Aruba terdiam ketika ia melihat bagaimana raut wajah dari tabib yang menangani Jiwoo itu, yang kini terlihat sangat bersalah. Aruba merasa khawatir dan takut. Rasa sesak di dadanya pun dapat ia rasakan, ia mulai bernapas dengan tidak teratur dan jantungnya berdetak dengan sangat kencang. “Kita… Hanya bisa menunggu sebuah keajaiban dan berdo’a agar Baginda dapat bertahan! Kami sudah melakukan penambahan darah terhadap Baginda, dan kami berdoa agar darah tersebut cocok dengannya.” Itulah ucapan yang di ucapkan oleh tabib tersebut yang sukses membuat Aruba menghembuskan napasnya dengan sangan pelan. Sementara pada Prajurit yang lainnya terlihat harap-harap cemas. Tabib itu kemudian pergi dari depan ruangan tersebut, sementara para Prajurit yang ada di hadapan Aruba saat ini hanya bisa t

