Bab 3 (Little Liar)

2259 Kata
“Masuk!” Teriakan yang memekakan telinga terdengar di salah satu ruangan Konseling Siswa, tempat dimana anak-anak bermasalah tinggal untuk mendapatkan surat peringatan. Peringatan bisa bermacam-macam begitu pula peraturan yang dilanggar. Tapi jarang sekali murid di sekolah MHS atau sering disebut Maherza High School melakukan pelanggaran seperti tawuran karena kebanyakan murid-murid disana melakukan pelanggaran seperti bolos atau hal semacamnya. Disitulah kedua gadis itu berdiri dengan wajah santai seperti tidak terjadi apa-apa, “Karenza?! Bisa kamu jelaskan kenapa tidur saat jam pelajaran? Kamu tuh murid baru.” “—Kamu juga Abhita! Bisa-bisa nya bolos di hari pertama masuk, terlebih lagi di rooftop, kalian udah gak niat sekolah hah?!” Karen mencongkel lubang telinganya menggunakan jari kelingking nya seperti orang yang tidak ingin mendengarkan ocehan. “kamu denger gak sih?!” bentak guru itu menyalurkan emosi nya melewati bentakan. Karen menggelengkan kepalanya polos, “Enggak, maaf ya bu tapi tadi saya ngantuk banget makanya tidur,” “Apa yang bikin kamu ngantuk hah?” Brukh! Semua mata memandang pintu yang baru kebuka lebar dengan tatapan terkejut, seorang lelaki tidak sengaja mendobraknya dengan kencang sampai membentur tembok. “Ngapain kamu—lho Genta? Ngapain kamu kesini?” Karen mendongakkan wajahnya ketika mendengar nama ‘Genta’ disebut. Mau apa lagi laki-laki itu? Genta tadinya ingin kembali ke kelas tapi saat dia mengingat bahwa Karen tunangannya dipanggil ke ruangan konseling, akhirnya ia jalan menuju arah ruangan konseling siswa karena dia yakin pasti kekasihnya ada disana. “Hem gini Bu Cinta, ibu gak perlu tau kenapa Karen tidur, pokoknya serahin aja sama saya dan Aluna, kita yang bakal hukum mereka.” kata Genta selaku wakil ketua osis di sekolah itu. Bu Cinta terkejut, “Kasih ibu alesan yang bagus supaya Karen bisa dibebaskan,” tantang Bu Cinta, Genta menelan ludahnya tidak mungkin ia bilang bahwa semalam Karen pindah kerumahnya sebagai tunangannya, bisa-bisa kekasih yang berada di depannya langsung memutuskan hubungan mereka. Mereka berdua baru saja pindah rumah sejak kemarin malam dan tentu karena kehendak kedua orang tuanya, Genta mengerti pasti gadis itu kesal tentu dia juga sama, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa. Genta menghela nafas, “Kemarin ada rapat antar perusahaan bu, saya sama Karen ada disana makanya saya tau kenapa dia ngantuk, kemaren aja baru pulang jam 12 malem.” dusta Genta dan dipercayai oleh Bu Cinta. Karen memandang Genta tak percaya, tapi bagus alasan itu tidak akan membuatnya dalam masalah. Bu Cinta menghela nafas, “Yaudah kalian bersihin kamar mandi guru aja, Genta, Aluna tolong awasin ya ibu mau keluar dulu,” Aluna mengangguk lalu menatap dua gadis didepannya dan menatap Genta bingung karena kemarin lelaki ini bersamanya walaupun hanya sebentar. “Yes!” sahut Karen dan Abhita berbarengan namun setelahnya mereka menutup mulut rapat-rapat, setelah ruangan konseling kosong Karen dan Abhita saling bertukar tatap. “Oke gua gak belajar biologi, thanks god.” tanpa sadar Abhita memberikan tangannya untuk tos dengan Karen dan senang hati Karen membalasnya. “Kalian seneng gak belajar biologi?” tanya Aluna heran pada dua gadis didepannya ini, ia baru saja melakukan touring sekolah dengannya tapi dia tidak menyangka ternyata perilakunya sangat nakal. Karen tertawa, “Gak belajar biologi gak akan bikin anak bahasa sama ips langsung pinter kali.” ujar Karen membuat Genta menghela nafas, ”Iya gak langsung pinter tapi lu gak bakal naik kelas cuy.” batin Genta. “Karen, kalo orang tua lu tau gimana?” tanya Genta datar sambil memeluk pinggang Aluna, membuat Karen yang melihatnya bergedik ngeri. “Ya jangan dikasih tau lah ribet banget.” “Tapi gua gak jamin gak akan ngasih tau mereka.” “Terserah.” Aluna memisahkan Genta dan Karen sebelum keduanya bertengkar ia tidak tau masalah apa yang membuat mereka berdebat hal tidak penting tapi yang pasti Aluna harus mengawasi mereka, “Jadi kita harus mastiin kalian bersihin kamar mandi guru.” Abhita berdecak, “Kenapa gak lu aja yang bersihin?” tanya Abhita dingin dan diberi anggukan oleh Karen. Aluna menggeleng kuat-kuat, “Buat apa aku ngebersihin masalah kalian sendiri?” “Karna gua ngasih lu perintah bukan minta tolong. Bye gua cabut dulu.” Abhita langsung meninggalkan Aluna tanpa membiarkan gadis itu membela diri. “Karen? Kamu gak akan kabur kan?” tanya Aluna pasrah. “Gua? Gua gak akan pernah bersihin toilet, jadi lu bisa kerjain sendiri.” Karen menepuk bahu Aluna pelan dan segera meninggalkan ruangan itu namun ketika sampai di ambang pintu Karen berbalik, “Oh iya, makasih udah bantuin gua.” ucap Karen sambil tersenyum manis kepada Genta. Aluna menatap punggung Karen yang kelama-lamaan menghilang, lalu ia melihat kearah Genta yang masih berdiri disitu. “jadi Gen, udah bisa jelasin kenapa kamu bilang ada rapat antar perusahaan padahal jelas-jelas kamu lagi sama aku dan kamu udah tau Karen yang bahkan baru aku tau?“ tanya Aluna melipat tangannya di d**a. “Belum waktunya sayang, aku bakal ngasih tau kamu kalau waktunya pas.” ujar Genta cepat menggenggam tangan gadisnya dan mengusapnya pelan. “Tapi mau sampai kapan?” ucap Aluna sedikit kesal, membuat lelaki didepannya menatapnya gemas lalu mengecup pipinya sekilas malah membuatnya malu. “Kamu manis banget kalau malu gini.” ujar Genta lalu pergi karena dia masih harus memberi hukuman pada kedua gadis yang sudah pergi itu, dia tidak mau kalau kekasihnya yang mengerjakan hukuman mereka jadi Genta memutuskan menyusul setelah mencuri ciuman di kening kekasih manisnya itu. Aluna menutup wajahnya malu lalu pergi duduk dengan wajah yang memerah, bagaimana kalau ada yang melihat adegan tadi nanti mereka akan menjadi ledekan satu sekolah. Karena satu sekolah belum mengetahui kalau ketua osis dan wakilnya menjalin hubungan, padahal Genta ingin sekali memberitahukan hubungan mereka tetapi Aluna melarangnya karena keluarganya tidak setuju kalau gadis itu berpacaran. Pintu terbuka perlahan menampakan sosok tampan dari balik pintu, lelaki itu melihat sekeliling pandangan terakhirnya tertuju kepada Aluna, “Mana Bu Cinta?” tanyanya dingin layaknya es. “A-Ah itu—“ “Ck, lama bat jawabnya.” tanpa pamit lelaki itu pergi namun beberapa menit ia balik lagi kali ini dengan kertas digenggaman nya. Razzan Taraka Abimana namanya sering disapa Raza, siswa kelas 11 jurusan IPS, wajah yang tampan, kaya, nilai akademis yang sempurna, namun akhlak dan sikap nya sangat buruk, dan disinilah ia berada karena dihukum. Razzan berjalan kearah sofa yang diduduki oleh Aluna tatapan nya terpaku kepada benda segi panjang. Aluna berpikir, apa yang dikerjakan lelaki itu sampai-sampai wajah nya sangat serius, namun detik berikutnya ia menaruh ponselnya ditelinga bertanda ia sedang menghubungi seseorang atau menjawabnya. “Apaan sih b*****t, nelpon-nelpon?” tanya Razzan galak, membuat Aluna terkejut. “Gua masih di ruang konseling, cewe lo lama banget sih. Cewe lo? Lu mau tau siapa cewe lo?” terdengar lelaki itu terkekeh dengan suara berat namun manis. Razzan bangkit dari duduknya dan berdiri membelakangi pintu. “Cewe lo itu si Cinta Kusnita—AKHH IYA IBU AMPUN BUKAN CINTA IBU KOK, ITU ART SAYA, AWW IBU KUPING SAYA MELAR NANTI!” rintihnya membuat Aluna tertawa, Aluna menemukan kepribadian yang lelaki itu miliki, selain dingin dia juga lucu bahkan mungkin dia humoris? Siapa yang tau? “Razzan Abimana, maksud kamu apa tadi?!” Razzan tertawa lemas, “Bukan Cinta ibu kok,” dusta pria tampan itu. “Terus Cinta siapa?!” “Cinta Mayang Sari, art saya kasian lho Bu, anaknya lagi sakit.” “Gak usah bohong kamu! Maksud kamu Cinta Kusnita Sari kan?” “Nah itu ibu tau, kenapa nanya?” ledeknya, Bu Cinta hanya menghela nafas nya dan mengelus dadanya. “Jangan dielus bu, rata juga—IYA IBU BERCANDA SERIUS INI MAH SAYA BERCANDA JANGAN DIJAMBAK LAGI RAMBUT SAYA!!” Bu Cinta melepaskan tangannya dari rambut anak muridnya, “Kamu ngapain kesini, hah?! Bikin naik darah aja.” “Saya mau ngasih ini, surat cinta buat ibu spesial dari Razzan Abimana kelas 11 IPS-3.” mendengar alasan yang dilontarkan Razzan membuat Bu Cinta tertawa. “Bilang aja ini hukuman kamu, gimana udah nulis ‘saya tidak akan bermain hp saat pelajaran’?” ucap Bu Cinta remeh. Razzan tertawa, “Udah kok, 3 lembar bonus ciuman di kertas dan saya pake lipstik ibu saya yang mahal tuh bu, jangan dibuang ya.” Bu Cinta membolak-balik kertasnya mencari ciuman yang dimaksud, sebelum kelembar terakhir Razzan berbicara, “Saya bohong kok bu, gak usah kesusahan gitu nyari nya.” ledeknya membuat Bu Cinta melotot. “Cie, yang ngarepin ada bibir saya nempel disitu ya,” goda pria itu. “Bibir kamu aja saya gunting trus tempel disini, udah ah keluar sana kepala saya mau pecah ngomong sama kamu.” usir Bu Cinta. “Oke, Bu. Terimakasih.” Aluna masih tertawa melihat tingkah laku seorang Razzan yang dikenal dingin itu nyatanya tidak sedingin yang mereka kira, perlahan pipi gadis itu berubah menjadi merah karena mengingat suara tawanya lalu sedetik kemudian dia menggelengkan kepalanya pelan, dan memperingati dirinya sendiri kalau sudah memiliki kekasih yang sudah bersama dengannya selama satu tahun lebih. Disadarkan lamunannya oleh Bu Cinta, Aluna segera bangkit dan memberikan beberapa lembar kertas lalu segera pergi mencari Genta yang sudah meninggalkannya lebih dulu. *** “Berhenti maksa gue, Ta.” tolak Karen tegas karena lelaki disebelahnya tak henti-henti menyuruh lebih tepatnya memaksanya untuk melakukan hukuman yang didapatinya dengan gadis lain yang juga berada dihadapannya. “Gua bilang gamau! Gentala Mahesta! Lagian lu ngapain si disini?! Udah sana, makhluk kayak lo itu ganggu pernapasan gue. Sana pergi! Mending lu temenin pacar lu sana!” usir Karen, Abhita yang memang duduk disitu hanya mendiamkan mereka dan fokus kepada roti yang sedang ia makan. Tiba-tiba Aluna menghampiri meja Genta, Karen dan Abhita, ia duduk didepan Genta lebih tepatnya di samping kanan Abhita. “Mau ngapain lo kesini?! Asal tau aja kita gak bakal mau bersihin kamar mandi, yakali anak kayak gua disuruh gituan.” oceh Karen panjang lebar. Genta menghela nafas kesal, “lu jadi lari dari masalah, ini salah lu kan? Lu yang milih buat tidur pas pelajaran bukan gua ataupun Aluna.” “Cih.” balas Karen kesal karena di nasehati oleh orang yang sangat menyebalkan. “Oh iya, kamu kenapa kesini?” tanya Genta lembut. Karen semakin mendumel tidak suka, lihat saja bahkan Genta berkata lembut dan ramah dengan gadis lain didepan dirinya, bukan! Karen tidak cemburu ia hanya kesal lagipula gadis cantik didepannya ini adalah kekasih dari tunangannya, lucu sekali bukan? “Oh! Aku mau ngasih ini—“ “WEI GENTA ENAK AMAT LO DIKELILINGIN 3 CEWE, BAGI SATU SABI KALI!” ujar Levi salah satu teman sekelasnya Genta, Aluna mengalihkan tatapannya dari kertas menjadi menatap laki-laki yang baru saja sampai. Razzan ada disalah satu dari mereka. Ia berfikir ternyata Razzan dan Genta berteman? Kenapa Aluna sampai tidak mengetahui seluruh teman-teman Genta? Karena gadis itu yang meminta untuk tidak diperkenalkan kepada teman-teman kekasihnya itu. Tanpa disuruh mereka sudah duduk dibangku tempat Genta duduk dan itu membuat Karen dan Abhita risih, mereka berdua tidak suka tempat ramai terlebih mereka tidak kenal dengan laki-laki yang berada didepannya. Karen bangkit dari tempatnya dan dengan cepat Genta menahan tangannya, “Mau kemana kamu?” tanya Genta bingung. “Kelas, udah ah lepasin!” Karen membanting tangan Genta dan segera pergi meninggalkan kantin dan setelah itu Abhita juga pergi, lebih baik ia ke rooftop yang sepi daripada mendengarkan ocehan-ocehan yang akan membuat telinganya sakit. Mendengar kata ‘kamu’ yang keluar dari mulut seorang Genta membuat teman-temannya berteriak ricuh seperti anak yang baru memenangkan lotre, lelaki itu tidak menyadari tatapan sedih dari kekasihnya yang sedari tadi berada di depannya. “Ciee anjing, pacaran gak bilang-bilang lu, tau-taunya nikah lagi nanti.” sikut Levi, Genta hanya memutar bola matanya malas. Ketika mereka sedang bercanda tiba-tiba Aluna pamit, Genta tersadar dia tadi berbicara apa segera mengejar kekasihnya yang terlihat kesal. Lalu pesanan Levi datang setelah makanan lelaki itu sampai Razzan meninggalkan Levi sendiri. “Woi! Temenin gue makan bangke!” “Gak ya, lu bau. Levi Arnadita!” *** “Luna, Aluna” “Aluna” “Sayang” Sudah segala pangilan kesayangan yang diberikan Genta kepada kekasihnya yang manis itu, karena tak kunjung berhenti akhirnya Genta menahan tangan Aluna dan menariknya ke ruang osis. Karena disitu mereka tidak akan terganggu oleh yang lainnya. “Sayang dengerin dulu ya.” pinta Genta sambil mengelus pergelangan tangan gadisnya, Aluna hanya diam tanpa menatap lelaki didepannya. “Sebenernya ayah aku sama Karen itu temenan jadi otomatis aku temenan juga kan sama dia, iya aku tau salah harusnya aku ga ngomong itu didepan kamu.” ujar Genta, dia sedikit berbohong karena keluarga Mahesta dan Mahardika bukannya berteman tapi bekerja sama untuk memperkuat perusahaan mereka maka dari itu Genta dan Karen yang memang anak tunggal harus menikah. Genta yang masih berusaha membuat kekasihnya agar melihatnya karena sedari tadi dia hanya diam, “tadi itu reflek sayang, percaya ya sama aku hm.” Genta mengelus pipi seputih kapas itu dan mencium mata itu lembut penuh kasih sayang. “Tapi biasanya juga ga bakal ngomong ‘kamu’ ke temen kamu sekalipun perempuan.” ucap Aluna datar sambil menekan kata kamu, ia sangat kesal pada kekasihnya karena tidak mau jujur padahal Genta hanya mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Genta memang sibuk tapi selama dua minggu ini berkali lipat sibuknya membuat gadis itu sangat sedih. “Iya aku tau salah, sayang jangan marah hm? Nanti kita beli kue sama eskrim kesukaan kamu gimana?” tawar Genta cemas, dia belum ingin berpisah dari kekasih yang sangat dicintainya ini. Butuh perjuangan untuk mendapat gadis ini agar menjadi miliknya. Aluna menghela napasnya pelan mencoba mengerti, “yaudah, tapi kamu janji bakal ngasih tau aku.” pinta Aluna, dibalas anggukan dan pelukan kepada kekasihnya menyalurkan kasih sayang. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN