Percobaan Bunuh Diri

1241 Kata
Malikah sudah mulai merasa tenang. Setelah makan malam bersama Bibi, ia kembali ke kamarnya. Tubuhnya benar-benar letih dengan semua informasi yang ia peroleh dan apa yang ia alami sepanjang hari. Gadis itu memeriksa semua pintu dan jendela dan menguncinya. Ia lakukan beberapa kali pemeriksaan agar tidak ada yang luput. Menjelang tengah malam, jendela kamar Malikah diketuk dari luar. Chris masih tidak puas karena hasil percakapannya dengan Malikah beberapa jam sebelumnya masih menggantung. Pria itu ingin menuntaskan semuanya malam itu juga. Hasratnya harus tersalurkan agar ia bisa tidur dengan tenang. Kepalanya benar-benar pening dua minggu belakangan. Bayangan tubuh Malikah selalu mengganggunya. Selain mengetuk, Chris mencoba membuka dengan alat bantu obeng. Chris tahu kalau Malikah tidak mungkin membiarkan pinta kamarnya tak terkunci, makanya ia memilih lewat jendela. Tidak ada alasan bagi Malikah untuk menolaknya, karena ia pegang rahasia besar perempuan itu. Niatnya akan terus mengetuk kaca jendela, sampai Malikah bangun. Suara berisik itu akhirnya mengusik tidur lelap Malikah. Ia bangun dan menuju asal suara. Chris sedang menunggunya membuka jendela agar ia bisa masuk. Tepat seperti dugaan Chris, Malikah tidak bisa mengabaikannya. “Apa yang Tuan inginkan lagi?” tanya Malikah begitu Chris sudah di dalam kamarnya. Sementara di dapur, Brenda sedang membuat s**u panas. Ia terbangun dan belum bisa tidur lagi. Begitu sudah selesai dan ingin kembali ke kamarnya, ia harus melewati kamar Malikah. Di situlah ia mendengar suara dari dalam kamar tamu itu. Brenda merapat ke pintu dan memasang telinganya di sana. Dia berdiri mematung di sana sambil menyeruput minumannya sedikit demi sedikit. Mencoba menangkap setiap perkataan yang terjadi, meski tidak mudah. Sedang di dalam kamar, Malikah sedang meladeni Chris dengan susah payah. “Jangan pernah berbohong padaku. Kalau kamu memang sudah punya suami, siapa namanya?” “Saya tidak bisa mengatakannya, Tuan. Tapi, benar, saya sudah bersuami. Ini cincin pernikahan saya,” balas Malikah menunjukkan jari manis di tangan kanannya.” “Lupakan suamimu. Dia tidak mencintaimu. Saya akan membuatmu lebih bahagia,” sahut Chris tidak tahan lagi. Ia tarik tangan Malikah dengan kekuatan penuh sehingga wanita itu dengan mudah masuk dalam pelukannya. “Tolong lepaskan saya, Tuan. Saya tidak berbohong,” pinta Malikah mulai berteriak. Tapi Chris tidak menyerah. Logikanya sudah dipenuhi dengan gairah. Tangan kanannya memeluk pinggang Malikah agar rapat dengan tubuhnya. Sedang tangan kirinya di leher Malikah berusaha untuk menarik wajah wanita itu agar bisa ia kecup. Tapi Malikah tetap berusaha untuk berontak sambil mengemis agar Chris berhenti memperlakukannya seperti teman tidur pemuas nafsunya. “Jangan Tuan. Saya sudah menikah. Saya tidak berbohong.” “Persetan dengan suamimu,” gertak Chris agak sulit membuat Malikah tenang. Chris akhirnya memeluk pinggang Malikah dengan dua tangannya dan melemparkannya ke atas kasur. Pria itu berniat menindih tubuh Malikah. Posisi Malikah tidak membuatnya bisa gesit bergerak untuk bangkit. Wanita itu hanya merangkak mundur di atas kasur sehingga Chris berhasil menangkup kedua lututnya dan menahan bobot tubuhnya di sana. Malikah tidak bisa bergerak lagi, dan Chris perlahan merangkak mendekati Malikah. Chris akhirnya berhasil menaklukkan Malikah. Ia menutupi tubuh wanita itu dengan sosok kekarnya. Malikah kehabisan tenaga untuk berontak. Ia akhirnya pasrah dan hanya bisa menangis sekuat yang ia bisa. Wajahnya penuh dengan air mata membuat Chris memilih untuk menciumi leher Malikah bertubi-tubi. Ia sisakan tanda merah di sana dan setiap gigitan membuat Malikah berteriak di sela isakannya. Tiba-tiba terdengar ketukan beberapa kali di pintu dan suara dari luar, “Malikah! Malikah! Ada apa? Apakah kamu baik-baik saja?” “Nyonya Brenda!” kata Malikah di sela isakannya. Mendengar nama Brenda, Chris langsung menangkup mulut Malikah dan berkata, “Jangan berteriak! Tidak usah dijawab. Aku akan pergi. Anggap saja kita tidak pernah berjumpa.” Malikah menganggukkan kepalanya berkali-kali. Chris langsung berguling dan bangkit. Ia sigap lompat keluar dari jendela dan kabur. Malikah masih menangis tapi langsung menuju jendela dan menguncinya rapat-rapat. Setelah itu Malingkah meringkuk di sudut kamar. Tidak di atas kasur tapi merapat ke bagian pojok dari tembok, di atas lantai. Naik ke atas kasur akan mengingatkannya pada Chris dan niatnya. Malikah memilih untuk tidur di bawah saja malam itu. Malikah sudah tidak ingat lagi kalau tadi ada suara Brenda yang sempat memanggilnya. Di luar kamar, Brenda sudah tidak lagi menguping. Benar nyonya rumah itu tadi memanggil Malikah, tapi karena tidak ada balasan, ia berpikir Malikah mengigau dalam tidurnya. Ia dengar ada bunyi seperti orang berbicara, tetapi tidak bisa menangkap apa isi pembicaraan yang sebenarnya berlangsung. Brenda tidak tahu kalau ia baru saja menyelamatkan kehormatan Malikah. Keesokan paginya. “Nona, saatnya sarapan. Bapak dan Ibu sudah menanti di ruang makan.” Bibi dengan kesabaran penuh mengetuk pintu kamar Malikah. Namun tidak ada jawaban apa pun dari dalam. Terdorong oleh rasa penasaran, Bibi meraih pegangan pintu dan mencoba membukanya. “Permisi!” seru bibi bertingkah penuh sopan santun. Rupanya pintu dikunci dari dalam kamar. Tergopoh-gopoh, bibi kembali ke ruang makan dan melaporkan pada Brenda kalau Malikah mengunci pintu dari dalam. Ia tidak lagi melihat tuannya yang sudah berangkat. Penuh kesigapan Brenda berdiri sambil memberi instruksi. “Tolong minta Pak satpam untuk mengecek jendela kamar. Kalau memang terbuka, dengar perintah saya dulu barulah ia masuk ke dalam. Bibi keluar dari pintu belakang mengikuti arahan nyonya rumah. Brenda sendiri menuju lemari kayu tempat penyimpanan kunci cadangan. Ia mencari beberapa saat di sana dan menggenggam serangkai kunci menuju kamar Malikah. Brenda sekali lagi coba membuka pintu tetapi memang tidak bisa. Ia masukkan salah satu anak kunci tetapi tidak cocok. Ia coba lagi kunci lainnya dan akhirnya ada yang pas. Pintu akhirnya bisa dibuka. Brenda sudah bisa masuk ke dalam kamar. Brenda diikuti bibi dari belakang, langsung menuju tempat tidur, tetapi Malikah tak ada. Bibi juga ikut mencari di ruang tamu dan teras kamar. Brenda mendorong pintu kamar mandi yang sedikit terbuka dan berteriak panik, “Bibiiii, panggil pak satpam sekarang juga, dan minta sopir siapkan mobil saya!” Bibi tidak berani bertanya. Untuk ke sekian kalinya, ia berlari keluar dari kamar Malikah. Di hadapan Brenda, Malikah dalam keadaan terduduk di ubin kamar mandi. Matanya tertutup. Ia masih berpakaian lengkap, bukan memakai handuk atau nampak baru selesai mandi. Darah mengalir di lantai dari salah satu sisi tubuhnya. Gadis itu mencoba memotong urat nadinya. Nampak potongan pecahan gelas tergeletak tak jauh dari telapak tangannya yang sebagian sudah tertutupi oleh cairan merah yang kaya akan zat besi tersebut. “Maaf, Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?” suara dari Chris asisten suaminya sudah terdengar sangat dekat. Bibi yang panik keluar dari pintu depan sehingga tanpa sengaja berjumpa dengan Brandon dan asistennya. Makanya ia dengan cepat sampaikan perintah majikan perempuannya. Brandon perintahkan Chris untuk melihat apa yang terjadi, sementara ia menanti di ruang tamu. “Sayang, aku harus ke rumah sakit sekarang. Malikah mencoba untuk bunuh diri,” lapor Brenda ketika berjumpa dengan suaminya. Di belakangnya nampak pak satpam dan Chris memapah Malikah yang terlihat sudah pingsan. Darah masih menetes dari pergelangan tangan kiri Malikah. “Chris, tolong temani Nyonya. Kabari saya selalu perkembangan di rumah sakit. Ada hal penting yang harus saya lakukan sekarang,” perintah Brandon dengan tegas. Brenda mengecup pipi suaminya sebelum masuk ke dalam mobil. “Wanita yang malang,” gumam Brandon menatap mobil istrinya yang bergerak menjauh. Sementara Chris duduk di depan, membiarkan Brenda yang bersikeras menemani Malikah di belakang. ‘Aku tidak akan menyentuhmu lagi. Kamu terlalu bermasalah. Hidupmu penuh dengan luka. Aku hanya ingin bersenang-senang dan bukan orang yang tepat untuk mendengar keluhanmu. Jangan khawatir, rahasiamu aman bersamaku,’ batin Chris berikrar untuk dirinya sendiri. Niat bertualangnya dengan Malikah saja yang akan ia kubur dalam-dalam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN