Jason sedang berpikir keras. Percakapannya dengan Roby beberapa hari yang lalu buat ia tidak bisa tidur dengan nyenyak.
Untuk sementara, Roby akan mempersiapkan semua bahan untuk jumpa pers. Ia harus segera umumkan tentang status pernikahannya sebelum lawan politiknya menggunakan kelemahannya itu untuk menyerang balik.
Meski waktu masih panjang untuk persiapkan semuanya tetapi ia perlu jaga citra dirinya dari sekarang.
Dia sangat tegang dan tidak baik bagi keseimbangan jiwanya. Ia benar-benar butuh pelampiasan agar lebih santai. Dia tahu apa yang ia inginkan malam ini. Kembali ke masa lajangnya.
Jason melirik jam dinding. Beberapa jam lagi ia sudah bisa pulang. Tapi, ia harus pastikan jadwalnya terlebih dahulu.
“Agnes, ke mari sebentar!” panggil Jason dari interkom.
Agnes dengan senyum sumringah persiapkan tampilannya begitu dengar permintaan dari Jason. Lisptiknya ia tambahkan dan bajunya ia atur agar terlihat sedikit terbuka di bagian atas dan bawah.
Tak lupa parfum andalannya ia gosokkan di dekat telapak tangan dan lehernya.
Jason menatap Agnes yang masuk dengan senyum percaya diri. Wanita itu berjalan gemulai dengan membusungkan dadanya.
‘Ah, Agnes. Kamu menggemaskan tapi bukan seleraku. Aku butuh orang asing yang tidak akan kembali menggangguku,’ batin Jason.
“Apa yang bisa saya siapkan, Pak?” tanya Agnes lembut sambil menggigit bibirnya dan mengibaskan rambutnya ke belakang.
Jason menangkupkan tangannya, meletakkan di bawah dagu sambil menumpu sikunya di atas meja, “Apa agendaku setelah ini sampai dengan malam nanti?”
Agnes membuka tablet yang berisi semua jadwal Jason dan menjawab, “Kosong, Pak. Tidak ada rapat atau acara apa pun lagi hari ini.”
“Bagus. Sekarang, aku tidak ingin diganggu. Tolong hubungi tempat biasa dan pesankan kamar untukku malam ini. Cukup satu penghibur saja. Aku tidak ingin repot.”
Jason sudah menutup laptopnya dan bersiap untuk tinggalkan kantor.
“Maksud Pak Jason, tempat langganan yang sering Bapak datangi sebelum menikah?” balas Agnes terlihat kecewa.
“Betul Agnes. Apa kamu sudah lupa?”
“Baik, Pak. Tidak. Saya masih simpan kontaknya. Saya hanya tidak menyangka kalau Pak Jason akan kembali ke masa itu. Saya jadi berpikir tentang istri Bapak.”
“Jangan dipikirkan Agnes. Bukan urusanmu. Lagi pula, ini tersisa satu saja Agnes. Aku butuh yang baru. Besok sudah harus ada!” perintah Jason menunjukkan bungkus berisi pengaman karet di tangannya. Jason mengantonginya sebelum menyambar jasnya di tempat gantungan kayu di sudut ruangan.
Agnes menelan ludahnya dan mengangguk. Atasannya kembali berperilaku seperti remaja belasan tahun yang mengantongi permen karet dewasa untuk menampung spermanya, ke mana-mana.
Jason memang bukan pria dari masa tradisional. Perilakunya sangat modern. Tapi, ia tahu persis caranya menjaga kesehatan agar tidak tertular virus HIV yang mematikan.
Jason keluar dari ruang kerjanya meninggalkan Agnes yang sudah sibuk dengan ponselnya. Perintah atasan wajib hukumnya untuk dilakukan meski Agnes gondok.
‘Mungkin aku perlu jadi salah satu wanita panggilan itu untuk bisa dekat dengannya,’ batin Agnes setelah selesai buat janji untuk Jason.
Agnes pikir, setelah menikah maka petualangan bosnya akan berhenti. Ternyata ia keliru besar.
Di rumah sakit, Chris sedang meladeni Brandon lewat telepon.
“Ibu masih berbicara dengan dokter.”
“Menurutmu, apa Malikah bisa ditinggal sendirian?”
“Bisa, Pak. Tentu sudah ada perawat dan juga CCTV di selasar rumah sakit jadi Malikah tidak akan bisa ke mana pun tanpa sepengetahuan kita.”
“Apa dia tidak akan coba akhiri hidupnya lagi di dalam kamar?”
“Saya tidak yakin, Pak. Dia sudah pasti menyerah setelah gagal di upaya pertama kali. Dia akan lebih hargai arti dari hidup.”
“Kalau begitu kamu bisa kembali bersama istri saya nanti. Masih ada hal yang perlu kita kerjakan.”
Chris menyarungkan ponselnya dan kembali ke dalam kamar. Malikah terbaring di atas tempat tidur dengan mata tertutup. Tiang influs berada di samping kiri tempat tidur dengan selang yang masuk ke tubuhnya.
Dalam diam, Chris mulai percaya dengan alasan Malikah dan ia tidak akan mengusik wanita itu lagi. Ia akan mencari penghibur lain untuk memuaskannya.
Malikah lebih pantas untuk dikasihani bukannya dijadikan hiburan. Bukan tipe Chris untuk terlibat dalam peliknya kehidupan wanita dengan banyak kesedihan seperti yang dijalani oleh Malikah.
“Saya sudah bicara dengan dokter dan kepala perawat. Mereka akan mengawasi kamar ini ekstra ketat.”
“Baik, Bu. Saya juga akan ikut pulang ke rumah. Kata Bapak, masih ada kerja yang perlu diselesaikan.”
“Saya pikir kamu ingin temani Malikah?” selidik Brenda.
Chris menutup pintu kamar dan jalan beriringan dengan Brenda menuju tempat parkir mobil.
“Dia wanita mandiri. Seharusnya suaminya bisa menemaninya, tapi dia tidak pernah terbuka tentang hal itu.”
“Jadi dia sudah menikah?”
“Sudah, tapi pernikahan yang tidak direstui oleh mertuanya. Ia sementara dipisahkan dari suaminya karena campur tangan keluarga.”
“Jadi, untuk apa ia ada di hotel malam itu?”
“Orang-orang utusan mertuanya datang dan menjemput suaminya dengan paksa. Malikah dibuat mabuk agar bisa tanda tangan surat cerai, makanya ia melarikan diri.”
“Terima kasih Chris. Saya baru paham karena Malikah bungkam saat saya tanyakan. Syukurlah dia mau jujur padamu.”
“Mungkin dia lelah menyimpan semua cerita sendiri.”
“Kamu bisa ceritakan pada suami saya jika ia bertanya. Ia yang masih ragu biarkan Malikah sendirian.”
“Malikah bisa jalani hidupnya sendiri, Bu. Sudah saatnya ia pulang ke rumahnya. Menata hidupnya dari awal lagi. Itu yang dia sampaikan pada saya saat kami ambil beberapa barang di rumahnya.”
Sepeninggal mobil Brenda dari pelataran rumah sakit, Paul turun dari mobilnya.
Ia masih belum tahu apa yang membuat Malikah di bawa ke rumah sakit.
Sejak pertemuan di rumah Malikah, ia jadi tahu kalau Malikah tinggal di rumah seorang senator ternama. Ia sudah mencari semua informasi tentang Brandon Crown di internet.
“Saya keluarga dari pasien yang bernama Malikah,” kata Jason pada penjaga di rumah sakit.
“Oh, tidak ada pasien dengan nama tersebut Pak. Mungkin bisa Bapak cek ulang lagi.”
Brenda sudah sampaikan agar tidak boleh ada yang jenguk Malikah untuk alasan apa pun, karena ia sedang dalam keadaan sangat rapuh dan sensitif. Butuh istirahat total.
Paul tidak memaksa. Ia memilih untuk mundur dan mencari tahu sendiri.
Ia berjalan dari satu kamar ke kamar yang lain. Tidak mudah tapi Paul yakin ia hanya perlu mengecek sekian kamar yang masuk kategori kamar pribadi bukan bangsal dengan lebih dari satu pasien.
Paul sebenarnya sudah mengirim pesan ke Malikah tapi masih belum terbaca sama sekali. Makanya, Paul tidak ingin menanti. Tugasnya untuk menjaga Malikah jadi ia harus lakukan sebaik mungkin. Bertindak pro aktif salah satu yang harus selalu ia lakoni.
Setelah mengintip ke sekian kamar, akhirnya Paul temukan juga ruang rawat inap bagi Malikah. Tidak ada pengawal pribadi yang ditempatkan di luar kamar tersebut. Hanya Paul bisa lihat kalau ada kamera di luar kamar. Pria itu lega. Ia menarik topinya untuk melindungi wajahnya agar tidak tertangkap kamera.
Ia akan bermalam di depan kamar Malikah dan akan menyelinap keluar jika sudah ada yang datang nanti.
Ponsel Paul bergetar menjelang tengah malam.
“Mom, apa ada yang penting sehingga menelepon tengah malam begini?”
“Paul, di sini masih sore. Apa kamu lupa?”
“Mom, bukankah kita sudah sepakat untuk tidak ganggu waktu tidur saya?”
“Baik! Baik! Mom minta maaf. Tapi, hati Mom tidak tenang. Mom ingin tahu kabar Malikah.”
‘Hah, alasan yang masuk akal. Tidak bisa disangkal dan tak mungkin diabaikan,’ batin Paul sebelum menjawab.
“Paul, apa kamu masih dengar Mom?” tagih suara dari seberang.
“Iya. Mom. Malikah baik-baik saja.”
“Apa kamu yakin? Mom dapat kabar yang berbeda dari apa yang kamu sampaikan.”
Rasa kantuk Paul hilang lenyap saat itu juga dengar ucapan atasannya.
“Kabar seperti apa, Mom?”
“Malikah hilang!”
“Itu tidak mungkin, Mom. Malikah baik-baik saja.”
“Kamu jangan bohong. Mom terima kabar dari sumber yang terpercaya.”
“Paul tidak berbohong, Mom!”
“Bagaimana kamu bisa buktikan kalau mereka yang berbohong dan kamu benar?” tagih lawan bicara Paul.