Dalam Perangkap Chris

1487 Kata
Jason baru turun dari mobilnya dan melangkah memasuki gedung di mana kantornya berada. Politisi muda itu disambut dengan kilatan kamera dan serbuan para reporter yang ingin tahu berita terbaru tentang dirinya. Ia terpaksa berhenti di dekat lift. Kacamata hitamnya tidak ia lepaskan. “Pak Jason, apakah Anda sudah siap untuk mencalonkan diri lagi dalam pemilihan tahun depan?” tanya salah seorang wartawan dari televisi nasional. “Saya siap. Tim kami sedang persiapkan segala sesuatu. Semogs proses administrasi berjalan lancar.” “Apa visi yang akan Pak Jason usung nanti?” sambar suara yang lain. “Tentunya misi dan nilai partai untuk mewujudkan keadilan sosial bagi semua warga negara.” “Pak Jason masih dalam masa bulan madu, apakah ada strategi khusus untuk menyasar para keluarga muda dalam masa kampanye nanti?” “Semuanya sudah ada dalam rancangan strategi kampanye. Saya sudah telat. Ada rapat yang harus saya ikuti. Saya selalu butuh dukungan dari kalian semua. Terima kasih.” Jason memilih untuk mengakhiri pertemuan itu. Pertanyaan seputar pernikahannya akan jadi bumerang tersendiri baginya jika tidak dipersiapkan dengan baik cara libatkan media sosial atau yang mainstream. Ia langsung mencari sekretarisnya. “Agnes, apa Roby sudah datang?” tanya Jason membuka kaca mata hitamnya. Aura ketampanannya bagaikan magnet untuk Agnes. “Pagi Pak. Saya belum melihatnya.” Agnes berdiri dan keluar dari balik meja kerjanya. Niatnya untuk tampil utuh di depan bosnya. Ia menatap Jason dengan penuh takjub. Ia sudah berdandan untuk bisa menarik perhatian atasannya itu. Rok merahnya yang mini, 15 cm di atas lutut dan juga kancing atas kemeja yang ia biarkan terbuka. Sekali menunduk maka aset pentingnya akan terlihat dari depan dan belakang, menggoda lawan jenisnya. “Begitu ia datang, langsung minta ke ruanganku,” lanjut Jason. Agnes memainkan ujung rambutnya yang tergerai dan mengulum bibirnya sambil menatap Jason. Tampak tidak begitu konsentrasi pada ucapan pria itu. Jason memicingkan matanya sekilas, sebelum menampilkan ekspresi serius. Lalu ia memasukkan salah satu tangannya dalam saku celana dan berdiri tegak menatap tajam pada sekretarisnya itu. “Agnes, apa kamu baik-baik saja?” Wanita itu seperti tersentak dan langsung pasang sikap siaga, kedua tangan di samping tubuhnya. “Iya, Pak. Saya akan minta Pak Roby, ketua tim kampanye ke ruangan Bapak”. Jason mengedipkan salah satu matanya tanda setuju, lalu langsung masuk ke dalam ruangan. Agnes meluruhkan bahunya dan terduduk lemas di kursinya kembali. Kedipan mata Jason ia tangkap sebagai sesuatu yg romantis, ditujukan khusus untuk dirinya. Sementara Malikah rasakan betapa pegal pinggangnya karena ia tertidur dalam posisi duduk semalaman, menyandar di dinding kamar mandi. Entah seperti apa kucuran air hangat berhenti, tapi ia bangun dengan tubuh yang lembab. Malikah membilas kembali seluruh badannya yang kebas karena peredaran darah yang tidak lancar, dengan air panas. Sebelum ia berpakaian, ia gosokkan seluruh tubuhnya dengan minyak penghangat agar tidak masuk angin. Ketukan di pintu kamar jadi tanda bagi Malikah untuk bergegas. “Non, ditunggu Pak dan Ibu di ruang makan,” ucap Bibi. Malikah mengangguk patuh, menarik daun pintu kamar dan mengikuti Bibi. Untunglah ia sudah selesai berpakaian. "Apa kamu sudah sarapan?" tanya Brandon begitu Malikah sampai bersama Bibi. Wanita paruh baya itu memilih berdiri di dekat pintu dapur, tidak di samping Malikah. Malikah mendapati ada pasangan tuan rumah dan pria yang semalam mendatanginya. Semuanya sedang sibuk dengan piring masing-masing. “Terima kasih, Pak. Nanti saya bersama Bibi,” balas Malikah melirik Bibi sambil tersenyum. “Sayang, jam berapa kamu akan berangkat?” sela Brenda tidak begitu suka dengan perhatian rinci Brandon. Suaminya itu melap mulutnya dengan kain sambil memberi tanda pada istrinya untuk tidak bicara. “Apa ada yang ingin kamu lakukan supaya lebih nyaman di sini?” lanjut Brandon sambil menatap Malikah. Malikah merasa ada kesempatan baginya untuk keluar dari rumah itu. “Pak, saya ingin pulang ke rumah saya.” Brandon melirik istrinya yang memilih untuk menatap ke tempat lain, tidak ingin menanggapi rasa simpati suaminya pada Malikah. Brandon memang belum dengar lagi hasil percakapan Brenda dan Malikah. Istrinya itu masih belum bisa terima kehadiran Malikah. “Boleh. Ambil saja apa yang kamu butuhkan lalu kembali! Chris akan menemanimu,” tegas Brandon. Pria yang sedang duduk tadi segera mengangguk. Piringnya sudah kosong. Ia meneguk habis minumannya lalu berdiri dengan sikap siaga. Siap untuk berangkat. Malikah menjawab dengan rasa gelisah, "Terima kasih Pak." "Saya akan langsung ke kantor setelah mengantar tamu kita," kata Chris sedikit membungkuk ke arah Brandon. "Pagi ini belum ada agenda khusus, Chris. Kamu turuti saja dahulu permintaannya, barulah ke kantor." Malikah membatin, 'Namanya Chris. Aku harus mencari cara agar tidak berduaan saja dengannya nanti. Dia tidak mungkin macam-macam kalau ada orang lain.' “Kita perlu bicara Malikah, nanti setelah kamu kembali dari mengecek rumahmu,” ucap Brenda untuk menyenangkan Brandon. suaminya itu sudah berdiri. Ia juga putuskan untuk selesaikan sarapannya. Meski, masih ada potongan roti yang tersisa di piringnya. Brandon tersenyum dan menggandeng istrinya keluar dari ruang makan. “Saya tunggu di mobil,” kata Chris menatap Malikah dengan senyum penuh misteri sebelum ikut pergi. Malikah menggangguk dan menatap bibi yang mulai berbenah karena semua sudah selesai makan. “Ayo, Non! Mau sarapan apa?” “Roti saja Bi, yang cepat sambil berdiri, karena sudah harus berangkat sekarang.” Bibi mendekatkan semua alat dan bahan makanan yang sekiranya diinginkan Malikah. “Tadinya saya pikir bisa pergi bersama Bibi, tapi malah dengan Pak Chris,” bisik Malikah saat Bibi berdiri di dekatnya. Merapikan semua peralatan makan yang kotor. “Pria itu baik, hanya hati-hati kalau bicara karena dia tangan kanan Tuan Brandon.” Malikah hanya bisa menarik nafas dalam-dalam sambil menghabiskan roti di tangannya. Kurang dari lima menit waktu tunggu bagi Chris, Malikah sudah tiba di depan rumah. Pria itu langsung membukakan pintu mobil untuk Malikah. Tadinya Malikah berharap Chris akan duduk di depan, tetapi ia salah. Pria itu mengambil tempat persis di sampingnya. Tentu ada jarak di antara mereka karena dari kaca spion depan, sopir akan mudah mengamati pergerakan apa pun yang penumpang di jok belakang lakukan. “Ke mana Pak Chris?” tanya sopir. “Kami butuh alamat rumahnya,” kata Chris dengan tegas pada Malikah. Malikah menata suaranya agar tidak bergetar. Sambil mengeja alamat rumahnya, ia bisa rasakan kalau ada tekanan di bagian rambutnya. Ia raih tangannya ke belakang untuk merapikan sandaran kursi tapi bergesekan dengan kulit manusia. Segera ia tarik kembali tangannya dan sembunyikan dibawah pahanya untuk tambahan kekuatan. Ya, punggung tangan Chris yang ada di sandaran kursi. Malikah tidak berani menatap pada Chris. Dari sudut matanya, ia menduga Chris juga menatap lurus ke depan. Mobil mulai bergerak. “Boleh sambil dengar musik atau berita pagi, Pak!” kata Chris memecah kesunyian di dalam mobil yang sudah melaju. “Baik Pak. Perjalanan kita juga akan butuh tiga puluh menit kalau tidak macet.” “Santai saja, Pak. Bos akan kontak kalau memang ada hal yang penting.” Sopir mengikuti permintaan Chris dan sibuk di depan. Setelah berhasil membuat sopir sibuk, Chris mulai melancarkan aksinya. Pria itu tahu kalau tubuhnya tidak bisa terlalu dekat dengan Malikah. Menutup kaca pembatas antara jok dan posisi sopir juga akan menimbulkan pertanyaan yang lebih besar. Meski resiko sopir mengadu sangat minim, tapi Chris tetap ingin terlihat profesional dalam bekerja. Tidak boleh ada celah kesalahan sedikit pun. Ia cinta pekerjaannya karena bayarannya sangat bagus dibanding tempat kerja sebelumnya. Jadi, ia memilih jalan aman. Sopir bisa melihat dari kaca kalau tangannya hanya numpang saja di sandaran kursi. Tidak ada yang patut dicurigai. Ujung jemari Chris tidak diam. Ia mulai menyentuh kulit leher Malikah menembus rambut wanita itu yang dilepas. Ia mainkan di sana sesuai keinginannya tanpa peduli ijin atau perasaan dari Malikah. Malikah tadi keramas dan karena masih basah, ia biarkan tergerai. Kalau tadi Malikah ikat, maka Chris tidak akan bisa menutupi kelincahan jemarinya. Pria itu memang lihai dan terlatih dalam mempermainkan wanita. Kalau saja Malikah adalah pacar Chris, mereka pasti akan sama-sama menikmati kebersamaan yang ada. Anggaplah sebagai bagian dari pemanasan. Sayangnya, Malikah ada di bawah tekanan. Setiap sentuhan Chris adalah ancaman bahaya baginya. Pesan yang syaraf otak terima negatif sehingga tubuh Malikah memproduksi hormon kortisol tingkat tinggi. Ia jadi merasa cemas dan tubuhnya menegang. Malikah coba duduk agak maju ke depan, atau pun bergeser, tapi pria itu dengan kasar menarik sebagian rambutnya agar posisi duduknya tidak berubah. Sakitnya tak tertahankan. Malikah jadi pusing kalau bertahan untuk melawan Chris dalam diam. Akhirnya, Malikah memilih untuk bergeming di posisi awal dan melewati derita yang ada. Saking lihainya, semua Chris lakukan dengan sangat santai. Ia sambil bersiul mengikuti musik yang mengalun di dalam mobil dan sambil menatap ke jendela di sampingnya. Tidak menoleh sedikit pun ke arah Malikah. Sama sekali tidak peduli dengan kehadiran orang lain. Malikah akhirnya lakukan hal yang sama. Menghindari memandang ke arah Chris atau ke depan. Ia berjuang untuk tidak mengamuk atau memaki Chris. Belum lagi menahan desakan perlu salurkan emosi negatif dari dalam dirinya, yang sangat menyiksanya. Jika Malikah alami tekanan yang sama terus-menerus, maka ia sudah jadi korban pelecehan seksual dari Chris.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN