** 2 minggu kemudian Kelas yang tadinya sunyi karena walikelas baru datang dikelas 11 Bahasa-1 sedang memperkenalkan diri, wanita paruh baya itu sedang mengabsen murid-murid yang masuk dikelas itu. “Abhita Leondra?” panggil Bu Anika yang bertanggung jawab dikelas itu. Hening, tidak ada yang menjawab, wanita paruh baya itu mengulang nama murid yang belum menyahut itu namun belum ada tanda-tanda murid yang dipanggil akan menjawab. “Abhita Leondra gak ada ya?” Bu Anika menuliskan angka ‘A’ yang berarti alpa dibuku absennya, “Jadi siapa yang mau jadi ketua kelas?” tanya guru tersebut setelah murid nya sudah di absen semua. “Aluna aja, Bu!” seru salah satu gadis, membuat gadis yang bernama Aluna itu membalakakan matanya terkejut dan bingung. “Aluna, kamu aja ya? Ngurus satu sekolah aja kamu mampu, kelas kayak gini mah gampang, iya kan?” Aluna hanya senyum kikuk meratapi nasib, cukup tugas osis sudah membuat ia pusing dan ditambah ketua kelas. Mau tidak mau gadis itu meng’iya’kan kemauan gurunya karena tidak mungkin ia menolak juga, Aluna maju kedepan kelas dan menunjuk anggota-anggota pengurus kelas seperti sekretaris, dan lain-lain ia juga harus membuat jadwal piket. Sebenarnya semua itu hanya formalitas agar memenuhi syarat sebuah kelas adanya ketua kelas, wakil, dan seksi-seksinya. Ujung-ujungnya semua dikerjakan gadis itu sendiri. Setelah selesai dengan semua urusan tentang kelas, Aluna berjalan kedepan kelas dan duduk disalah satu bangku disamping kelasnya, ia mengambil kertas dari kantung roknya yang diberikan oleh gurunya, Aluna membaca perlahan isi kertas itu. Abhita Leondra A Luxury Penthouse 0895654XXXX Aluna sedikit terkejut, teman kelasnya tinggal di Penthouse, sekarang Aluna yakin bahwa Abhita bukan sembarang orang. Ketika ia sedang menambahkan kontak Abhita pada ponselnya terdengar ricuh-ricuh suara dari arah kanan, Aluna menoleh untuk melihat apa yang membuat orang-orang ricuh. Ternyata anak-anak basket sedang latihan untuk pertandingan yang akan datang nanti, Aluna melihat salah satu siswa sedang mendribel bola membuatnya tersenyum manis. Dia berjalan mendekati tribun dan duduk disana. Beberapa menit pertandingan berjalan hasil akhirnya dimenangkan oleh IPS-3, salah satu murid yang dikerebungi oleh murid - murid perempuan membuat gadis itu tertawa kecil. Genta memang terkenal disekolahnya selain tampan dia juga wakil ketua osis. “Lun, dipanggil bu Cindy, disuruh ke ruang guru.” ujar salah satu siswi tiba-tiba menepuk pundak Aluna pelan, dia menganggukan kepalanya pelan sambil tersenyum tipis lalu segera berdiri dan pergi dari tribun menuju ruang guru. Genta yang melihat kekasihnya pergi dia segera pamit kepada temannya untuk segera berganti pakaian. “Oh, Lun ini Karen dia murid baru disini. Tolong kamu nanti touring sekolah pas jam istirahat ya?” pinta bu Cindy saat Aluna sudah tiba di ruang guru. Aluna menatap gadis di hadapannya, dia gadis yang cantik dengan rambut curly sebahu berwarna coklat senada dengan warna matanya. Karen yang dilihat sebegitunya oleh gadis didepannya ini mulai risih. “Lo kenapa liatin gua kaya gitu?” tanya Karen tiba-tiba membuat Aluna terkejut lalu mengulurkan tangannya, “Aluna.” Karen memutar bola matanya malas, “gua gak nanya.” Sinisnya tapi dia tetap mengulurkan tangannya sebagai formalitas “Karen.” Bu Cindy tersenyum lalu segera menyuruh Aluna kembali ke kelas sedangkan Karen pergi bersama dengannya karena jam pelajaran pertama akan segera dimulai. Setibanya di kelas IPS-2 Bu Cindy menyuruh Karen menunggu di depan kelas, beberapa menit menunggu Karen masuk, kelas yang tadinya sepi menjadi berisik sekali. Siswa disana senang karena kedatangan murid baru sedangkan siswinya ada yang kesal, biasa saja dan ada juga yang tidak peduli. “Ini teman baru kalian untuk kedepannya baik-baik sama dia ya. Nah Karen let’s introduce yourself!” pinta Bu Cindy sambil menepuk pundak Karen. “Hai gua Karenza.” ujarnya singkat. Siswa dan siswi di dalam kelas terdiam, mereka sedikit berpikir jika murid baru itu tidak akan ramah, Karen segera duduk dibangku yang ditunjuk oleh Bu Cindy. *** “Luna,” panggil seseorang membuatnya menoleh. Aluna tersenyum saat mengetahui Genta yang memanggilnya dia segera mendekati kekasihnya tersebut. “Kamu abis darimana?” tanya Genta sambil mengusap kepala gadis yang berada didepannya. “Tadi abis ngeliat anak baru, aku disuruh touring sekolah sama Bu Cindy” jawab gadis itu sambil melanjutkan jalannya. Genta menggumam pelan membalas perkataan dari kekasihnya. “Emang siapa namanya?” tanya Genta penasaran, “Karen.” Jawaban kekasihnya membuatnya terkejut tapi dia langsung mendatarkan wajahnya kembali. “Kenapa Gen?” tanya Aluna melihat perubahan wajah dari prianya tersebut. “Gak papa, sana masuk.” Ujar Genta menyuruh Aluna karena kelasnya berada disamping gadis itu, kemudia Genta berbalik pergi setelah mengusap kepala gadis itu. Kelas Bahasa berbeda gedung dengan IPA dan IPS, jadi Genta harus berjalan sedikit jauh untuk ke kelasnya. Pria itu melewati kelas IPS-2 dia sedikit terkejut karena ada siswi yang mirip tunangannya tapi dia mencoba mengabaikannya, mungkin saja kebetulan mirip, pikirnya. “Woi, Genta buruan masuk si guru killer bentar lagi dateng.” teriak temannya Razzan. “Iya, lu gak liat gua lagi jalan.” kesal Genta pada temannya, sedangkan Karen yang di dalam kelasnya hanya memutar bola matanya malas melihat pria yang sudah resmi menjadi tunangannya itu. Ya mereka berdua gagal untuk membatalkan pertunangannya, tapi Karen dan Genta membuat rencana agar menggagalkan keinginan keluarga masing masing. kedua orang tua pihak Genta maupun Karen ingin mereka bedua menikah setelah lulus nanti, tapi kedua orang itu tentu saja tidak setuju akhirnya kedua orang yang sudah bertunangan itu kerja sama agar pernikahan mereka tidak akan terlaksana. *** Abhita meregangkan badannya yang sedikit kaku lalu segera duduk dan mengambil ponselnya. Gadis itu mengerutkan dahinya karena banyak missed call yang masuk, akhirnya dia menelfon balik nomor asing yang masuk ke ponselnya sambil berjalan keluar rooftop. “halo,” sapa seseorang diseberang telfon, “Iya halo.” Balas Abhita “ini siapa ya?” lanjut tanyanya. “ini Aluna, kamu Abhita kan?” “iya, mau apa lu?” “mm itu, hari ini kamu masuk sekolah?” “kenapa emangnya?” “kamu dicariin Bu Anika tadi, jam pelajaran kedua bisa masuk kelas kan?” tanya Aluna ragu. Abhita tidak menjawab, dia hanya memperhatikan kelas yang berbeda saat dia kelas 10 dan gadis yang dia tau adalah ketua osis mereka disekolah. “halo Abhita,” panggil Aluna lagi, membuat Abhita tersadar lalu segera masuk kelas dan berdiri dihadapan Aluna. Abhita memutuskan sambungan telfonnya membuat Aluna bingung, “tempat duduk yang dibelakang lu kosong kan?” tanya Abhita tiba-tiba membuat gadis yang didepannya terkejut karena kedatangannya. Aluna mengangguk pelan dan menatap nametag gadis yang berada dihadapannya Abhita Leondra. “Ooh kam-“ ucapan Aluna terpotong oleh Abhita yang menatapnya datar. “Iya gua Abhita, sekarang gua udah boleh duduk kan.” Membuat Aluna menatap gadis yang diakuinya itu sangat cantik dengan rambut sewarna kayu mahoni. Abhita menatap ketua osis itu heran, dia menjentikan jarinya didepan wajahnya membuatnya tersadar, “eh iya, tadi emang kemana?” tanya Aluna ramah. “Bukan urusan lo.” balasnya judes lalu segera duduk dibelakang gadis tersebut. Aluna menghela napas kecil lalu tersenyum tipis karena sepertinya bertambah satu orang lagi yang tidak akan menyukainya. *** “Disini kantin buat anak kelas 10 dan 11 kalau kelas 12 disana mereka cuman dihalangin taman, biasanya murid yang males makan di kantin mereka makannya disitu.” jelas ketua osis yang sering disapa Aluna atau Luna oleh murid-murid di MH school ini. Karen hanya mengangguk malas lalu berjalan pergi ke arah kantin khusus kelas 10 dan 11. “Eh kamu mau kemana?” tanya Aluna melihat Karen akan pergi. “udah selesai kan tournya?” tanya Karen malas, Aluna menganggukkan kepalanya, “ya gua mau ke kantin, udah ya bye.” katanya dan pergi bergitu saja, Aluna terdiam lalu mengikuti Karen masuk ke dalam kantin. Karen melihat sekeliling kantin lalu duduk dimeja tengah sesudah mengambil makanannya, Aluna melihat gadis itu duduk bersama teman barunya. “Kenapa bengong di tengah jalan?” tanya Genta tiba tiba sudah berada di samping gadisnya, Aluna yang terkejut memkul pelan bahu pria yang tertawa manis itu. “Duh Gen, tadi baru aja selesai touringnya kamu kenapa belom makan?” “hehe nungguin kamu, tapi yang mana anak barunya?” Aluna menunjuk gadis yang sedang tertawa itu Genta mengikuti arah jari tangan kekasihnya lalu sangat terkejut karena murid baru itu adalah tunangannya. “Kamu kenapa Gen?” tanyanya heran melihat kekasihnya yang sangat aneh hari ini, Genta menggelengkan kepalanya pelan lalu menggenggam tangan Aluna dan menariknya agar segera duduk di meja yang kosong. “waketos ganteng banget ya hari ini,” celetuk Lia teman baru Karen melihat Genta yang berada didepan pintu kantin, Kiara mengangguk setuju dengan ucapan temannya itu. “Tapi lo tuh nyadar gak sih, biasanya ketua sama wakilnya gak akan terlalu deket banget.” Kata Lia melirik Aluna dan Genta yang saling tertawa, diangguki oleh Kiara sedangkan Karen menatap Genta dan Aluna bergantian, dia sangat yakin kalau mereka berdua berpacaran karena melihat sikap Genta yang sangat lembut pada gadis itu. “Mungkin mereka pacaran,” celetuk Karen sambil memakan makanannya. “Rumornya sih begitu Ren, tapi gak ada yang tau juga si.” “Udah gak usah dipikirin penting amat mikirin mereka.” kata Karen malas. Ting Tong Teng Suara bel bergema diseluruh sekolah, “Abhita Leondra dari kelas 11 Bahasa-1 dan Karenza IPS-2 harap ke ruang konseling lantai dua segera sesudah istirahat, terima kasih.” ujar suara dari speaker sekolah. “Hah malesin banget sih.” Ujar Karen malas yang baru akan menuju ke kelas tetapi harus memutar arah untuk ke ruang konseling. Dalam perjalanan gadis itu bertemu dengan Genta yang sudah menjadi tunangannya dua minggu lalu. “Baru masuk udah buat masalah.” Heran Genta terhadap gadis yang berada dihadapannya, sejujurnya Genta sedikit terkejut melihat gadis ini satu sekolah dengannya. Ayahnya bilang memang Karen akan pindah sekolah tapi dia tidak tau akan dipindahkan ke sekolah ini. Tapi pria itu tidak peduli mau dipindahkan ke sekolah mana Karen karena itu bukan urusannya . Karen mengerutkan keningnya, “Bukan urusan lo, oh sekarang gua udah tau pacar lu siapa.” Pernyataan Karen menatap Genta dengan datar tapi dia juga sedikit tidak yakin kalau pacar dari tunangannya ini adalah ketua osis mereka, Karen hanya ingin memastikan saja. “Bagus kalau lu tau, kalau sampe lo nyakitin atau ganggu dia bisa abis lo sama gua!” Peringat Genta dan pergi begitu saja. Gadis itu hanya tersenyum sinis lalu pergi begitu saja tidak terlalu peduli apa yang di bilang Genta. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN