Sore menjelang malam, Brenda sudah menanti Malikah di ruang televisi. Ia menepati janjinya untuk berbicara dengan lebih hormat pada tamu suaminya itu.
Malikah muncul tepat di jam yang Brenda inginkan.
“Tidak perlu bertele-tele. Saya pikir, kamu sepadan dengan Chris.”
“Maksud, Ibu?” balas Malikah tak paham.
“Chris masih lajang, dia belum punya pasangan tetap. Saya pikir, kalian berdua pasangan yang serasi.”
“Saya tidak ada niat untuk mendekati Pak Chris. Saya hormat padanya.”
Percakapan mereka terhenti karena ponsel Malikah berdering.
Brenda menaikkan volume televisi membiarkan Malikah menjawab panggilan telepon tersebut.
“Maaf, Bu. Saya jawab sebentar.’
Malikah agak bergeser. Namun percakapan mereka masih bisa terdengar jika disimak dengan teliti.
“Baik, Paul. Terima kasih. Saya akan kabari sebelumnya.”
Brenda kembali fokus bicara pada Malikah.
“Jadi, apa pendapatmu tentang Chris?”
“Saya tidak ingin mencari pasangan hidup lagi, Bu. Saya ingin fokus pada masa depan saya dan keluarga saya.”
“Jadi, kamu sudah menikah?” selidik Brenda menaikkan alisnya.
Malikah diam.
“Kenapa kamu bisa terlihat tanpa busana saat bertemu suami saya?” tanya Brenda lagi setelah beberapa detik tidak ada jawaban dari Malikah.
“Maaf Bu, saya tidak bisa jelaskan karena saya sudah lupa penyebabnya.”
“Baik, kalau memang kamu tidak mau bicara. Apa maumu kalau begitu?”
“Saya ingin melupakan masa lalu saya. Saya hanya ingin mulai hidup baru demi adik saya, Marco.”
“Oh, jadi kamu punya keluarga.”
“Iya, Bu. Tapi ia tidak tinggal bersama saya.”
“Lalu siapa itu Paul? Saya dengar kamu sebut namanya tadi.”
“Tetangga depan rumah saya. Ia membantu mengawasi gubuk kami yang kosong. Sempat dibobol maling karena saya ada di sini.”
“Kamu baru bisa keluar dari sini kalau suami saya ijinkan. Kalau kamu mau jujur dan bekerja sama, suami saya mungkin tidak akan terlalu khawatir dan bisa membiarkanmu sendiri.”
“Saya mohon Ibu bantu saya agar bisa pulang ke rumah. Saya sudah kuat dan bisa jaga diri saya sendiri.”
“Saya janji akan bicara dengan suami saya, tapi keputusan akhir akan tetap pada dia.”
Perbincangan mereka terhenti karena Brenda sudah berdiri dan melangkah pergi.
Tersisa Malikah yang masih duduk dan menatap ke televisi. Tapi ia juga tidak betah dan kembali ke kamarnya.
Sementara Chris tidak tenang di ruang kerja Brandon, di ruang yang berbeda dari tempat pertemuan Malikah dan Brenda.
Ia sedang menanti atasannya itu menerima telepon. Sambil menanti, ia menonton video yang lagi viral. Tautan yang baru dia dapat dari sopir beberapa hari lalu.
Ia sudah menonton beberapa klip dan ia merasa ada yang ganjil. Makanya, ia berjalan bolak balik sejak tadi. Satu-satunya cara adalah bertanya langsung pada sumbernya.
Chris tinggalkan pesan kalau ia keluar sebentar dan bisa dihubungi kalau bosnya sudah siap untuk lanjutkan pekerjaan mereka.
Chris mampir di kamar Malikah dan mengajak wanita itu keluar untuk bicara di taman.
“Saya tahu rahasiamu, sekarang.”
“Saya tidak paham!” balas Malikah. Keduanya sudah ada di gazebo di taman.
“Ini kamu, bukan?” tuding Chris menyerahkan ponselnya dengan video yang tadi ia tonton.
Chris curiga karena pakaian yang ia tonton di video. Hampir sama dengan dandanan Malikah malam itu. Bayangan yang tidak pernah Chris lupakan. Menjadi fantasinya setiap malam sejak pertemuan tanpa sengaja mereka.
Bagian depan tubuh penari yang membusung itu adalah daya tarik utama bagi Chris dan mengingatkannya pada tubuh wanita yang meminta pertolongannya di dalam lift.
Malikah pucat. Buku-buku tangan kirinya memutih, karena mencengkeram kuat pinggiran meja. Tangan kanannya memegang ponsel Chris yang berisi video dirinya sedang menari.
Meski tanpa wajah, ia langsung tahu kalau tubuhnya yang sedang dijajakan di sana.
“Benar ini adalah dirimu. Saya tidak mungkin salah. Kalau ini profesi kamu yang sebenarnya, harusnya kamu tidak perlu jual mahal dengan saya,” geram Chris karena sudah menanti terlalu lama untuk menyentuh tubuh Malikah.
“Tuan, mohon jangan cerita pada siapa pun. Benar itu diambil oleh suami saya saat kami bersama. Ini harusnya video pribadi, tapi sepertinya sudah ada yang ambil keuntungan. Sepertinya, ponsel suami saya tertinggal malam itu. Ia simpan video saya di koleksi pribadinya. Bagian dari kami bersenang-senang. Sepertinya sudah ada yang menemukan video ini dan disebarkan seperti sekarang.”
“Suami? Kamu jangan berbohong!” bentak Chris merasa kesal. Ia cengkeram lengan Malikah saat bertanya.
“Saya sudah menikah. Tapi, kami dipisahkan karena perrnikahan kami tidak direstui oleh mertua saya. Malam itu, saat saya minta tolong, keluarga suami saya yang mendobrak kamar kami. Mereka menjemput paksa suami saya dan yang lainnya berusaha merusak saya dan buat saya mabuk agar mau tandatangani surat cerai. Makanya saya kabur, karena saya tidak ingin bercerai.”
Ide brilian itu muncul begitu saja di kepala Malikah.
Malikah menangkap kesan kalau Chris termasuk pria yang cerdas. Cerita yang meyakinkan untuk dapat simpatinya akan sangat berguna bagi Malikah, termasuk, menjauhkan pria itu dari dirinya.
Kecuali jika Chris sakit maka ia tetap akan mengejar Malikah. Tapi, kalau ia waras maka ia pasti akan berpikir dua kali untuk menggauli istri orang secara paksa.
Ponsel Chris berbunyi membuat pria itu pergi begitu saja tinggalkan Malikah. Tugas memanggilnya.
Sedang tangis Malikah langsung pecah begitu ia sudah sendiri. Ia tadi begitu tegar buat alasan di depan Chris. Sekarang rasa sakit atas kekejaman Jason yang menyerbunya. Sakitnya seperti ribuan jarum yang menusuknya berulang kali tanpa ampun.
Dia benar-benar buta dan tidak sangka kalau cinta pertamanya itu berlaku sangat kejam padanya. Semuanya sudah direncanakan dengan sangat baik dan rapi oleh Jason. Malikah dirayu, diperdayai dan terperangkap dalam rencana jahat suaminya karena rasa cinta.
Putus sudah harapan Malikah. Jika Chris membongkar identitasnya maka hidupnya tak ada arti lagi.
Dia kembali terikat pada pria itu karena rahasia yang mereka pikul bersama sekarang.
Selang beberapa waktu kemudian, isakan Malikah harus dia hentikan karena ponselnya yang terselip di saku berdering.
Malikah nyalakan pengeras suara agar ponselnya tidak perlu ia pegang.
“Nona, adik Anda Marco, sudah mogok makan selama tiga hari!”
Air mata Malikah mengalir semakin deras tetapi lawan bicaranya tidak boleh tahu kalau ia sedang menangis.
“Mengapa dia tidak mau makan?”
“Kami tidak tahu pasti. Dia tidak bicara. Hanya dia tidak mau buka mulut saat waktu makan atau minum.”
“Baik, Bu. Saya sedang sakit, masih belum bisa menjenguknya. Saya akan cari waktu untuk ke sana. Mohon rawat adik saya dengan sepenuh hati. Semua biayanya akan saya ganti.”
“Kami akan lakukan semampu kami. Keperluan bulanan Marco memang mulai menipis stoknya. Ini saja yang ingin kami sampaikan.”
“Terima kasih,” balas Malikah pelan. Gadis itu menutupi wajahnya di atas meja dan menangis terisak. Ia ada di luar sehingga tidak ada yang akan mendengarnya dari jauh. Hanya jika berada di sekitar gazebo maka bisa menangkap kesedihan Malikah.
Adik Malikah mengalami cerebral palsy sejak lahir. Ia terpaksa dimasukkan ke dalam panti di usia tiga belas tahun, bersamaan dengan ibu mereka meninggal. Sang ibu paham betul kebutuhan dari Marco sehingga permintaan terakhirnya agar Malikah cukup bekerja untuk memenuhi kebutuhan Marco di panti tanpa harus merawatnya langsung.
Almarhumah melihat potensi dalam diri Malikah dan tidak adil rasanya membebani Malikah dengan tugas merawat Marco seumur hidupnya. Makanya gadis itu disekolahkan dengan dana santunan dari seseorang. Jika Malikah sudah mapan, ia bisa buat keputusan sendiri.
Itulah awal mulanya Marco berada di panti perawatan.
Malikah sudah tahu tentang alasan ini dari ayahnya. Makanya, Malikah punya tanggung jawab utama memenuhi semua kebutuhan Marco sejak mereka yatim piatu.
Malikah tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika sesuatu terjadi pada Marco. Hidup tanpa papanya almarhum saja butuh hampir satu tahun untuk pulih dari rasa dukanya. Ia tidak bisa bayangkan kalau harus kehilangan Marco lagi.