Bab 4 (Confused With My Feelings)

2736 Kata
Keesokan paginya saat pelajaran belum dimulai Genta menarik Razzan ke tempat yang sepi dan tidak terjangkau oleh anak anak lain sebelum itu ia memanggil sahabatnya yang satu lagi Ezekiel teman masa kecil Genta. Sekarang mereka sedang berada di halaman belakang dekat lapangan indoor, “Ngapain disini? gue masih normal gila dibawa ketempat sepi gini.” kata Kiel, Genta menendang tulang kering Kiel kesal. “Mau ngapain si? Gue ada ujian nih.” oceh Razzan, “Ujian apaan orang baru masuk dua hari, lagian kita kan sekelas,” sahut Kiel. “Udah! Jadi gini! Dengerin gue dengan seksama.” ujar Genta. “Yaelah seksama-seksama amat udah kek guru indo lu." “DENGERIN!” “Oh iya, maap bang khilaf.” Genta mencari tempat duduk diikuti oleh kedua temannya, “ jadi apa yang mau lu omongin? Mau minjem duit? Berapa?” tanya Kiel. Membuat Genta menatap sinis kepada teman sejak TKnya sedangkan Razzan SMA mereka memiliki kesukaan yang sama yaitu basket jadi tiga pria ini memutuskan untuk bersahabat. “Jadi apa yang mau lu omongin?” tanya Razzan serius. “Gua tunangan,” ujar Genta pelan. “HAH? TUNANGAN?!” Genta berdecak, ia sudah yakin respon sahabatnya seperti ini lebay. Benar Genta menceritakan perihal yang ia alami kemarin dengan secara rinci. Kiel menatap Genta aneh yang ditatap menginsyaratkan untuk diam. Sahabat Genta yang satu ini tentu mengetahui kalau temannya ini sedang berpacaran dengan ketua osis disekolah mereka, tapi kenapa Genta mengatakan kalau dia sedang bertunangan. “Jadi maksud lo cewe yang tadi sebelah lu, tunangan lu gitu?!” tanya Razzan tak percaya. Kiel menatap Genta datar. “Kapan lo sebelahan ama cewe, jir?” “Makanya tong jangan tidur mulu cari tau dunia luar gimana mau dapet pacar kalo setiap hari menjelajahnya ke dunia mimpi terus,” sindir Razzan. Kedua pria tampan itu menggeleng-geleng tidak percaya, “Serius tadi tunangan lo?” tanya Razzan penasaran, sebelum Genta melanjutkan Kiel memotong. “Please lah, kasih gue fotonya.” tanpa basa-basi Genta memberikan foto gadis yang sedang tertawa tetapi foto itu membuat alis Kiel berkerut. “Lu tunangin ibu sendiri? Bokap lu gimana?” tanya Kiel bingung. “Hah?” bingung dengan ucapan temannya Genta melihat layar ponsel, ternyata ia salah ia malah memberikan foto ibunya pantas Kiel bingung. “Bukan yang ini lah, geser!” Kiel langsung menggeser fotonya dan barulah ini yang benar, foto gadis yang sedang tertawa. Razzan memanggut-manggutkan kepalanya setuju, “Cakep lah mayan.” Kiel yang penasaran langsung menyambar ponsel Genta dan melihat fotonya. Ia sempat terdiam wajahnya terlihat serius, “Tapi serius Karen tunangan lo?” tanya Razzan kesekian kalinya. “Iya bawel banget sih lo,” “Wait! Kok lu tau namannya Karen?” “Gue sering liat Karen di club, sama laki-laki yang beda. Gimana tuh?” Genta lumayan terkejut tapi dia langsung mendatarkan wajahnya lagi, “—Maksud lu, si Karen player gitu?” tanya Genta, Kiel mengedikkan bahunya “Mana gue tau, Gen.” Pria itu melihat kearah Razzan bertanya lewat matanya. “Gue gak mungkin bohong kali, club yang sering dia datengin punya sodara gue makanya gue tau.” jelasnya, “Tapi dia gak ngapa-ngapain kok, paling cuman ketemuan temennya gak lebih.” Kiel menepuk bahu Genta, “Gua mau ngomong sama lo.” bisiknya kepada Genta dibalas anggukan pelan. “Lu pada kenapa bisik-bisik sih?” tanya Razzan kesal melihat kedua sahabatnya berbicara dengan pelan. “Udah lu gak usah tau, mending masuk gue gak mau ketinggalan pelajaran.” Genta menoyor kepala Kiel, “Biasanya juga cabut lu,” sahut Genta. Kiel tidak peduli ia tetap berjalan dan segera menuju kelas. Sesampainya didepan kelas IPS-3 Genta melihat Karen yang ingin masuk kedalam kelas, mata mereka bertemu namun dengan cepat gadis itu menyiniskan matanya tajam. “Dasar bocah barbar.” gumam Genta kesal. *** Gadis itu jalan dengan langkah gontai, earphone bertengger manis ditelinganya memutar lagu yang ballad kesukaannya, pulang sekolah ia memilih langsung pulang kerumahnya karena ia sangat lelah. Walaupun belum belajar efektif tetap saja ia merasa lelah. Abhita menempelkan kartu penthouse kedalam lift dan lift langsung menuju lantai yang dituju, pintu besi itu terbuka ia melihat sekeliling penthousenya, sangat kosong. Abhita menghela nafas dan melempar tasnya kesembarang arah mengganti bajunya dengan baju nyaman lalu segera menjatuhkan diri di kasur kingsize nya. Gadis itu mengambil ponselnya, ia melihat nama ‘Karen’ dikontak, sejak kapan gadis itu mempunyai nomer Karen? Ah, setelah dingat-ingat lagi, Karen sendiri yang memberikan nomornya saat makan siang kemarin. Terbesit pikiran untuk menghubungi gadis tomboy itu namun ia segera membuang jauh pikiran seperti itu. Pasalnya Abhita sangat bosan, ia tidak tau harus melakukan apa, mungkin tidur adalah jalan terbaik, akhirnya ia mengambil selimut dan menutupi hampir seluruh tubuhnya dan tak lama kemudian gadis itu terlelap. Abhita dibangunkan dengan suara-suara dari ruang tamu, ia mengambil ponselnya dan melihat jam, sudah pukul 7 malam ia tidur lumayan lama. dia berjalan kearah ruang tamu dan melihat tantenya didalam rumahnya. “Tante, ngapain disini?” tanya Abhita. Tantenya menoleh, “Abhita, kamu bisa beres-beres dari penthouse ini, sekarang jadi milik tante karena ibu kamu sendiri yang tanda tangan, jadi kamu bisa pergi dari sini.” ujar tante Abhita tanpa memikirkan nasib keponakannya. Abhita mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan amarah yang akan keluar, selalu saja ia berurusan dengan tantenya yang tidak tau diri ini, haus akan kekayaan. “Tante lagi gak mau debat jadi keluarin semua barang-barang kamu!” tanpa izin dari Abhita tantenya masuk kedalam kamar Abhita dan membuang bajunya kesembarang arah dan mengosongkan lemari Abhita. Gadis itu tak habis pikir, ia sungguh lelah dengan semuanya dengan berat hati ia mengambil baju-bajunya dan memasukkannya ke dalam koper begitu pula barang-barang pribadinya. “Terus aku tinggal dimana, Tan?” tanya Abhita menahan air matanya yang hampir keluar dari pelupuk matanya. Ia bukan gadis kuat, hanya tubuhnya tapi tidak dengan hatinya yang sangat lemah, tante Abhita tertawa seperti penyihir jahat, “Kamu bisa tinggal dirumah temen kamu, apa kamu gak punya temen hah?” cukup! Abhita lelah tanpa menjawab tantenya gadis malang itu segera pergi dari tempat tinggalnya. Ia tidak punya apa-apa lagi, kartu ATMnya hanya tinggal satu yang tidak diketahui tantenya kartu yang biasanya dikirimkan uang oleh ayah dan ibunya hanya untuk membayar spp sekolah, sisanya sudah diganti dengan nama tantenya tanpa sepengetahuan ayahnya. Satu ATM itu tidak cukup untuk membayar spp sekolah saja tapi itu juga untuk uang jajannya selama sebulan. Tinggal di hotel tentu saja akan membutuhkan biaya yang sangat banyak walaupun ia bisa saja tinggal tanpa membayar tapi gadis itu tidak mau seperti itu, satu malam saja bisa membayar uang sekolahnya sekarang ia menyesal masuk sekolah itu, kalau bukan karena disuruh oleh ayahnya gadis itu tidak akan mau. Abhita ingin sekali memberi tahu kedua orang tuanya kalau ia diusir dari rumahnya sendiri tapi pasti mereka akan bertengkar lagi, dan ia sangat ingin mereka rujuk tetapi sepertinya akan susah karena mereka sama-sama egois. Abhita menangis sambil menggeret koper, ia bingung harus tidur dimana malam ini, cuacanya sangat dingin ditambah perutnya meminta untuk diisi. Jika uangnya digunakkan untuk menginap dihotel, setelah itu ia harus rela tinggal dijalan atau pergi ke rumah ayah dengan istri barunya adalah pilihan terakhir yang ia punya, sedangkan ibunya berada di luar negeri. Gadis itu bingung harus bagaimana. “Abhita!” panggil seseorang, Abhita segera menghapus air matanya dan menoleh kearah belakang, Karen dan Genta sedang apa mereka disini? Karen mengampiri Abhita, “Ngapain lo bawa-bawa koper? Abis minggat apa diusir?” tanya Karen tanpa disaring mendengar itu Genta langsung mencubit pinggang Karen. “Apaan sih! Nyubit-nyubit?!” “Filter napa omongan lu.” “INI KAN MULUT GUA!” “—Ekhem,” dehem Abhita, Genta tersenyum tipis, “Maapin ya, btw lu mau kemana bawa-bawa koper? Jangan bilang lu cabut dari rumah? Gak baik Ta.” ujar Genta panjang lebar. “Gue gak mau balik kerumah,” jawab Abhita pelan, sangat pelan namun Genta dapat mendengarnya dengan jelas. Genta tersenyum ramah, “Mau tinggal dirumah gua?” tawar Genta, Karen yang mendengar itu langsung melototi Genta, “Maksud lo apa ya, rumah lu? Bukannya itu rumah gue?!” tanya Karen tak terima. “Terserah,” datar Genta. “Yaudah lu tinggal dirumah kita aja.” kata Karen semangat karena dia berfikir akan mempunyai teman di rumah. Genta menganggukkan kepalanya,“Ayo Bita ikut, panggilnya Bita aja ya?” ujar Genta sok akrab dan Abhita hanya mengangguk saja. Mereka berhenti didepan motor Genta lalu setelahnya Karen berfikir, “Lu kan bawa motor! Abhita naik apaan dong?” “Yaudah gua sama Abhita naik motor, lo naik taksi.” “Mana ada! Taksi mahal kalo malem.” “Uang lo gak akan habis buat bayar taksi doang, Karenza!” ujar Genta malas. Melihat Karen yang pastinya tidak akan menerima jika dengan taksi, Genta mengambil ponselnya menghubungi seseorang, “Lu serius mesenin gue taksi online?!” tanya Karen tak percaya. “Kagak elah, sabar napa.” Setelah beberapa menit Genta menaruh kembali ponselnya kedalam saku celana, “Tunggu, nanti ada ojek dateng.” jelas Genta. Karen mengangguk lalu mengambil es krimnya dari kantung belanja dan segera memakannya tepat setelah Karen mengiggit eskrimnya perut Abhita berbunyi. Suaranya sangat jelas terdengar di telinga Genta membuat dia tertawa pelan, “Karen, kasih satu lah.” kata Genta, wajah Karen memelas dengan wajah dibuat sok imut membuat Genta menatapnya jijik, “Kasihlah pelit banget lu jadi orang lagian masih ada satu kardus di freezer.” Karen menghela nafas pasrah lalu memberikan es krim yang berada dikantung plastik belanjaan, “Jangan dimakan ya—eh maksud gue makan yang banyak,” ralat Karen. Tak lama kemudian ada motor yang parkir didepan mereka, pemilik motor itu membuka helmnya, Genta menghampiri lelaki itu dan berjabat tangan layaknya pria. “Dateng juga lu, Ki.” Kiel tertawa, “Kebetulan gue ada di daerah sini hehe you know what i mean, right?” tanya Kiel, Genta tau kemana arah pembicaraannya. “Nanti gue transfer,” kata Genta. “Nah gitu dong! Ini motor mahal jadi maap-maap aja bensinnya juga mahal.” jelas Kiel membuat alasan. Kiel melihat kearah Karen yang sedang memakan eskrimnya dan ada satu gadis yang duduk di sebelahnya, ia juga sedang memakan eskrim. “Itu tunangan lo yang ganas itu?” tanya Kiel sambil turun dari motor besarnya dan mendekatkan diri agar Karen tidak mendengar obrolan mereka. Genta mengangguk, “Jadi gue ngapain disini?” “Anter temen Karen kerumah gue,” suruh Genta. “Wait! Gue bukan nganterin Karen? Tapi nganterin cewe disebelahnya?” “Iya emang kenapa?” “Bisa gak gue nganterin Karen aja?—“ “Gak, udah anterin aja gua mau ketemu sama Luna.” Dia sudah janji kepada kekasihnya itu untuk bertemu, “Lo masih punya utang penjelasan sama gua!” Genta hanya menganggukkan kepalanya pelan. Karena Karen dan Abhita sudah selesai dengan acara makan eskrim, mereka menghampiri Genta dan Kiel. Melihat Karen membuat Kiel tersenyum cerah kearahnya, “Hallo, Karen gue sahabatnya—“ “Gak peduli.” potong Karen dan langsung duduk dimotor Genta, “Buru berangkat dingin nih,” pinta Karen dan diberi dengusan oleh Genta. “Bita lu sama temen gue ya?” kata Genta, Abhita mengangguk dan menghampiri motor Kiel, lelaki itu menghela nafas pelan “Naik.” Titahnya dan Abhita menuruti jika dia tidak lelah pasti dia akan menolak tawaran tadi sayangnya ia sangat lelah. Motor mereka mulai melintasi kota Jakarta yang ramai seperti kata orang-orang, banyak kendaraan yang berlalu lalang. Genta tiba-tiba teringat bahwa ia belum memberi tahu Kiel bahwa rumahnya bukan yang lama lagi, maka dari itu Genta mulai menyusul Kiel yang berada jauh didepan. “Kerumah gue ya!” teriak Genta saat ia sudah dekat dengan Kiel, lelaki itu menoleh, “Rumah yang lama kan?!” balas Kiel tak kalah kencang. Genta berdecak membalap motor Kiel agar bersebelahan, “Ikutin gue aja!” “HAH APA?!” teriak Kiel lebih kencang dari sebelumnya, tapi percuma karena suaranya kalah kencang dengan klakson-klakson yang memenuhi jalan raya itu. Karen menghela nafas melihat Genta dan Kiel berteriak seperti orang bodoh, mau tidak mau ia harus menggunakan suara emasnya. “IKUTIN GUE AJA!” teriak Karen namun lebih seperti membentak. Dapat dipastikan kendaraan motor lain dapat mendengar teriakan Karen, untung Genta memakai helm full face-nya agar tidak malu. “KOK LO NGE GAS?!" “YA LO KAYAK ORANG TULI! CEPETAN GEN!” teriak Karen, Genta menurutinya dan menambah kecepatan motor, Kiel berdecak ia juga mulai menambah kecepatan motornya. Genta bodoh! Ini jalan raya bukan arena balapan! Ingin sekali ia memaki Genta seperti itu. Kedua motor itu berhenti disatu mansion megah dengan taman bunga yang mengelilingi-nya, Abhita takjub begitu pula Kiel. Pemilik mansion itu segera masuk dan mempersilahkan tamunya masuk. “Lu tinggal berdua?!” tanya Kiel terkejut, ia menutup mulutnya terkejut, sesuai dugaan Genta reaksi Kiel selalu berlebihan. Genta mendengus, “Kenapa emang?” “Gak takut ada kejadian yang iya-iya?” “Ya enggak lah emang gue kayak lu, lagian juga gua masih sayang sama Aluna.” ujar Genta tidak peduli pada tatapan yang berbeda dari mereka. Karen yang mendengar itu menatap Genta datar lalu mengikuti lelaki itu kedalam rumah. Kiel menaruh jaketnya disembarang tempat, “Tolong jangan dianggap rumah sendiri ya.” sindir Karen matanya menatap tajam Kiel. “Hehe, maaf mba.” Ujar Kiel cengengesan, “Mba-mba! Bapak lo gendut.” protes Karen. Abhita tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke telinga Karen, reflek gadis itu mendekatkan kepalanya agar mendengar apa yang diucapkan Abhita, “gue laper Ren.” bisik Abhita sangat pelan, sepertinya gadis itu suka sekali bicara dengan suara kecil, tidak seperti dirinya yang selalu marah-marah. Karen mengangguk mengerti, “Gen, laper beli makan gih.” pinta Karen karena dia juga sangat lapar mengingat mereka tidak jadi makan karena bertemu dengan Abhita, Genta mendelikkan matanya mendengar permintaan gadis didepannya, “Siapa lo nyuruh gue? Lu pikir gue mau—“ “Buruan elah tunangan lu laper ini,” jawab Karen cepat, namun Genta menatap datar gadis itu. Tanpa berbicara Genta langsung memesankan makanan untuk mereka bertiga, kenapa bertiga? Karena dia sudah janji akan makan bersama dengan kekasih kesayangannya. Karen menarik tangan Abhita untuk menunjukan kamar tamu, “Lu tidur disini oke? Kalo gak punya baju bisa pake baju gue, gue mau keluar angkat telpon dulu.” pamit Karen tanpa menunggu respon dari Abhita, Karen segera berjalan keluar kamar menuju balkon. Sedangkan dua orang laki - laki yang berada dibawah sedang dalam pembicaraan cukup serius, “Lo kok bisa-bisanya setuju sama pertunangan ini?” tanya Kiel menatap orang yang berada didepannya dengan datar. “Gua udah coba nolak, dan bilang kalau gua udah punya pacar, respon mereka ga peduli malah mau ngancurin hubungan gua sama Luna yang udah gua jalanin setahun lebih.” Jelas Genta mengusap wajahnya frustasi, dia tidak mau kehilangan Aluna tapi ia juga tidak mau membantah perintah ibunya. Kiel menghela napas kasar dia juga bingung harus melakukan apa, jadi dia sedikit paham perasaan Genta.” Terus lo mau gimana?” “Biarin gini aja dulu, gua bakal mikirin gimana kedepannya nanti. Gua masih mau sama Luna, gua sayang banget sama dia.” “Tapi lo harus cepet ngambil keputusan, lo gabisa maksa Luna terus sama lo. Dia juga bakalan sedih kalau pacarnya ternyata nikah sama orang lain bahkan dia aja belum tau kalau lu tinggal bareng sama si Karen.” “Iya gua tau, gua mau cabut dulu.” kata Genta sambil berdiri dan memakai jaketnya kembali. “Mau kemana?” “Mau ngapelin pacar gua lah, emangnya lu jomblo.” “Dasar didiemin ngelunjak ya lo.” kesal Kiel “Lo bisa jaga rahasia ini kan dari Raza? Dia ga boleh tau dulu apa lagi pacar gua.” “Lo tenang aja,” Genta menggangguk dan berterima kasih lalu pergi begitu saja tanpa pamit kepada Karen membuat Kiel menggelengkan kepalanya pelan. *** Karen mengangkat telpon yang daritadi berdering, “Halo kenapa by?” tanya Karen ketika sambungan telepon tersambung. “Kamu kemana aja sih?” “Biasa, banyak tugas hehe.” “Besok jadi kan?” tanya suara diseberang sana. “Jadi dong jangan jemput, aku aja yang kesana hm, oke bye.” Dilihat dari pandangan manapun, Karen memang mempuyai hubungan lain dengan lelaki lain selain Genta, siapa suruh main menjodohkan gadis itu tanpa mengetahui apa-apa lagipula memang hanya Genta yang bisa memiliki hubungan dengan orang lain. Lagian setelah lulus sekolah Karen merencanakan agar membatalkan pernikahan dengan cara apapun, cukup sampai tunangan ia tidak ingin mengikat janji suci dengan lelaki yang tidak ia cintai. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN