Bab 6 (Hidden Truth)

1218 Kata
Matahari sudah berada dipuncaknya seorang gadis berjalan kearah rooftop sekolah disaat jam istirahat dengan ponsel ditangannya ia segera membuka pintu rooftop namun ia melihat orang lain disana. Seorang laki-laki di pembatas pagar rooftop. Gadis itu menghela nafas dan masuk melalui pintu yang ia buka, karena Aluna tidak sengaja membanting pintu saat menutup pintu itu kembali, membuat lelaki yang sedang membelakanginya itu terlonjak kaget. Lelaki itu buru-buru menginjak rokoknya dan menoleh kebelekang dengan cepat. Melihat seorang gadis dengan memakai seragam sama membuatnya menghela nafas lega, “Tau gitu gak gue buang anjir rokoknya,” dumel lelaki itu lalu mengambil satu buah rokok dan membakarnya lalu mengisapnya membuang asapnya dan mengulangi hal yang sama, Aluna tidak memperdulikan lelaki yang berdiri sambil membelakanginya, ia duduk lalu menghubungi orang kepercayaannya untuk mencari sesatu. Lelaki itu menghampiri Aluna yang sedang duduk, “Jangan bilang-bilang gue ngerokok disini, oke?” Aluna mengangkat kepala dan menatap menatap wajah lelaki itu, karna memang kepala gadis itu hanya sampai pinggangnya, jadi dia bisa mengetahui siapa namanya. “Razzan Taraka Abimana,” ucap Aluna dalam hati, Aluna sedikit terkejut karena lelaki di hadapannya ini adalah teman dari Genta. Razzan mengerutkan alisnya bingung baru pertama kali ini dia diacuhkan dengan seorang gadis. Pria tampan itu berjongkok didepan Aluna membuat jarak mereka bisa dihitung oleh penggaris, “Gue ngomong sama orang bukan lantai.” katanya, Aluna menatap mata Razzan dengan tatapan tajam membuatnya diliputi rasa bingung, “Kok dia gak baper, jing?!” omel Razzan dalam hati. Namun dilihat dari sisi manapun ia merasa familiar dengan gadis yang berada didepannya. Razzan berusaha mengingat, seingatnya ia pernah bertemu gadis itu, “Ah! Lu yang ada di ruang konseling kan? Sama di kantin juga?” tanya pria tampan tersebut. Aluna tersenyum sinis “Hem,” jawaban gadis itu yang berarti ‘iya’ membuatnya mengangguk mengerti, “Lu kenapa ada di ruang konseling?” tanya Razzan penasaran membuat gadis yang ada dihadapannya menatap aneh, lelaki ini tidak tau atau bagaimana? Tidak mengetahui ketua osis di sekolahnya, padahal kemarin mereka berada di ruangan yang sama bahkan Razzan sempat membentaknya. “Lu gak kenal gua atau gimana?” “Gak kenal?” Aluna tersenyum kecil, dia berdiri membuat lelaki itu juga ikut berdiri dan memundurkan langkahnya karena merasa gadis itu akan mendekatinya “Mau apa?” tanya Razzan. Aluna tidak menjawab dia hanya mengambil rokok yang berada di tangan lelaki tampan itu lalu menginjaknya di lantai sampai apinya padam. Gadis itu pergi begitu saja setelah melakukan yang menurut Razzan sangat menyebalkan. Razzan menatap tajam pintu yang sudah tertutup menyisakan dia sendiri di atas rooftop, pria yang di kenal sebagai berandalan sekolah tersenyum sinis dan mengepalkan tangannya menahan marah karena kesukaannya di hancurkan oleh gadis yang dia tidak kenali. Tetapi tadi dia sempat melirik nama siswi itu, “Cassaluna,” ujarnya pelan lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang disana. Sambil menatap ke arah pintu rooftop Razzan bertepuk tangan di dalam hati karena merasa baru dipermainkan oleh seorang gadis, “Tuh cewe berani banget ngambil rokok gua? Hahaha stop kidding me babe, gue akan nemuin lu nanti saat gua tau lu siapa.” Razzan menghela nafas lalu berjalan kearah kelasnya sambil menghubungi seseorang, perasaan mengganjal menggerogotinya. “Halo, Ris? lu tau anak yang namanya ‘Cassaluna’ gak? kalau tau nanti kirim lewat chat ya, thanks!” pinta Razzan pada Risa selaku anak osis dan juga sepupunya. Sebelum Risa menjawab ia sudah mematikan sambungannya secara sepihak. Tak lama kemudian Razzan tersenyum puas setelah mendapatkan jawaban dari Risa, membuka kolom chat dan membuka foto yang dikirim Risa. Mata tajamnya mengerjap polos dan juga terkejut setelah lihat apa isinya. Dengan sedikit kesal pria itu kembali menghubungi Risa. “Halo, Ris?” “Apaan lagi sih?” jawab Risa sewot karena sepupunya menghubunginya ketika ia sedang sibuk. “Lu gak bohong kan?” “Ngapain gua bohong? yang namanya ‘Cassaluna’ cuman ketua osis gak ada lagi yang namanya itu selain dia.” Razzan mengacak rambutnya kesal, “Yaudah nanti gue telpon lagi.” Setelah mematikan sambungan secara sepihak lagi, Razzan berjalan kearah ruang osis untuk menemui Genta, ia bingung kenapa Genta ingin jadi wakil ketua osis secara itu sangat mengambil banyak tenaga dan waktu. Razzan lebih memilih berkencan dengan game daripada menjadi anggota osis. Memikirkan ia ada menjadi anggota osis saja sudah membuatnya pusing. Pria itu memasuki ruangan osis tidak seperti biasanya, biasanya Genta selalu duduk sambil bermain ponsel disana namun tidak ada siapa-siapa disini. Akhirnya Razzan berinisiatif untuk menelpon temannya yang entah dimana. Sambil menunggu orang di seberang mengangkat teleponnya, dia melihat gadis di atas rooftop tadi keluar dari salah satu ruangan yang berada di dalam ruang osis. “Halo zan. Kenapa?” Razzan menjawab panggilan temannya sambil menatap gadis yang juga sedang menatapnya datar, “Lu dimana?” “Lagi di ruang ketua yayasan,” “Ngapain lu disana?” “Ada perlu gua, kenapa Zan?” tanya Genta yang sudah mulai kesal karena temannya sangat bertele-tele. “Gua mau nanya sesuatu tapi gak jadi, orangnya udah ada di sini.” “Gak jelas.” Genta langsung menutup teleponnya sepihak. Sedangkan Razzan berjalan masuk lebih dalam ke ruang osis tidak lupa juga menutup pintu dan menguncinya agar gadis yang di dalam tidak bisa kemana-mana. *** “Ayo duduk!” perintah Bagas tegas saat Genta sudah di dalam ruangan pemilik sekolah yang dia tempati. Setibanya di dalam pria itu merasakan hawa yang tidak enak. Pria tua yang terlihat sehat itu menatap Genta dengan tatapan tidak biasa, saat ingin berbicara pintu ruangan tiba-tiba terbuka menampilkan Aluna dengan keadaan sedikit berantakan. Bagas melihat cucunya sudah tiba langsung menyuruh gadis itu untuk duduk di hadapannya. “Saya gak akan basa-basi, akhirin hubungan kalian, saya tidak mau tau!” perintah Bagas dingin. Aluna dan Genta tentu saja sangat terkejut, padahal mereka sudah berusaha sangat rapih untuk menutupi hubungan ini. Bagas yang mengerti tatapan cucunya menghela napas pelan, “granpa gak mungkin gak tau tentang cucu granpa sendiri Luna.” katanya melihat cucu kesayangannya berlinangan air mata. “Pak maaf saya lancang, tapi tolong saya gak mau akhirin hubungan ini. Saya sayang banget sama Aluna.” ujar Genta menggenggam tangan kekasihnya, Aluna mengagguk pelan meminta persetujuan kakeknya sambil menahan air mata. “Kamu pasti tau Genta, ayah dan kakaknya Aluna gak akan setuju sama kalian.” “Saya tau, saya mohon izinin kita. Saya bakal cari cara untuk mereka setuju.” ujar Genta dengan sungguh-sungguh. “Granpa Luna mohon sekali ini aja, buat rahasian dari Daddy dan kakak.” ujarnya menangis karena tidak bisa menahan air matanya, ia sangat tidak ingin berpisah dengan kekasihnya. Bagas menatap cucunya iba, dia sangat tau sifat anak beserta cucu pertamanya kepada Aluna, overprotektif dan keras, keluarganya hanya tidak ingin sesuatu yang buruk akan terjadi pada putri satu-satunya karena Aluna cucu perempuan satu-satunya. Bagas menghela napas menyuruh Aluna mendekat dan memeluknya pelan, “Granpa rahasiain, tapi janji kamu gak boleh sedih?” Ujarnya mengizinkan mereka menjalin hubungan, kemudian melirik Genta “Kamu juga tolong jangan buat kesayangan saya ngeluarin air mata!” peringat Bagas, diangguki Genta mantap sekaligus meminta maaf karena menyembunyikan pertunangannya dengan gadis lain. Genta menjadi sangat yakin akan mengakhiri pertunangan konyol ini karena sudah mendapat izin dari kakek kekasihnya. Dia juga berjanji akan memberikan kebahagian untuk menebus kesalahan yang ia lakukan agar orang yang dicintainya selalu tersenyum. Aluna tersenyum manis saat Genta menatapnya dengan lembut. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN