Bertemu Paul

1560 Kata
Paul sudah di dalam mobil. Sepanjang malam ia mempertimbangkan langkah apa yang harus ia tempuh untuk tahu di mana Malikah berada. Ia keluar dari pekarangannya dan menuju satu tujuan yaitu kantor polisi. Di tengah jalan Paul baru sadar kalau ponselnya ketinggalan. “Sial, aku sudah pikun rupanya. Aku harus kembali karena kalau Mom menelepon dan tidak kuangkat, artinya aku dipecat tanpa bisa negosiasi. Wanita itu sangat baik tapi termasuk kejam untuk hal tertentu,” gumam Paul sambil memutar haluan kembali ke rumahnya. Sementara di dalam mobil Chris dan Malikah. “Pak, ada berita yang lagi viral dua hari ini,” kata sopir sambil mengurangi volume musik. Chris menghentikan belaiannya di tengkuk Malikah untuk fokus berbicara dengan si sopir. Malikah bernapas lega sesaat tapi tetap waspada karena tangan Chris masih bertengger di sana. Pria itu hanya berhenti mengelus atau menekan sesekali. Tapi, tidak menarik jauh tangannya. “Saya baru kirimkan ke nomor Pak Chris. Coba dilihat, Pak. Saya ingin tahu komentar Pak Chris sebagai sesama pria.” Chris menarik tangannya karena harus memegang ponselnya. Kesempatan emas itu Malikah gunakan untuk merapat ke kaca jendela, menjauh dari Chris. Dia akan tetap di sana sampai mereka turun nanti. Begitulah janji Malikah pada dirinya sendiri dalam diam. “Wow, ini memang luar biasa Pak. Foto-fotonya saja sudah menarik, apalagi videonya nanti,” komentar Chris sambil memandang lekat ponselnya. “Iya, Pak. Saya setuju. Menurut Pak Chris, kalau beli videonya akan dapatkan tayangan yang lebih menarik? Harganya cukup mahal, jadi saya ingin tahu pandangan Pak Chris.” “Saya juga tidak tahu apa bisa dapat video yang kita mau. Jangan-jangan isinya hanya foto juga nantinya. Artisnya tidak terlihat wajahnya.” “Itu bukan artis, Pak. Tapi istri pejabat. Teman saya kenal dengan fotografer yang kerjakan proyek ini.” “Betulkah? Ini bisa jadi bahan menarik untuk Pak Brandon. Apa sudah beredar di dunia maya? Saya coba cari dulu.” “Pakai kata kunci, ‘Penari Buta Seksi’, Pak. Semua fotonya akan keluar.” Malikah hanya menyimak pembicaraan para pria. Ia akhirnya menyela, “Tolong belok kanan di depan, Pak sopir. Berhenti di rumah berpagar biru. Terima kasih.” Mereka akhirnya sampai juga di rumah Malikah. Wanita itu turun dan langsung membuka pagar selebar mungkin. Ia tidak menunggu pendapat para pria. Ia langsung masuk ke dalam rumah untuk mengambil beberapa barang yang ia butuhkan. Kamarnya di kediaman keluarga Crown sebenarnya sangat lengkap. Semuanya masih bersegel, bermerk dan baru. Tapi, melihat ketusnya nyonya rumah, Malikah tidak ingin mengambil keuntungan. Dia takut nantinya ditagih bayaran kalau memakai apa yang sudah disediakan. Saat ingin membuka pintu depan, Malikah sadar kalau ada yang salah. Pintunya sudah rusak seperti dibuka paksa. “Pak Chris dan Pak sopir, tolong saya,” teriak Malikah menatap ke belakangnya. Kebetulan dua orang pria itu memang sudah turun dari mobil. Keduanya bergegas mendekati Malikah. “Ada apa?” tanya Chris terlebih dahulu sampai. “Rumah saya dibobol maling.” Pintunya sudah rusak. Saya tidak berani masuk sendiri.” Malikah menjawab dengan terburu-buru. Ia sudah berkeringat karena kaget dan cemas. “Saya coba cek dulu ke dalam. Ibu bisa tanya ke tetangga sekitar. Mungkin ada yang tahu sesuatu,” usul sopir sudah mendorong pintu depan. Malikah sepakat. Ia bergegas ke arah halaman dan belok ke kiri. Ia datangi tetangga yang paling dekat dengannya dirinya. Di saat yang sama, sebuah mobil baru saja masuk ke dalam pekarangan di seberang rumah Malikah. Pengendara mobil turun dan bergegas membuka pintu. Beberapa menit kemudian ia sudah keluar dan mengunci kembali pintu. Melompat dengan cepat ke belakang stir lagi dan memundurkan mobilnya. Tapi, kemudian berhenti. Pemiliknya tidak keluar tetapi mengamati kaca spion dengan serius. Itu mobil Paul. Ia kembali untuk mengambil ponselnya. Ia tinggal di seberang tempat tinggal Malikah. Rumah itu memang dikontrakkan sejak enam bulan yang lalu. Tapi, Mom yang sudah membeli untuk Paul tinggal di sana agar bisa dekat dengan Malikah. Menjadi pengawal bayangan untuk gadis itu. Hanya saja, Paul selalu berusaha agar mereka tidak berjumpa. Jadi, Malikah dan ayahnya belum pernah bertemu langsung dengan Paul, yang selalu mengaku sebagai sepupu Malikah. Paul amati pintu pagar rumah Malikah terbuka. Ada sebuah mobil. Lalu ada dua orang pria yang masuk dan keluar di sana. Ia masih belum melihat sosok Malikah. “Permisi! Ada orang?” Paul terenyak. Tiba-tiba ada suara dari arah belakangnya. Ternyata Malikah yang sedang berdiri dan melongok ke arah rumahnya. Berarti ia tidak perlu ke kantor polisi. Paul menarik napas untuk menenangkan dirinya. Ia keluar dari mobil, dan berhadapan dengan Malikah. Ia lega karena wanita yang ia cari ternyata baik-baik saja. “Iya, pagi. Ada yang bisa saya bantu?” “Saya Malikah, tetangga Anda. Itu rumah saya,” balas Malikah menunjuk ke belakangnya. “Saya Paul. Ini rumah saya.” “Oh, iya Pak Paul.” “Panggil saya Paul saja. Saya belum menikah. Terdengar sangat senior kalau dipanggil seperti tadi,” sela Paul untuk tidak memperpanjang kesalahpahaman. Dia juga merasa risih disapa demikian. “Saya paham. Boleh saya tanya sesuatu?” jawab Malikah sambil mengangguk di awal. “Silakan.” Paul bersedekap dan menyimak perkataan Malikah. “Saya ada pekerjaan di luar kota sehingga tidak pulang ke rumah beberapa hari. Saya dapati pintu rumah saya sudah jebol. Sepertinya dimasuki maling.” “Oh, ya? Wah, saya turut prihatin. Saya minta maaf karena tidak begitu memperhatikan.” ‘Maling? Kenapa aku tidak tahu tentang hal ini? Apa memang benar ada maling saat aku tinggalkan rumah di siang hari? Sepanjang malam selama tinggal di sini, aku tidak mendengar hal yang mencurigakan terjadi. Aku seharusnya peka jika memang ada maling yang berkeliaran. Apa mungkin aku sudah semakin tua sehingga instingku mulai tidak berfungsi,’ batin Paul. “Jadi, Pak tidak melihat ada yang mencurigakan belakangan ini?” tanya Malikah dengan mengernyitkan kedua dahinya. “Paul! Panggil saja Paul.” Ia sudah tidak sabar karena Malikah masih tidak paham apa yang ia bilang. “Iya, Paul.” “Boleh saya lihat seperti apa kerusakannya? Saya punya sedikit pengetahuan tentang berbagai jenis benda tajam.” “Bisa. Mari, ikut saya.” ‘Syukurlah Paul begitu ramah. Aku akan pastikan Paul berada di dekatku sehingga Chris tidak bisa menjamahku lagi,’ batin Malikah sedikit tenang. “Sudah kami periksa, kosong. Tidak ada kerusakan lainnya, di dalam. Kecuali pemilik rumah yang akan tahu jika ada barang berharga yang hilang,” kata Chris menjelaskan panjang lebar. Chris melihat ada pria lain yang dibawa Malikah sehingga ia harus menjaga sikap dan tutur katanya. “Terima kasih Pak Chris dan Pak Sopir. Ini Paul, tetangga saya.” “Salam kenal!” balas Paul tersenyum. “Silakan! Kunci pintu depan yang rusak.” Malikah menggiring Paul untuk mengamati kerusakan yang ada. “Saya tunggu di mobil Pak.” Chris mengangguk pada sopirnya dan mengamati Paul. “Ini kerja pencuri amatir. Hanya gunakan benda tajam biasa, bukan dengan teknologi.” Paul menjelaskan pada Malikah dan Chris. “Mari Paul, mungkin ada sesuatu di jendela atau pintu belakang yang perlu diperhatikan. Saya juga ingin cek barang apa saja yang sudah di ambil,” ajak Malikah fokus pada wajah Paul. “Permisi!” Paul melirik pada Chris yang mengangguk sambil menggerakkan rahangnya. Chris akhirnya memilih untuk ke mobil, meninggalkan Malikah dan tetangganya. “Semua masih sama. Murni motifnya hanya pencurian biasa, mencari barang berharga,” lapor Paul saat berjumpa dengan Malikah di ruang tamu. “Tidak ada barang yang hilang juga karena kami tidak miliki barang berharga. Kasihan pencurinya.” Paul tersenyum. “Saya punya kunci pintu bekas yang cocok untuk gantikan kunci ini. Gratis! Kalau kamu percaya, saya bisa perbaiki. Saya akan simpan kunci pintu yang baru, sampai kamu datang lagi. Saya akan berkabar kalau kamu mau tinggalkan kunci pagar dan nomor kontak.” Semua yang Paul inginkan berhasil ia sampaikan dalam satu kali bicara. Panjang terdengar, tapi tawaran memperbaiki pintu jadi celah yang mulus bagi Paul untuk dapatkan akses langsung ke Malikah. “Terima kasih banyak. Anda sangat meringankan beban saya. Saya akan tulis nomor ponsel saya, karena saya tinggalkan ponsel saya yang sedang di cas.” Malikah bergerak untuk mencari alat tulis. “Boleh langsung di sini saja,” tawar Paul menyodorkan ponselnya. “Ah, masuk akal. Mohon jangan keluar dulu, tunggu saya. Ada yang perlu saya ambil dari dalam kamar.” Malikah masukkan 12 digit angka sambil bicara dan menyerahkan kembali ponsel milik Paul. “Tentu saja!” Paul meraih ponselnya dan menyarungkannya. ‘Mengapa ia takut berada sendiri di dalam rumahnya? Mungkin karena kejadian pencurian ini,’ batin Paul. Sambil menanti Malikah keluar, Paul menunggu di teras. Ia pakai kesempatan itu untuk mematri nomor pengenal mobil yang akan membawa Malikah pergi. Ia simpan dalam catatan di ponselnya. “Terima kasih banyak, Paul. Ini kunci pagarnya. Kabari saja kalau memang sudah selesai. Paul mengantar dan mengamati Malikah masuk ke dalam mobil. Chris sudah duduk di depan. Malikah lega tapi ia langsung mengambil tempat paling pojok di dekat jendela. Tas pakaiannya, ia letakkan di tengah sehingga kalau pun Chris berubah pikiran untuk duduk di jok belakang, ada batasan yang sudah Malikah buat. Paul sendiri bergegas mengunci pintu pagar rumah Malikah. Ia masuk ke dalam mobilnya dan membuntuti mobil Chris. Ia tidak ingin kehilangan jejak Malikah lagi, meski ia sudah dapat nomor ponsel wanita itu. Kini Paul bisa lebih lega kalau dikontak mendadak oleh Mom. Hanya Malikah yang masih risau memikirkan rumahnya yang dibobol dan cara agar bisa lepas dari pengawasan Brandon dan Brenda, serta perlakuan kurang ajar dari Chris.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN