Paul pulang dengan tangan hampa.
Kunci rumahnya ia lempar begitu saja di atas meja setelah membuka pintu. Belum juga ia membersihkan dirinya dan beristirahat sebentar, ponselnya sudah meraung.
Paul langsung berdiri tegak dan nyalakan pengeras suara, saat tahu siapa yang akan bicara dengannya.
“Apa semuanya lancar?”
“Iya, Mom. Pernikahan berlangsung sesuai rencana.”
“Mungkin sudah saatnya kamu perkenalkan dirimu pada pengantin wanita?”
“Apa pun yang Mom inginkan, akan Paul buat.”
“Usahakan dalam percakapan berikut kamu sudah bersama Malikah. Mom ingin memandang wajahnya. Mom sudah rindu.”
“Apa alasan yang Paul harus sampaikan pada Malikah?”
“Kamu pikirkan sendiri. Tidak mungkin Mom eja semuanya, bukan? Sesuatu yang bisa meyakinkan Malikah.”
“Malikah akan kenal Paul sebagai sepupunya.”
“Bagus! Sampai jumpa nanti.”
Paul mengusap wajahnya lega setelah percakapan selesai.
Tugas beratnya sekarang adalah menemukan Malikah. Lambat atau cepat ia akan lapor berita orang hilang ke polisi.
Lampu teras di rumah Malikah masih tetap nyala sepanjang hari saat Paul lewati. Tandanya rumah itu masih tidak berpenghuni.
Di apartemen Jason.
Pria itu mengambil pengendali jarak jauh untuk TV dan menyalakannya. Nyeri di wajahnya masih terasa, bahkan seperti kebas.
Sesuai perjanjian, beberapa menit lagi acara yang Jason tunggu akan dimulai. Ia mengetikkan sesuatu di ponselnya dan ia kirimkan.
Pesan untuk Rendy agar bisa menonton juga di saluran televisi yang sama persis.
Tak lama kemudian, muncul acara gosip yang diawali dengan sekilas berita.
Menatap apa yang ada di layar kaca buat Jason senyum sumringah. Rasa sakit yang ia derita tidak sebanding dengan bahagia karena puas dan bangga dengan hasil yang ia gapai.
Tidak lama, hanya lima menit saja tayangan video penari setengah b***l yang nampak. Tapi cukup untuk membantu fantasi liar para penonton dan mempermalukan si penari itu sendiri.
Ponsel Jason berdering dan dia tersenyum melihat nama Rendy muncul di layar.
“Kamu sungguh gila, Jason. Aku beruntung tidak memperkenalkan saudara perempuanku padamu,” umpat Rendy dari seberang, tanpa niat menyapa sama sekali.
“Jangan menghakimiku Rendy. Kamu tahu persis penderitaan yang aku alami karena perbuatan wanita itu.”
“Sebaiknya kamu berhati-hati, Bro! Sepupu Malikah tidak akan tinggal diam jika tahu tentang hal ini. Aku tutup.”
Jason menggeram. Ia tidak butuh dukungan Rendy tapi perkataan sahabatnya itu benar adanya.
Sementara di dalam kamar baru yang ditempati Malikah.
“Siapa Anda? Apa mau Anda?” kata Malikah begitu sudah berhadapan dengan pria yang jadi tamunya di tengah malam.
“Apalah arti sebuah nama, Manis? Tapi, penting untuk kamu tahu kalau Pak Brandon sangat percaya padaku. Kamu datang padaku dalam lift dan meminta pertolongan pertama kali padaku. Kalau aku tidak menekan tanda panah malam itu, agar pintu tertutup, kamu pasti tidak ada di sini sekarang.”
Chris mengusap dagunya sambil memperhatikan tubuh Malikah yang tertutup oleh piyama berbahan satin.
“Apa yang Anda inginkan, Tuan,” tanya Malikah dengan suara bergetar. Ia masih belum ingat pertemuannya dengan Chris. Rasa cemasnya menutupi logikanya.
Ia kehilangan tenaga untuk membentak atau berteriak kasar malam itu. Ia hanya ingin memelas untuk dapat belas kasihan.
Posisinya tersudut sekarang antara tembok dan pinggiran tempat tidurnya.
Malikah perlahan mundur untuk merapat ke tembok, menjauhi kasur yang masih terlihat rapi.
Chris perlahan-lahan melangkah maju tanpa suara. Tapi tatapannya sudah penuh dengan hasrat terpendam.
“Aku adalah penyelamatmu. Apakah kamu tidak ingin berterima kasih padaku?”
Asisten pribadi Brandon itu sudah ada di depan Malikah.
“Tolong jangan ganggu saya, Tuan,” pinta Malikah dengan suara yang sangat pelan sembari menelengkan kepalanya dengan tatapan memelas.
Chris tidak peduli. Telapak tangan kirinya sudah bertumpu di tembok kamar, melewati bahu Malikah untuk mengunci pergerakan gadis itu. Sedang tangan kanannya menangkup wajah Malikah dan diam di sana. Beberapa jemarinya sambil bermain lembut di permukaan kulit wajah dan leher. Mengelus naik dan turun, ke kiri dan ke kanan.
Chris menggeram tidak senang karena menyentuh cairan di sekitar pipi Malikah. Mengurangi seleranya.
Wanita itu sudah tergugu. Tidak ada suara karena Malikah sambil menggigit bibirnya.
Aksi yang salah sebenarnya dari Malikah. Chris semakin terangsang karena melihat labium Malikah.
Malikah baru sadar seketika kalau Chris adalah pria di dalam lift yang benar telah menyelamatkannya. Ia sekarang ingat wajah itu. Ia putar otaknya untuk berbicara dengan pria tersebut.
“Saya berterima kasih untuk pertolongan Anda. Sangat, sangat berterima kasih.”
“Tapi saya ingin lebih dari ucapan. Saya ingin tubuhmu,” balas Chris menelusuri permukaan bibir bawah Malikah dengan jempolnya. Chris sedang pikirkan, apakah ia perlu masukkan jarinya ke dalam.
Mata Malikah nyalang menatap Chris. Sekujur tubuhnya merinding sekarang. Kakinya bergetar. Bahu dan lehernya menegang. Desakan emosi karena marah, terhina dan tanpa daya dari dalam dirinya juga buat Malikah terus mengeluarkan air mata.
“Tapi tidak bisa, Tuan. Saya sedang sakit bulanan,” sahut Malikah spontan. Ide itu yang ada dalam kepalanya sekarang di tengah kekalutannya melindungi diri, sekaligus buat pria di depannya tenang, agar tidak bertindak kasar.
Dari percakapan sekilas dalam lift, sebelum ia pingsan, ia tahu kalau pria di depannya ini adalah orang kepercayaan Brandon. Salah perlakuan akan berdampak negatif baginya.
Chris mengusap kasar wajah Malikah dan mendengus.
Ia majukan tubuhnya ke samping pipi Malikah dan mendesis, “Kamu berhutang pada saya. Kamu tetap harus membayarnya. Foto-foto tubuhmu yang aduhai sudah saya miliki. Saya ambil saat di dalam mobil, perjalanan dari hotel ke sini. Mudah untuk disebarkan ke mana saja. Kariermu akan tamat kalau khalayak ramai mengetahui berita ini.”
Tentu saja Chris membual. Ia hanya ingin mengancam Malikah. Ia memang ingin merasakan tubuh Malikah. Sebagai seorang petualang, ia tidak akan tidur tenang kalau niatnya belum tersalurkan. Hanya saja waktunya masih belum tepat. Kenikmatannya akan berkurang kalau ada aroma amis dari cairan berwarna merah tersebut dalam permainan mereka nanti.
“Saya mohon Tuan. Tinggalkan saya sendiri. Saya akan bungkam dan tidak akan sampaikan kejadian malam ini kepada siapa pun. Saya janji!” balas Malikah dengan kalimat lancar.
“Kamu bisa berkoar-koar, tapi aku pastikan tidak akan ada satu pun orang di sekitar Pak Brandon yang akan percaya padamu.”
Chris mendaratkan kecupan kasar di pipi Malikah sebelum mundur dan bergegas keluar dari kamar itu dari jendela.
Ya, pria itu melompat keluar dari teras kamar yang tidak terlalu tinggi tembok pembatasnya.
Malikah jatuh terduduk, lemas. Ia bergidik sambil terisak pelan. Tubuhnya bergetar.
Beberapa menit saja ia tenggelam dalam ratapannya. Menatap pintu teras kamar yang masih terbuka lebar.
Malikah bangkit dan segera menutup pintu teras dan menguncinya dua kali.
Ia periksa ulang lagi setiap kunci pintu dan jendela di dalam kamarnya. Ia pasti telah lengah sehingga Chris bisa masuk begitu saja dengan mudahnya.
Malikah masuk ke dalam kamar mandi dan meringkuk di bawah pancuran air hangat. Masih dengan baju yang lengkap. Ia berharap air yang mengalir tersebut bisa menenangkannya.
Tubuhnya menggigil kedinginan karena jijik dan murka. Sudah lebih dari tiga pria asing yang menyentuh tubuhnya di bagian yang berbeda, tapi niat yang sama. Menyetubuhinya untuk memuaskan rasa ingin tahu mereka.