Langit malam yang dipenuhi bintang membuat siapapun ingin menikmati malam yang tenang terebut, begitu pula dengan sepasang kekasih yang berada di tempat yang menurut mereka nyaman.
Genta sedang duduk ditemani teh hangat buatan kekasihnya mereka sedang berada di apartement mewah pria itu yang tidak diketahui oleh siapapun, sahabat bahkan orang tuanya tidak mengetahuinya kecuali kekasihnya. Dia membeli sendiri dengan uang tabungannya hanya untuk ditempati oleh mereka berdua saat dewasa nanti dan menikmati waktu berharga yang sudah lama mereka ingin rasakan.
“Sayang, sini kamu ngapain masih disana?” panggil Genta pada kekasihnya yang berada didapur.
“Sebentar Gen ini udah mau selesai.” balas Aluna sedang memotong buah-buahan dan menyiapkan makanan ringan untuk dimakan untuk saat nonton bersama.
Langkah ringan dari arah dapur membuat pria tampan itu menoleh pada gadis yang ia sayangi, Genta yang melihat itu segera berdiri membantu kekasihnya yang terlihat kesusahan. Setelah meletakan nampan dimeja depan tv pria itu menarik gadisnya agar duduk dipangkuannya dengan dia bersender pada punggung sofa.
Aluna tersenyum senang menikmati pelukan yang berada dipinggangnya, ia menyamankan posisinya sehingga menyenderkan pada d**a bidang dibelakangnya. Mereka berdua terlihat fokus pada film didepan mereka sambil ia menyuapi buah pada kekasihnya.
“Sayang,” panggil Genta lembut sambil mencium bahu gadis yang berada dipangkuannya.
“Hm.” gumam Aluna karena dia sedang menikmati elusan ditangannya.
Genta terdiam memikirkan apa yang terjadi kedepannya jika ia jujur sekarang, hubungan mereka akan berakhir, gadisnya pasti tidak mau menemui atau mengenalnya yang lebih parahnya ia akan ditinggalkan.
Genta menggelengkan kepalanya pelan lalu mendongak karena usapan lembut dari kepala hingga rahang pria tampan itu.
Bahkan lelaki itu tidak menyadari jika Aluna sudah berubah posisi menghadap kearahnya tapi tetap berada dipangkuan pria tampan itu. Mata mereka bertemu Genta mendekatkan wajahnya dan segera mencium kening gadisnya lembut, pria tampan itu tersenyum setelah melonggarkan pelukan mereka.
“Kamu kenapa si Gen? Ada yang kamu rahasiain ya?” tanya Aluna lembut setelah melepaskan diri dari Genta sambil mengelus rahang tegas pria didepannya.
“Janji, apapun yang terjadi nanti kamu gak bakalan pergi ninggalin aku!” pinta Genta tegas sambil menatap mata hitam legam sewarna langit malam. Aluna mengerutkan keningnya lalu dia melepaskan pelukan Genta dan mendudukan dirinya disamping pria itu.
“Aku tuh nanya bukan pengen denger kamu nyuruh aku janji yang mungkin gak akan aku tepatin.” kesal Aluna memberanikan diri menatap mata hitam kekasihnya yang sedang memandangnya meminta jawaban.
“Jadi kamu bakalan ninggalin aku HAH!?” bentak pria di hadapannya membuat gadis itu terkejut karena ini pertama kalinya Genta membentaknya biasanya dia diperlakukan dengan lembut. Tangan Genta mencengkram bahu Aluna kuat dan menatap gadis yang di cintainya tajam.
“Gen, enggak aku Cuma-”
“JAWAB LUN! KAMU MAU NINGGALIN AKU KAN?!”
Aluna meringis pelan sambil menahan tangis. “Sakit Gen hiks,” tangisnya yang tidak bisa ditahan gadis itu.
Genta yang diliputi rasa takut dan marah tidak mempedulikan kekasihnya yang menangis. “Hah….hah…. Gen hah…. hiks hah….” Aluna memegang dadanya yang tiba–tiba sesak, Genta yang melihat itu langsung tersadar.
“Sayang maaf.” pria itu langsung memeluk gadisnya pelan, “Maaf, maaf sayang aku cuman takut kamu pergi.” Genta mengusap punggung Aluna pelan menenangkannya. “Gen, hah….hah…. hiks hah….hah….a- aku-“ ucap Aluna terbata memukul dadanya yang sangat sesak, Genta sangat merasa bersalah karena dia gadisnya menjadi seperti ini.
Genta segera menahan tangan Aluna agar berhenti memukul dirinya, “jangan dipukul nanti sakit!” Aluna tidak menjawab dia tambah mencengkram dadanya yang sangat sesak dengan keadaan sulit bernapas. “Hah….hah.... hiks hiks hah...” pria itu memeluk kekasihnya dengan erat. “Maaf, maafin aku.”
Genta menatap wajah Aluna yang tertidur pulas sambil mengusap wajah itu pelan, setelah menenangkannya dia segera membawa gadisnya yang tertidur ke kamar. Genta merutuki kebodohan yang dia perbuat kepada orang yang sangat dicintainya., mencium kening kekasihnya pelan lalu segera tidur sambil memeluk gadis yang berada di disampingnya.
***
Pagi menjelang membuat gadis yang sedang tidur terbangun karena suara gaduh dari alarm yang berbunyi nyaring di dalam kamar tamu terbilang mewah tersebut, Abhita segera mematikan alarm miliknya dan menoleh ke arah pintu karena seseorang mengetuk pintu kamar yang ditempatinya.
“Bangun Ta, ayo sarapan terus berangkat ke sekolah bareng gua.” ujar Karen sambil tersenyum tipis dibalas anggukan pelan oleh gadis itu.
Dentingan alat makan terdengar dari ruang makan, “si Genta gak pulang ya Ren?” tanya Abhita disela kunyahannya, Karen hanya mengangguk lalu menatap teman barunya yang sedang menatapnya.
“Iya, biarin aja gua gak ngurusin. Paling dia lagi sama pacarnya.”
“Dia udah punya pacar?” tanya Abhita penasaran, dia ingin bertanya tetapi waktunya belum tepat karena gadis itu tidak sengaja mendengar pembicaraan Genta dan Kiel kemarin malam.
“Udah, ketua osis pacarnya, pasti lo tau kan?” Abhita mengangguk lalu melanjutkan sarapannya sambil tersenyum sinis. Setibanya di sekolah kedua gadis cantik itu melewati koridor yang dipenuhi murid MHS sedang melihat kearah mereka berdua.
Murid-murid disana sangat terkejut melihat Abhita yang mempunyai teman karena gadis itu biasanya tidak ingin bergaul bersama yang lain kecuali ada pelajaran yang mengharuskan kerja kelompok itupun ia hanya mengerjakan tugasnya setelah itu diam tidak memperdulikan yang lain, jadi mereka segan untuk sekedar bertanya.
“WOI!” teriak Kiel yang berlari ke arah kedua gadis yang mengkerutkan keningnya heran melihat laki-laki itu berteriak kepada mereka.
“Apa-apan si lo masih pagi nih!” kesal Karen sambil melipat tangannya didepan d**a.
“Hehehe, gua cuman mau tanya, si Genta kok ga bareng kalian?” tanyanya sambil merangkul bahu kedua gadis itu sambil jalan, Abhita dan Karen yang merasa risih menyingkirkan tangan yang bertengger dibahu mereka.
“Dia gak pulang, udah ya lo tuh harusnya tanya sama anaknya langsung jangan sama gua.” ujar Karen menarik Abhita yang menatap tajam pada Ezekiel.
Pria tampan itu mengusap badannya pelan, ia merinding mendapatkan perlakuan tidak bersahabat dari dua gadis yang baru dikenalnya kemarin.
“Kenapa lo El? kedinginan?” kata Razzan tiba-tiba entah datang dari mana menepuk bahu sahabatnya tersebut, Kiel menggelengkan kepalanya pelan lalu melanjutkan jalannya menghiraukan sahabatnya yang kesal karena ditinggalkan, Razzan mendengus sambil mengikuti langkah temannya.
***
Pagi ini di dalam mobil hanya keheningan yang di rasakan, Genta sangat bersalah dengan kejadian semalam membuat gadisnya mendiamkannya hari ini, mereka sedang dalam perjalanan menuju sekolah, Aluna menatap jalanan menghiraukan Genta sedari tadi menggenggam tangannya dan mengusapnya pelan.
“Sayang,” panggil Genta pelan pada kekasihnya yang ingin keluar. Aluna menatapnya datar lalu melepaskan genggaman Genta. “Nanti aja, aku pengen ke kelas.” Gadis itu keluar begitu saja meninggalkan Genta yang mengusap wajahnya frustasi, dan segera mengikuti langkah kekasihnya.
Saat berjalan menuju kelas ia dan Genta dipanggil oleh Bu Cinta untuk merazia murid-murid disini, peraturan MHS bisa terbilang bebas tetapi juga ketat karena tidak boleh mewarnai rambut atau memakai lensa kontak mata kecuali memang sedari lahir berwarna seperti itu.
MHS adalah sekolah elit yang biasanya untuk anak-anak orang kaya karena sebagian murid disini anak artis atau pejabat. Bagas Maherza membangun sekolah ini dengan berbagai fasilitas yang memadai demi cucu kesayangannya agar gadis itu nyaman berada disekolah dan meningkatkan semangat belajar murid-murid disini, ia juga menyiapkan beasiswa agar anak-anak yang ingin masuk kesini bisa belajar dengan tenang tanpa memikirkan biaya terbilang sangat mahal.
Dan tentu saja anak yang mendapat beasiswa akan terbully oleh kalangan atas karena itu Aluna dan Genta ingin menciptakan sekolah yang bisa dinikmati oleh kalangan manapun.
Razia dilakukan setiap 2 kali dalam sebulan dan itu random, menyenangkan jika melihat orang-orang menderita saat disita barang-barangnya. Saat ini kelas Aluna sedang sibuk memakai dasi, kelas 11 Bahasa 1 adalah kelas Aluna.
“Ayo Ara kita ke gedung sebelah dulu.” ujar Aluna kepada teman osis sekaligus sahabatnya.
Setelah memastikan kelasnya rapih Aluna dan Ara pergi ke kelas IPS yang berbeda gedung dengan Bahasa, sejujurnya Aluna cukup bangga dengan lelaki dikelasnya karena mereka hanya tidak memakai dasi, selebihnya mereka tidak membawa barang-barang yang dapat memicu mereka untuk ditarik ke konseling siswa.
Aluna sudah membagi tugas dengan osis lain untuk merazia setiap kelas, Genta dikelas Bahasa sedangkan Aluna dikelas IPS, sisanya IPA. Kelas 11 Bahasa dan IPS sangat berbeda dimana itu adalah kelas Karen, Kiel dan Razzan mereka sedang sibuk menyembunyikan barang-barang kecuali Genta, ia anggota osis jadi tidak mungkin melakukan yang melanggar peraturan.
“ROKOK GUE!”
“VAPE GUE GIMANA!”
“TISU WOI BAGI TISU!”
“WOI INI TARO DIMANA?!”
“BUANG AJA ELAH!”
“NANTI BELI LAGI COY,”
Sedangkan para gadis sedang sibuk menghapus make up, memanjangkan rok, bahkan membuang make upnya ke tempat sampah agar tidak ketahuan.
Aluna masuk kekelas IPS-1 terlebih dulu setelah itu 2 kelas dimana Karen berada, salah satu anak osis beralih ke rok Karen yang diatas lutut, rok mereka memang diatas lutut tetapi sepertinya Karen memendekan lagi roknya, tak hanya dia rata-rata perempuan dikelasnya melakukan hal yang sama.
“Yang merasa rok nya melanggar aturan silahkan maju!” teriak salah satu osis tadi bermaksud menyindir Karen dan teman-temannya, salah satu osis menarik tangan Karen untuk maju kedepan.
Karen mendecak, teman-temannya juga ikut maju karena solidaritas dikelasnya sangat tinggi, satu dihukum semua juga harus dihukum walaupun Karen terbilang murid baru.
Mereka berada diruang konseling, Aluna sedang berdiri menatap murid yang melanggar peraturan, Karen menyender disalah satu temannya, Lia. Teman barunya saat pertama kali memperkenalkan dirinya. Lia menghela nafas kesal, “Alay banget anjir ginian doang segala dipanggil,” keluh gadis itu.
“Kuno emang,” timpal temannya yang lain.
“Pake rok panjang aja deh gue kalo diginiin mulu,” Lala mengompori.
“Gak pernah liat cewe cantik pake rok pendek gini nih jadinya,” tambah Lia. Karen hanya tertawa mendengar keluhan temannya, ya walaupun dia juga kesal.
“Oh jadi kalian, yang pake rok pendek? Biar apa? Mau ngegoda cowo-cowo disini, hah?” sindir seorang gadis ia bendahara osis Rara, gadis ini menyukai Genta. Karen diberitahu oleh Abhita struktur organisasi osis saat sarapan tadi dan juga hubungan orang-orang yang berada di sekitar Genta dan Aluna. Gadis itu sangat penasaran dengan sekolah ini termasuk Aluna, bukan apa-apa hanya saja gadis itu sangat menarik menurut Karen dan Abhita setuju untuk membantu teman barunya.
Dan benar saat melihat Genta datang gadis itu menjadi salah tingkah, Karen tertawa sinis saat melihat kelakuan Rara. “Cowo yang lu suka itu tunangan gue, tapi pacarnya itu ketua osis lo.” ingin sekali Karen mengeluarkan kalimat itu namun ia tau hal apa yang akan terjadi nanti, sudah pasti Genta akan marah dan Aluna juga pasti akan kecewa, beginipun ia masih punya hati nurani untuk tidak menghancurkan hubungan gadis cantik yang diam sambil melihat kelakuan Rara.
“Ketawain apa lu?!” geram Rara.
Rara mencengkram bahu Karen kencang, “Gak usah megang-megang temen gue.” Lia langsung menarik tangan Rara kasar.
Genta yang melihat langsung mendekat dan melerai sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan, “Mereka tuh, dikasih tau gak mau dengerin aku,” kata Rara dengan wajah dibuat sok imut, rupanya ia sedang mengadu.
Aluna yang melihat itu mengerutkan keningnya, ia sedang dalam keadaan mood yang buruk melihat Rara seperti itu kepada kekasihnya membuatnya kesal, akhirnya Aluna menyuruh Rara pergi agar menyiapkan rapat yang akan mereka lakukan.
“Beast mah beast aja gak usah di cute-cute in gitu mukanya,” ujar Lia pedas, tadinya Rara tidak setuju untuk pergi tapi setelah di tarik oleh Ara sekretaris osis dan kalimat dari temannya Karen mau tidak mau membuat gadis centil itu menurut walaupun kesal.
Aluna menatap Karen dan teman-temannya yang sedang mengobrol, gadis itu menggelengkan kepalanya pelan tidak menyangka murid baru tersebut akan banyak melanggar peraturan “Udah ya? Kita mau masuk ke kelas nih,” ujar Karen, Aluna mengangguk, “Besok roknya kalo bisa jangan diatas paha lagi ya, kalian ke sekolah bukan club malam,” Lia mengangguk lalu langsung menarik teman-temannya termasuk Karen.
“Luna, kamu masih marah?” tanya Genta saat tidak ada siapapun di ruangan itu.
Aluna melirik kekasihnya sekilas, “Aku enggak marah, cuman takut aja.” jawabnya sambil memberaskan kertas yang berserakan.
Genta melihat itu langsung memeluk gadisnya yang diam dan tidak ingin melihat ke arahnya saat lelaki itu datang.
“Maaf, aku beneran takut kamu ninggalin aku, tolong kamu jangan begini, jangan diemin aku lagi!?”
Aluna membalas pelukan Genta, “Aku gak mungkin ninggalin kamu, tapi kamu harus cerita sama aku kalau ada apa-apa!”
Genta mengangguk dan mengecup kening gadisnya,”Iya, aku bakal ngasih tau kamu kalau waktunya tepat, tolong kasih aku waktu ya?” Aluna menatap Genta melihat mata yang menyembunyikan sesuatu, lalu gadis itu mengeratkan pelukan mereka.
“Apa yang kamu sembunyiin Gen?”
“Aku gak mau kamu pergi Luna.”
“Menarik.”
*****